My Only One

My Only One
MOO Ekstrapart 2


__ADS_3

🌺


🌺


"Kakak?" Amara meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Hmm …." Namun Galang masih sibuk dengan ponsel dan laptopnya di sofa ujung ranjang.


"Kita bakal ngadain selamatan nggak sih?" Perempuan itu pelan-pelan bergeser hingga dia mencapai suaminya.


"Selamatan untuk apa?" Dan Galang tidak memalingkan perhatiannya sama sekali.


"Ya selamatan rumah lah."


"Memang harus ya?"


"Nggak juga sih, tapi kan seneng juga kalau di adain. Keluarga kumpul lagi gitu?"


"Kamu sukanya kumpul-kumpul."


"Kan seru. Tapi setahu aku rumah baru itu sebaiknya di doain biar kita tinggal di sininya enak, terus aman juga. Oan tadinya kosong."


"Hmm …." Galang menggumam lagi.


"Kakak denger nggak sih aku ngomong?" Amara menepuk pundak suaminya.


"Dengar, Neng."


"Tapi jawabnya cuma gitu aja?"


"Memangnya kamu mau aku jawab apa?" Galang masih fokus pada pekerjaannya.


"Ya apa kek."


Galang tertawa.


"Malah ketawa?"


"Ya aku harus apa?"


"Bikin rencana kek kapan mau selamatannya."


"Hhmmm …."


"Kok hmm lagi?" Perempuan itu mengguncang pundak Galang.


"Sebentar Neng, Aa lagi beresin kerjaan." Galang menjawab.


"Baru pulang dari Paris udah ada kerjaan aja? Kak Clarra kok tega?" keluh Amara.


"Bukan Clarra yang tega. Ini memang tugasku kan? Lagi pula aku harus menyiapkan beberapa hal untuk rapat besok."  Galang menyimpan file yang baru selesai dikerjakannya barusan.


"Uuhh, belain mantan pacarnya!" Amara bersedekap.


"Apa?"


"Kakak  belain mantan pacar!"


Galang menutup laptop kemudian berbalik saat pekerjaannya sudah selesai.


"Kamu ngomong apa sih?" ujar pria itu yang segera naik ke tempat tidur.


Amara tak menjawab, namun dia hanya mendelik.

__ADS_1


"Mulai mau cari-cari masalah ya? Mau bertengkar?" Galang terkekeh.


Amara tak merespon. Dia hanya terdiam menutup mulutnya.


"Neng?" Pria itu menyentuh lengannya namun dia tepis.


"Oke." ucap Galang yang kemudian merebahkan tubuhnya disamping Amara.


Dia kemudian menarik selimut dan memiringkan tubuhnya membelakangi istrinya dan mencoba memejamkan mata. Tidak ingin terlibat perdebatan lebih jauh karena tahu ujungnya akan bagaimana.


Namun rupanya Amara merasa tidak puas, sehingga dia memukul punggungnya dengan keras.


"Aduh!!" Pria itu bangkit lalu berbalik.


"Kamu kenapa sih main kekerasan?" protes Galang yang mencoba memegang punggungnya yang Amara pukul.


"Habisnya Kakak nyebelin!"


"Nyebelin sebelah mananya?"


"Aku belum selesai ngomong Kakak tinggal tidur."


"Tadi itu belum selesai? Aku kira sudah karena kamu nggak jawab. Malah nolak pas aku pegang."


Amara mengerucutkan mulutnya.


"Sudah, aku ngantuk. Dan malas juga karena kalau dibahas lebih jauh kita pasti akan bertengkar." Galang kembali merebahkan tubuhnya di tempat semula.


Amara masih cemberut.


"Hey?"


Perempuan itu melirik.


"Mau aku peluk nggak? Kalau nggak mau aku tidur duluan nih."


Amara memutar bola matanya, namun kemudian dia mendekat. Merapatkan tubuhnya, lalu menyurukkan kepalanya pada dada bidang pria itu. Dan tangan kanannya memeluk tubuh Galang yang hangat.


"Kakak?" katanya setelah beberapa menit.


"Hmm …."


"Udah tidur?"


"Hampir."


"Punggung aku sakit."


Galang segera mengusap-usap punggungnya dengan lembut.


"Pinggang aku juga pegel."


Lalu usapannya beralih pada pinggangnya.


"Perut aku juga kayaknya … mm …."


"Ayo apa lagi? Sepertinya kamu tidak bisa membiarkan aku tidur, hum?" Galang kemudian mengusap perut Amara lalu menggelitiknya sehingga perempuan itu tertawa.


