
🌺
🌺
"Aku udah selesai, duluan ya?" Arkhan meletakkan sendok dan garpu diatas piring yang sudah kosong. Kemudian bangkit dari kursi dan melangkah keluar.
Mereka makan bersama pada sore hari setiap Galang datang menjemput Amara saat pulang bekerja.
"Aku juga udah. Mau lanjut beresin tugas ya?" Anandita ikut bangkit.
"Aku juga." Aksa pun melakukan hal yang sama seperti kedua kakaknya. Kecuali Asha yang masih asyik menikmati puding buatan ibunya.
"Kamu tidak ikut kakakmu?" Arfan menginterupsi kegiatan makan anak bungsunya.
"Nggak." Asha menggelengkan kepala.
"Kenapa? Tidak ikutan demo?" tanya Arfan lagi.
"Demo apaan?"
"Demo mendukung Kakakmu yang marah karena belum Papa belikan motor?"
"Hhmm .. Nggak ah, aku sibuk, makanan aku belum habis lah." jawab anak itu yang kembali mengambil puding di depannya.
"Mommy, besok bekalnya tambahin puding ini ya? Aku suka." katanya, kepada sang ibu.
"Memangnya ada makanan yang kamu nggak suka? Kayaknya semua makanan kamu suka deh?" sahut Amara yang sudah menyelesaikan makannya.
"Kakak bener. Hehehe …." Asha tertawa.
"Hmmm … dasar gembul!" cibir Amara kepada adiknya.
"Papa! Kakak sebut aku gembul!" Anak itu berhenti makan sejenak.
"Memang kamu gembul, semua makanan masuk. Udah tambah dua kali sekarang tambah lagi pudingnya banyak. Ngabisin stok!" ucap Amara lagi sambil tertawa.
"Aaa … Papa! Kakak terus sebut aku gembul!" Kini Asha merengek, membuat sang Kakak tertawa terbahak-bahak.
Namun kedua orang tua mereka hanya menggelengkan kepala sambil ikut tertawa.
Galangpun sama, kemudian perhatiannya teralihkan ketika dia melihat Arkhan yang berada di teras belakang melalui jendela.
"Nah kan, merengek juga tetep sambil makan?" Amara terus mengejek adik bungsunya yang melanjutkan kegiatan makannya.
"Sudah Kak, nanti Asha nya menangis. Kita tidak akan bisa membuatnya berhenti dengan cara apa pun." Dygta menghentikan kelakuan putri tertuanya.
"Memangnya masih begitu? Masa udah abege juga masih?"
"Hah, pokoknya jangan coba-coba." Dygta memperingatkan.
"Terus kalau kambuh tantrumnya gimana sekarang cara sembuhinnya?"
"Itu urusan Papa."
"Ah! Pasti dibawa jalan-jalan sambil jajan kan?"
"Kurang lebih begitu."
"Hmm … gampang."
"Aku … keluar sebentar ya?" Galang bangkit sambil menunjukkan layar ponselnya yang berdering nyaring dan tampak nomor Dimitri yang memanggil.
Dan percakapan pun beralih ke ruang tengah setelah Asha benar-benar selesai dengan urusan makannya.
***
"Baik Pak, tidak usah khawatir.
 Biar saya yang tangani." Galang masih menempelkan ponsel ditelinga setelah beberapa saat.
"...."
"Tidak apa, semuanya bisa kita atur ulang."
"...."
"Baik." Lalu percakapan pun berakhir.
"Cla, bisa kirimkan aku nomor sekolahnya Anya?" Galang beralih menelfon Clarra.
"Bisa, ada apa?"
"Ada sedikit masalah."
"Masalah apa?"
"Hanya masalah anak-anak."
"Anya berkelahi lagi?"
"Begitulah."
"Baik, aku kirimkan sekarang."
"Terima kasih."
Lalu tak lama kemudian Galang menerima pesan berisi nomoh telefon dan beberapa keterangan yang segera dia simpan di catatan kontaknya.
Pria itu memasukkan ponsel ke saku celananya dan hampir saja kembali ke dalam rumah ketika pandangannya menangkap sosok Arkhan yang masih berada di tempatnya semula.
