
🌺
🌺
Amara menoleh ketika pintu didorong dari luar, dan sosok Galang yang muncul setelah dia pergi beberapa saat dan kembali dalam keadaan siap dengan stelan kerjanya.
Pria itu membawa sebuah kursi roda, bersamaan dengan selesainya dua perawat yang membantunya membersihkan diri di pagi hari.
"Sudah tiga minggu, dan dokter mengatakan kalau kamu perlu keluar untuk menghirup udara segar. Kebetulan ini masih pagi, dan cuaca masih sangat bagus." ucap pria itu setelah jaraknya cukup dekat dengan Amara.
"Kakak nggak pergi kerja?" Amara melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 7.30.
"Sebentar lagi." Galang menjawab.
Gadis itu menatap kursi roda dan Galang secara bergantian.
"Kamu sudah bisa duduk kan?" Galang kembali mendekat setelah mengatur kursi roda di sisi kanan ranjang.
"Udah, tapi nggak tahu apa aku bisa …."
"Aku akan membantumu." Pria itu mengulurkan tangannya pada bagian belakang Amara.
Galang meraup tubuh semampai Amara, kemudian menggesernya sedikit demi sedikit dan memastikan dia tidak merasa kesakitan.
"Kamu siap?" ucapnya saat gadis itu sudah duduk ditepi ranjang dan bersiap untuk turun.
Amara menganggukkan kepala, sementara Galang berpindah pada sisi kirinya.
Dia kembali merangkul punggung Amara dan menahannya ketika gadis itu menapakkan kaki kirinya ke lantai.
"Tidak usah terburu-buru. Pelan-pelan saja." Galang mengingatkan, dan rangkulan tangannya pindah pada pinggang.
Dia membimbingnya hingga Amara mampu mendekat pada kursi roda. Meski susah payah karena masih belum terbiasa dengan gips yang melindungi kaki dan tangannya yang cedera, namun Galang berhasil mendudukkannya di sana.
Pria itu membawanya keluar kamar rawat setelah hampir tiga minggu lamanya dia terkurung di sana, kali ini lebih jauh dari tempatnya memulihkan cedera.
Udara memang sangat bagus pagi itu. Matahari bersinar cerah menghangatkan alam sekitar, namun udara terasa masih cukup segar.
Halaman belakang rumah sakit yang asri memang sering menjadi tempat untuk merasakan suasana lain di tempat itu, dan sering kali juga menjadi sarana untuk mengalihkan perhatian dari kejenuhan.
Beberapa pasien pun terlihat melakukan hal yang sama di sana, seperti juga mereka.
"Kamu mau sesuatu?" Galang memilih tempat paling teduh di sudut halaman belakang itu.
Amara menggelengkan kepala.
"Mungkin kamu mau makan?"
"Nggak. Aku belum lapar."
Galang duduk di kursi taman yang tersedia, dan dia membiarkan gadis itu menikmati waktunya. Sementara dirinya memeriksa jadwal yang Clarra kirimkan untuknya hari itu.
"Umm … lusa kita sudah menikah." Pria itu memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya.
Amara mengalihkan pandangan.
"Aku … nggak percaya semuanya akan berlangsung secepat ini. Tapi …."
"Kakak nggak mau menundanya dulu?" Amara memotong ucapannya.
"Apa?"
"Mungkin Kakak mau menundanya dulu. Se nggaknya sampai aku selesai operasi dan sembuh."
"Nggak mungkin." Galang segera menjawab.
"Aku pikir Kakak mau menundanya dulu, soalnya kan …."
"Administrasinya sudah selesai, dan ini hanya tersisa dua hari. Masa aku mau membatalkan rencananya? Lagi pula ibu dan ayah sudah menyiapkan semuanya."
Amara terdiam.
"Kamu ragu?" Galang mencondongkan tubuhnya ke depan di mana Amara berada.
"Kamu nggak percaya kepadaku?"
"Bukan gitu." Amara menjawab.
