
🌺
🌺
"Papa selalu mengantar aku pakai mobil itu sejak kecil." Mereka duduk di kursi yang tersedia di depan bengkel. Dengan makanan dan minuman ringan yang Galang beli dari swalayan terdekat.
"Mobil penuh kenangan heh?" Galang menenggak minuman kalengnya yang sudah berembun.
Clarra menganggukkan kepala sambil menyuapkan sepotong kue coklat yang begitu dia sukai, kemudian mengunyahnya dengan riang.
"Sebagai anak tunggal apakah bebanmu sangat berat Cla?" Galang merasa penasaran dengan perempuan di sampingnya.
"Maksud kamu bagaimana?"
"Apa orang tuamu menuntut untuk bisa melakukan banyak hal? Dengan tanggung jawab yang berat?"
"Nggak. Mereka orang tua yang terbuka untuk segala hal dan tidak pernah menuntut apa-apa. Mama dan Papa bahkan membebaskan aku untuk memilih apa pun yang mau aku lakukan. Mereka nggak pernah membatasi keinginanku, selama itu baik tentunya. Kenapa? orang tuamu menuntutmu untuk bertanggung jawab atas kehidupan mereka ya?"
"Nggak juga. Mereka nggak pernah menuntut apa-apa. Aku hanya penasaran." Galang menjawab.
"Penasaran?"
"Ya."
"Penasaran soal apa?"
"Kepribadian kamu."
"Maksudnya?"
"Semua ketegasan kamu saat sedang bekerja, dan semua yang kamu lakukan ketika sedang di kantor. Seolah kamu selalu merasa tertekan akan sesuatu."
"Aku? Tertekan?" Clarra meunjuk dirinya sendiri.
"Iya."
"Kamu ngaco!" tawa renyah keluar dari mulut perempuan itu.
"Aku salah ya?" Dan hal tersebut nyatanya menular kepada Galang.
"Ya salah lah! Kamu ini sok tahu!"
"Habisnya kamu seperti mengalami tekanan."
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Aku kelihatannya seperti orang depresi ya?"
"Nggak, cuma kamu seperti sudah terbiasa seperti itu. Seolah kamu akan gagal jika tidak tegas, tidak selalu menggertak, dan tidak bersikap galak."
"Galak katamu?" Clarra mendelik.
"Aku nggak bermaksud menyinggung lho, aku hanya ...."
"Ya ya ya, aku ngerti."
"Aku tahu itu profesionalitas, dan mungkin salah satu cara kamu untuk menempatkan diri. Tapi ...."
"Kamu tahu, seiring waktu kamu akan mengerti dengan sendirinya. Aku maklum kamu masih seperti ini karena baru dua tahun bekerja di Nikolai Grup. Tapi nanti, suatu hari, apalagi ketika kamu mengetahui betapa beragamnya sifat klien, kamu juga akan berubah."
"Masa?"
"Ya, dan kamu nggak ada waktu untuk berbasa-basi ataupun beramah tamah dengan siapa pun. Segalanya akan kamu anggap serius dan kamu hadapi dengan tegas tanpa terkecuali. Dan untuk kasusku, mungkin juga karena ada latar belakang lain."
"Latar belakang lain?"
__ADS_1
Clarra menganggukkan kepala.
"Sudah tahu kan kalau Mama dan Papa bukanlah orang tua kandungku?"
"Iya. Apa hubungannya? Kamu minder dengan itu?"
"Nggak. Bukan itu yang membuatku minder. Tapi hal lain."
"Apa?"
"Tentang siapa ibu kandungku, dan bagaimana keadaannya. Juga cara dia meninggalkan aku sebelum Mama dan Papa mengangkatku jadi anak mereka."
"Hah? Memangnya siapa ibu kandung kamu?" Galang terus bertanya.
"Dia ...."
"Permisi Mas?" Seorang pegawai bengkel datang menghampiri.
"Ya?"
"Sepertinya mobilnya nggak bisa di selesaikan sekarang. Selain kerusakannya cukup parah, juga karena sudah waktunya tutup." ucap pria berpakaian montir tersebut.
"Begitu ya?" Galang melihat jam tangannya. Dan waktu memang sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam.
"Iya Mas."
"Kira-kira selesainya kapan?" Clarra menyela percakapan.
"Mungkin besok sore Mbak." jawab si pegawai bengkel.
"Begitu ya?"
"Iya. Jam kerja kami sudah selesai soalnya, dan bisa di lanjutkan besok."
