
🌺
🌺
"Kakak!?" Ragu-ragu Anandita mengetuk pintu kamar sang Kakak yang tertutup rapat.
"Ya?" Terdengar jawaban dari dalam.
"Ada Mama Mytha, sama yang dari Jogja. Mau ketemu nggak?"
"Umm … sebentar, Kakak susah … Kak Galang lagi … mandi."
"Oh, oke." Remaja itu segera menjauh.
Amara menggigit bibir bawahnya dengan keras saat Galang kembali berpacu. Dia menahan de*ahan yang hampir saja keluar setiap kali pria itu menggerakakan bagian bawah tubuhnya.
"Kakak, cepetan … aahhh …." Tubuhnya menggeliat tak karuan dan sesuatu dibawah sana berdenyut kencang saat pelepasan melanda.
Sementara Galang berusaha untuk tetap menstabilkan dirinya. Meski pada akhirnya, dia pun tak mampu dan membiarkan pergumulan ini mencapai puncaknya.
***
"Itu Om Galang!" Anya menunjuk pasangan yang sedang menuruni tangga.
Galang memegangi tangan Amara yang mencoba menggerakkan kakinya setelah tiba di tangga paling bawah.
"Eh, ada Anya? Udah lama?" Amara bereaksi.
"Udah dong, dari tadi nungguin."
"Maaf ya, tadi mandi dulu soalnya. Habis itu nungguin Om Galang mandi juga. Mau ketemu Anom kamu sama Nenek May di apartemen."
"Emang Anom mau ke sini?" Anya bertanya.
"Mau, tapi ke apartemen."
"Pantesan Om Galang jam segini mandi?"
"Iya."
"Kenapa nggak barengan aja mandinya biar cepet?" celetuk Anya, seperti biasa.
"Eee …."
"Malu ya? Masa udah gede malu-malu?" katanya, dan itu membuat semua orang tertawa.
"Aku sama Zenya dulu nggak malu kalau dimandiin suster bareng-bareng, tapi sekarang kata Papi harus bisa mandi sendiri-sendiri."
"Ya kan kamu sudah besar."
"Hu'um. Sebentar lagi masuk SD."
"Makanya, nggak boleh dimandikan orang lain."
"Om Galang sama Kak Ara juga sama ya, udah nggak boleh. Papa Arfan bilang gitu ya?"
"Nggak gitu maksudnya!"
"Iyalah, kan Om sama Kakak udah gede juga, makanya nggak boleh mandi bareng. Aku aja sama Zen nggak dibolehin. Kata Papi malu."
"Astaga! Mana sih Mommy kamu? Masa anaknya dilepas begini?" Galang menggerutu.
"Sembarangan!" Rania muncul dari belakang sambil menepuk pundak sahabatnya.
"Memangnya dia kuda kamu bilang dilepas sembarangan?" ucap Rania yang baru saja tiba menggandeng tangan putranya.
"Ya habis tahu-tahu ada di sini?"
"Emangnya Anya itu jin dibilang tiba-tiba? Orang dia ikut Daryl?" jawab Rania lagi.
"Tumben akur?"
"Biasa, Omnya lagi ada maunya." Rania berbisik.
"Mau apa?"
"Nggak tahu, dari sore ngajakin Anya terus."
"Hmm … mencurigakan. Mereka kan seperti kucing dan anjing kalau bertemu."
"Heem."
"Sekarang mana Kak Darylnya?" Amara melihat sekeliling.
"Nggak tahu, tadi sih ada di belakang."
"Ara?" Mytha pun muncul setelah mengetahui putrinya turun.
"Mama!" Amara menyambut kedatangan ibunya bersama ayah tiri dan adiknya.
"Kamu sehat?"
"Sehat Ma, maaf aku belum bisa ke rumah. Kak Galangnya sibuk terus, apalagi sekarang harus terapi." Dia memeluk mereka bergantian.
"Iya Ma, maaf." Galang pun menyahut.
"Tidak apa-apa, yang penting kamu sehat. Bagaimana kandungannya?" Mytha menariknya ke ruang tengah di mana hampir seluruh keluarga berkumpul.
"Baik, sekarang udah dua bulan." Dan semua orang menyambutnya dengan suka cita.
"Lama amat Dudul! Udah tahu mau banyak orang, malah ngamar!" Rania menyenggol lengan Galang yang masih berada di dekat tangga bersamanya. Sementara kedua anaknya sudah berbaur dengan anak-anak Arfan dan anak lain yang ikut berkunjung ke rumah itu.
"Mandi dulu, Oneng! Masa mau banyak orang akunya lecek?" jawab Galang.
"Alah, udah laku ini? Mau punya anak juga nggak usah ganteng-ganteng. Nanti banyak yang lirik."
