My Only One

My Only One
Ulah Arkhan


__ADS_3

🌺


🌺


Galang baru saja keluar dari rumah dan bermaksud menyusul ke rumah sakit ketika mobil yang dia kenali sebagai milik mertuanya memasuki pekarangan pada hampir petang.


Kendaraan roda empat tersebut berhenti tepat di depan teras dan pintunya segera terbuka. Dan Galang menelan ludahnya dengan keras begitu Arfan turun terlebih dahulu, diikuti Dygta di belakang.


Sopir mereka pun turun dan segera menghampiri keduanya saat penumpang lainnya mengulurkan tangan.


Sepasang tongkat penyangga dikeluarkan, kemudian Arfan dan sopir membantu Arkhan keluar. Baru Galang mendekati mereka.


"Biar saya, Pak." katanya kepada Arfan.


Pria itu tak menjawab, namun dia melepaskan tangannya dari sang putra, kemudian mundur menjauh.


"Kamu ini kenapa sih Ar? Nggak dengar apa yang Kakak bilang ya?" Pria itu bergumam.


"Jangan bahas sekarang Kak, nanti Papa tanya lagi." Sang adik ipar menjawab.


"Sudah terlanjur. Habis ini Kakak yang babak belur dihajar papa." ucap Galang lagi yang sukses membuat pemuda 16 tahun itu bungkam.


"Di sini saja." Arfan menunjuk sofa di ruang tengah sehingga kedua pria itu membawa Arkhan ke sana.


Lalu perlahan mereka mendudukkan dan memastikan anak itu nyaman di tempatnya, meski dia sempat berteriak karena merasakan kakinya yang sakit luar biasa.


Betis kanannya berbalut perban karena mengalami luka parah setelah bergesekan dengan aspal. Lengannya terkilir saat mengendalikan stang motor yang dikendarainya, dan wajahnya sedikit lecet akibat gesekan pada helm yang melindungi kepalanya.


"Nah, setelah ini semoga kamu mendengarkan Papa, Ar." Sang ayah bersuara setelah terdiam cukup lama.


"Jangan sekarang, Sayang! Biarkan Arkhan istirahat dulu." sergah Dygta.


"Ya, benar sekali. Biarkan dia istirahat dulu, sebelum nanti aku tambah lukanya!" geram Arfan dengan kesal.


Arkhan tak menjawab. Dia hanya menutup mulutnya rapat-rapat karena memang tak memiliki jawaban untuk kecerobohannya kali ini.


"Hah …." Arfan mend*sah pelan, kemudian dia melenggang ke kamarnya di lantai dua tanpa mengucap sepatah kata.


"Istirahat, Ar. Atau kamu mau makan dulu?" tawar Dygta yang memastikan putranya sudah nyaman.


"Nanti Mom." Arkhan menjawab.


"Yakin?"


"Iya."


"Baiklah." Dygta terdiam sebentar sambil menatap sang putra.


"Makanya kamu dengar kalau orang tua bicara. Jangan hanya mengikuti kemauanmu saja. Bersyukur kamu masih selamat, kalau tidak?"


Arkhan terdiam.


"Kami bukannya tidak sayang kepadamu, hanya saja memang belum waktunya seperti yang papa katakan. Nanti, kalau memang sudah, Mommy dan Papa pun akan memberikannya kepadamu, dan membiarkanmu melakukannya sesuai dengan kemauanmu. Ini, baru bisa mengendarai motor, pergi sendiri lagi?"


"Tadi ada temen, Mom!" Arkhan baru menjawab.


"Terus mereka ke mana? Kamu tetap sendiri waktu mengalami kecelakaan?"


"Mereka nggak tahu aku kecelakaan. Udah aku bilang kan, kalau mau pulang ke apartemennya Kak Galang? Mama nggak ngerti padahal udah aku jelasin?"


"Itu namanya kamu sendiri, Ar!"


"Ya, aku tahu!" Suaranya naik satu oktaf.

__ADS_1


"Arkhan, jaga ucapanmu kepada Mommy!" Suara Arfan terdengar menggelegar dari atas, membuat putra mereka lagi-lagi bungkam.


"Habis kita setelah ini!" Galang mendekat setelah Dygta meninggalkan mereka.


"Lagipula, kenapa sih kamu malah bawa motor sendiri? Kan sudah Kakak bilang jangan?"


"Cuma nyobain, Kak."


"Cuma nyoba tapi sampai begini? Apa yang kamu lakukan?"


"Tadi mau pulang, Kak."


~ Flashback On ~


"Pulang dulu ya?" Arkhan berpamitan setelah mereka sampai di tempat tujuan berkendara dan duduk-duduk sebentar.


Dia mengikuti komunitas motor yang baru saja ditemuinya di area Car Free Day pada Minggu pagi yang kemudian berkendara menyusuri jalanan kota Jakarta. Hingga akhirnya mereka tiba di tujuan seperti biasa.


Perbincangan seru berlangsung di antara mereka, sambil menikmati makanan di sebuah kafe outdoor hingga tidak terasa waktu sudah berlangsung lebih dari yang seharusnya.


"Hey, Arkhan?" Seseorang memanggil dari belakang.


"Lu bawa motor sekarang?" Salah satu temannya di sekolah bertanya. Sementara yang lainnya mengikuti dari belakang.


