
🌺
🌺
"Udah sampai Kak, makasih." Mereka berhenti di depan kedai Amara yang sudah sepi setelah memarkirkan mobil gadis itu di parking line tak jauh dari kedai.Â
"Oke." Galang menatap bangunan kedai yang meski sepi tapi masih terang. Dan terlihat seorang pegawai pria yang berjalan keluar.
"Yang lain udah pulang?" Amara bertanya kepada Raka.
"Udah Kak. Aku suruh pulang duluan." Sang pegawai pun menjawab.
"Oke. Kamu juga kalau mau pulang silahkan." ucap Amara kemudian.
"Iya Kak. Semuanya udah di cek kok, jadi Kakak nggak harus cek lagi sih sebenernya."
"Oke Raka, makasih."
"Kalau gitu aku pamit ya Kak?" ucap pemuda itu yang kemudian pergi setelah mendapat jawaban dari Amara.
"Udah gih, pulang." Kemudian gadis itu beralih kepada Galang yang masih terdiam di dekatnya.
"Jangan kelamaan di sini." lanjutnya.
"Memangnya kenapa?" jawab Galang yang memeriksa ponselnya.
"Nggak baik, nanti ada omongan macem-macem. Aku yang disalahin."
"Hmm …."
"Aku masuk ya? Dan Kakak juga harus pulang." Gadis itu membuka pintu kedai.
"Ra?" Namun Galang menghentikannya.
"Apa lagi sih Kak?" Dia berputar. "Jangan Kakak salah artikan kepedulianku sebagai hal lain. Aku berhenti dan memberi tumpangan bukan karena ada maksud tertentu. Aku melakukannya cuma kerena kemanusiaan. Melihat orang yang aku kenal mungkin sedang dalam kesulitan. Jadi jangan Kakak sangkut pautkan dengan apa pun selain itu."
Galang hampir saja membuka mulutnya untuk menjawab.
"Selamat malam." ucap Amara lagi dan dia segera masuk kedalam kedai.
Mengunci pintunya rapat-rapat seperti yang selalu dia lakukan, menutup tirai lalu mematikan lampu. Dan dia bergegas menuju kamarnya di lantai dua.
Sementara Galang masih berdiri di sana untuk beberapa saat. Menatap pergerakan gadis itu lewat celah tirai tipis hingga dia menghilang di atas tangga.
Bagaimana hidupmu baik-baik saja jika kau tetap begini Galang? Di satu sisi ada orang lain yang harus kau jaga hatinya, tapi di sisi lain perasaanmu tidak berubah kepadanya?
"Hhhh …." Pria itu meniupkan napasnya di udara.
"Antar aku pulang ke apartemen." ucapnya, begitu dia masuk kedalam mobil yang sejak tadi menunggu dengan setia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu harus menolong Mama Cla, Mama sedang dalam kesulitan." Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenalnya.
Clarra mencoba mengabaikannya meski belasan pesan dengan nada yang sama masuk sejak sore.
Itu pasti Larra, ibunya. Yang meski nomornya sudah di blokir namun perempuan itu rupanya menggunakan nomor lain untuk menghubunginya.
"Cla, sekali ini saja Mama minta tolong. Setelah ini Mama tidak akan menghubungimu lagi. Mama janji." Lagi-lagi pesan masuk dari Larra.
"Cla, nyawa Mama sedang terancam. Kalau bukan kepadamu, lalu kepada siapa lagi Mama akan meminta pertolongan?"
Aku tidak peduli! Batin Clarra, yang kemudian kembali memblokir nomor tersebut lantas mengatur ponselnya ke dalam mode blokir nomor tak dikenal.
Apa pun yang terjadi, dan bagaimana pun keadaanmu itu bukan urusanku. Terserah! Batinnya lagi yang kemudian mematikan ponsel dan segera memejamkan mata dalam kegelapan ruangannya.
🌺
🌺
Galang segera membuka mata ketika telinganya menangkap suara dering ponsel yang memekakan telinga.Â
Hari masih pagi namun dirinya terpaksa bangun karena panggilan yang tidak biasa.
Dia bangkit sambil menyugar rambut hitamnya yang berantakan. Lalu meraih ponsel diatas nakas yang semalaman tersambung pada catu dayanya.
