
🌺
🌺
"Apa kamu pikir aku kurang perhatian kepada anak-anakku?" Dimitri merebahkan kepalanya pada sandaran kursi.
Dia sejenak menjeda pekerjaan yang sempat menyita perhatian.
"Apa Bapak merasa kurang memperhatikan mereka?" Galang balik bertanya.
"Aku tidak merasa begitu. Seingatku, mereka selalu aku perhatikan meski sesibuk apa pun pekerjaanku. Dan aku memaksimalkan waktu kebersamaan kami begitu ada kesempatan."
"Lalu kenapa Bapak berpikir begitu?" Galang kini mengalihkan perhatiannya kepada atasannya.
"Entahlah, kelakuan Anya membuatku merasa kalau aku ini tidak terlalu memperhatikan anak-anakku, terutama dia."
Sang asisten meletakkan bolpoint di samping dokumen yang tengah dia periksa.
"Bapak merasa mulai kewalahan?"
Dimitri menoleh kepada pria yang usianya terpaut empat tahun darinya itu.
"Apa aku kewalahan ya? Punya anak kembar memang membutuhkan energi lebih. Tapi aku tidak melihat Papi mengalami kesulitan menghadapi Daryl dan Darren. Dia dan Mama bahkan bisa membuat adik-adikku menurut hanya dengan sekali ucapan, tapi aku?"
"Lalu apa gunanya pengasuh kalau Bapak mengalami kesulitan ketika menghadapi anak-anak?"
"Mereka bahkan tidak mampu menolak apa yang Anya inginkan. Padahal sudah aku katakan jika permintaannya tidak masuk akal jangan dituruti. Tapi tetap saja."
"Tapi sepertinya bukan itu masalah sebenarnya."Â
"Menurutmu apa?"
"Mungkin Anya hanya butuh pengalihan. Dia seperti memiliki energi yang lebih dari pada anak lain seusianya. Bahkan Zenya cenderung lebih tenang." Galang terkekeh.
"Yeah. Bukankah itu terbalik? Seharusnya Zenya yang sangat aktif dan memiliki sikap yang keras, bukannya Anya."
"Nah, memang benar."
"Sepertinya ada yang salah. Mungkin jiwa mereka tertukar waktu di dalam kandungan?" Dimitri dengan pikirannya sendiri.
"Apa? Mana ada hal seperti itu?"
"Bisa saja kan?"
"Tidak logis."
Dimitri tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Mungkin gennya Om Angga lebih kuat Pak?" Galang mengutarakan pendapatnya sendiri.
"Apa?"
"Ya walau bagaimana pun, darah Om Angga mengalir deras di tubuhnya Anya lewat Rania. Apa Bapak lupa dengan kelakuannya Rania?"
Dimitri mengerutkan dahi. Dia mengingat bagaimana keras kepala dan setangguh apa istrinya. Juga seberapa bar-bar perempuan itu dalam bertindak ketika sesuatu hal tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Apalagi ketika terjadi kekeliruan dan ketidak beresan di depan matanya.
"Kamu benar." katanya.
"Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu Bapak risaukan, karena sebelum Anya Bapak sudah bisa menghadapi ibunya kan? Dan bisa sampai sejauh ini?"
Dimitri mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bukankah setiap anak ada fasenya tersendiri? Dan siap ataupun tidak semuanya akan dilewati meski kadang mengalami kesulitan. Seperti kita dulu."
"Hmm … benar juga. Jadi aku tidak usah khawatir soal Anya?" Lalu dia bertanya.
"Sepertinya tidak. Dia hanya menjadi dirinya sendiri, dan itu bagus. Sejak kecil Anya sudah berpendirian kuat dan punya prinsip terhadap hal-hal yang baik. Dan terutama, dia sangat jujur akan segala sesuatu."
"Dia terlalu jujur, Galang. Kadang kejujurannya membuatku malu sendiri apalagi di hadapan orang lain."
"Jujur itu bagus Pak."
"Hah! Bagus kalau sesuai pada tempat dan waktunya. Kalau tidak?"
"Anya masih kecil Pak. Baru mau enam tahun? Dan dia masih bisa dididik agar memiliki pribadi yang lebih baik. Kita tidak akan terlambat selama tidak mengalihkan perhatian darinya."
"Yeah, semoga saja begitu."
"Ya." Galang kembali pada pekerjaannya.
"Tapi tunggu!" Namun Dimitri segera menegakkan tubuhnya kala dia menyadari sesuatu.
