My Only One

My Only One
Operasi


__ADS_3

🌺


🌺


"Ada apa sih bu? lihat keluar terus?" Galang hampir turun dari tempat tidurnya ketika sang ibu melihat keluar jendela.


"Itu, ada ambulance yang datang." jawab Mayang yang melihat ke area bawah.


"Mungkin ada kecelakaan?"


"Iya, sepertinya begitu." Lalu perempuan itu menutup tirai jendela karena matahari tenggelam di barat sana cukup menyilaukan mata.


Dan bersamaan dengan itu tiba pula lah Clarra yang masuk dengan tergesa lalu berdiri merapatkan punggungnya di belakang pintu.


"Kamu dari mana?" Galang segera bertanya, membuat perempuan itu mendongakkan wajahnya.


"Aku … dari … bawah, ingat?" Clarra menjawab.


"Oh, … tapi aku tidak bisa pulang sekarang ya?" Galang masih menanyakan hal yang sama.


Clarra mengangguk cepat.


"Oh baiklah. Hanya satu malam ini lagi kan? Besok bisa?"


Perempuan itu mengangguk lagi.


"Hmm …" Lalu Galang bersandar pada kepala ranjang.


"Kamu kalau mau pulang sekarang tidak apa-apa. Besok harus bekerja kan?" ucap pria itu lagi.


"Aku sudah menelfon Dimitri. Aku akan bekerja setelah menyelesaikan urusanmu di sini."


"Tidak apa Cla, kalau urusan itu sepertinya aku bisa. Jadi kamu bisa pulang sore ini."


"Tidak!" Clarra berjalan mendekat. "Aku sudah berdiskusi dengan Dimitri dan beberapa staff soal ini. Semua jadwal sudah aku atur untuknya dan dia tidak ada masalah soal itu."


"Begitu?"


"Ya. Jadi aku bisa mengurus keperluanmu terlebih dahulu."


"Baiklah kalau begitu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arfan berhenti di depan pintu unit gawat darurat saat para petugas berhasil membawa Amara dan Piere yang tak sadarkan diri. Diikuti beberapa orang suruhannya yang tiba kemudian bersama Dygta.


Pria itu sempat memaksa masuk tapi petugas dan para pegawai berhasil menahannya.


"Minggir kalian!" Pria itu berteriak.


"Ara!" Area itu tentu saja menjadi gaduh, dan tidak ada yang mampu meredamnya meski Dygta sekalipun. Yang tak beranjak dari sisinya sejak mereka mengetahui peristiwa kecelakaan pada sore itu.


Mereka hampir saja kewalahan menghadapi seorang ayah yang mengalami serangan panik dan terkejut di saat yang bersamaan. Jika bukan karena kegigihan Dygta, maka sudah bisa dipastikan area itu porak poranda dalam sekejap mata.


"Aku tahu, aku tahu. Tapi biarkan dulu mereka menjalankan tugasnya." ucap perempuan itu sambil terisak.


Arfan berhenti, meski napasnya masih menderu-deru dan dadanya terlihat naik turun dengan cepat. Namun Dygta cepat-cepat mendekat dan mengusapnya agar dia kembali tenang.


"Papa, tenanglah." Dia membingkai wajah suaminya, lalu menariknya agar perhatiannya teralih dari pintu ruang penanganan.


"Dia, … mengincar anakku." Arfan bicara. "Padahal Ara tidak tahu apa-apa. Dia bahkan tidak mengerti."

__ADS_1


Dygta mengangguk-anggukkan kepala.


"Iya, iya. Tenanglah, mereka akan mengurusnya." ucap Dygta lagi yang mengusap pundak suaminya agar dia semakin tenang.


Arfan kemudian berbalik dan menemukan tiga pria di belakangnya yang menunggu. Dia kemudian bereaksi.


Dengan langkah panjangnya dia menghampiri mereka dan melayangkan pukulan secara bergantian sehingga ketiganya terhuyung ke belakang.


Dygta memejamkan mata dengan kedua tangan menutup telinganya.


"Waktu kalian dua puluh empat jam untuk menemukan baj*ngan itu." ucapnya setengah menggeram.


Lalu pria-pria itu perlahan bangkit, dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Dan secara hampir bersamaan mereka menyeka sudut bibir yang berdarah akibat pukulan pria di hadapannya.


"Atau dengan penuh kesadaran mengundurkan diri untuk membayar kelalaian kalian hari ini." lanjut Arfan dengan penuh kemarahan.


Mereka mengangguk serentak, kemudian segera menjalankan perintah setelah pria tersebut selesai berbicara.


Dygta memberanikam diri untuk kembali mendekat, lalu dia meraih tangan suaminya.


"Duduklah dulu." katanya, seraya menarik pria itu untuk duduk.


"Bagaimana aku bisa duduk, sementara putriku di dalam sana sedang tidak berdaya?"


"Mereka akan melakukan yang terbaik, percayalah." Perempuan itu memberanikan diri.


