My Only One

My Only One
Dendam Dan Kesalahpahaman


__ADS_3

🌺


🌺


"Aku tahu, kalau dia sudah turun tangan, maka siapa pun tidak akan bisa bersembunyi. Bahkan ditempat paling asing sekali pun." Larra meremat gelas ditangannya hingga retak dan akhirnya hancur. Serpihannya bahkan mengenai telapak tangannya sendiri.


"Tidak apa, dia mendapatkanku sebelum aku berhasil mengambil milikku dari Clarra. Asal …." Perempuan itu menoleh kepada Raffi.


"Dapatkan anaknya untukku." lanjutnya.


"Kau gila!" Pria di depannya bereaksi.


"Bukankah sejak awal aku memang gila?"


"Kau mau melibatkan lebih banyak orang untuk urusan ini? Anak itu bahkan tidak tahu apa-apa!"


"Tapi Arfan sudah menghancurkan aku sampai titik terendah. Dan jika kali ini aku harus kembali gagal, maka aku juga ingin dia merasakan apa yang aku rasakan."


Rafi berpikir.


"Anaknya banyak, dan aku hanya menginginkan kau untuk mengambil salah satunya. Dia tidak akan terlalu kehilangan."


"Jangan yang kecil, yang paling besar saja. Dia tidak akan merasa terlalu sakit. Bukankah aku sangat murah hati, setelah apa yang dia lakukan kepadaku?"


"Lagipula dia tidak terlalu diawasi, jadi sangat mudah bagimu untuk membunuhnya."


Rafi terdiam dengan mulut menganga.


"Lakukan!"


"Kau akan membuat kita dipenjara dalam waktu yang cukup lama." Pria itu berujar.


Larra memutar bola matanya.


"Maka buatlah seperti kecelakaan bodoh!" Larra meremat kerah kemeja milik pria itu.


"Yang kita hadapi itu Arfan!"


"Aku tahu, mungkin aku akan berakhir di liang lahat. Tapi setidaknya dia juga merasakan hal yang sama denganku."


"Lara?"


"Lakukan! Bagaimanapun kau sudah terlibat sangat jauh denganku. Dan ini semua berawal darimu." Perempuan itu berteriak.


Tak ada yang dapat Rafi lakukan, karena apa yang dikatakan perempuan itu benar adanya. Segala sandiwara yang terjadi di dalam lingkaran Nikolai adalah karena idenya. Termasuk pertemuan awal Larra dengan sang pemilik perusahaan itu. Sehingga segalanya berjalan seperti yang sudah terjadi.


Hanya saja kehadiran Arfan di samping Satria memang membuat rencananya melenceng, apa lagi pertemuan dengan pemimpin kerajaan Nikolai itu dengan Sofia, cinta masa remajanya yang tidak siapa pun menduga. Dan rencananya pun buyar seketika. Segalanya kacau dan berubah menjadi seperti sekarang ini.


"Bukankah Arfan juga yang telah menggeser posisimu hingga kau tersingkir dan berada di bawah perintahnya?" Perempuan itu mengingatkan.


"Jadi sebenarnya ini adalah urusan pribadimu dengannya." Larra kembali mempengaruhi pikiran pria itu seperti yang selalu dilakukannya selama ini agar membuatnya menuruti segala kemauannya.


"Tunggu apa lagi? Inilah kesempatanmu membalaskan dendam. Arfan sudah tidak berkuasa lagi di Nikolai Grup. Kekuatannya tidak akan seperti saat dia masih berada di sana."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku pergi dulu ya? Tolong beresin semuanya. Kalau sudah beres, misal kalian mau pulang juga boleh."


"Where you going?" Piere menjeda pekerjaannya.


"Ada urusan." Amara kembali ke dalam mobilnya.


"Where?" Pemuda itu menahan tangannya.


"Bukan urusanmu, Piere." Amara menghidupkan mesin mobil dan bersiap untuk pergi.


Piere melihat gelagat yang tidak biasa dari gerak-gerik gadis itu. Membuatnya langsung tahu kalau dia sedang dalam masalah.


"Aku ikut." Kemudian dia mengikutinya masuk ke dalam mobil.


"Kenapa kamu ikut? Kembalilah ke dalam, mereka sedang bekerja dan kamu harus membantu."


"Aku tidak tahu ada apa, tapi sepertinya kau sedang ada masalah. Dan aku mengkhawatirkanmu. Jadi aku harus ikut."


"Apa kamu bercanda?"


"Apa kamu melihat kalau aku sedang bercanda?"


"Piere!"


"What?"


"Keluarlah!"


"No!"


"Kamu ini kenapa sih?"


"I'm just worry about you."


"Kamu berlebihan. Aku hanya mau ke tempat Papaku."


"Maka aku akan ikut ke sana. Aku juga mau bertemu dengan Papa yang selalu kamu banggakan itu."


"Apa?"


"Ayo cepatlah!" Piere memasangkan sabuk pengaman pada Amara, begitu juga yang dia lakukan kepada dirinya sendiri.


"Kamu ini aneh!"


Dan setelah kira-kira tiga puluh menit berkendara, mereka tiba di kediaman Arfan. Sebuah hunian nyaman di sekitar pantai terkenal di Jakarta.