"Ya? Ada lagi?" Galang mendongak.
"Aku seperti sedang berbicara dengan orang yang sudah punya anak?" lanjut sang atasan, dan dia menatap bawahannya dengan raut heran.
"Apa?"
"Kamu bahkan belum genap sebulan menikahi Ara, tapi cara bicaramu … ckckckc." Dia menggeleng-gelengkan kepala.Â
"Apa hubungannya?"
"Seperti sudah berpengalaman punya anak?" Pria itu tertawa.
Galang menarik satu sudut bibirnya ke atas.
"Serius, hahahah!"Â Â
Galang memutar bola mata seraya melanjutkan pekerjaannya.
"Oh iya, soal pengalihan untuk Anya, mungkin sebaiknya kita pilihkan les lain agar energinya tidak terbuang percuma untuk hal yang tidak berguna?" Dimitri melanjutkan percakapan.
"Kenapa harus les?"
"Dulu Om Arfan juga begitu kepadaku." ujar Dimitri.
"Apa?"
__ADS_1
"Dia mendaftarkan aku ke SSB waktu SD." Pria itu mengingat masa kecilnya.
"SSB?"
"Ya. Waktu itu aku sedikit bermasalah disekolah."
"Bermasalah apannya."
"Aku juga sering mengganggu teman sekelas, terutama anak perempuan." Dimitri tertawa mengingat kelakuannya yang satu itu.
"Apa?"
"Tidak percaya ya? Hahaha. Om Arfan sampai sering datang ke sekolah untuk berbicara kepada kepala sekolah untuk mengurus masalahku."
"Hmm … Sekarang saya mengerti kenapa Anya seperti itu? Selain turun dari ibunya, ternyata wataknya juga diperkuat gen dari Bapak? Atau mungkin ... Karma?"
"Apa katamu?"
"Kenyataannya begitu?"
"Hey, aku laki-laki tahu? Jadi pantas saja jika punya watak begitu?" Sanggah Dimitri, merasa tidak terima dengan pernyataan asistennya.
"Zaman sekarang laki-laki atau perempuan sama saja Pak." Galang pun menjawab.
"True. Perempuan malah bisa lebih. Seperti Anya dan Mommynya." Pria itu kemudian terdiam.
Dia kembali bersandar pada kepala kursi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Galang melepaskan jasnya yang kemudian dia sampirkan di pegangan sofa. Melonggarkan ikatan dasi lalu menariknya hingga terlepas seraya menyandarkan tubuhnya yang lelah.
Pekerjaan ini mulai dia fahami ritmenya setelah dua tahun bertugas. Bukan hanya masalah kantor yang harus ditangani melainkan urusan lain juga. Dan tampaknya itu tidaklah mudah.
Dia memiliki banyak bawahan namun tak bisa sembarangan diberi tugas. Karena jika tidak dengan orang yang tepat, maka akibatnya akan fatal. Jadinya, Galang harus turun tangan sendiri untui hal-hal tertentu.
"Hari ini kerjaan Kakak banyak ya?" Amara menginterupsi lamunannya.
"Setiap hari juga banyak." Galang bangkit sambil melepaskan tautan kancing pada kemejanya.
"Tapi kayaknya hari ini lebih banyak?"
Pria itu tak lantas menjawab.
"Beneran nggak sih?"
"Hmm … memang begitu." Pria itu mendekat.
"Kerjaan tambahan?"
"Ya. Dan mungkin setelah ini aku akan banyak mengurus hal lainnya juga?"
"Hal lain apa?"
"Ya … hal lain."
"Urusan-urusan domestik seperti menangani masalah Anya, Zenya, Rania atau yang lainnya."
"Kayak Papa waktu masih kerja."
"Memangnya begitu?"
"Yang aku tahu gitu. Semua hal Papa urus bahkan anak-anaknya Papi."
"Masa?"
"Iya."
"Hmm … dan minggu ini aku berlagak seperti penasehat rumah tangga bagi Pak Dimitri sekaligus konseling untuk Anya."
"Kenapa gitu?"
"Aku harus menyelesaikan masalah yang timbul di sekolah karena Anya berulah."
"Oh ya?"
"Ya. Dan kamu nggak akan percaya siapa yang aku hadapi."
"Siapa?"
"Ibu-ibu yang meminta agar Anya dipindahkan ke sekolah lain agar tidak mengganggu anaknya."
"Duh? Kenapa bisa begitu?"
"Karena Anya memukulnya setelah mengejek Rania."
"Wow."