Anak remaja itu duduk menyandarkan tubuhnya pada kursi malas di teras yang menghadap ke pantai yang langitnya mulai meredup dengan gurat-gurat jingga keemasan yang mempesona.
Galang memutuskan untuk menghampirinya.
"Hey? Tugasmu sudah selesai?" Dia duduk di kursi kosong disampingnya.
Arkhan menoleh, kemudian mengangguk.
"Di sekolah ada kesulitan? Biasanya anak kelas satu mengalami penindasan dari kakak kelas?"
"Nggak juga, biasa aja."
"Serius? Beritanya di tivi ramai soal itu?"
"Aku nggak ngalamin, nggak tahu kalau yang lain. Lagian siapa juga yang berani macam-macam sama anaknya Papa plus cucunya Opa Satria Nikolai? Cari gara-gara namanya." Anak itu tertawa.
"Bagus juga ya punya keluarga seperti itu? Cukup menguntungkan." ucap Galang yang sedikit terkekeh.
"Bagus sih, saking bagusnya apa-apa nggak boleh."
"Masa?"
Arkhan menganggukkan kepala.
"Ini masih soal motor ya?" Galang kemudian bertanya.
Dia tak menjawab.
"Mungkin bukan nggak boleh, tapi karena belum waktunya."
"Alasannya kuno."
"Memang belum waktunya Ar!"
"Tapi temen-temen aku?"
"Ya, … anggap saja kalau mereka itu beda. Nggak seperti kamu."
"Bedanya di mana? Sekolahnya sama, ditempat itu juga."
"Papa nggak seperti orang tua lainnya yang bisa dengan mudah membiarkan anak-anaknya bertindak bebas."
"Kenapa?" Arkhan bertanya-tanya.
"Ya … karena begitulah Papa." Galang menoleh ke arah rumah yang lampunya sudah menyala terang benderang.
__ADS_1
"Kenapa sih Papa nggak kayak orang tua lain yang ngasih kebebasan sama anak-anaknya? Minimal ke aku gitu? Aku kan udah besar, mana cowok lagi?"
"Ya namanya juga orang tua. Pasti Papa punya alasan kuat kenapa berbuat begitu."
"Iya, alasannya apa?"
"Apa ya? Kalau di posisi orang tua Kakak sih karena takut anaknya berbuat hal buruk, atau dalam bahaya."
"Hahaha … Kakak bercanda ya? Hal buruk apa yang mungkin aku lakukan? Dan hal bahaya apa yang mungkin aku dapat? Cuma minta motor."
"Kita kan nggak tahu apa yang akan terjadi setelah kamu dikasih motor? Bisa saja kamu jadi sering pergi keluar dan berbuat yang aneh-aneh?"
"Aneh-aneh apanya? Aku cuma minta motor untuk pergi sekolah."
"Yakin cuma buat pergi sekolah?" Galang mengujinya.
"Yakin. Masa udah segede gini sekolahnya masih diantar sopir pakai mobil? Mana kadang diantar Mama atau Papa lagi? Sementara temen-temen aku pada pergi sendiri? Berasa kayak Anya deh kalau begini?"Â
Galang tertawa. Dia ingat percakapannya dengan Dimitri barusan saat membicarakan putrinya yang kembali berulah di sekolahnya.
"Ada yang lucu ya?"Â
"Nggak." Pria itu menarik lalu menghembuskan napasnya pelan-pelan.
"Kamu tahu, remaja seusia kamu memang sedang dalam masa seperti ini. Ingin membuktikan diri dan tidak mau di dikte karena merasa sudah besar."
"Aku emang udah besar Kak. Udah 16 tahun, sebentar lagi 17 tahun. Padahal dikiiiittt lagi, tapi Papa nggak mau tahu."
"Iya iya, tapi bukannya Papa nggak mau tahu. Papa hanya menjagamu dari hal buruk yang kemungkinan akan terjadi nanti."
"Ck! Itu terus alesannya."
"Karena memang begitu kenyataannya."
"Tapi Tante Rania nggak. Katanya dia bisa motor dari kecil, dan lihat sekarang? Udah keliling dunia balapan. Dan nggak kenapa-kenapa?"