"Dih? Masa gitu? Mandi bukannya biar ganteng, tapi biar bersih. Emangnya nggak suka ya lihat Pak Dimitri bersih? Maunya lecek-lecekan gitu kayak duit seribuan di dalam dompet?"
"Apaan? Aku nggak punya uang seribuan." Rania mendelik.
__ADS_1
"Sombongnya yang sudah jadi istri sultan?"
"Ya emang keadaannya gitu?"
"Baguslah, bagus. Istrinya sultan yang ganteng!" Galang tertawa.
"Ah, kalau ingat itu aku kesel!"
"Apaan?"
"Papinya Si Anya kalau dandan ngalahin Mama Fia kayaknya."
"Masa?"
"Dia sampai sering rebutan ikat rambut sama anaknya sendiri."
"Nggak mungkin! Ikat rambut buat apa?"
"Ya buat ngikat rambutnya pas lagi distyling."
"Masa? Hahahah!" Galang tertawa lagi.
"Dia kalau pagi-pagi dandannya balapan sama Si Anya."
"Ya bagus, jadi kamu ada kerjaan selain ngurusin motor. Ngurusin suami kamu kenapa?"
"Dih, males. Masa harus dandanin dia kayak gitu?"
"Ya nggak apa-apa, suami ganteng memang harus dandan. Masa CEO Nikolai Grup harus berantakan? Malu dong sama klien."
"Ah, aku pusing kalau lihat dia dandan. Skincare sama alat kecentilannya ngalahin punya aku."
Galang kembali tertawa.
"Belajar sama suami kamu Oneng!"
"Belajar apaan?"
"Belajar dandan sama merawat diri juga, biar tetep cantik."
"Nggak usah, nggak belajar dandan juga aku tetep cantik!" Rania mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Dih, kepedean kamu?" Galang mencibir.
"Harus dong, biar nggak insecure."
"Nanti Pak Dimi ada yang godain?"
"Soal itu aku udah tahu. Banyak pengusaha cewek yang deketin suami aku."
"Terus?"
"Ya nggak apa-apa, asal suami akunya nggak merespon."
"Kalau ternyata Pak Dimi merespon, gimana?"
"Masa?"
"Coba aja, nanti aku pakai si hitam untuk hajar mereka."
"Siapa si hitam?"
"Motor yang aku pakai balapan."
"Dih, ngeriiii."
"Makanya."
"Iya deh iya. Mana ada yang berani sama kamu ya? Sepertinya pelakor pun akan mikir seribu kali lipat kalau macam-macam sama kamu. Jadi tenang sajalah." Galang lagi-lagi tertawa.
"Ngomong-ngomong soal motor, kenapa kamu nggak ikut balapan minggu ini?" Lalu Galang bertanya.
"Ya masa keponakan mau resepsi akunya nggak ada? Nanti suami aku sendiri, kasihan." Rania menjawab.
"Memangnya bisa begitu ya? Jadwalnya longgar?"
"Bisa absen, kan sesekali nggak apa-apa. Kasihan juga Crew, makanya aku suruh istirahat. Beberapa bulan ini jadwalnya padat."
"Hmmm … Kamu masih betah balapan?" Galang bertanya lagi.
"Masih lah, masih ada kesempatan ini."
"Anak-anak sudah lima tahun lho."
"Memangnya kenapa?"
"Nggak ada niat pensiun gitu?"
"Belum kepikiran."
"Begitu ya?"
"Akunya masih seneng di lintasan."
"Nggak sayang apa? Kamu kehilangan momen penting mereka? Hanya sebentar lho."
"Pernah juga kepikiran soal itu sih."
"Terus kenapa kamu belum berhenti? Selama balapan kamu juara dunia terus, bahkan sampai akhir musim. Aku pikir itu cukup."
"Belum, Lang."
"Kamu pikir begitu?"
"Ya, semua pilihan itu ada resikonya kan? Aku milih anak-anak, karir yang berhenti. Milih karir, ninggalin anak juga. Lagian balapan nggk akan selamanya. Mungkin satu atau dua tahun lagi aku pensiun."
"Nggak sekarang?"
"Tanggung, Lang."
__ADS_1
"Hmm …."
"Mommy!" Zenya berlari menghampiri mereka.
"Ya, Sayang?"
"Ada Anom!" Anak itu menunjuk ke arah pintu, dan muncullah ayah dan ibunya juga Mayang dan Arif yang diikuti ketiga adiknya. Yang segera disambut oleh tuan rumah dengan begitu ramahnya.
"Kok kalian kesini? Aku pikir langsung ke apartemen?" Galang memeluk kedua orang tuanya.