"Bukan aku, tapi babynya!" Dia menjawab.


"Baby apanya? Kamu suka modus."


"Nggak ih beneran. Ini karena babynya."

__ADS_1


"Memangnya mereka mau apa sekarang?" Pria itu kemudian bangkit dan mendekatkan wajah di perut Amara.


"Hem? Mau apa? Jangan minta macam-macam ya? Ini sudah malam!" katanya, seolah dia tengah berbicara kepada makhluk yang sudah berwujud.


"Baby mau ketemu Papa!" Amar dengan suara dibuat seperti anak kecil.


"Apa?"


"Baby mau ketemu Papa." ulangnya, dan hal itu membuat Galang menoleh kepadanya.


Amara tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi.


"Beneran? Nanti Mama ngeluh capek?" ucap Galang yang masih mengusap-usap perutnya.


Amara menganggukkan kepala juga masih tersenyum.


Lalu tanpa menunggu lama pria itu melepaskan pakaiannya. Hal yang sama dia lakukan kepada Amara sehingga kini mereka sama-sama telanjang.


Kemudian keduanya mulai bercumbu seperti yang biasa dilakukan. Saling mencium dan memagut lembut yang membuat gairah menanjak dengan sendirinya. Lalu saling menyentuh sehingga hasrat mereka mulai tersulut.


Dan beberapa saat kemudian Galang membenamkan miliknya pada Amara sehingga tubuh mereka kini sudah bertautan.


Perempuan itu mulai mengerang ketika Galang mulai bergerak. Lalu keduanya segera tenggelam dalam syahdunya percintaan.


Galang terus menyusuri setiap bagian tubuh Amara, namun tidak menghentikan cumbuannya. Dan perempuan dibawahnya menggeliat-geliat tak karuan. 


Mereka menikmati waktu yang syahdu ini tanpa gangguan dan segalanya berjalan dengan begitu menyenangkan.


Amara bahkan merasakan bahwa hal ini menjadi semakin indah saja setiap kali pria itu memperlakukannya demikian. Dia menginginkan hal yang lebih dan lebih lagi dan membuat Galang semakin menggila saja dengan setiap reaksi yang dia tunjukkan.


"Ah, Kakak!" rengek Amara yang merasakan gairahnya terus memuncak.


Kedua tangannya merayapi tubuh kekar di atas, lalu dia menariknya sehingga mereka saling menempel. Kulit yang mulai berkeringat terus bergesekkan sehingga menimbulka suara yang terdengar erotis, yang kemudian menghadirkan sensasi yang lain.


"Ngh!" Mereka saling memagut dan menyesap apa pun yang dilalui, sementara sesuatu di bawah terus berpacu semakin kencang.


"Aahhhh …." Amara mendongakkan wajah sementara Galang menyusuri lehernya. Lalu cumbuannya turun ke dada dan menemukan gundukkan indah yang kini terlihat lebih besar dari sebelumnya. Mungkin efek kehamilan berpengaruh pada perempuan itu.


Dia menyesap yang satunya, dan yang lainnya juga disentuh. Membuat Amara semakin menggeliat dan mende*ah. Lalu sesuatu dibawah berdenyut tak karuan.


"Kakak!" Perempuan itu meremat rambut seraya menekan kepala Galang sehingga membuat sesapan di dadanya semakin keras dan dia merasakan ini menjadi semakin gila saja.


Tubuhnya menjadi semakin memanas dan dia sudah merasa tidak tahan. Dan des*han juga erangan terus mengudara memenuhi ruangan temaram pada hampir tengah malam itu.


Dan setelah beberapa saat berpacu, Galang pun merasakan dirinya sudah berada di ujung. Segalanya berkumpul di satu titik dan seperti berusaha mendobrak pertahanannya. Namun dia masih mencoba menahan diri untuk menunggu perempuan itu.


Hingga akhirnya, di hentakan terakhir Amara bergeliat diiringi erangan keras, dan pusat tubuhnya berdenyut hebat. Lalu Galang merekan dirinya sendiri saat hal yang sama juga terjadi. 


"Aarghh, Araaaaaa!!!" Dia menyurukkan wajah di ceruk leher perempuan itu.


🌺


🌺


🌺


Duh, 🙈🙈🙈


makasih buat kalian yang masih menunggu. Makin lope deh.


Jangan lupa mampir di The Sweetest Feeling ya? Masih di NT/MT kok, juga novel Dear Husband di Youtube dan novel-novel emak di si ungu. Ada One Night Baby sama Pura-pura menikah.


Oke gaess, alopyu sekebon😘😘

__ADS_1


__ADS_2