My Only One

My Only One
Ujian Ketiga


__ADS_3

🌺


🌺


"Eh serius deh, kasihan Bu Clarra. Baru diputusin langsung ditinggal nikah. Kayak nggak ada harganya banget jadi perempuan?" Suasana pulang pada sore itu cukup ramai.


"Jelas ditinggal, orang sama anaknya Pak Arfan? Mana habis kecelakaan lagi, ya lebih kasihan itu, Bu Clarra sih sehat."


"Nggak bisa dibandingkan tahu?"


"Huh, enaknya jadi Pak Galang, sana sini mau. Sepupunya direktur mau, cucunya pemilik perusahaan mau, menang banyak dia."


"Ssttt! Jangan terus bahas itu, nanti ada yang dengar. Urusan mereka lah." 


"Yang paling kasihan tetep Bu Clarra, mana hubungan mereka udah go publik, eh taunya putus gitu aja. Langsung ditinggal nikah pula. Hadeh … laki-laki!"


Bisik-bisik di kalangan karyawan masih tetap terjadi. Dan seperti biasa, Clarra mendengarnya karena secara kebetulan dia baru keluar dari dalam lift bermaksud untuk pulang. Setelah memastikan pekerjaannya selesai sepeninggal Dimitri dan Galang yang sudah lebih dulu meninggalkan gedung Nikolai Grup.


Mereka terdiam saat menyadari keberadaan perempuan itu.


Clarra mencoba untuk tak menggubris hal tersebut. Meski ucapan terakhir itu dia dengar sangat jelas, tapi dirinya mencoba untuk tak terpengaruh.


Dia berjalan dengan tegap melewati orang-orang yang tiba-tiba menutup mulutnya rapat-rapat lalu bergegas meninggalkan area tersebut.


"Hey, aku baru sampai." Dokter Syahril baru saja turun dari mobilnya begitu Clarra keluar dari gedung kantor.


Perempuan itu tertegun sebentar saat sang dokter berjalan ke arahnya, kemudian dia juga mempercepat langkahnya.


"Syahnaz?" Clarra melihat ke arah mobil yang terparkir di depan gedung.


"Dia masih dirumah nenek kakeknya, lagi pula aku berangkat langsung dari rumah sakit, jadi …."


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita jemput Syahnaz?" Clarra segera menarik Dokter Syahril kembali ke arah mobil.


"Tapi … bukannya kita mau makan malam?" Pria itu membukakan pintu untuknya.


"Aku juga mau membawa Syahnaz." Clarra segera masuk dan duduk di tempatnya.


"Nanti tidak ada pembicaraan serius kalau ada Syahnaz." Dokter Syahril menggumam, namun setelahnya dia juga bergegas masuk ke dalam mobil.


Sementara para karyawan yang melihat hal tersebut hanya bisa saling pandang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kenapa Kakak baru datang?” Amara menyambutnya dengan pertanyaan begitu Galang masuk ke dalam ruangan.


Pria itu tertegun sebentar kemudian terkekeh.


“Heh, suami baru datang masa pertanyaannya begitu?” Dygta mengingatkan. Dia lantas mengemasi barang-barangnya ke dalam tas kemudian beranjak dari sofa.


"Tanya dong, sayang sudah pulang? Bagaimana pekerjaannya hari ini? Kamu capek ya?" lalu dia tertawa, sementara Amara mencebikkan mulutnya.


“Mommy langsung pulang ya? Adik-adik Ara sudah menelpon terus.” ucapnya kepada Galang.


“Umm … ya, baik. Apa ada yang menjemput?” Galang bertanya.


“Sopir sudah menunggu dibawah.”


“Begitu? Baiklah.”


“Pergi dulu Kak.” Dygta kemudian memeluk anak sambungnya dan segera keluar setelah menepuk bahu menantunya.


“Kakak hari ini lembur?” Amara segera bertanya lagi saat suaminya berjalan mendekat.


“Nggak.” Galang menjawab.


“Terus kenapa baru ke sini?”


“Aku pulang dulu ke apartemen, terus mandi dan mengurus beberapa hal dulu, baru ke sini.” Pria itu duduk di pinggir tempat tidur.