"Terus kenapa kamu bilang begitu?"
"Aku cuma … " Amara menggigit bibir bawahnya keras-keras. "Kakak nanti harus mengurus aku yang lagi sakit. Belum lagi Kakak harus kerja. Terus gimana nantinya?"
"Nggak gimana-gimana, memangnya kenapa?" Galang terkekeh dengan kedua matanya yang menyipit sehingga membentuk seperti bulan sabit.
"Nanti keadaannya kebalik. Aku nggak akan bisa mengurus Kakak."
"Aku nggak perlu diurus, aku kan sehat."
"Umm …."
"Ini kesempatan yang nggak bisa aku tolak, tahu? Semua orang sudah setuju, lalu apa yang menjadi alasanku untuk menunda? Kalau soal menunggumu sampai sembuh, itu bisa kita lakukan setelah menikah. Kan lebih bagus juga, karena aku akan leluasa merawatmu. Nggak seperti sekarang." Galang tertawa pelan.
Sudah terbayang bagaimana mereka akan berinteraksi setelah akad nanti. Setidaknya, dirinya tidak akan selalu merasa canggung ketika harus membantu Amara dengan segala keperluannya tanpa bantuan orang lain.
"Nanti Kakak kecapean tahu?"
"Ya, itu sudah pasti." Galang mengangguk-anggukkan kepala sambil tertawa.
"Seneng bener yang mau nikah lusa." Amara menggumam.
"Sebenarnya aku gugup tahu?" Galang mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Amara.
"Gugup tapi ketawa melulu?" Gadis itu mengerucutkan mulutnya.
"Iya, gugup tapi bersemngat. Jadi, gimana ya aku harus menyebutnya? Ini seperti aku mau lompat dari ketinggian untuk merayakan sesuatu. Berdebar-debar tapi merasa nggak sabar. Ah, … pokoknya kamu nggak akan ngerti walau aku jelaskan." Galang tergelak, sementara Amara menaikan sebelah alisnya ke atas.
"Memangnya kamu menggak merasakan seperti yang aku rasakan?"
"Udah aku bilangin kalau aku cuma takut." Amara menjawab.
"Apa yang kamu takutkan? Aku nggak akan berbuat macam-macam."
"Umm …."
"Ya … kecuali kalau kamu mau …."
"Aku takut sama operasinya tahu? Gimana kalau nggak sesuai sama yang udah direncanakan? Gimana kalau nanti wajah aku jadi berubah? Gimana kalau nanti aku …."
"Sssttt!" Galang menempelkan telunjuknya pada bibir gadis itu.
"Jangan berpikiran macam-macam. Dokter yang akan menanganimu bukanlah orang sembarangan. Mereka didatangkan khusus lewat koneksi Nikolai Medical Center, jadi tidak mungkin melakukan kesalahan."
"Dan Kakak percaya mereka akan melakukannya sebaik itu?"
"Tentu saja, mereka adalah ahlinya. Aku sudah melihat reputasi mereka, dan track recordnya yang memang sangat baik. Jadi, apalagi yang akan aku khawatirkan?"
Amara terdiam lagi.
"Dan satu-satunya yang aku khawatirkan saat ini adalah kamu." Galang meremat tangan kiri gadis itu.
"Aku?"
"Ya." Pria itu mengangguk.
"Kenapa aku?"
__ADS_1
"Pikiranmu sewaktu-waktu bisa saja berubah."
"Umm …."
"Bahkan setelah aku melakukan banyak hal, kamu bisa saja meminta untuk membatalkan semuanya meski rencananya sudah matang."
Amara mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Apa kamu tidak mau meneruskannya?" Galang kemudian bertanya seraya menarik diri, menciptakan jarak yang lebih besar di antara mereka. Dan dia hampir saja melepaskan genggaman tangannya.
"Apa kamu mau membatalkan rencananya? Kalau memang kamu tidak mau, baiklah. Mungkin aku akan …."
Lalu Amara menyentakkan tangannya agar pria itu kembali ke dekatnya.