"Kalau begitu saya permisi?"
"Ye, terima kasih."
"Jadi bagaimana?" Galang beralih setelah si pegawai itu meninggalkan mereka.
"Ya nggak gimana-gimana. Kita pulang sajalah." Clarra menghabiskan minuman miliknya, dan membereskan makanan yang masih tersisa.
"Mau aku pesankan taksi?" tawar Galang kepadanya. Namun dia berpikir.
"Tapi sudah malam begini." katanya, kemudian.
"Memangnya kenapa?"
"Mau aku antar sampai rumah?" ucapnya, yang membuat Clarra membulatkan mata.
"Apa?"
"Mau aku antar sampai ke rumah?" Galang mengulang pertanyaan. "Naik taksi jam segini sepertinya kurang aman?"
"Aku nggak tahu, belum pernah juga."
"Apalagi kalau begitu." Pria itu bangkit.
"Ya sudah, ayo aku antar pulang?" katanya, yang membuat perempuan yang masih duduk di kursinya itu tertegun untuk beberapa saat.
"Cla?"
"Ya?"
__ADS_1
"Ayo pulang, sudah malam. Nanti orang rumah khawatir." Pria itu berujar.
"Aku bukan abege lagi tahu? Aku ini perempuan dewasa. Lagi pula aku sudah terbiasa pulang malam, dan orang tuaku tahu."
"Umm ...." Galang lupa siapa perempuan di depannya ini.
Dia bukanlah Amara yang usianya lebih muda darinya, ataupun gadis lain yang usianya sebaya dengan dirinya. Dia adalah Clarra, sekertaris andalan Nikolai Grup dan sudah malang melintang di dalam dunia yang dalam dua tahun ini juga dia geluti. Dan terutama, dia lebih dewasa darinya.
"Aku hanya berpikir kalau perempuan sendirian malam-malam itu mungkin di intai bahaya." Galang tertawa. "Padahal dulu, si Oneng sering keluyuran malam, sendirian lagi. Tapi aku nggak pernah sekhawatir ini. Apalagi dia sering ikut balap liar."
"Khawatir?" Clarra membeo.
"Ya. Di otakku ini kalau melihat perempuan jalan sendirian pasti dia diikuti seseorang atau hal-hal semacam itu. Padahal mungkin sebenarnya tidak. Aku kuno ya?" Pria itu tertawa.
Clarra terdiam menatap pria itu yang selalu tertawa ketika sedang membicarakan apa pun. Suaranya terdengar renyah dan menyenangkan. Kedua matanya yang selalu terlihat seperti bulan sabit ketika dia tertawa membuatnya merasa kalau dia itu lucu meski terkadang mengesalkan.
Hah, lucu?
Aku pasti sudah sangat kelelahan sehingga berpikir begitu.
"Umm ...." Clarra cepat menyadarkan dirinya sendiri.
"Cepatlah kita pulang." Galang kembali berujar.
"Baik." Clarra pun bangkit dari duduknya.
***
"Terima kasih Lang." Perempuan itu melepaskan helm setelah turun dari motor besar itu.
"Iya, sama-sama." Galang menjawab. "Besok mau aku jemput?" ucapan itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.
"Apa?"
"Maksud aku ...."
"Nggak usah, aku masih ada mobil. Bisa juga di antar sopirnya Mama, jadi nggak harus merepotkan kamu." Suara Clarra tiba-tiba saja naik satu oktaf karena terkejut.
Ini pertama kalinya seorang pria menawarinya untuk di jemput. Dan ini bahkan pertama kalinya seorang pria mengantarkanya pulang ke rumah.
"Nggak usah teriak begitu, aku kan cuma tanya. Siapa tahu kamu mau ...."
"Nggak!" ucap Clarra dengan tegas. Meski jantung di dalam dadanya tiba-tiba saja berdebar begitu keras.
"Baiklah." Galang tak lagi berniat untuk berbicara.
"Ya, kalau begitu aku masuk. Terima kasih lagi." ujar Clarra yang segera berlari memasuki pekarangan rumahnya begitu penjaga membukakan pintu gerbang.
"Dih? Dia itu kenapa ya? Sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar galak. Kadang lucu, tapi kadang juga nyeremin? Aneh." Galang menggerutu sambil menyalakan kembali mesin motornya, dan setelah itu pergi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
kira-kira kenapa ya?
entahlah, cuma Clarra yang tahu. 😄😄
like komen sama hadiahnya lagi dong.
__ADS_1