My Only One

My Only One
Harapan


__ADS_3

🌺


🌺


Satu minggu kemudian …


Galang mempercepat langkahnya saat dia mendengar erangan tertahan dari ruang perawatan Amara. Lalu segera menerobos begitu dia mencapai pintu, dan segera masuk ke dalam sana. Dan pria itu tertegun ketika mendapati dua perawat , juga ditambah Arfan dan Mytha yang tengah berusaha membangunkan gadis itu.


Dua orang perawat menahan di depan, dan  Arfan menyangga punggungnya di belakang, membantu menahan di sisi lainnya ketika gadis itu disandarkan pada bantal yang telah ditumpuk sebelumnya.


Dua perawat perempuan itu bersama Mytha membantunya mengganti pakaian sementara Arfan mundur menjauh. Begitu juga Galang yang memalingkan pandangan ke arah lain.


Terdengar isakan disela perawatan hari itu. Tentu saja, Amara pastinya masih merasa sangat kesakitan dengan cedera yang dialaminya dan itu bukanlah hal yang mudah untuk dilalui seperti juga hari-hari sebelumnya.


Penyangga lehernya sudah dilepaskan, membuat keadaannya terlihat lebih jelas kini. Bekas luka goresan pada wajah yang berasal dari serpihan kaca mobil yang pecah saat tabrakan menjadi luka yang paling jelas selain balutan gips dan verban pada tangan dan kakinya.


Pundaknya masih bergetar dan isakan masih terdengar keluar dari mulutnya. Juga wajahnya yang masih terlihat basah karena air matanya yang terus saja mengalir.


Galang mendekat kepadanya setelah mereka selesai, dan para perawat pun pergi, tanpa memalingkan pandangannya sama sekali. Hatinya masih saja terasa ngilu setiap kali dia melihat keadaannya yang seperti ini.


“Lihat? Ada Galang.” ucap Mytha yang menyisir rambut panjangnya pelan-pelan.


“Hai Galang? Kamu pulang kerja?” tanya nya kepada Galang dengan tangannya yang cekatan mengoleskan krim pada wajah putrinya.


“Iya Bu.”


“Hmmm ….” Mytha melirik jam dinding yang menunjukkan hampir pukul lima sore.


“Hari ini ada pertemuan diluar kantor, jadi ….”


“Sudah selesai?"


"Sudah Bu."


"Lancar?"


"Lancar."


"Syukurlah. Jangan sampai pekerjaanmu terganggu karena kamu sering bolak-balik ke sini ya?"


"Tidak sama sekali Bu."


"Baiklah. Kamu sudah cantik." Mytha menyelesaikan pekerjaannya.


"Malam ini Mama tidak bisa menemanimu, Akmal ada kegiatan diluar sekolah dan sebentar lagi dia pulang, sementara Papa Wira sedang pergi keluar kota. Tidak apa-apa?" tanya Mytha kepada anaknya.


Amara pun mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu Mama pulang sekarang ya?"


"Iya."


"Kamu harus cepat sembuh, agar kita bisa kembali berkumpul lagi, oke?" Perempuan itu mengecup pelipis putrinya.


"Mas aku pulang dulu." Lalu dia beralih kepada Arfan.


"Oh, iya. Ada yang menjemput?"


"Ada sopir."


"Baiklah kalau begitu."


"Aku pamit." Dia melenggang ke arah pintu. "Pergi dulu ya Galang?"


"Iya Bu, silahkan."


***


"Papa juga harus pulang dulu, nanti malam kembali lagi. Ada yang mau Papa bawakan?" Arfan pun mendekat.


"Nggak usah." Amara menjawab dengan suara parau.


"Baik kalau begitu. Kamu tidak apa-apa kan kalau ditinggal?" ucap Arfan kepada Galang.


"Tidak apa-apa Pak."


"Baik, hanya sebentar."


"Ya." Galang mengangguk.


Lama juga tidak apa-apa, malah kalau bisa tidak usah kembali, jadi aku bisa bicara banyak dengan Ara. Tapi itu mustahil kan? Terserah saja lah. Batin Galang bermonolog.


"Papa tinggal dulu ya?" Arfan kembali beralih kepada Amara, dan putrinya itu mengangguk. Kemudian dia pun keluar.


"Ehm …" Galang mendekat lalu duduk di tepi ranjang seperti biasa.


"Mau makan?" tawarnya kemudian.


"Udah."


"Mau minum?"


"Udah juga."


"Terus mau apa dong?" Pria itu bersedekap.


"Nggak mau apa-apa."


"Hmm …."


"Kenapa Kakak bolak-balik kesini terus?" Amara tak tahan untuk tidak membahasnya. 