"Kakak ih suka asal menarik kesimpulan sendiri." katanya kemudian.
"Benarkah?"
"Iya, asal denger atau lihat orang lain mengatakan atau melakukan sesuatu, pasti bikin Kakak bikin kesimpulan tanpa alasan yang jelas."
Galang menatap wajah gadis itu.
"Bukannya tanpa alasan. Kan kamu yang barusan bilang begitu? Dan beberapa kali juga kamu mengatakan hal yang sama." Galang membalikan pernyataan.
"Aku cuma mau meyakinkan diri sendiri."
"Meyakinkan soal apa?"
"Meyakinkan kalau-kalau Kakak nggak akan menyesal setelah menikahi aku."
"Menyesal katamu?" Galang terkekeh lagi.
"Ya, dan aku nggak akan merasa malu karena nanti pasti akan sangat merepotkan Kakak."
Pria itu menggelengkan kepala.
"Semua yang aku lakukan selama ini nggak cukup untuk meyakinkanmu ya? Makanya pikiranmu selalu seperti itu? Dan kamu juga selalu mengulang pertanyaan yang sama?"
"Kakak, aku kan cuma …." Galang kemudian meraih lehernya sehingga wajah mereka berdekatan, lalu dia menempelkan kening mereka berdua.
"Jangan bicara seperti itu lagi. Kamu tidak tahu seberapa tersiksanya aku." Pria itu setengah berbisik.
"Dan jangan coba-coba untuk membuatku berubah pikiran karena itu tidak akan mungkin terjadi!" Dia menatap ke dalam matanya yang bening.
"Kakak lagi mengancam aku." Amara tergelak.
"Terserah apa katamu." Lalu dia segera melepaskannya.
"Aku antar ke atas sekarang." Galang memeriksa jam tangannya.
"Kakak mau pergi kerja sekarang?"
"Ya, memangnya apa lagi? Bulan depan aku sudah menghidupi seseorang selain diriku sendiri. Kamu pikir uang-uang itu bisa masuk dengan sendirinya ke rekeningku?" Dia kemudian bangkit.
Amara tergelak.
"Lagi pula aku harus menyiapkan mas kawin yang layak bukan?" Galang mendorongnya ke arah dalam gedung rumah sakit.
"Mas kawin?" Gadis itu mendongak.
"Ya. Masa aku menikahimu hanya dengan membawa badan ini? Mana kita tidak merayakan pesta lagi? Apa kata dunia?" Galang membawanya menuju lift yang kemudian mengantarkan mereka ke kamar rawat Amara.
Lalu dia menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar ketika di saat yang bersamaan Piere keluar dari ruangan itu.
"Piere?" Amara berujar.
"Hai? I thought you were …."
"Sedang apa kamu di sini?" Galang segera bereaksi.
"Aku tadi dapat panggilan dari Pak Arfan, jadi …."
"Umm … aku ditugaskan untuk menemani Ara hari ini." jawab Piere kemudian.
"Apa?" Galang meninggikan suaranya.
"Kakak?"Â
"Kenapa Pak Arfan menugaskanmu untuk menemani Ara? Memangnya dia mau ke mana?"
Piere membuka mulutnya untuk menjawab ketika di saat yang sama pula ponsel milik Galang berdering.
"Papamu Ra." ucapnya yang menatap layar ponsel, kemudian dia menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan.
"Ya Pak?" Dia kemudian berdeham.
"Apa Piere sudah sampai?" tanya Arfan dari seberang.
"Sudah Pak." Galang melirik pria yang seumuran dengan kekasihnya itu.
"Saya harus mengantar Arkhan, dia ada pertandingan di sekolah. Dan Mommynya mengantar adiknya yang lain. Jadi kami menugaskannya untuk menemari Ara hari ini sementara kamu bekerja."
"Saya …."
"Tidak mungkin kita meninggalkannya sendirian, tapi lebih tidak mungkin juga kalau misalnya kamu tidak bekerja hari ini."
