My Only One

My Only One
Hubungan #2


__ADS_3

🌺


🌺


“Kamu tidak kerja hari ini?” Dokter Syahril menyodorkan satu cup minuman kepada Clarra. Mereka kini berada di taman rumah sakit saat perempuan itu datang membawa Syahnaz yang di sore sebelumnya dia bawa pulang.


“Hari Sabtu.” Clarra menjawab.


Dokter Syahril sedikit terkekeh. “Biasanya kamu bekerja meski di hari libur.” Dia kemudian duduk di sisi kosong di samping perempuan itu. Sementara putrinya asyik disisi lainnya bermain dengan boneka kesayangannya.


“Sekarang sedang cukup santai.”


“Benarkah?”


“Ya.”


“Cukup bagus. Kamu jadi punya waktu senggang.”


“Benar sekali.”


“Apa Syahnaz tidak rewel denganmu dua malam ini?”


“Tidak, dia sangat manis. Kamu tahu dia tidak pernah rewel bahkan sejak bayi. Itu sebabnya aku mau membawanya pulang.”


Dokter Syahril tertawa.


“Beberapa hari ini aku sering melihat Galang ada di sini.” Lalu dia mengalihkan topik pembicaraan.


“Ya, dia memang sering ke sini. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, kadang siang hari saat istirahat, lalu sore sampai malam. Terkadang tidak pulang untuk menunggui Ara.”


Dokter Syahril menatap perempuan itu.


“Apa hubungan kalian baik-baik saja?” Dia penasaran untuk tak bertanya.


“Baik, hubungan kami baik.” Clarra pun menjawab.


“Bagaimana bisa?”


“Apanya?” Lalu perempuan itu pun menoleh.


“Kamu membiarkan kekasihmu untuk menemani perempuan lain dan tidak ada perasaan marah atau cemburu sama sekali?”


Clarra terdiam.


“Jangankan hanya begitu, laki-laki yang aku cintai menikahi sahabatku sendiri saja kau biarkan, apalagi ini.”


Dokter Syahril mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


“Lagi pula sudah bukan urusanku lagi. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan.”


“Maksudmu?”


“Kami sudah tidak ada hubungan lagi.”


“Apa?”


Clarra terkekeh pelan. “Ternyata perasaannya terhadap mantan kekasih masih sangat besar sehingga tidak mampu menyisakan ruang untuk orang lain. Dan aku sendiri …” Clarra menggantung kata-katanya.


“Ara itu mantan kekasihnya semasa kuliah, dan aku hanya menjadi persinggahan disaat kami sama-sama terluka. Dan sepertinya perasaanku kepadanya juga begitu.” Perempuan itu kembali menatap wajah Dokter Syahril.


“Hubungan kami sudah berakhir.” katanya, kemudian  mereka sama-sama terdiam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Galang memutuskan untuk kembali ke rumah sakit setelah pulang ke apartemennya. Membiarkan Arfan menggantikannya saat pria itu tiba pada pagi hari setelah berhari-hari berada di tempat itu mengurusi putrinya.


Dia tertegun sebentar di depan pintu dan mendengarkan suara percakapan di dalam ruang rawat Amara, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Dan Galang menemukan Arfan dan Piere yang sudah berpakaian biasa duduk di kursi di dekat amara yang hari itu ternyata terbangun.


“Oh, kamu kembali?” Mereka mengalihkan perhatian.


“Ya.” Galang segera berjalan mendekat. 


Dia menatap Piere dari atas ke bawah. Ada beberapa bekas lecet di wajah dan sedikit lebam. Juga tangannya yang mengenakan hand string karena mengalami cedera yang diduga akibat benturan. Namun dia memang tak separah Amara.


“Bagaimana keadaanmu?” Dia bertanya.

__ADS_1


Galang ingat, pria asing ini yang menemukannya setelah Rafi menyerangnya tempo hari di tengah hujan dan membawanya ke rumah sakit.


“Lebih baik.” Piere menjawab.


“Syukurlah.” Galang mengangguk pelan. Kemudian dia beralih kepada Amara yang terdiam.


“Hey, bagaimana keadaanmu?” katanya, dan dia mendekat.


Amara tak langsung menjawab, namun malah menatapnya  untuk waktu yang cukup lama. Dia mengingat banyak hal yang didengarnya ditengah ketidak sadarannya, dan sebagian besar adalah perkataan Galang.


“Ehm … bukankah hari ini kau sudah bisa pulang? Mau aku antarkan ke apartemenmu? Jadi kau bisa melanjutkan istirahat di sana sampai nanti kau sudah bisa kembali bekerja.” Arfan bangkit dari kursinya.


“Oh, iya Pak. Saya rasa juga begitu.” Pun Piere yang juga melakukan hal sama.


“Papa keluar dulu sebentar ya Kak?” ucap Arfan kepada Amara yang dijawab oleh putrinya itu dengan anggukkan.


“Aku juga Ra.” Piere berpamitan. Dan Amara hanya sedikit melambaikan tangan kirinya.


Kemudian kedua pria berbeda usia itu pun segera pergi.


Suasana terasa hening, dan kedua orang ini belum memulai percakapan. Mereka masih memikirkan hal apa yang akan dikatakan pertama kali untuk memulai, terutama Galang.


“Kakak ngapain disini?” Akhirnya Amara buka suara.


“Menunggu kamu.” Galang duduk di pinggir tempat tidur.