Selama berhari-hari dia membiarkan pria itu datang. Pagi hari sebelum bekerja, siang hari saat jam istirahat, atau sore harinya ketika dia pulang bekerja. Hingga sering kali dia bermalam untuk menemaninya di sana bersama Arfan ayahnya. Dan di akhir minggu bahkan Galang menemaninya sepanjang waktu tanpa beranjak sedikitpun selain untuk mencari makanan.


Meski mereka belum bicara banyak mengenai apa pun, tapi perhatian dan sikap pria itu kepadanya benar-benar lain dari biasanya. Dan itu membuat Amara bingung.


"Karena aku mau." Galang menjawab.


"Ya kenapa Kakak malah kesini terus?"


"Sudah aku bilang karena aku mau." Pria itu mengulangi jawabannya.


"Ck!" Amara berdecak kesal.


"Itu terus yang kamu tanya?"


"Ya karena Kakak nggak jawab."


"Sudah aku jawab tadi."


"Jawaban Kakak nggak jelas."


"Nggak jelas sebelah mananya? Kan sudah aku jawab kalau aku memang mau ke sini."


"Kurang kerjaan."


"Sebenarnya aku sibuk sih, tapi aku berusaha menyelesaikan pekerjaan tepat waktu biar bisa ke sini menemani kamu." Galang terkekeh.


Sementara mara mencebikkan mulutnya.


"Sudah bisa begitu? Berarti kamu sebentar lagi sembuh." Galang terkekeh lagi.


"Maksud aku apa nggak akan jadi masalah sama Kak Clarra?"


"Kenapa harus jadi masalah dengan Clarra?"


"Kok kenapa?"


"Nanti kalian berantem, hubungan kalian bermasalah, dan itu gara-gara aku."


"Masa?"

__ADS_1


"Nanti aku lagi yang disalahin."


Galang terdiam. Mengapa ini rasanya lucu sekali? Dia pasti merasa sangat ketakutan karena mengira akan terjadi masalah dengan hubungannya bersama Clarra yang sudah berakhir minggu lalu. Sedangkan gadis itu belum mengetahui apa pun, dan dia juga belum memberi tahunya sama sekali.


Sengaja, Galang memilih menunda untuk membicarakan masalah ini karena tidak ingin meninggalkan kesan yang kurang baik. Tapi sepertinya ini saat yang tepat.


"Tidak ada yang akan menyalahkanmu." ucapnya, dan dia lebih mendekat.


"Nggak mungkin. Masa Kak Clarra bisa kayak gitu?"


"Bisa, dan tidak ada masalah dengan itu."


"Kakak bohong." Amara menatap wajahnya, dan Galang menggelengkan kepala.


"Atau Kakak cuma nggak tahu aja gimana perasaan Kak Clarra kalau Kakak kayak gini."


Galang tidak berniat menyanggah.


"Dia pasti cemburu, cuma nggak ngomong aja."


"Masa?"


"Iya. Masa dia nggak cemburu tahu pacarnya nemuin mantannya melulu? Sampai berhari-hari, menginap lagi? Kalau bukan Kak Clarra yang aneh, pasti Kakak yang aneh."


Galang tergelak hingga wajahnya terdongak ke atas.


"Malah ketawa?"


"Iya, habisnya kamu lucu. Padahal masih sakit."


Amara mendengus keras.


"Bagaimana hal ini akan menjadi masalah kalau hubungan kami saja sudah berakhir?" Kemudian pria itu berujar.


Amara kembali menatapnya, namun kini dia bungkam.


"Kami memutuskan untuk berpisah saja."


"Kami sudah putus." Galang memperjelas ucapannya.


Amara menggigit bibirnya keras-keras.


"Jadi tidak akan ada masalah kalau pun misalnya aku tetap menemanimu sepanjang waktu." ujar pria itu, meski dia berusaha tenang namun tetap saja hatinya merasa sedikit takut.


"Aku tidak akan berani bertindak terlalu jauh seandainya kami masih bersama, tapi aku juga tidak bisa menutup mata dengan keadaanmu. Jadi aku putuskan untuk mengakhiri semuanya, walau tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi minimal aku tidak menyiksanya dengan membiarkan dia menungguku tanpa kepastian."


Amara berpikir.


"Percayalah, tidak akan ada masalah yang timbul seandainya aku sering menemanimu sampai kapanpun."


"Kakak memutuskan Kak Clarra demi aku? Karena keadaanku?"


Galang menggelengkan kepala.


"Kakak meinggalkan Kak Clarra dan mengorbankan hubungan kalian demi aku yang seperti ini?"


"Tidak, bukan begitu. Maksudku …."


"Kakak pikir itu bagus? Akan membuat aku terkesan dan tersanjung?"


"Ra."


"Seorang laki-laki yang meninggalkan kekasihnya demi aku yang seperti ini?"


Galang merangsek lebih dekat, kemudian dia meraih tangan Amara, namun Gadis itu segera menepisnya.