“Oooo ….” Amara mengangguk-anggukkan kepala dengan mulutnya yang membulat membentuk huruf O.


“Apa kamu sudah mandi?” Pertanyaan aneh, tapi dia tetap melontarkannya karena tidak ada bahan pembicaraan sepeninggal Dygta yang selama seharian ini menunggui Amara di sana.


“Udah tadi sama mommy.” Perempuan itu menjawab.


“Oke, aku kira belum, makanya tadi buru-buru ke sini, takutnya mommy kamu susah ….”


“Ada bantuan suster, jadi bisa.”


Kini Galang yang mengangguk-anggukkan kepala.


“Papa kamu tidak ke sini?" Lalu dia bertanya lagi.


“Nggak.”


“Kenapa?’


“Papanya pergi ke Bogor, ada kerjaan.”


“Oh. Jadi Mommy yang seharian di sini?”


“Iya, soalnya pas siang Mama pulang karena Akmal ada acara di sekolahnya.”


“Begitu ya?”


“Hu’um.”


“Oke.”


“Kakak udah makan?”

__ADS_1


“Belum, kamu?’


“Udah sih tadi. Tapi … kayaknya aku lapar lagi.” Perempuan itu tertawa.


“Jadi mau order? Atau minta ke staff rumah sakit?”


“Jangan.”


“Terus?”


“Minta Nania bawain aja, sambil dia jalan pulang. Kayaknya sebentar lagi deh?” Amara melihat jam tangan Galang yang menunjukkan pukul delapan malam.


“Nania?”


“Ya.”


“Apa tidak akan merepotkan?”


“Nggak, tadi siang juga aku minta dia antar makanan. Kayaknya kalau sekarang aku minta lagi juga dia bakalan mau.”


“Hmm … baiklah.” Galang meraih ponsel Amara dan segera melakukan apa yang perempuan itu katakan.


“Nania akan mampir sebentar lagi. Dia sedang membuatkan pesanan kamu.” Pria itu meletakkan ponsel di tempatnya semula.


“Oke.”


“Nah, bagaimana hari ini? Apa kamu masih merasa sakit?” Galang kembali memulai percakapan.


“Sakit sih nggak, cuma kesel sama bosen aja.”


“Itu sudah pasti.” Galang terkekeh. “Sabar, akhir minggu ini operasi, dan setelah itu, jika pemulihannya cepat  kita bisa pulang.”


“Huum. Aku maunya di cepetin, bisa nggak sih? Nggak tahan di rumah sakit terus, Udah sebulan kayaknya?”


“Nggak bisa, semuanya harus sesuai prosedur yang sudah ditentukan dokter. Mereka lebih tahu apa yang terbaik.”


“Iya juga sih.”


“Bersabarlah.”


Amara mengangguk pelan.


“Kamu pikir aku suka bolak-balik seperti ini? Dengan banyak hal yang harus aku urus juga, rasanya ini sudah sangat melelahkan. Tapi apa boleh buat, kita harus tetap seperti ini untuk sementara waktu. Demi kebaikan bukan?”


“Iya, tapi aku juga kangen kedai. Gimana keadaannya sekarang ya?”


“Aku tahu, hidupmu di sana. Tapi sejauh ini mereka baik-baik saja. Kedai tetap ramai dan pegawai bekerja dengan baik, tidak usah khawatir.”


“Hmm …”


“Oh, aku lelah sekali. Pekerjaan hari ini sangat banyak.” Tiba-tiba Galang merebahkan tubuh tingginya disamping Amara.


“Kakak jangan tidur di sini, sempit.” Namun perempuan itu segera mendorongnya.


“Tapi sempit kak. Pindah aja ke sofa.”


“Iya nanti.”


“Kakak ih ….”


Namun Galang menulikan pendengaran. Dia bahkan segera memejamkan mata begitu kepalanya menyentuh bantal.


“Yee … malah beneran tidur?” gumam Amara yang meremat pipi suaminya dengan gemas.


"Kakak? Beneran tidur?" katanya setelah beberapa menit.


Galang bergeming.


"Kakak?" Amara menyentuh wajah pria itu dengan ujung telunjuknya.