Galang berpikir.
"Jadi pilihannya adalah meminta Piere untuk menemaninya."
Kenapa juga harus dia? Galang mendelik kepada pemuda itu dengan perasaan tidak suka.
"Baik Pak."
"Baiklah kalau kamu setuju. Kita sudah sepakat ya?"
Siapa bilang? batinnya menggerutu.
"Ya Pak, baik."
Lalu Arfan menyudahi percakapan.
"Apa?" Amara nendongak.
"Papamu memerintahkan Piere untuk menemanimu hari ini." Galang menjelaskan dengan nada tidak suka.
"Waaaa …." Amara dengan mata berbinar, senang.
"Heh, kelihatan senang sekali kamu ini?" Namun membuat pria itu menggerutu.
"Iya, kan aku jadinya ada temen?" Amara menjawab dengan cueknya.
"Kalau aku yang menemani kamu nggak bilang begitu?"
"Kalau Kakak kan nemeninnya kalau malam doang. Nemenin tidur."
"Hum?"
"Kalau aku tidur, Kakak yang jagain."
"Sama saja kan?"
Amara menahan senyum. Dari nada suaranya saja dia sudah tahu jika calon suaminya ini sangat tidak menyukai hal tersebut. Apalagi ketika dia meliriknya, wajah pria itu tampak tidak enak dilihat.
"Ya udah, sana kalau Kakak mau berangkat kerja." ucap Amara, yang membuat Galang sedikit terperangah.
__ADS_1
"Piere, bantu aku!" katanya kepada teman kuliahnya tersebut.
Dan Piere hampir saja melakukan apa yag gadis itu katakan sebelum akhirnya Galang menghentikannya.
"Biar aku saja!" Pria itu segera mendorong kursi roda ke dalam ruang rawat.
Dan Galang segera meraup tubuh Amara untuk kemudian dia mendudukkannya diatas tempat tidur. Mengatur posisinya menjadi senyaman mungkin, dan dia memastikan agar calon istrinya itu mendapatkan apa yang dia butuhkan.
"Aku pergi dulu ya?" Galang duduk pinggir ranjang.
Amara menganggukkan kepala.
"Kalau ada apa-apa kamu bisa menelpon. Aku pasti akan segera datang." Pria itu kembali berbicara.
"Gimana bisa? Aku kan nggak pegang hape?"
Galang tertegun sejenak.
"Aku lupa kalau hapemu hancur waktu kecelakaan." katanya, lalu dia terkekeh pelan.
"Hmm …." Amara mengerucutkan mulutnya.
"Tidak apa, nanti kita beli lagi."
Amara mengangguk lagi.
"Eh nggak apa-apa, kan ada Piere. Nanti aku pinjam hapenya dia."
Galang menoleh pada pria yang berdiri di dekat pintu, menunggu.
"Kalau ada dia aku nggak akan kesepian. Yakin deh." ucap Amara setelahnya.
"Hmm … pasti. Kalian sangat akrab."
"Iya, dia asik kalau diajak ngobrol tahu?" Amara menatap ke belakang pria itu di mana teman kuliahnya berada.
Galang tampak mendengus keras.
"Udah, sana kalau mau kerja. Udah siang." Amara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan pria itu.
"Kamu ngusir aku ya?" Galang dengan suara pelan.
"Ih, kan Kakak harus kerja?"
"Ugh! Kalau saja jadwal hari ini nggak padat, aku pasti bolos kerja." Galang dengan raut kesal.
"Eh, nggak boleh. Nanti Kakak dipecat. Gimana kita mau nikah?"
Pria itu mengatupkan mulutnya, menahan senyum. Dan hidungnya tampak bergerak-gerak lucu, membuat gadis di depannya tergelak.
"Kakak lucu kalau gitu." Lalu tangan kirinya menyentuh wajah Galang.
"Kamu membuatku merasa tidak sabar untuk menunggu dua hari lagi tahu?" Dan Galang mencekal pergelangan tangan gadis itu ketika dia menariknya.
