My Only One

My Only One
True


__ADS_3

🌺


🌺


"Are you oke?" Piere mendekati Amara saat gadis itu memeriksa beberapa hal di ruang masaknya.


"Hmm …" Amara menggumam namun tak memalingkan pandangan. Terlihat sekali dia sedang menyembunyikan wajahnya.


"Oke." Pemuda itu mundur menjauh.


"Oh ya, Piere." Lalu Amara memutar tubuh. "Aku sudah memesan cctvnya. Apa empat buah cukup?"


"Umm … ya, aku rasa empat cukup. Kita akan tempatkan dua di dalam ruangan, satu di langit-langit balkon lantai dua, dan satu lagi di luar." Piere menjawab.


"Oke." Amara berbalik lagi.


"Oh iya, nanti kalau Nania dan Ardi datang, tolong bantu mereka membereskan barang belanjaan ya? Aku harus menyiapkan beberapa hal untuk pesanannya."


Piere menganggukkan kepala. Dan dia masih menatap gadis itu yang kembali menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sembab. Pasti sisa tangisan semalam yang dia dengar cukup nyaring sebelum akhrinya dia meninggalkannya sendirian di sana.


"Good morning?" Daryl tiba sesaat sebelum kedai buka.


"Kakak? Ngapain pagi-pagi udah disini?" Perhatian Amara teralihkan.


"Aku datang untuk membantu." Pria itu dengan senyumannya yang secerah mentari.


"Kedainya belum buka."


"Nggak apa-apa, aku bosan di rumah."


"Katanya kalau Sabtu Minggu maunya istirahat. Setelah seminggu kerja capek, maunya have funn?"


"Ini aku mau have funn." Daryl mendekat ke pantry.


"Apaan?"


"Membantumu bekerja." Dia tergelak.


"Kak Darren mana?"


"Ah, dia sibuk dengan pekerjaan."


"Kan hari Sabtu?"


"Dia lebih senang bekerja. Senin sampai Jum'at baginya tidak cukup."


"Oo bagus dong?"


"Bagus apanya? Membosankan."


Amara tertawa pelan.


"Eh, kamu kenapa? Sakit?" Daryl memperhatikan wajah dan mata gadis itu yang sembab.


"Hah? Umm …"


"Atau habis nangis? Kenapa?" Daryl mencondongkan tubuhnya.


"Itu … aku …."


"Nangis karena capek ya? Baru tahu rasanya kerja? Pusing kan?" Daryl tergelak.


"Ah, iya. Semalam aku cek banyak hal jadinya kurang tidur. Terus …."


"Makanya, ayo kita menikah? Jadi kamu nggak harus capek-capek kerja seperti ini. Biar aku yang bekerja untukmu."


Amara mencebikkan mulutnya, sementara Piere memutar bola mata di belakang gadis itu.


"Masa Mommy nanti jadi mertua kakak? Nggak lucu." ketus Amara.


Daryl malah tertawa.


"Kakak juga bercandanya nggak lucu." Gadis itu kemudian mendelik.


"Iya, karena cuma kamu yang lucu." Daryl tertawa lagi hingga akhirnya percakapan itu terjeda saat dua pegawai tiba.


"Kalian udah datang?" Amara bereaksi. Melihat Nania dan Ardi yang membawa banyak barang di tangan mereka.


"Ya, minta bantuannya dong." Ardi menjawab, lalu Raka dan Nindi bergegas keluar saat satu rekannya itu kembali ke mobil Amara yang dipakainya berbelanja bahan. Begitu juga dengan Piere.


"Dari mana si anak SMP itu pagi-pagi begini?" Daryl memperhatikan.


"Anak SMP?" Amara membeo.


"Nania."


"Oh, kenapa disebut anak SMP?"


"Kamu tahu dia lulusan apa?"


"Tahu. Dia lulus SMP."


"Nah itu."


"Emangnya kenapa?"


"Aku pikir kerja di tempat seperti ini minimal harus lulusan SMA."


"Nggak juga. Karena dia mau kerja jadinya aku terima. Kasihan dia udah mohon-mohon."