"Aku tahu persis Anya tidak akan bereaksi sembarangan kalau tidak diganggu terlebih dahulu. Tapi anak itu juga ibunya salah sasaran memprotes keberadaan Anya."
"Kakak sangat mengenal Anya. Padahal nggak ketemu setiap hari?"
"Tapi aku tumbuh dengan Rania, dan Anya sangat mirip dengan dia. Jadi apa pun yang dia lakukan mesti ada hubungannya dengan karakter mereka."
"Apa berat?"
"Tidak, hanya saja …."
"Kenapa?"
"Aku khawatir Anya akan lebih menyulitkan dari pada ibunya."
Amara tertawa.
"Aku jadi seperti bapak-bapak yang khawatir terhadap anaknya ya?" Galang pun ikut tertawa.
"Hu'um." Amara mengangguk.
__ADS_1
Kemudian pria itu mengerutkan dahi.
"Sekarang apa?"
"Kita menikah sudah berapa lama?" Pria itu bertanya.
"Berapa lama ya? Mau sebulan kayaknya?"
"Sebulan ya?"
"Iya, kenapa?"
Galang menatap wajah istrinya lekat-lekat.
"Kakak kenapa lihatin aku gitu amat sih?" Perempuan itu menepuk lengan suaminya sambil tertawa.
"Aku lagi bayangin." Galang kemudian duduk di pinggir tempat tidur, tepat di samping Amara.
"Bayangin apa?"
"Bagaimana kalau misalnya kita punya anak?" katanya dengan mata berbinar.
"Punya anak?"
"Mungkin rasanya seperti ini?"
"Hum?"
"Khawatirnya, was-wasnya, juga kesalnya." Lalu dia tertawa.
"Kayak ke Anya gitu?"
"Mungkin."
"Emangnya Kakak ngerasa gitu ke Anya?"
"Ya nggak gitu juga sih. Hanya karena dia anaknya Si Oneng kok."
"Hmmm …" Amara memicingkan mata.
"Jangan cemburu, aku kan kenal dia dari kecil. Sama seperti kamu yang tumbuh bersama Pak Dimitri. Dan kita sama-sana tahu selanjutnya bagaimana.
"Bukan karena Kakak pernah sayang sama Kak Rania?"
"Apa? Bukanlah. Jangan ngaco!"
"Tapi kayaknya …"
"Jangan diteruskan, nanti kita bertengkar!"Â
"Aku cuma mau bilang …."
"Stop!" Pria itu menarik wajah Amara kemudian mengecup bibirnya dengan lembut.
"Aku mandi dulu lah." Lalu dia melepaskannya setelah beberapa saat.
Namun Amara menahannya saat dia hampir saja bangkit.
"Apa lagi? Jangan membahas hal nggak penting, nanti malah menimbulkan masalah untuk kita lho."
"Nggak ih Kakak nyerocos terus? Kasih aku kesempatan ngomong kenapa?" Amara menariknya agar kembali duduk di dekatnya.
"Iya, terus apa?"
"Ummm …." Amara memindai wajahnya yang terlihat lelah.
"Apa?"
"Nggak jadi deh. Kakak mandi dulu aja." jawabnya kemudian.
"Dih?"
"Sana, mandi! Kakak bau!" Lalu Amara mendorongnya kembali.
"Kamu juga belum mandi kan? Ayo kita mandi sama-sama?" katanya saat muncul ide di kepalanya.
"Apaan? Nggak mau ah. Aku kan nggak ke mana-mana. Ngapain mandi?"
"Biasanya kita mandi sama-sama. Ingat?" Galang kembali mendekat.
"Nggak mau."
"Terus nanti kamu mau mandi sendiri? Memangnya sudah bisa?"
"Aku mandinya besok." Amara merebahkan tubuhnya ke atas bantal.
"Jorok!"
"Kan udah aku bilang kalau aku nggak kemana-mana. Seharian di rumah terus. Jadi nggak usah mandi kan?"
Galang mencebik.
"Sana cepat mandi!" ucap Amara lagi yang meletakkan tangan kiri diatas wajahnya, lalu memejamkan mata.
Namun sedetik kemudian dia merasakan dua tangan kekar meraup tubuhnya, dan Amara merasa seperti melayang di udara.
"Aaaaa …. Kakak!" Perempuan itu memekik.
"Aku bilang mandi ya mandi!" gumam Galang seraya membawanya melesat ke kamar mandi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
__ADS_1
Curiga mandinya mengandung modus nih bang?😂😂