"Cuma di hari minggu." Arkhan memelankan motornya sehingga mereka melaju bersisian.


"Kereen! Kenapa cuma di hari Minggu?"


"Aturannya gitu."


"Ada aturan motor di hari Minggu? Aturan apa itu?" Temannya tersebut tertawa.


"Gitulah."


"Jadi sehari-hari masih diantar sopir atau mama papa?" Anak itu mengejek.


Arkhan tak menjawab.


Arkhan mengetatkan rahangnya.


"Kalau nggak berani nggak usah bawa motor kayak gitu. Pakai skuter aja sana! Eh, lupa. Kan diantar mama papa?" katanya lagi, lalu dia menambah kecepatan pada motornya.


"Bye anak manja!" Mereka lagi-lagi tertawa lalu melaju mendahului Arkhan.


Tanpa pikir panjang pemuda itu memutar gas untuk menambah kecepatan pada motornya.


Arkhan mengejar teman-teman sekolahnya yang sudah lebih dulu ada di depan. Ia menyalip beberapa kendaraan lain dengan kecepatan yang cukup tinggi padahal lalu lintas pada siang itu cukup ramai.


Adrenalinnya terpacu dan dia merasa senang. Apalagi ketika dapat mengejar mereka semua. Dia berpikir besok pasti dirinya akan menjadi bahan perbincangan di antara teman-teman sekelasnya, dan itu rasanya keren.


"Masih lambat, anak manja! Coba kejar nih!!" ucap salah satu dari mereka yang kembali mendahuluinya.


Lagi-lagi Arkhan merasa termotivasi untuk mengejar. Membuatnya kembali menambah kecepatan agar mampu menandingi mereka semua.


"Hey, stop!!" Seseorang disampingnya berteriak.


"Hey, Arkhan! Stop!" Pengendara motor lain yang tak dikenal mencoba menghentikan.


"Arkhan!" teriaknya lagi, namun terlambat. Pemuda itu tidak mendengarkan. 


Hingga akhirnya saat dia hendak kembali mengejar dan hampir mampu melakukannya, sebuah mobil pick up melintas di persimpangan dan membuat Arkhan berhenti seketika.


Dia menekan rem tangan dan rem dibawah kakinya bersamaan hingga terdengar bunyi berdecit.

__ADS_1


"Arkhan!!" teriak pria yang mengikutinya sejak pagi tadi yang menatap dengan mata kepalanya sendiri, ketika putra atasannya itu tiba-tiba saja terjatuh dengan motor menindih tubuhnya, dan dia bergerak masuk ke kolong pick up tersebut.


Seketika lalu lintas terhenti.


"Siall!" Piere melepaskan helmnya saat dia berhenti, lalu melompat dari motor dan berlari ke tempat pick up itu berhenti untuk memeriksa dan mencoba mencari tahu keadaan Arkhan di bawah sana.


Namun entah bagaimana caranya, anak itu merangkak keluar dari himpitan motornya di bawah pick up. Dan dengan cepat Piere pun menggusurnya agar menjauh ke trotoar di sisi jalan.


"Arkhan!" Pria itu mengguncangkan tubuhnya.


Dia lantas melepaskan helm yang melindungi kepalanya, dan membuatnya tersadar dari keterkejutan.


"Arkhan!!" Piere berteriak lagi hingga akhirnya pemuda itu tersadar dan menatap ke arahnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya pria bermata biru itu.


"Umm … aku …."


Piere memeriksa keadaannya. Memastikan kalau-kalau dia mengalami luka atau semacamnya.


Pria itu menemukan kain pada celana jeansnya terkoyak parah dan darah mulai mengalir.


"Sial!" katanya, dan dia segera melepaskan jaketnya.


"Tekan di sini!" Piere membungkus kaki Arkhan, dan pemuda itu meuruti perkataannya meski dalam keadaan terkejut.


Kemudian dia melakukan panggilan dengan ponselnya.


"Saya butuh tim untuk mengurus kekacauan, Pak!" katanya.


"Dan kita butuh ambulance untuk Arkhan." 


~ Flashback Off ~


"Astaga!! Dan kamu meminta pulang padahal lukamu separah ini?" Galang dengan raut kesal.


"Aku nggak suka rumah sakit. Lagian ini nggak parah." Arkhan berbisik.


"Nggak parah katamu? Kaki dan tanganmu begitu?"


"Mommy bilang, bersyukur aku masih hidup." pemuda itu terkekeh.


"Astaga! Ini anak mirip siapa sih?" Galang menepuk kepala adik iparnya.


"Ish! Jangan pukul-pukul!"


"Kamu itu baru kecelakaan, dan sikapmu begini?" Galang bertambah kesal.


"Oh iya, tadi pas aku masuk ke kolong mobil, rasanya serem. Kayak aku mau kelindas gitu. Jantung aku mau copot rasanya. Hahaha."


"Astaga Tuhan!"


"Tapi Si Ijo kayaknya rusak deh? Soalnya kan …."


"Jangan pikirkan motornya! Pikirkan diri kamu!" Galang dengan perasaan gemas. Dia tak menyangka adik iparnya akan seperti ini, padahal dirinya sudah ketakutan setengah mati.


Apalagi jika ingat sang ayah mertua yang sebentar lagi pasti akan membuat perhitungan dengannya.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ...


Astaga Arkhan!! 😱😱


__ADS_2