Pria itu mengerutkan dahi saat meihat layar ponsel yang masih menyala dan kembali berdering tanda seseorang di seberang sana kembali menghubungi.
"Ya?"Jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur.Â
"Kau tahu, kau telah mengganggu tidurku. Ini bahkan masih pagi dan belum waktunya seseorang untuk menggangguku. Bahkan sekretaris Nikolai Grup pun tidak berani menggangguku di saat seperti ini."
"Maaf Pak, tapi ini penting."
Galang mendengus.
"Saya harus memberi tahu Bapak."
"Apa? Katakan!"Â
Dan mata sipitnya membulat seketika saat pria di seberang sana mengatakan sesuatu.
"Aku kesana sebentar lagi." ucapnya seraya bangkit dan berjalan sedikit terhuyung ke kamar mandi.
Pria itu menggeber motornya pada pagi buta. Membelah jalanan ibu kota yang masih agak lengang menuju bengkel tempat mobilnya berada. Dan dalam waktu kurang dari setengah jam saja dia tiba di sana.
"Apa kamu yakin?" tanyanya begitu Galang turun dari motornya, dan seorang montir berjalan menghampiri.
"Yakin Pak. Satu pelurunya bahkan menembus velg bagian dalam dan masih menempel. Juga sedikit proyektil di dalam." Mereka berjalan ke dalam bengkel di mana mobil barunya yang masih mengkilap itu berada.
__ADS_1
Salah satu bannya sudah dilepas karena mengalami kerusakan serius setelah ledakan kecil semalam. Yang ternyata disebabkan oleh satu hal yang mencurigakan.
"Kira-kira, peluru dari mana?" Pria itu bergumam sambil menatap velg bagian dalam yang ditunjuk sang montir.
Terdapat lubang bekas peluru tajam yang barang buktinya ditunjukkan oleh montir itu.
"Apa semalam dijalan ada baku tembak?" Si montir bertanya.
"Kamu bercanda ya? Mana bisa aku melewati baku tembak begitu saja?"
"Lantas dari mana Bapak mendapatkan peluru ini?"
Galang terdiam untuk mengingat.
"Bukankah semalam aku katakan kalau bannya meledak?"
"Ya, tapi penyebabnya?"
"Masa ada peluru ini ada dijalan dan terlindas begitu saja?" Galang mengerutkan dahiÂ
Lalu dia sedikit mengingat ketika sebelum mobilnya mengalami pecah ban semalam, ada beberapa pengendara lain yang melewatinya. Termasuk sebuah motor dengan dua orang penumpang beberapa menit sebelum terjadi ledakan itu. Tapi dia tak dapat mengingat wajah maupun motor apa termasuk nomor polisinya, karena posisinya saat itu sedang sedikit melamun.
"Ada semacam motor matic yang lewat." Sedikit-demi sedikit dia mengingat.
"Motor matic?"
"Ya, sejenis itu. Atau motor bebek? Entahlah."
"Lalu?"
"Ada ledakan. Kemudian seperti ini." Galang masih mengingat kejadian semalam sebelum dirinya mengetahui kerusakan pada ban mobilnya.
"Apa mungkin seseorang sengaja menembak bannya?" tanya sang montir.
"Menembak bannya?"
"Ya, bisa saja."
"Tapi kenapa?"
"Entah. Kira-kira kenapa? Apa Bapak punya masalah dengan seseorang?"
Galang mengerutkan dahi.
"Rasanya tidak."
"Lalu kenapa kira-kira?"
"Entah."
"Atau mungkin salah sasaran?"
"Bapak perlu lapor polisi?"
"Lapor polisi?"
"Ya, mungkin ini berbahaya."
"Berbahaya apanya?" Pria itu malah tertawa.
"Entahlah. Bisa saja kan?"
Galang berpikir lagi.
"Kamu ini membuatku takut saja?" Dia tergelak.
"Bapak ini orang penting di Nikolai Grup." ucap sang montir yang memasukkan peluru dan proyektil kedalam sebuah wadah kecil.
"Apa hubungannya?"
"Bisa saja ada yang tidak suka?"
"Kamu ini bercanda."