***


Pintu ruang penanganan terbuka setelah beberapa saat, dan dokter Syahril keluar setelah menjalankan tugasnya. Pria itu hampir saja pulang setelah lagi-lagi tak berhasil membuat Clarra tinggal untuk berbicara dan secara kebetulan menjadi satu-satunya dokter yang ada pada sore itu.


Arfan dan Dygta segera bsngkit saat dokter itu berjalan mendekat.


"Dia mengalami cedera yang cukup parah. Lutut sebelah kanannya bergeser, begitu juga tulang lengan kanannya yang retak. Sikutnya bahkan keluar dari tempatnya karena benturan keras di pintu mobil. Juga luka di kepala dan wajah akibat sepihan kaca yang tidak bisa dihindari saat tabrakan."


"Lalu Piere?"


"Tidak separah Amara."


Arfan memejamkan mata untuk sejenak.


"Kami sudah memanggil beberapa dokter spesialis dan mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Semoga tidak lama lagi sampai."


Arfan mengangguk-anggukkan kepala.


Dokter Syahril kemudian memeriksa ponselnya ketika benda pipih itu berdering. 


"Permisi sebentar." Lalu dia menjauh untuk menerima panggilan.


Dan pria itu segera kembali setelah beberapa saat.


"Operasi siap dilakukan jika Bapak mengijinkan. Dokter bedah dan ahli lainnya telah datang." katanya kemudian.


"Lakukan, lakukanlah yang terbaik. Selamatkan anak saya." Arfan segera menjawab.


"Baik, saya akan mengurus beberapa hal dan nanti akan ada petugas yang juga datang untuk masalah persetujuan dan semacamnya."


"Baik."


Lalu Dokter Syahril beranjak dari tempat itu, bersamaan dengan kedatangan Mytha dan Wira suaminya.


"Bagaimana, bagaimana dengan Ara?" Perempuan itu segera menghambur ke pintu ruang penanganan.

__ADS_1


"Dia sedang ditangani." Arfan menjawab. "Sebentar lagi mereka mengoperasinya."


"Operasi?" Mytha berpaling kepada mantan suaminya.


"Mengapa mereka harus mengoperasinya? Apa keadaannya parah?"


"Tenanglah Mytha, dia …"


"Apakah keadaannya sangat parah sehingga Ara harus dioperasi?" Perempuan itu setengah berteriak.


"Cukup … parah." Arfan sedikit terbata. 


Dia tahu, perempuan di depannya akan meradang jika mengetahui bagaimana keadaan putri mereka yang sebenarnya, dan itu sudah dipastikan akan terjadi sebentar lagi. Walau bagaimanapun Mytha harus mengetahui keadaan Amara.


"Mas! Katakan!" Perempuan itu mendekat.


"Wajahnya … terkena serpihan kaca, tangan dan kakinya cedera parah, nanti dokter akan menjelaskannya kepadamu dan …"


"Tidak! Ara!" Mytha segera bereaksi, dan dia hampir saja ambruk jika saja Wira tak menahannya di belakang.


"Tapi mereka akan segera menanganinya, Mytha. Aku janji mereka akan melakukan yang terbaik untuk Ara. Aku janji."


"Sebaiknya kamu menepati janjimu Mas! Kamu Papanya dan sudah sepantasnya kamu melakukan yang terbaik untuknya!" Mytha setengah mengancam.


"Ya, Mytha." Arfan mengangguk pelan.


***


Satu jam.


Dua jam.


Tiga jam, bahkan hingga entah berapa lama mereka, para dokter dan perawat berada di ruangan itu untuk melakukan tindakan penanganan terhadap Amara dan Piere.


Hingga mereka yang berada diluar rasanya sudah tidak tahan lagi dengan keadaan ini.


Bahkan hingga hampir tengah malam dokter-dokter itu masih belum menampakkan tanda-tanda selesai.


Terdengar langkah kaki tergesa di lorong yang mengalihkan lamunan dua pasangan di ruang tunggu.


"Bagaimana Ara?" Satria yang berjalan tergesa, diikuti Sofia dan dua anak mereka.


"Kami baru saja mendengar beritanya dari Andra, mengapa bukan kalian yang memberi tahu?" ucap pria itu setelah jarak mereka cukup dekat.


Kemudian pintu UGD kembali terbuka, dan Dokter Syahril diikuti oleh beberapa dokter lainnya pun keluar. Membuat orang-orang yang berada di ruang tunggu segera menghampirinya.


"Masa kritisnya sudah lewat." ucap pria setinggi Arfan itu, dan hal tersebut terdengar cukup melegakan, terutama bagi kedua orang tuanya.


"Kami memberikan bius total sehingga sudah dipastikan mereka tidak akan sadarkan diri setidaknya hingga besok. Jadi yang harus kita lakukan adalah hanya menunggu." jelas pria itu.


"Baik."


Lalu pria-pria dengan seragam hijau itu segera berpamitan. Seiring dengan dibawa keluarnya Amara dan Piere dari ruang operasi.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


kuy, like komen sama hadiahnya kirim lagi 😘


__ADS_2