"Kami ini perempuan, nggak pantas Kakak perlakukan seperti itu. Dipilih sesuai kriteria, dilihat apa sesuai keinginan, lalu ditinggalkan jika kami tidak seperti apa yang kalian mau."


"Bukan begitu Ra."


"Apa semua laki-laki jahat seperti itu sehingga kami para perempuan harus selalu mengorbankan perasaan agar kalian senang?"


Amara menggelengkan kepala.


"Atau aku semenyedihkan itu sehingga  dipilih ketika hati kakak terenyuh karena keadaan aku yang sekarang ini?"


"Bukan Ra."


"Terus apa?"


Galang terdiam sebentar.


"Kakak mau bilang kalau itu semua Kakak lakukan karena mencintai aku?"


Galang hampir membuka mulutnya untuk menjawab.


"Yang Kakak rasakan untuk aku itu bukan cinta, tapi kasihan."


"Lihat keadaan aku sekarang? Aku nggak berdaya, aku nggak bisa apa-apa. Bahkan untuk bangun aja aku butuh bantuan orang lain. Untuk makan aja aku butuh tangan orang lain yang menyuapi aku. Dan Kakak merasa apa yang Kakak lakukan ini karena cinta? Kayaknya perasaan Kakak salah deh."


"Amara!!" Galang menggeram frustasi, tapi dia mencoba untuk menahan diri. Tidak ingin hal ini berubah menjadi kacau lagi dan dia akan kembali kehilangan kesempatan.


"Kak Clarra itu nggak pantas untuk Kakak perlakukan kayak gini."


"Dan kamu pikir Clarra pantas untuk terus aku bohongi?" Galang membalikan Perkataannya.


"Dia pantas mendapatkan orang lain yang mencintainya, yang bisa memperlakukannya seperti yang seharusnya. Dan itu bukan aku."


"Aku pernah merasa bahagia dengannya, tapi sebagian diriku tidak bisa menerima kehadirannya. Aku juga ingin memiliki perasaan kepadanya seperti pasangan kekasih lainnya tapi aku tidak bisa."


"Aku juga pernah memutuskan untuk membangun hal baru, dan kami berusaha untuk selalu sejalan tapi apa yang terjadi? Pada akhirnya aku selalu kembali kepadamu, padahal sebagai kekasih aku pikir dia sangat sempurna. Lalu ada apa denganku? Ada apa dengan perasaanku?"


"Aku mengakhiri hubungan dengannya bukan karena kamu, atau keadaanmu yang seperti ini. Meski aku akui bahwa aku ingin menemanimu melewati masa-masa sulit ini. Menemanimu menjalani apa pun yang akan terjadi setelah ini. Tapi sebenarnya aku melakukannya untuk diriku sendiri. Untuk melakukan hal yang benar dengan membebaskan Clarra, dan membiarkannya memilih jalan hidupnya sendiri. Lalu apakah itu membuatku menjadi laki-laki yang tidak berperasaan?"


Amara menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.


"Tahu apa kamu soal perasaanku? Kamu pikir waktu dua tahun itu mudah untukku melupakanmu? Atau segala hal yang pernah kita lewati?"


Galang menggelengkan kepala. "Tidak Ra. Aku tidak melewatinya semudah yang kamu pikir. Dan jika kamu menganggap aku melakukan ini tanpa perasaan, kamu salah. Karena pada kenyataannya aku pun mengorbankan perasaanku sendiri."


Amara mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Kamu tahu apa yang paling aku takutkan saat ini?" Galang kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Amara.


"Penolakan seperti ini. Bukan karena apa yang telah aku korbankan, tapi karena apa yang akan kembali hilang dari jangkauan. Dan aku yakin ini rasanya akan lebih menyakitkan dari sebelumnya. Kamu tahu kenapa? Karena aku sudah berharap banyak."


"Jadi sebenarnya siapa yang menyedihkan di sini? Kamu pikir keadaanmu menyedihkan? Lihat saja aku. Aku sedang mengemis cinta pada mantan kekasih yang meninggalkanku dua tahun lalu. Tapi tidak tahu apa aku akan mendapatkannya lagi, karena sepertinya apa pun yang aku lakukan tidak berguna."


"Tapi setidaknya aku sudah mencoba bukan? Apa pun yang terjadi nanti aku tidak akan peduli. Dan aku pun tidak akan memintamu untuk kembali sekarang, tapi setidaknya biarkan aku tetap kembali ke sini, karena untuk sekarang, hanya itu yang bisa aku lakukan. Dan aku pastikan tidak akan mempengaruhi hubunganku dengan siapa pun. Aku jomblo lagi sekarang." lalu dia terkekeh, meski suaranya terdengar getir.


"Kakak konyol." Amara menepuk paha pria itu dengan kepalan tangan kirinya.


