
🌺
🌺
"Benar kan besok tidak ada pekerjaan?" Galang meletakkan dokumen yang sudah ditandatangani oleh Dimitri di meja Clarra.
"Sampai sore ini tidak." jawab sekretaris utama Nikolai Grup itu yang juga tengah membereskan pekerjaannya.
"Bagus kalau begitu." Galang dengan raut lega, lalu dia tertawa.
"Senang sekali kamu ini?" ujar Clarra.
"Tentu saja, aku bisa membawa Ara jalan-jalan besok."
"Hmm … oh iya, bagaimana kabarnya sekarang? Sudah lama tidak bertemu?" Perempuan itu kemudian bertanya.
"Sangat baik, pemulihannya cukup cepat dan sekarang dia sedang ham …." Galang hampir saja memberitahu rahasia mereka.
"Apa?"
"Umm … maksudku … hampir bisa jalan. Hehe." Namun dia segera meralat kata-katanya.
"Benarkah?"
"Ya." Pria itu menganggukan kepala.
"Bagus."
"Tentu saja, aku merawatnya dengan baik." Galang dengan bangganya.
"Ya ya ya, kamu benar, Pak." Sedangkan Clarra memutar bola matanya.
"Hhhh … apakah kalian tidak akan pulang? Masih akan mengobrol seperti itu?" Dimitri keluar dari ruangannya, kemudian melenggang ke arah lift.
Dua bawahannya itu segera mengikuti setelah yakin semuanya rapi dan aman di tempatnya.
"Kalian rupanya serius ya?" Dimitri bertanya kepada Clarra saat dia melihat kedatangan Dokter Syahril begitu mereka tiba di pelataran gedung.
"Bukan urusanmu, lagi pula aku tidak suka membicarakan urusan pribadi." jawab sang sekretaris, tertutup seperti biasa.
Dimitri terkekeh.
"Cepatlah menikah, ingat umurmu sudah kepala tiga." ejeknya kepada Clarra yang membuat perempuan itu mendelik kesal.
"Aku serius Cla. Memangnya dia tidak mengajakmu menikah ya? Aneh sekali. Setiap hari antar jemput tapi tidak memiliki kejelasan hubungan? Apa gunanya terus bersama-sama? Lagi pula bukankah dia …."
"Stop Dimi!" Clarra memotong kata-katanya kala Dokter Syahril sudah mendekat.
"Selamat sore?" sapa pria itu dengan ramah seperti biasa.
"Selamat sore Dokter?" Dimitri menjawab, sementara Galang mengangguk sambil tersenyum.
"Tidak ada lembur hari ini Pak?" Dokter itu berkelakar, karena memang akhir-akhir ini perusahaan tempat kekasihnya bekerja sedang sibuk-sibuknya. Mereka sering pulang malam karena jadwal yang sangat padat.Â
"Oh, kebetulan tidak." jawab Dimitri.
"Syukurlah." Dokter Syahril tertawa kecil, kemudian dia melirik kepada Clarra, memberi isyarat untuk cepat pergi dari tempat itu.
"Baiklah, kalau begitu aku duluan ya? Selamat sore, Dimi, Galang? Sampai bertemu hari Senin nanti ya?" ucap Clarra kemudian yang segera menarik Dokter Syahril pergi. Dia tidak ingin atasannya bicara sembarangan dan membuatnya malu.
"Hey, Namaku Dimitri, bukan Dimi!" Pria itu menggerutu, namun Clarra hanya mencebikkan mulutnya. Sementara Galang terkekeh pelan.
"Apa yang kamu tertawakan?" Dimitri menoleh ke arah asistennya.
"Tidak ada Pak."
"Haih, … sebagai direktur perusahaan terbesar se Asia aku benar-benar tidak punya wibawa di hadapan bawahanku sendiri. Sekretarisku berani mengejekku, sementara asistenku sering membantahku. Apa ini namanya?" Pria itu menggerutu.
Galang menutup mulutnya rapat-rapat untuk menahan tawa agar tak menyembur dan membuat atasannya marah.
"Tenang saja Pak, semua keputusan untuk perusahaan masih ada di tangan Anda. Dan nama Nikolai akan tetap membuat siapa pun bergetar hanya dengan mendengarnya saja." Galang berujar.