"Zaman sekarang lulusan SMP masih diterima kerja juga ya?"


"Kalau aku iya. Yang penting dia mau kerja. Memangnya kenapa? Masalah?"


Daryl tak menjawab, namun dia masih memperhatikan gadis bertubuh kecil yang mondar-mandir memindahkan barang belanjaan dari luar ke dalam kedai.

__ADS_1


"Hey!!" Amara menepuk pundaknya dengan keras.


"Aku cuma nggak percaya, di zaman seperti ini masih ada yang nggak melanjutkan sekolah?"


"Hey, kemampuan setiap orang itu beda-beda. Lagian kita nggak hidup di tempat mereka hidup, atau menjalani apa yang mereka jalani."


"Serius, aku berpikir …."


"Dih, mikirin Nania?"


"What?" Daryl mengerutkan dahi.


"Jangan dulu mikirin anak orang, sekarang waktunya mikirin diri sendiri. Kakak aja baru kerja udah mau mikirin anak gadis orang?" Amara keluar dari tempatnya barusan kemudian memeriksa barang yang baru saja datang.


"Hey, maksudku bukan begitu! Lagi pula, kenapa juga cara bicaramu begitu kepadaku? Aku ini lebih dewasa darimu tahu?"


"Cieee … mikirin karyawan aku? Barusan ngajak aku nikah, tapi pikirannya ke orang lain? Dasar labil!" Amara mencibir.


"Apa?"


Amara tertawa. Seperti biasa, kehadiran pria itu selalu merubah suasana hatinya menjadi lebih ceria.


"Nania, Kak Daryl …." Amara hampir saja berbicara namun pria itu segera merangkul pundaknya dan membekap mulutnya.


"Itu .. Mmm…"


"What? What you say? It's not like what you think! Don't even try to …"


"Ish! Kakak apaan sih!" Amara melepaskan tangan pria itu yang mendekapnya dengan kencang.


"Maksud aku biarin Kak Daryl yang angkat itu, jangan kamu." katanya kepada Nania yang hampir saja mengangkat satu kantong besar kentang dari luar.


"Oh, … nggak apa-apa Kak, aku bisa. Lagian cuma sedikit lagi kok." Nania menjawab.


"Ugh! Apaan sih Kakak ini?" Amara mendelik seraya melepaskan diri dari adik ipar ayahnya itu. Sementara Daryl hanya mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Nah, Nania sama Nindy di depan, Ardi sama Piere di kitchen. Sementara aku sama Raka prepare buat pesanan ya, biar nanti malam bisa kita poses. Dan aku harap kalian semua bisa menginap di sini malam ini. Jadi besok, menjelang makan siang kita udah antar pesanannya ke rumah sakit." Amara menginstruksikan kepada pegawainya.


"Jangan khawatir, ada Kak Daryl yang akan bantu di depan." Dia menoleh kepada pria itu yang asik dengan makanannya.


"Ini pesanan pertama  kita untuk jumlah banyak, jadi semoga semuanya lancar ya? Dan semangat!" Gadis itu mengepalkan tangannya di udara.


Lalu segala kegiatan dimulai pada hari itu, dan mereka bekerja dengan semangat. Se semangat Amara yang mengalihkan segala kerisauan hatinya.


🌺


🌺


"Bagaimana keadaannya?" Arfan bertanya begitu melihat Andra yang menyambutnya di lorong menuju ke ruang perawatan.


Setelah mendapatkan laporan dari Piere semalam yang menemukan pria itu terkapar di tengah jalan sepi dibawah guyuran hujan, dia langsung memerintahkan kepada beberapa orang untuk menangani hal tersebut.


"Dia belum sadar, tapi baik-baik saja. Hanya efek obat tidur dan penghilang rasa sakitnya." Andra menjawab seraya menunjukkan tempat di mana Galang dirawat.


Dan disanalah pria muda itu, terbaring di ranjang dengan keadaan berantakan. Wajah dan beberapa bagian tubuhnya lebam, terutama dagu dan pipi yang mendapat tendangan dan pukulan bertubi-tubi semalam.