Menelusuri kedua alisnya yang hitam seperti diukir dengan begitu sempurna. Lalu turun ke hidungnya yang sedikit mencuat. Tidak terlalu mancung tapi menjadi penyempurna dari bentuk wajah khas Asianya. Dan jangan lupakan dengan bibirnya yang merah, hampir menyerupai bibir milik perempuan. Dan itulah bagian paling indah darinya.


Perempuan itu tersenyum. Dia masih tidak percaya jika saat ini mereka sudah menjadi suami istri. Dan itulah yang paling membahagiakan baginya.


Amara pun akhirnya memutuskan untuk menurunkan tubuhnya dan berbaring seperti halnya Galang. Meski sedikit sulit dan rasa sakit di kaki dan tangannya yang cedera kembali terasa, tapi berada disamping pria ini, rasanya semua berangsur menjadi lebih baik.


Terdengar dengkuran halus Galang yang membuatnya tertawa. Dan ekspresi wajah suaminya itu sangat membuatnya merasa gemas, sehingga Amara tak bisa berhenti untuk menyentuhnya.


"Stop Neng, jangan menggoda terus." Tiba-tiba saja Galang mencekal tangan kiri Amara yang terus menyentuh wajahnya sejak tadi, membuat istrinya itu sedikit melonjak karena terkejut.


"Eh, aku pikir Kakak tidur?" Amara mencoba menarik tangannya.


"Tadinya, tapi karena kamu ganggu terus jadinya …." Galang membuka mata dan menemukan wajah Amara berada sangat dekat dengannya. 


Mereka sama-sama berbaring seperti itu dan tanpa jarak yang berarti.


"Umm …."


"Mau membuatku tersiksa ya?" katanya kemudian.


"Nggak. Cuma iseng aja." Amara menjawab.


"Keisengan kamu menyiksaku tahu?" Galang membenahi letak kepalanya.


"Masa? Bagian mananya yang menyiksa? Padahal kan cuma gini doang?"


Galang mengetatkan rahangnya. Lalu dia bergeser dan menghabiskan sisa jarak yang hanya sedikit diantara mereka.


"Kakak jangan gerak-gerak, nanti aku jatuh." Perempuan itu mencengkeram kaus yang menempel di tubuh Galang.


"Nggak akan. Aku peluk kamu seperti ini." Galang mengulurkan tangannya pada pinggang Amara lalu memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Mm …."


"Lihat kan? Kasurnya cukup untuk kita berdua, maka setelah ini aku pasti akan tidur di sini." Pria itu tersenyum lebar. Kedua matanya bahkan sedikit terpejam seperti biasanya sehingga membentuk seperti bulan sabit.


"Sempit Kak."


"Mau kasur yang lebih besar? Itu bisa diatur. Apalagi kalau kita pindah ke Nikolai Medical Center. Fasilitasnya sekelas presidential suit bintang lima dengan ranjang yang nyaman, jadi kamu bebas mau tidur seperti apa pun. Termasuk aku juga. Jadi tidak terasa seperti di rumah sakit."


"Mm … gimana rasanya kalau di sana?"


"Seperti di hotel … seperti sedang berbulan madu."


"Oh ya? Bulan madu?"


"Hu'um." Galang mengangguk.


Amara terdiam. Dia menatap wajah suaminya untuk beberapa saat.


"Ra?"


"Hum?"


"Apa … Kita … Benar-benar belum bisa melakukannya?" Galang menatap ke dalam dua bola mata bening milik Amara.


"Melakukan apa?" Perempuan itu terkekeh. Dia faham apa yang Galang maksud, tapi rasanya menggelikan saja ketika mereka mulai membicarakannya.


"Kamu ini sudah dewasa, masa hal seperti itu nggak mengerti? Kita ini kan sudah menikah, jadi …."


"Kakak masa mau melakukannya di sini? Ini kan rumah sakit?" Amara tertawa lagi.


"Ugh!! Aku kesal kalau ingat itu."


"Lagian … akunya juga kan masih sakit. Tangan dan kaki aku …."


"Hmm …." Galang menyurukkan wajahnya di ceruk leher perempuan itu.


