My Only One

My Only One
Rencana Dan Kehamilan Ara


__ADS_3

🌺


🌺


"Aku udah kasih tahu mama." Amara meletakkan ponselnya setelah melakukan panggilan telfon, bersamaan dengan Galang yang keluar dari kamar mandi.


"Oh ya? Terus?"


"Mama kaget."


"Tentu saja, siapa yang tidak? Aku saja sampai dapat siraman rohani tadi subuh dari ibu setelah memberi tahu mereka kalau kamu hamil." 


Keduanya tertawa.


Terdengar suara ketukan di pintu dan seseorang memanggil.


"Kakak, kata Papa mau sarapan bareng?" terdengar seperti suara Asha.


"Iya, sebentar lagi keluar." Galang menyahut.


"Ayo, setelah ini aku harus ke apartemen dulu mengambil beberapa hal." Galang membantu Amara seperti biasa.


***


"Sudah beri tahu mama mu?" Arfan memulai percakapan.


"Udah barusan." Amara menjawab.


"Ke Bandung?"


"Sudah Pak, tadi subuh."


"Dan soal resepsi?"


"Sudah juga. Ibu dan ayah ikut saja rencana dari sini. Beri tahu saja apa yang harus ibu dan ayah lakukan."


"Tidak ada, hanya datang saja saat acaranya diadakan."


"Apa mau ada upacara adat dan prosesi lainnya?"


"Sepertinya tidak perlu. Terlalu rumit untuk Ara. Hanya pesta saja, kita mengumpulkan saudara dan keluarga."


"Oh, baiklah kalau begitu."


"Untuk wedding organizernya aku sudah hubungi temannya Mama. Mereka siap." Dygta menyela percakapan suami dan menantunya.


"Bagus Sayang."


"Aku juga sudah memberi tahu Mama dan Papi, mereka terkejut." Dygta tertawa.


"Tentu saja, siapa yang tidak? Aku bahkan hampir kena serangan jantung." Arfan berkelakar.


"Ish, jangan dulu lah. Nanti aku kesusahan. Anak-anak masih kecil dan aku tidak bisa mengurus mereka sendirian." Perempuan itu berujar.


"Tidak akan." Keduanya berpegangan tangan dan saling menatap lembut. Membuat ruang makan sejenak terasa hening ketika semua orang menghentikan kegiatan makan mereka.


"Umm …."


"Oh iya, apa kamu tidak mengalami mual-mual di pagi hari?" Lalu Dygta bertanya kepada Amara.


"Mual, cuma sedikit." Anak sambungnya itu menjawab.


"Jadi tidak muntah-muntah waktu bangun tidur?"


"Nggak. Kecuali kalau mandi. Baru mikir soal mandi aja aku udah mual, apalagi masuk ke kamar mandi terus nyalain air, udah pasti deh itu."


"Apa?"


"Jadi Kakak nggak mandi dong?" Anandita bereaksi.


"Nggak."


"Iiiyyy … jorok!" Asha pun sama.


"Udah dibilangin kalau mandi suka muntah-muntah."


"Masa Kakak nggak mandi?"


"Tapi udah cuci muka sama sikat gigi tahu!"


"Tetep aja nggak mandi."


"Ehhh … kamu nggak tahu rasanya. Pas masuk ke kamar mandi itu perut kamu kayak di aduk-aduk, tenggorokkan rasanya nggak enak. Belum lagi …."


"Neng, kita kan lagi makan? Masa membicarakan hal seperti itu?" Galang menghentikanya berbicara.


Amara menutup mulut dengan tangannya.


"Ah, nanti kalau udah nikah aku nggak mau hamil!" Asha bicara dengan mulut penuh dengan makanan, seperti biasa.


"Kenapa?"


"Takut kayak Kakak. Jadi jorok dan nyusahin."


"Apa?"


"Nggak mandi, habis itu banyak maunya lagi? Ngerepotin Kak Galang melulu!"


Amara merengut.


"Aku ngerepotin Kakak?" katanya dengan suara terdengar kesal.

__ADS_1


"Eee … nggak Neng." Galang tergagap.


"Itu Asha bilang?"


"Mungkin maksudnya tidak begitu."


"Jelas kok Asha bilangnya begitu!"


"Emang Kak Ara ngerepotin. Apa-apa maunya diambilin." Sang adik masih melahap sarapannya.


"Tuh kan?"


"Ya, … kan kamunya masih begini? Belum bisa mengerjakan apa-apa kan? Makanya aku ambilkan."


"Tapi jadinya ngerepotin."


"Nggak."


"Tapi Asha bilang gitu barusan!"


"Asha cuma asal bicara."


Amara menatap adik bungsunya yang sedang tertawa.


"Jangan begitu, Asha!" Arfan berujar.


"Bercanda, Pah." jawab sang anak.


"Kakak, nanti kalau Asha minta jajan nggak usah dikasih!" Amara mendelik, membuat tawa Asha sirna seketika.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ya, baik. Terserah kamu saja. Mama akan menunggu di sini." Sofia meletakkan ponsel setelah menerima panggilan dari putrinya.


"Dygta menelfon lagi?" Satria bertanya.


"Ya. Siang ini kami ada janji untuk ke wedding organizer." Perempuan itu menuangkan teh panas untuk suaminya.


"Kalian akan mengaturnya sendiri? Kenapa tidak menyuruh orang lain?"


"Ya. Dygta yang menginginkannya, dia punya keinginan sendiri untuk pestanya Ara."


"Pesta siapa?" Daryl turun dari kamarnya diikuti Darren.


"Ara."


"Resepsi?" Darren menyesap latte panas yang sudah sang ibu siapkan untuknya.