"Orang tuanya sudah diberi tahu?" tanya Arfan yang berdiri di ujung ranjang.


"Sudah tadi subuh. Mereka sedang dalam perjalanan dengan Angga."


Arfan mengagguk-anggukkan kepala.


"Sudah dapat informasinya?" Pria itu bertanya lagi.


"Sudah."


"Lalu?"


"Seperti yang Bapak duga."


"Larra?"


Kini Andra yang mengangguk.


"Sudah melakukan tindakan?"


"Masih mengumpulkan bukti Pak."


"Kalau sudah dapat informasinya kenapa masih mengumpulkan bukti? Kenapa tidak segera kau seret saja orangnya? Lambat sekali tindakanmu?" Arfan mengomel.


"Masalahnya kita belum mendapatkan keterangan dari Galang. Mungkin orang itu mengatakan sesuatu sebelum pergi?"


"Saat ini yang paling berpotensi mencelakai Galang adalah perempuan itu. Lalu apa lagi yang kau ragukan? Berapa lama kau bekerja di Nikolai Grup?"


"Saya berusaha untuk tidak gegabah Pak. Karena seperti yang sudah Bapak katakan jika Bu Larra itu licik."


"Memang. Makanya kau harus segera bertindak."


“Bu Larra pasti juga tidak akan gegabah mengenai hal ini. Dia pasti telah merencanakannya dengan matang makanya memiliki keberanian untuk bertindak. Dan saya rasa dia juga punya rencana lain seandainya kita memburunya ke tempat yang sudah kita tahu.”


“Hmm ….” Arfan menarik napas dalam seraya, mengerucutkan mulutnya.


“Jadi kita harus mengatur rencana sebaik-baiknya. Karena mungkin saja dia sudah merencanakan hal ini, dan tahu jika kita akan bereaksi ketika mengusik Galang. Tidak menutup kemungkinan juga jika dia mengincar hal lainnya dengan membuat kita sibuk mengurusi Galang.”


Arfan terdiam sejenak.


"Aku pikir dia sudah mewaspadainya dari kemarin? Nyatanya malah seperti ini." Lalu dia kembali berbicara.


"Aku tidak bisa menjaga semua orang, prioritasku hanyalah pada keluargaku, karena seharusnya dia bisa menjaga dirinya sendiri. Masa aku juga harus memikirkan keadaannya?" Arfan bergumam.


Lalu terdengar langkah tergesa diluar, kemudian pintu di dorong dengan cepat. Dan wajah Clarra yang muncul setelahnya. Dia datang bersama kedua orang tuanya begitu mendapat kabar dari Andra beberapa saat sebelumnya.


"Bagaimana bisa?" Clarra segera menghambur menghampirinya.


"Galang tidak apa-apa, dia hanya …."

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa begini? Lang?" Perempuan itu memeriksa keadaannya. Dia membingkai wajah Galang dan memastikan kondisinya.


Andra dan Arfan saling melirik.


"Sudah aku bilang kalau kamu harus langsung pulang kan? Kenapa juga ada di jalan malam tadi?" katanya dengan raut khawatir.


“Apa yang terjadi Pak?” Lalu Clarra beralih kepada dua pria di dekatnya.


“Seperti yang sudah saya katakan tadi, kalau seseorang memukulinya tanpa alasan yang jelas, dan ketika Piere menemukannya dia sudah setengah tak sadarkan diri.” jelas Andra.


“Piere?”


“Pegawainya Ara.”


“Pegawainya Ara? Memangnya Galang dari tempatnya Ara? Bukankah setelah mengantar saya dia pulang?”


“Kami kurang tahu soal itu, tapi Piere menemukannya saat di perjalanan pulang. Dan ya, dia menghubungi saya, jadi ….”


“Apa mungkin ada hubungannya dengan Mama?" Clarra teringat sesuatu.


“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Andra balik bertanya.


“Beberapa hari sebelumnya kami menemui Mama, dan saya mengatakan kepadanya untuk tidak lagi menghubungi apalagi menemui saya. Dan kami kira dia sudah sepakat soal itu. Tapi beberapa hari kemudian Mama terus menghubungi, bahkan setelah saya memblokir semua akses komunikasi dengannya.”