"Nggak sabar mau ngapain? Orang tiap hari juga ketemu? Pagi ketemu, siang ketemu. Sore apa lagi? Semalaman Kakak di sini terus." Amara menjawab.
"Soal ini kamu nggak akan ngerti walau aku jelaskan." Galang meremat tangan kecil gadis itu dengan gemas.
Lalu Amara tertawa lagi.
"Udah siang Kak." Dan gadis itu kembali melirik jam tangan milik Galang.
"Udah mau setengah sembilan." lanjutnya, dan dia benar-benar menarik tanganya dari genggaman Galang.
"Aku tahu."
"Kenapa nggak cepetan berangkat? Nanti Kak Dim marah lho."
"Tidak akan. Jam sembilan aku ada pertemuan dengan orang Brunei di Hilton sendirian, jadi anggap saja kalau sekarang ini aku sedang dalam perjalanan."
"Bisa ya begitu?"
"Bisa dong. Aku kan orang kedua di Nikolai Grup. Apa yang nggak bisa aku lakukan?"
"Uuhh sombong!" Amara mencibir.
Galang tertawa sambil mendekat.
"Pergi Kak." Amara menahan dadanya yang hampir saja menghapus jarak di antara mereka.
"Ini juga mau pergi." Galang segera menarik leher Amara sehingga membuat bibir mereka segera bertemu.
Dan untuk beberapa saat dia mencumbunya begitu dalam seperti tak akan ada waktu lain lagi untuk melakukannya. Bahkan keberadaan Piere di belakang tidak mampu menghentikannya, membuat pemuda itu sempat memalingkan perhatian ke arah lain.
"Umm …." Amara benar-benar mendorongnya hingga tautan bibir mereka tetlepas.
"Kerja Kak!" katanya dengan napas yang sedikit tersengal-sengal.
Galang menggigit bibirnga dengan keras, dia kesal karena merasa jika kesenangannya terganggu.
Sedangkan Amara tersipu malu, kedua pipinya saja sampai merona saking malunya. Apa lagi menyadari keberadaan Piere di tempat itu.
"Baiklah … aku pergi." Galang bangkit, lalu dia merapikan jasnya.
"Jangan lupa makan dan obatnya ya?"
Amara menganggukkan kepala.
"Nanti siang aku ke sini." Galang berjalan mundur.
Gadis itu mengangguk lagu.
"Atau kalau misalnya tidak datang siang, sorenya aku pasti pulang ke sini."
"Oke."
"Aku pasti datang, tunggu saja." Galang berhenti di ambang pintu.
"Iya Kak, aku tahu."
Pria itu menatapnya untuk beberapa detik, dan mengingat jika dirinya akan meingalkan calon istri yang dalam dua hari ke depan akan di nikahinya ini. Dan rasanya sungguh berat. Apa lagi ada pria lain yang ditugaskan untuk menemaninya hari ini.
"Udah setengah sembilan lebih lho Kak." Amara mengingatkan.
"Umm … ya, aku tahu. Aku hanya … sampai nanti." katanya, dan akhirnya dia benar-benar pergi.
"Apa itu barusan?" Piere melihat keluar hingga Galang benar-benar pergi sebelum akhirnya dia menutup pintu.
"Jangan dibahas." jawab Amara dengan wajahnya yang memerah.
"Dia mau menunjukkan kalau kamu ini miliknya ya?" Pemuda itu berjalan mendekat.
"Umm …."
"Aneh sekali, seolah-olah dia merasa terancam dengan keberadaanku di sini, padahal kalian akan menikah dalam dua hari." Piere menggelengkan kepala.
"Sudah aku bilang nggak usah dibahas."
Lalu Piere tertawa, melihat wajah Amara yang semakin lama menjadi semakin memerah.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...
maaf belum bisa update dengan normal karena Author masih dalam masa berkabung. Minta doanya agar semuanya baik-baik aja.