"Hadeh ...." Galang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kalau role modelnya si Oneng, alamat susah nasehatinnya ini. Batinnya, dan otaknya berputar keras untuk merubah pola pikir adik iparnya.
"Kamu mau janji jaga rahasia kalau Kakak kasih satu kesempatan?" Lalu dia mendapatkan ide.
"Kesempatan apa?" Arkhan tanpa merasa antusias.
"Mengendarai motor." ucap Galang.
"Hum?" Adik iparnya itu kembali menoleh.
"Tapi seminggu sekali."
"Motor Kakak?" Anak remaja itu mulai tertarik.
"Iya, masa motor kang ojek?"
"Beneran?" Arkhan memiringkan tubuhnya sehingga kini mereka berhadapan.
"Tapi janji ini rahasia."
Arkhan menoleh ke arah rumah di mana dia melihat seluruh anggota keluarganya tengah bercengkrama.
"Papa nggak akan tahu?"
"Kalau kita rahasiakan seharusnya Papa nggak tahu."
Anak itu berpikir.
"Kalau kamu mau, kita bisa seminggu sekali pergi." tawar Galang kepada adik iparnya.
"Nanti alesannya apa?"
"Bisa diatur."
"Tapi jangan bohong sama Papa lho, aku nggak bisa. Suka tiba-tiba keceplosan." Arkhan memperingatkan.
Galang tergelak.
"Mana bisa bohongi Papa? Belum apa-apa pasti sudah ketahuan." jawab Galang.
"Masa?"
"Coba saja."
"Nggak berani Kak."
"Jadi bagaimana? Mau nggak?"
Arkhan terdiam.
"Nanti alasannya apa kalau mau ikut Kakak jalan?"
"Kalau akhir pekan menginap di apartemen."
"Emang boleh?"
"Memangnya siapa yang mau melarang?"
"Emang boleh sama Kak Ara?"
"Bisa diatur."
Arkhan terdiam lagi.
"Tidak juga tidak apa-apa, kamu masih bisa menunggu sampai 17 tahun kok. Setelah itu, Papa pasti memberimu motor atau bahkan mungkin mobil seperti Kak Ara."
"Masa?"
"Tentu saja. Umurmu sudah pas. Kamu akan tahu kalau Papa tidak membeda-bedakan antara kamu, Kak Ara atau adik-adikmu. Semuanya punya porsi yang sama meski caranya berbeda. Karena terkadang orang tua akan lebih keras terhadap anak laki-laki karena memang harus."
"Kenapa harus?"
"Mungkin karena kamu anak laki-laki pertama dan kelak kamu akan jadi pemimpin."
"Emangnya orang tua Kakak kayak gitu?"
"Nggak juga sih."
"Tuh kan, beda?"
"Ya karena dari segala hal juga beda."
"Bedanya apa?"
"Kamu tahu kan kerjaannya Papa apa?"
"Tahu. Dulu kerja di perusahaannya Oppa, dan sekarang punya usaha sendiri."
"Apa kamu pikir itu gampang?"
Arkhan menggelengkan kepala. Dia ingat beberapa momen di mana melihat sang ayah yang terkadang hampir tidak memiliki waktu untuk mereka ketika bekerja di perusahaan kakeknya.Â
Atau seringkali juga pria itu membawa banyak pekerjaan ke rumah dan Dygta membantunya.Â
Bahkan dirinya juga cukup sering mendengar diskusi serius antara ayah dan ibunya mengenai pekerjaan mereka. Dan kedengarannya cukup sulit.
"Dan apa kamu tahu apa pekerjaan orang tua Kakak?"
"Apa?"
"Cuma buruh pabrik dan ibu rumah tangga biasa. Kadang kami mengalami kesulitan keuangan. Tapi Kakak anak satu-satunya. Jadi mungkin lebih mudah untuk di awasi. Nggak seperti Papa yang anaknya banyak."
"Irit amat anaknya cuma satu?" Arkhan menggumam.
"Dikasihnya cuma satu tahu?"