“Lalu?”


“Saya tetap memblokir nomor yang menghubungi.”


“Apa yang ibumu katakan? Apa dia mengancam akan melakukan sesuatu?”


“Mama meminta bantuan, dia dalam kesulitan. Apakah saya salah jika tidak memberikan bantuan?” Clarra mendongak.


“Lalu?”


Clarra mengingat lagi.


“Semalam … Mama menelfon lagi dengan nomor yang berbeda.”


“Hah, niat sekali orang ini?” Andra bereaksi.


“Apa yang dia katakan?” 


“Dia bertanya apakah Galang yang menghalangi saya untuk membantunya?’


“Dan apa yang kamu katakan?”


“Saya hanya menjawab jika Galang mengatakan bahwa saya harus berani menolak dan menghadapi Mama.”


“Apa lagi?”


“Hanya itu.”


“Ibumu tidak mengatakan hal lainnya?” Arfan semakin penasaran.


“Mama hanya mengatakan jika saya akan menyesal karena telah menolaknya.”


“Astaga!” Kini dokter Fahmi yang bereaksi. “Kenapa kamu tidak mengatakannya kepada kami?” Dia mendekati putrinya.


“Aku kira tidak ada hal yang serius dari itu, jadi ….”


“Tidak ada yang tidak serius. Dia itu Larra, dia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Kebenaran memang terkadang terasa pahit, tapi kamu harus tahu bahwa begitulah ibumu.”


Clarra terdiam.


“Maaf, tapi itulah kenyataannya. Yang kamu tahu bahkan jauh dari seujung kukunya. Tapi tindakanmu sudah benar dengan menolaknya, karena jika saja kamu membiarkannya masuk terlalu jauh ke dalam hidupmu, maka sudah bisa dipastikan jika dia akan mengendalikanmu.”


“Kenapa dia melakukan hal buruk seperti itu?”


“Alasannya hanya satu. Yaitu aset yang kamu miliki yang merupakan pemberian Pak Satria.”


Clarra tampak mendengus.


“Terdengar buruk, tapi itulah Larra.”


“Bapak bisa menjamin jika itu benar?”


“Sekali Larra, maka selamanya dia adalah Larra. Apa kamu ingat bagaimana saat pertama kali dia menemuimu?”


“Ya, tiba-tiba saja datang ke sekolah dan mengatakan jika dia mama saya.”


“Membuatmu bingung bukan?”


Clarra menganggukkan kepala.


“Lalu?’


“Dia terus datang dan mengatakan ingin menghabiskan banyak waktu dengan saya, tanpa mengatakan hal selain itu. Dan hanya baru-baru ini dia meminta maaf karena telah menelantarkan saya.”


“Menurutmu, apakah tidak mencurigakan?”


“Saya tidak tahu.”


“Kamu tahu, ambisinya telah mengorbankan banyak orang. Tidak sekarang, tidak juga dulu. Dan kamu lihat sendiri bagaimana?” Arfan melirik ke arah Galang yang masih terlelap.


Sementara Clarra mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


“Jika benar apa yang terjadi kepada Galang ada hubungannya dengan Larra, maka akan saya pastikan dia tidak akan bisa lolos begitu saja. Maaf Cla, tapi mamamu tetap tidak mengerti sekalipun dia telah medapatkan balasan atas perbuatannya.” ucap Arfan yang kemudian beranjak.


“Oh, … satu hal lagi.” Pria itu berhenti lalu menoleh. “Kamu sepatutnya bersyukur telah dia tinggalkan, karena ternyata perbuatan buruknya telah mengantarkanmu kepada dua orang paling baik di dunia yang telah merawatmu hingga sebaik ini, sesuai dengan janjinya kepada Pak Satria. Bahwa mereka akan menjadikanmu orang hebat, dan itu terbukti.” Dia melirik kepada Fahmi dan Vita.


“Sad but true, Clarra.” katanya lagi, dan dia segera pergi.


🌺


🌺

__ADS_1


🌺


Bersambung ...


__ADS_2