"Hmm … memang. Bersamamu selalu membuatku menjadi orang konyol."


"Bukankah itu pengaruh buruk?"


"Ya, memang buruk. Tapi aku suka dengan pengaruh buruk seperti itu."


Amara mendengus keras.


"Jadi tidak usah khawatir lagi, karena Clarra tidak akan marah lagi seperti waktu itu."


"Hum?" Amara mengerutkan dahi.


"Aku tahu dia menemuimu sebelum kecelakaan dan mengatakan banyak hal."


"Terus?"


"Dan dia merasa bersalah dengan itu."


Amara mengingat saat-saat terakhir sebelum peristiwa tabrakan itu terjadi. Dan apa yang Clarra katakan yang membuat dirinya berpikir jika ayahnya yang menyuruh orang melakukan pemukulan terhadap Galang.

__ADS_1


"Aku berantem sama Papa gara-gara itu."


"Kenapa?"


"Aku pikir Papa yang nyuruh orang mukulin Kakak."


Galang terkekeh.


"Aku salah ya?'


"Memang kamu salah."


"Terus siapa yang mukulin Kakak?"


"Nanti kamu juga tahu."


"Hmm … orang lain?"


"Ya, bisa dibilang begitu."


"Duh, aku salah nih sama Papa."


"Memang, baru sadar ya?"


"Hu'um." Tiba-tiba saja Amara merasa sangat takut. Dahinya sampai berjengit keras sambil mengingat perkataannya terhadap sang ayah.


"Kenapa lagi? Sakit?"


Amara menggelengkan kepala.


"Aku udah salah marah-marah sama Papa." ucap gadis itu.


"Sudah tahu, kan tadi sudah bilang."


"Tapi aku baru sadar."


"Terus?"


"Apa Papa marah sama aku ya?"


"I-iyaaa … sepertinya Papa kamu marah." bohong Galang, dengan ide konyolnya.


"Masa? Tapi nggak kelihatan?"


"Papa kamu cuma pura-pura. Dia menunggu sampai kamu sembuh, baru akan membuat perhitungan." Pria itu dengan bualannya.


"Kakak bohong."


"Serius."


"Aku harus buru-buru minta maaf nih?"


"Oo iya, memang."


"Sebelum marah lagi ya?" Amara ingat ekspresi kemarahan ayahnya saat mereka bertengkar minggu lalu sebelum kecelakaan, dan itu terasa mengerikan sekarang, dan dia mulai panik.


"Ya."


"Umm …"


"Jangan takut, aku akan mendampingimu menghadapi Papamu."


"Beneran?"


"Ya, aku akan jelaskan apa yang membuat kamu berpikir seperti itu."


"Tapi nanti Papa jadi marah sama Kak Clarra?"


"Tidak akan."


"Kakak yakin?"


"Yakin." Galang berpindah ke sisi gadis itu, kemudian mengulurkan tangan untuk merangkul bahu kecilnya.


"Kalau Papa marah?"


"Aku yang tangani."


"Emangnya bisa?" Amara mendongak.


"Bisa."


"Sekarang berani menghadapi Papa?"


"Berani lah." Galang sedikit membusungkan dada.


"Sombong."


"Sedikit." Pria itu tertawa gembira. 


Dadanya terasa sedikit lega dengan keadaan ini, dan dia merasa ini merupakan awal yang cukup baik.


Lalu mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama.


"Kira-kira, Papa kamu kesini lagi nggak ya?" Galang kembali berbicara.


"Nggak tahu."


"Biasanya … tidak."


"Hu'um."


"Terus …."


"Aku ngantuk Kak." ucap Amara dan matanya mulai sayu, mungkin efek obat yang diminumnya beberapa saat yang lalu.


"Umm …"


"Mau tidur."


"Oke." Galang menarik tangannya dari pundak gadis itu.


"Mau aku turunkan satu bantalnya biar kamu bisa berbaring?" Pria itu menawarkan.


"Boleh."


Lalu Galang mengambil satu bantal dan membantu Amara berbaring. Meski dengan susah payah, namun dia berhasil melakukannya. Kemudian pria itu membenahi letak selimut yang menutupi tubuhnya.


"Tidurlah, aku akan tetap di sini."


"Hmm …"


"Kalau ada apa-apa panggil saja."


"Iya."


"Aku disini." ucap Galang lagi yang mundur  lalu menjatuhkan tubuh tingginya di sofa.


Dan Amara menganggukkan kepala.


Tanpa menunggu lama lagi gadis itu sudah memejamkan matanya dan dia terlelap begitu dalam. Meninggalkan Galang dengan pikirannya sendirian dan perasaannya yang mulai memiliki harapan.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


cieee yang udah jomblo, cieeee langsung pedekate. cieeee yang udah berharap 😂😂

__ADS_1


__ADS_2