"Oohh … nanti kalau Kakak sama Kak Ara punya anak pasti bisa banyak."
__ADS_1
"Kenapa begitu?"
"Kan Papa anaknya banyak?" Sang adik ipar tertawa.
"Apa hubungannya?"
"Keturunan Papa tahu?"
Galang mengerutkan dahi.
"Kecil-kecil sudah bahas masalah anak?"
"Aku udah besar, sebentar lagi 17 tahun tahu?"
"Mengaku sudah besar tapi perkara belum dikasih motor aja ngambek? Ditambah iri lagi?"
"Siapa ih, aku nggak gitu."
"Kemarin sampai protes? Mana bawa-bawa soal mobil Kak Ara lagi?"
"Umm …."
"Ingat, kasih sayang orang tua itu porsinya sama tapi caranya yang berbeda. Apalagi sekarang Kak Ara sudah menikah."
"Sekarang apa hubungannya sama itu?"
"Ya artinya kasih sayang Papa cuma dibagi empat, nggak lima lagi."
"Mommy nggak termasuk dong?"
"Itu bukan kasih sayang, tapi cinta." Galang bangkit dari duduknya.
"Dih, apa bedanya?"
"Nanti kamu tahu kalau sudah dewasa." Pria itu melenggang ke arah rumah.
"Sebentar lagi aku dewasa Kak."
"Iya, tunggulah sebentar lagi."
***
"Tadi Kakak ngobrolin apa sama Arkhan?" Mereka hampir saja pergi tidur setelah membersihkan diri.
"Hah? Kapan?"
"Tadi di belakang rumahnya Papa."
"Ohh …." Galang membenahi posisi bantalnya agar nyaman.
"Bukannya oh, tapi jawab!"
Pria itu hanya tertawa.
"Malah ketawa?"
"Itu rahasia."
"Kok rahasia?"
"Rahasia laki-laki."
"Rahasia laki-laki?" Amara membeo.
"Ya, rahasia."
"Rahasia apa?"
"Ya kalau aku bilang bukan lagi rahasia dong?"
"Kakak mau rahasia-rahasiaan sama aku?"
"Masalahnya aku sudah janji kepada Arkhan."
"Janji apa?"
"Soal rahasia ini."
"Apaan sih?"
"Rahasia Sayang!" Galang meremat pipi perempuan itu dengan gemas.
"Ish!!" Amara menepis tangannya sehingga terlepas.
"Eh, salah pegang. Hapusnya ke sini." Pria itu menelusupkan tangannya kedalam pakaian tidur Amara seperti biasa.
"Nggak boleh pegang-pegang!" Lalu dia menahan lengan suaminya.
"Kenapa? Tiap malam juga begini." protes Galang yang merasa kesenangannya terganggu.
"Ya kalau main rahasia-rahasiaan nggak boleh pegang-pegang."
"Kok begitu?"
"Kakak juga gitu."
"Kan nggak ada hubungannya sama rahasia?"
"Untuk aku ada."
"Apa?"
"Pokoknya kalau nggak mau bilang rahasianya apa jangan megang-megang ini."
Galang merengut.
"Kalau yang lain boleh?" Lalu pria itu berusaha tersenyum.
"Ini aja nggak akan aku bolehin apalagi yang lain."
Pria itu mencebik.
"Coba rahasianya apa?"
"Rahasianya Arkhan Neng."
"Ya udah." Amara menarik selimut sehingga hampir menutupi seluruh tubuhnya.
"Eh?"
"Berarti jangan pegang-pegang, apa lagi yang lain."
"Aduh?"
"Bobo A, udah malam."
"Neng?"
Amara memejamkan matanya.
"Neng?" Pria itu menusuk-nusuk pipi Amara dengan ujung jarinya, namun sang istri bergeming.
"Kalau aku bilang kamu mau kasih?"
Amara tak menjawab.
"Neng?" Perempuan itu tetap diam.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
__ADS_1
Nah luuuu nggak dikasih megang?ðŸ¤ðŸ¤ makanya jan macem-macem sama anaknya kang jahe, bisa kena ultimatum kan?
Cuss like komen sama hadiahnya kirim! 😘😘