"Yeah, keuntungannya menyandang nama itu, dan kamu ada di dalamnya." Dimitri mengenakan kaca mata hitamnya saat mobilnya tiba di depan mereka, dan seorang vallet keluar seraya membukakan pintu.
"Hey Galang, sepertinya aku butuh sopir sekarang, aku lelah menyetir sendiri. Tolong carikan sopir untukku." katanya sebelum pergi.
"Baik, mulai besok akan ada penyeleksian pegawai kita Pak." Galang menjawab.
"Terserah padamu. Sebaiknya cepat temukan orang yang tepat, karena aku sudah benar-benar lelah dengan lalu lintas akhir-akhir ini."
"Baik Pak."
"Aku heran, kenapa jalan raya masih saja macet? Padahal banyak dibangun jalan baru?" Pria itu mengeluh.
"Kendaraannya semakin banyak Pak."
"Hmm … apa kita perlu membangun jalan baru lagi? Mungkin itu akan mengurangi kemacetan?" Dimitri dengan ide gilanya.
"Maaf Pak?"
"Menurutmu, apa jalan baru akan bisa mengurangi kemacetam di Jakarta?"
"Belum tentu Pak."
"Coba analisa dulu sebelum memberiku jawaban. Siapa tahu bisa?"
"Dan Bapak akan membangun jalan baru jika seandainya bisa?"
"Tentu saja. Bayangkan waktu yang bisa dihemat kalau jalanan tidak macet? Dan aku akan lebih cepat sampai di rumah tanpa hambatan."
__ADS_1
Galang berpikir.
"Atau kita bangun jalan khusus saja." ucap Dimitri lagi.
"Maksud Bapak dengan jalan khusus?"
"Seperti tol. Tapi hanya aku yang boleh melewati."
"Astaga!" Galang bergumam.
"Kenapa? Tidak boleh?"
"Itu hal yang sia-sia Pak."
"Sia-sia apanya? Itu bagus. Atau selain aku, jalan itu hanya boleh dilewati oleh karyawan Nikolai Grup saja. Bayangkan se-efisien apa penggunaan waktu? Dan pegawai kita hanya perlu memikirkan pekerjaan saja tanpa terganggu stress akibat kemacetan."
Galang menghembuskan napas keras.
Pria ini sepertinya sudah gila? Batinnya.
"Bagaimana? Bagus kan ideku?"
"Bagus sekali Pak."
"Nah kan?"
"Tapi itu mustahil."
"Mustahil apanya?"
"Banyak aspek yang harus dipertimbangkan sebelum kita memutuskan untuk membangun proyek. Bayangkan berapa besar biaya, dan berapa banyak hal yang harus dihilangkan untuk memuluskan rencana itu."
"Itu tugasmu untuk memperhitungkan segala kemungkinannya."
"Negatif." Galang menggelengkan kepala. "Kita tidak bisa seenaknya membangun jalan. Akan merugikan banyak pihak."
"Bukan seenaknya, tentu saja dengan perhitungan yang benar tidak boleh merugikan siapa pun." Dimitri menjawab.
"Tetap saja itu mustahil. Saya lebih baik menawarkan heli kopter saja untuk Bapak agar tidak terlalu lama diperjalanan."
"Ah, kamu ini!"
"Silahkan konsultasi kepada ahli manapun, tapi saya yakin mereka akan memberikan jawaban yang sama."
Dimitri mendengus keras.
"Sudah sore Pak," Galang melihat jam tangannya. "Semoga perjalanannya lancar." Lalu dia tersenyum lebar kepada atasannya.
Dimitri kemudian masuk ke dalam mobilnya, dan segera pergi setelah vallet menutup pintu untuknya.
"Dia itu gila atau apa? Dikiranya membangun jalan semudah membuat kedai? Dasar Nikolai!" Galang berdecak sambil menggelengkan kepala.
Amara sudah siap di belakang pintu begitu jam dinding sudah menunjukkan pukul 17.30 hampir petang. Dia bersemangat menyambut kepulangan suaminya yang sore itu benar-benar pulang cepat tanpa drama lembur seperti hari-hari sebelumnya.