"Ya."


"Kapan?" Mereka duduk di kursinya masing-masing.


"Di mana?"


"Rencananya di rumah saja. Di pantai belakang."


"Tidak di hotel?" Satria bertanya.


"Halaman belakangnya luas, dekat pantai pula. Kan bagus?"


"Benar."


"Aku pikir Om Arfan tidak akan mengadakan pesta untuk Ara?" Daryl berkomentar.


"Mana bisa? Apalagi kakakmu. Dia punya impian yang gila untuk pestanya Ara." Sofia menjawab.


"Segila apa? Aku curiga Kak Dygta akan membuat hal aneh dan konyol." Daryl tertawa.


"Lihat saja nanti."


"Resepsi sekarang memangnya Ara sudah sembuh ya? Terakhir aku bertemu di NMC dia masih belum bisa berjalan?" Darren kembali memulai percakapan setelah mereka terdiam cukup lama.


"Memang belum."


"Terus kenapa tidak menunggu sampai dia sembuh? Sepertinya akan sedikit menyulitkan?"


"Ya, seandainya Ara tidak hamil pasti mereka akan menunggu. Tapi …."


"Apa?" Daryl menghentikan kegiatan makannya.


"Ara hamil?" Darren menyahut.


"Ya. Kalau menunggu dia sembuh pasti lama, dan kandungannya mungkin sudah besar."


Dua pria di depan Sofia terdiam.


"Ahhh … kita akan punya buyut, Sayang!" Perempuan itu membingkai wajahnya sendiri.


"Dan kalian berdua akan menjadi kakek dalam hitungan bulan. Bukankah ini luar biasa? Kakek muda." ucap Sofia kepada dua putranya.


"Bercanda ya?" Daryl bereaksi.


"Hmm … setiap ingat itu aku merasa sudah tua." Satria bergumam.


"Iihhh, tidak. Kita tidak tua. Kita hanya panjang umur. Lihat berapa generasi telah kita saksikan? Bukankah ini berkah?" Sofia merangkul pundak suaminya.


Sementara Satria tertawa.


"Satu-satunya yang membuatku merasa panjang umur karena kamu selalu berkata begitu." katanya kepada perempuan yang dinikahinya sekitar tiga puluh tahun yang lalu itu.


"Memang! Ayolah, kita harus bahagia dengan hal ini. Anak-anak tumbuh dengan baik dan aku berharap mereka punya hidup yang baik juga." Sofia dengan suara riang seperti biasa.

__ADS_1


"Aku memang bahagia. Memangnya alasan apa yang bisa membuatku tidak bahagia?" jawab Satria, membuat kedua putra mereka sama-sama mencebikkan mulutnya.


Sofia tersenyum.


"Lalu kalian?" Dia beralih kepada dua putranya tersebut.


"What?"


"Kapan kalian akan membawa calon istri ke rumah ini? Mama rasa ini sudah waktunya."


"Soal itu …." Darren menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Umm … aku harus pergi sekarang Mom, pekerjaanku banyak sekali." Daryl menghabiskan kopi hitamnya lalu bangkit.


"Masih pagi?" Sang ibu melirik jam besar di dekat tangga.


"Deadlineku harus selesai minggu ini sebelum pindah bulan depan." Daryl memeluk ibunya, lalu mencium tangan sang ayah.


"Kamu serius akan pindah ke Fia's Secret?" Sofia bertanya.


"Ya, aku sungguh-sungguh." Daryl menjawab kemudian menoleh kepada saudara kembarnya.


"Kau mau pergi sekarang Ren?" Lalu dia bertanya.


"Aku duluan kalau begitu." sambungnya, dan dia berjalan tergesa keluar dari rumah.


"Eee … tunggu Der! Aku juga harus pergi, ada rapat dengan Kak Dim!" Darren pun berlari mengikutinya.


"Haih, kenapa sih anak-anak ini? Kalau aku bicara soal jodoh mereka pasti menghindar." Sofia bergumam.


"Sayang, kamu tahu sesuatu?" Lalu dia beralih kepada suaminya.


"Tahu soal apa?" Satria kembali melahap makanannya.


"Soal Darren dan Daryl? Biasanya kamu tahu?"


Pria itu hanya tersenyum.


"Sayang?" Sofia meremat lengan suaminya.


"Sementara biarkan saja begitu, nanti kalau sudah saatnya mereka akan bicara." jawab Satria.


"Berarti kamu tahu sesuatu?" 


"Umm … sedikit."


"Sedikitmu berarti sangat banyak untukku."


Satria kemudian tertawa.


"Berarti benar?"


"Yeah, begitulah."


"Apa mereka baik-baik saja?"


"Baik."


"Kamu tidak bohong?"


"Tidak, hanya saja …."


"Apa?"


"Mungkin kita harus sedikit memperhatikan Daryl."


"Kenapa?"


"Kamu tahu dia sedikit mengalami kesulitan soal perasaannya?"


"Ah, soal itu?"


"Ya."


"Baiklah. Tapi dia baik-baik saja kan?"


"Baik, mereka juga baik. Darren bahkan mulai sering berkunjung ke NMC akhir-akhir ini."


"Apa? Ke NMC untuk apa?"


"Tidak tahu, mungkin menemukan jodoh?"


"Jodoh?"


"Kita biarkan saja dulu. Biar mereka yang menentukan."


"Iya tapi …."


"Sssttt, diamlah. Aku sedang sarapan di sini." ujar Satria, membuat Sofia terdiam setelahnya.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Aiihhh ... Makin makin ini ya? 😆😆😆


Cuss like komen sama hadiahnya lagi buruan kirim.

__ADS_1


__ADS_2