"Kemungkinan ada hubungannya."
Galang terdiam lagi.
"Kalaupun tidak lapor polisi, sebaiknya Bapak harus lapor Pak Andra."
"Lapor Pak Andra? Untuk apa?"
"Mengantisipasi hal yang buruk Pak."
"Memangnya hal buruk apa yang mungkin terjadi kepadaku?"
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi setidaknya ada orang lain yang tahu soal ini."
"Hmm … rasanya itu agak berlebihan. Tapi akan aku pikirkan."
"Secepatnya Pak."
"Ya, setelah dari sini."
"Baik. Bapak mau simpan pelurunya?"
"Ya, sepertinya bagus untuk kenang-kenangan." Galang menerima benda tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku jas.
"Perbaiki mobilnya. Masa masih baru sudah rusak? Merusak reputasi saja!" Pria itu menepuk pundak sang montir.
__ADS_1
"Baik Pak."
"Beritahu aku kalau sudah selesai." katanya lagi, lalu dia pun pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu dari mana?" Clarra yang sudah siap di meja kerja menyambut kedatangan Galang seperti biasa.
Mendapati pria itu yang baru tiba namun tak mengenakan stelan jasnya. Namun malah mengenakan jeans dan hoodie yang serba hitam serta menenteng helmnya.
"Dari bengkel." Galang menjawab.
"Bengkel?"
"Ya, ada sesuatu dengan mobilku." Dia mengangguk.
"Mobilmu mogok?"
"Sebut saja begitu."
"Baru berapa minggu? Kamu pakai apa sih mobilnya? Balapan?"
"Bukan. Ada sesuatu dengan ban nya semalam."
"Apa?"
Galang tak langsung menjawab, namun menatap wajah Clarra lekat-lekat.
"Apa di dalam sana jasku ada?" Dia malah mengalihkan pembicaraan.
"Ada. Mau aku siapkan?" tawar Clarra yang hampir saja beranjak dari meja kerjanya.
"Tidak usah, biar aku saja." tolak Galang yang segera melenggang ke ruangannya.
"Oh iya, apa hari ini Pak Andra ada?" Dia menoleh sebentar.
"Sepertinya ada dibawah. Ada apa?"
"Tidak, aku hanya perlu bicara dengannya."
"Ada masalah?"
"Tidak ada. Hanya perlu bertemu dia." Pria itu segera masuk ke ruangan tersebut.
Galang keluar setelah beberapa menit merapikan diri. Mengenakan stelan jas seperti yang setiap hari dikenakan dan siap untuk bekerja.
"Sudah menyerahkan laporan kepada Pak Dimitri?" Pria itu mendekat ke meja sekretaris.
"Sudah barusan."
"Pekerjaanku?"
"Ini. Mau aku letakkan di mejamu?"
"Simpan dulu, nanti aku ambil. Aku harus bertemu dengan Pak Andra dulu sebentar."
"Apakah ada hal serius? Kamu membuatku takut Lang!" Clarra benar-benar beranjak dari mejanya.
"Tidak ada, hanya urusan biasa."
"Tapi sepertinya ada yang serius?" Perempuan itu mendekat kemudian mengulurkan tangannya untuk merapikan dasi yang sudah terlilit di bawah kerah kemeja Galang.
"Hanya …."
"Ada juga hal yang harus aku bicarakan denganmu." Clarra berujar.
"Hum? Apa?"
"Ada sesuatu soal …." Clarra ragu. Apakah dia harus mengatakan kejadian semalam kepada pria ini atau tidak?
"Hanya sebentar Cla. Aku harus menemui Pak Andra dulu. Aku segera kembali dan kita bisa bicara, oke?"
"Umm …."
"Hanya sebentar."
"Baiklah."
"Kalau begitu aku ke bawah dulu?"
Clarra menganggukkan kepala kemudian mundur dua langkah ke belakang.
"Hanya sebentar."
Perempuan itu mengangguk lagi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Nah lu, ada apa tuh? 🤔🤔
cus like komen sama hadiahnya kirim lagi. dan votenya yang masih ada kirim juga dong plisss 😚😚
alopyu teu eureun-eureun😘😘
__ADS_1