"Tadinya. Tapi ayah sama ibu kamu maksa ke sini dulu." Angga menjawab, lalu segera menggendong cucu kesayangannya.
"Jejen sehat?"
"Zen Pah!" Rania bereaksi.
"Iya iya. Anom lupa terus ya?" Angga mengusap kepala Zenya.
"Mau ketemu besan sebelum pesta. Kalau besok pasti sibuk." Mayang menjawab pertanyaan putranya.
"Terima kasih Bu, sudah repot-repot datang ke sini." Arfan segera menjamu tamu.
"Sama-sama Pak Arfan, kami juga berterima kasih sudah diterima di sini. Maaf, tidak bisa bawa apa-apa." Mayang melirik beberapa orang pegawai yang mengeluarkan barang-barang yang dia bawa dari Bandung. Yang sebagian besar adalah merupakan makanan buatannya sendiri.
"Ini cukup Bu, bisa membagi seluruh keluarga." Arfan sedikit tertawa.
"Iya Pak, hanya makanan kampung." Mayang berujar.
"Saya suka makanan kampung, mengingatkan waktu kecil." Sofia pun datang menyambut.
"Kalau gitu, Om Galang percuma dong mandinya lama-lama?" Anya menghampiri ketika mengetahui ada sang kakek yang datang malam itu.
"Kenapa percuma?" Maharani memeluk cucunya yang satu ini, lalu menggendongnya juga ketika dia merentangkan tangannya.
"Orang Nenek May nya juga datang ke sini sendiri?"
"Memangnya kenapa?" Mayang merespon.
"Tadi Om Galang mandinya lamaaaaaa banget. Katanya karena mau ketemu Nenek May, Kakek, Anom sama Enin di apartemen."
"Masa?"
"Iya, sampai semua orang nungguin karena mau ketemu Kak Ara."
"Ee … kan Kak Ara juga nunggu Om, Anya!" Galang menjawab celotehan anak itu.
"Iya, berarti Om yang lama mandinya. Udah aku kasih tahu lain kali barengan aja sama Kak Ara biar nggak lama-lama amat."
Rania terbatuk mendengar ocehan anaknya.
"Uuhh, kamu pinter banget sih, mirip siapa ya?" Maharani meraup pipi gembil cucunya.
"Kata Om Der aku mirip Anom sama Mommy. Cerewet juga berisik." Anya menjawab dengan segala keluguannya.
"Apa?" Semua orang terdiam, lalu perhatian mereka beralih ketika Daryl tiba di ambang pintu.
"What?" ucap pria itu.
"Eee … mungkin maksudnya karena Anya suka bertanya ya?" Sofia memecah suasana. Meski merasa canggung, dia mencoba untuk merubah keadaan.
"Nggak kok. Emang Om Der bilangnya gitu tadi. Aku cerewet persis Mommy juga Anom katanya."
"Umm …." Daryl pun bereaksi. Tidak menyangka anak kecil itu akan berkata demikian.
"Kayak Kak Nania juga." sambung Anya.
"Apa hubungannya sama Nania?"
"Nggak tahu, tadi pas ngintip kedainya Kak Ara, Om Der bilang gitu."
"Apa?"
"Dia ngawur!" Daryl sedikit berteriak.
"Ngawur itu apaan? Orang tadi Om Der bilang gitu. Ngomongnya sendiri lagi didalam mobil, katanya aku cerewet kayak Kak Nania."
"Kamu mampir dulu ke kedainya Ara? Pantesan lama." Rania bertanya.
"No!!!" Dan Daryl menjawab.
"Emang nggak, Mommy. Cuma ngintip doang."
"Aku hanya berhenti di sana karena ada telfon. Bukankah berbahaya jika menerima telfon dalam keadaan menyetir?"
"Masalahnya itu kejauhan. Kamu memutar arah kalau ke sana." ucap Rania sambil menatap curiga.
"Umm …."
"Aku juga udah bilang gitu Mom. Tapi Om Der nggak denger. Kirain mau ngajak makan es krim dulu, tahunya cuma ngintip."
"Bukan ngintip Anya!" Daryl dengan rasa frustasi.
"Terus apa? Tadi Om sembunyi waktu Kak Nania keluar? Aku juga disuruh sembunyi kan?" Anya mengingat dengan baik apa yang pamannya itu lakukan sebelum mereka tiba di kediaman Arfan.
"Astaga!"
"Nah, kamu ya!!" tunjuk Rania sambil tertawa.
"Stop stop stop! I don't have time for this! O bozhe, zhacem ya privela etogo revenka ran'she. ( ya Tuhan! Kenapa tadi aku bawa anak itu?)." Pria itu menggerutu seraya melenggang keluar dari rumah.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
Astaga, Anyaa!! 🙉🙉🙉
__ADS_1