Tangannya menyusup kedalam kaus yang dikenakan oleh Amara dan merayap menyentuh apa yang ada dibaliknya.


"Umm … Kakak!" Dia merapatkan kedua tangannya namun terlambat, telapak tangan Galang sudah menemukan gundukan miliknya.


"Jangan begini ih!" Amara mulai merengek, namun Galang tak menghentikan aksinya. Dia malah meneruskan sentuhannya dan menaikkan penghalang lain di dalam sana. 


Tiba-tiba saja jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat telapak tangannya menemukan benda kenyal nan lembut milik Amara. Yang ketika dia merematnya membuat tubuh istrinya itu sedikit menegang. 


Galang mendongak dan menatap wajah perempuan itu yang matanya mengerjap sambil menggigit bibirnya kuat-kuat seolah sedang menahan sesuatu.


Dia tersenyum melihat ekspresinya yang  menggemaskan. Dan dengan sekuat tenaga menahan gejolak di hati yang mulai meletup-letup tak karuan.


Namun sorot mata Amara membuatnya mulai kehilangan kesabaran. Tanpa berpikir panjang lagi dia mendekatkan wajahnya dan segera mencumbu perempuan itu.


Galang memagut bibirnya yang ranum menggoda dan menyesapnya dengan penuh perasaan.


Kini tangannya beralih menahan wajah Amara agar tetap dalam posisi nyaman dan membuat cumbuan itu menjadi semakin dalam. Meski setelahnya, dia kembali pada bagian tubuhnya yang lain dan menyentuhnya dengan begitu hati-hati.


Galang semakin merapatkan tubuhnya, dan dia setengah menindih tubuh Amara. Membuatnya bisa merasakan debaran perempuan itu semakin jelas. 


Mereka merasakan hal yang sama, dan tidak menutup kemungkinan juga menginginkan hal sama pula. Namun Galang masih berusaha menahan diri dengan mengingat keadaannya yang masih cedera.


Meski hal itu benar-benar membuatnya merasa gemas sendiri dan dia benar-benar frustasi.


"Aaarggghhh!" Galang melepaskan cumbuan, lalu kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Amara.


Napas keduanya menderu-deru dan mereka sama-sama menahan hasrat. Amara bahkan bisa merasakan sesuatu mengganjal di perutnya, dan dia mencoba untuk mencari tahu.


"Umm …." Sesuatu mengeras dibalik celana Galang dan dia menyentuhnya untuk beberapa saat.


"Kakak?" Dahinya berkerut dan disaat yang bersamaan Galang kembali mendongak.


"Mm … sepertinya … aku harus cari angin." katanya seraya bangkit dari posisinya.


Dia menyugar rambutnya yang berantakan kemudian turun dari tempat tidur dan bergegas melangkah ke arah pintu.


"Nania belum datang ya? Jadi aku akan memeriksanya sebentar kalau-kalau dia …." Galang tertegun saat membuka pintu dan dia menemukan sebuah totebag tergantung pada pegangannya.


"Hmm … sepertinya seseorang meletakkan sesuatu di sini." Dia meraih benda itu lalu memeriksanya.


Beberapa jenis makanan yang dipesannya beberapa saat yang lalu kepada Nania.


"Nania bilang dia naruh makanannya di handle pintu." Amara membuka pesan pada ponselnya yang berbunyi.


Pada saat yang bersamaan Galang pun menoleh sambil mengangkat tote bag di tangannya.


"Mungkin itu?" Lalu Amara bangkit perlahan, dan Galang bergegas kembali ke hadapannya.


"Iya beneran." katanya lagi ketika pria itu mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.


"Terus Nanianya ke mana?" Amara kembali memeriksa ketika ponselnya berdering lagi.


"Oh, dia buru-buru." lalu dia menunjukkan pesan tersebut kepada Galang.


"Asik makan!" katanya lagi setelah suaminya membuka beberapa kotak makan dan meletakkan sendok di dekatnya. 


Dan Amara segera melahap makanan tersebut dengan semangat dan riang gembira. Sementara Galang masih mencoba menenangkan diri dan menenangkan apa yang sempat terbangun karena perempuan itu.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


**hadeh ... apaan itu?


no komen lah**🤣🤣


__ADS_2