Apalagi setelah tahu jika Galang sudah setengah perjalanan beberapa saat yang lalu.
Dan hatinya semakin berbunga-bunga ketika pintu terdengar dibuka dan di dorong dari luar.
"Oh, hey? Kamu menunggu aku?" Galang sedikit terkejut saat dia masuk dan mendapati istrinya berada di belakang pintu.
"Kakak!" Amara merentangkan tangannya seperti biasa, dan pria itu segera menghambur untuk memeluknya.
"Kamu wangi? Apa sudah mandi?" Galang bertanya.
"Hu'um." Amara menganggukkan kepala.
"Katanya kalau mandi suka mual?"
"Emang."
"Tapi sore ini kamu mandi?"
"Tadi nggak."
"Masa?"Â
Perempuan itu mengangguk lagi.
"Kayaknya aku mual kalau mandi pagi deh?"Â
"Oh ya?"
"Iya, kan suka gitu setiap pagi? Kalau sore nggak."
"Aneh sekali ya?"
"Iya." Perempuan itu kemudian tertawa.
"Ehmm … ma-maaf Pak?" Seorang perempuan berusia sekitar 30 tahunan menginterupsi percakapan intim mereka saat itu, dan membuat Galang segera melepaskan rangkulannya dari tubuh Amara.
"Oh … ya?"
"Apakah saya sudah boleh pulang?" Perempuan itu bertanya.
"Mmm … ya, tentu saja." Galang menjawab.
"Baik Pak, terima kasih." katanya.
"Makasih ya Mbak?" Amara berujar saat perempuan itu berpamitan, yang kemudian segera pergi.
__ADS_1
"Aku pikir dia sudah pulang?" Galang tertawa sambil mendorong kursi roda Amara ke ruang tengah.
"Belum, kan nunggu Kakak pulang dulu?"
"Habisnya kamu tidak bilang. Untung saja aku nggak langsung membawamu ke kamar. Kalau tidak, kita bisa malu?"
"Ish! Lagian Kakak masa langsung mau ke kamar aja? Baru juga pulang?"
"Memangnya kenapa? Biasanya juga begitu?"
"Sekarang nggak boleh, apalagi kalau langsung itu."Â
"Kenapa?"
"Dokter bilang begitu, ingat nggak kemarin?"
"Umm …."
"Babynya masih kecil banget, jadi nggak boleh sering-sering itu …."
"Masa?"
"Iya, nanti bahaya."
"Begitu ya? Kok aku lupa?"
"Dih?"
"Aku kira kamu juga lupa?" Pria itu tertawa, sedangkan Amara memutar bola matanya.
"Udah, sana cepet mandi. Aku udah lapar."
"Siapa yang masak? Atau beli?" Galang bertanya.
"Mbak Lia."
"Ohh …."
"Cepetan."
"Kamu … nggak mau ikut mandi?" ucap Galang yang sudah melepaskan jas dan dasinya.
"Kan udah tadi?"
"Maksudku, mandi lagi?" Pria itu tersenyum lebar sambil menggerakkan alisnya ke atas dan ke bawah.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Nanti bukannya mandi." Amara bisa membaca akal bulus pria itu yang menyeringai.
"Padahal kemarin-kemarin sengaja nunggu aku kalau mau mandi?"
"Ceritanya lain Kak."
"Masa?"
"Iya."
"Karena Babynya?"
Amara mengangguk lagi.
"Jadi kita nggak boleh … melakukannya dulu?"
"Boleh."
"Tuh kan?"
"Tapi nanti, sekarang babynya bisa aja masih lemah. Kalau sering-sering bisa bahaya."
"Oh ya?"
"Iya. Kata dokter gitu, Kakak lupa?"
"Tadi sih lupa, tapi kamu ingatkan." Galang tertawa lagi.
"Untung aku ingat, kalau nggak …."
"Kenapa?"
"Kita suka kebablasan. Hehehe." Amara pun tertawa.
"Kamu ini!" Galang mengusak puncak kepalanya dengan gemas.
"Cepat sana mandi! Aku lapar!" Amara merengek.
"Iya Neng, iya." Galang segera melakukan apa yang perempuan itu katakan.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
Uluh uluh, so sweeetttt 😂😂
__ADS_1