“Nggak usah repot-repot.”


“Tidak sama-sekali.”


“Kakak banyak kerjaan ….”


“Ini hari Sabtu, ingat? Dan aku libur.”


“Aku lupa. Aku kan baru bangun.”


“Hmm ….” Pria itu bergumam.


“Kak Clarra tahu Kakak ke sini?” Amara kemudian bertanya.


“Kok bisa?”


“Bisa lah, kenapa nggak bisa?”


“Kok bisa dia ngijinin Kakak kesini?” katanya, lalu mendesis dengan kening berjengit saat rasa sakit kembali menjalar di bagian tubuhnya yang cedera, dan setelahnya dia menggigil.


“Kamu baik-baik saja?”


“Hmm … hanya sakit.” Amara mengerang.


“Mau aku panggilkan dokter?” Galang hampir saja bangkit.


“Nggak usah, nanti paling aku dikasih obat tidur lagi. Aku capek tidur terus.”


“Tapi agar kamu istirahat dan tidak merasa sakit Ra.”


“Hmm … rasanya udah kelamaan juga.” Keningnya terus berjengit tanda dia sedang menahan sakit yang luar biasa.


“Kakak pulang gih, aku baik-baik aja.” katanya kemudian.


“Nggak apa-apa, dari kemarin sebelum kamu bangun aku terus di sini, masa setelah kamu bangun aku mesti pergi?” Galang menjawab.


“Ya kan akunya udah baikan.”


“Itu bagus kan?”


“Ya, makanya Kakak pulang aja.”


Galang menggelengkan kepala.


“Serius Kak, aku nggak apa-apa.”


“Kamu bilang begitu seolah aku ini buta.” ucap Galang seraya mencondongkan tubuhnya.


“Bagaimana kamu bilang nggak apa-apa sementara cederamu separah ini?” lanjutnya, dan dia menyingkirkan helaian rambut Amara yang mencuat ketika gadis itu menggeserkan kepalanya.

__ADS_1


Mereka saling pandang untuk beberapa saat.


“Kak Clarra pasti ….”


“Jangan bicarakan soal Clarra.” Galang memotong kalimat yang hampir Amara ucapkan.


“Kenapa?”


“Karena dia tidak ada hubungannya dengan ini.”


“Tapi kan?”


“Jangan banyak bicara, seharusnya kamu istirahat agar cepat pulih, bukannya memikirkan orang lain.”


“Kak?”


“Sssttt! Istirahatlah, aku akan di sini seharian ini."


“Hum?” kening Amara kembali berjengit.


“Jangan bicara lagi.” Lalu Galang bangkit dan pindah ke sofa di samping kiri ranjang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Penyelidikan sudah hampir selesai Pak, dan semua bukti sudah lengkap selain dari apa yang kita serahkan. Hanya menunggu keterangan beberapa  orang untuk menjadi saksi, terutama Galang dan Ara.” Andra menyerahkan beberapa berkas yang dia dapat, sebagian besarnya berasal dari pihak kepolisian.


“Ara juga ikut?” Arfan menyesap kopinya.


“Harus, agar buktinya semakin lengakp dan membuat hukuman bagi Bu Larra semakin berat.”


“Hmm ….” Arfan bergumam.


“Mungkin menunggu Ara lebih sehat.”


“Apa Galang sudah memberikan keterangan?”


“Belum, nanti polisi akan memanggil Galang juga Clarra. Keterangan mereka cukup penting. Dan bukankah Clarra juga sempat mendapatkan intimidasi selama ini?”


“Ya.Sepertinya Larra akan mendapat hukuman yang sangat berat kali ini.”


“Itu kabar baik bukan?”


“Ya, seharusnya kami melakukannya sejak dulu, bukannya malah membiarkan dia bebas seperti selama ini. Tadinya Pak Satria berharap dengan begitu Larra akan menyadari kesalahannya. Tapi seperti yang sudah kita ketahui, Larra tetaplah Larra.”


Andra mengangguk-anggukkan kepala.


“Baik, aku harus segera kembali ke rumah dulu.” Arfan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tiga sore.


“Tidak ke rumah sakit lagi Pak?”


“Ah, mungkin nanti malam, lagipula di sana sudah ada satpam.” Pria itu terkekeh.


“Galang?” 


“Hmm ….” Mereka bangkit bersamaan dan berjalan keluar dari kafe yang letaknya tak jauh dari rumah sakit itu setelah melakukan pembayaran.


“Jadi Bapak sudah merestui mereka setelah dia memutuskan Clarra?” Dua pria itu masih berbincang sepanjang perjalanan ke arah mobil mereka masing-masing.


“Belum tentu.” Arfan menjawab.


“Lalu kenapa Bapak membiarkan Galang untuk berada di sana menunggui Ara?”


“Biarkan sajalah semua berjalan alami, kalau memang jodoh ya mau apa lagi? Kalau tidak, mereka akan berpisah dengan sendirinya. Apalagi keadaan Ara sekarang ini pasti membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih. Bukan hanya fisiknya, tapi mentalnya juga perlu dipulihkan. Dan aku rasa itu tidak akan mudah.”


“Ya, jelas tidak akan mudah.”


Lalu keduanya pun berpisah.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...

__ADS_1


ayo like komen sama hadiahnya tambah lagi kalau mau di up lagi. 😉


__ADS_2