Amara segera turun dari mobilnya diikuti Piere yang segera mendapat sambutan dari penghuni rumah.


"Tumben kamu pulang?" Dygta mengalihkan pandangan pada pemuda di belakang anak sambungnya.


"Papa ada?" Amara langsung bertanya.


"Ada di …." Secara bersamaan Arfan keluar dari ruang kerjanya. 


Dia memang sudah mengetahui perihal kedatangan putrinya dari pesan yang dikirimkan oleh Piere beberapa saat sebelumnya.

__ADS_1


"Kamu pulang?" Pria itu menyambut kedatangan putrinya.


Amara menatapnya dalam diam untuk beberapa saat.


"Ada apa?"


"Papa udah selesai mengurusi segala hal?"


"Apa?"


"Atau Papa nggak puas untuk terus mengurusi hidup aku?"


"Maksud kamu apa?"


"Tolong Pah, aku ini udah dewasa. Jangan lagi Papa campuri urusan aku. Apalagi selalu mengawasi semua yang aku kerjakan. Aku ini anak Papa, bukan tahanan."


"Tunggu tunggu, ini kita sedang membicarakan apa? Karena Papa benar-benar tidak mengerti dengan maksudmu."


Amara terdiam sebentar.


"Aku hanya ingin Papa berhenti menghalangi aku untuk berinteraksi dengan siapa pun, dan jangan lagi bertindak seperti apa yang Papa lakukan sama Kak Galang."


"Oh, … ini ada hubungannya dengan Galang?"


"Papa  pura-pura nggak tahu!"


"Kamu datang tiba-tiba dan berbicara banyak hal seolah Papa ini sudah melakukan kejahatan. Tapi Papa tidak mengerti apa yang kamu maksud ini?" Arfan berjalan mendekat.


"Kak Galang itu manusia, dia juga punya keluarga. Papa mau celakain dia karena selalu menemui aku? Apa yang Papa pikirkan?"


"Apa?"


"Dia cuma mau ketemu, nggak ada hal lain. Kenapa Papa malah berbuat buruk sama dia? Yang terakhir dua malam lalu malah dia bilang mau ketemu sebelum menjauh. Apa sih salahnya dari itu?"


"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini."


"Ya, Papa yang salah paham. Aku sama Kak Galang udah nggak ada hubungan apa-apa, jadi Papa nggak perlu berusaha untuk menghalangi. Apalagi menyakiti dia agar menjauhi aku."


"Menyakiti dia? Apa maksud kamu karena dia sekarang ada di rumah sakit?"


"Nah, Papa tahu dia di rumah sakit? Saking mau menjauhkan Kak Galang dari aku, sampai-sampai Papa tega berbuat begitu."


Arfan mengerutkan dahi.


"Papa jahat!"


"Kamu pikir Papa yang menyebabkan Galang masuk rumah sakit?"


"Siapa lagi? Satu-satunya orang yang nggak suka sama Kak Galang cuma Papa. Bahkan waktu kami masih bersama Papa nggak pernah menganggap dia. Padahal Kak Galang udah berusaha sebisanya biar Papa mau menerima dia. Dan asal Papa tahu, itu juga yang menyebabkan dia masuk Nikolai Grup. Agar kami setara dan Papa bisa menerima dia dengan baik."


"Tidak ada hubungannya, Ara." Arfan masih tenang. Dia mengerti maksud dari perkataan putrinya ini.


"Dan kalau kamu kira Papa yang menyebabkan Galang masuk rumah sakit, kamu benar-benar salah."


"Papa bohong, dan selamanya akan terus begitu. Hanya karena Papa merasa nggak suka sama seseorang, bukan berarti Papa berhak melakukan sesuatu yang buruk sama dia."


"Kamu tahu, kamu benar-benar salah." Arfan bersedekap.


"Kamu tau, kamu akan menyesal sudah berbicara seperti itu kepada Papa, kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Oh ya? Aku memang nggak pernah tahu apa-apa. Di mata Papa aku ini nggak tahu apa-apa, semuanya Papa yang tahu, dan semuanya Papa yang bisa. Dan Papa merasa berhak melakukan apa pun meski itu merugikan orang lain!"


"Ara! Jaga bicaramu!" Arfan berteriak.


Semua orang terkejut, tentu saja. Pria itu tidak pernah meninggikan suara kepada siapa pun apalagi terhadap anak-anaknya.


Dygta bahkan sampai menghambur memeluknya untuk meredam kemarahan yang mungkin akan segera meledak.


"Tidak boleh seperti itu Sayang!" katanya dengan nada panik.


"Apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Kamu merasa sudah mampu melakukan hal besar sehingga berani berkata seperti itu kepada Papa?" teriak Arfan lagi.


"Papa!" Dygta mengguncangkan tubuh suaminya.


"Berhenti mengawasi aku, dan berhenti mencampuri segala urusan aku. Dan Papa harus berhenti menghalangi siapa pun yang datang untuk mendekat kepadaku." Amara mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk berbicara kepada ayahnya.


"Kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi."


"Kita semua tidak tahu, dan Papa jangan berlagak mengetahui segala hal. Papa juga manusia, bukan Tuhan." jawab Amara yang kemudian mundur dan berbalik.


"Ara!" Arfan memanggil, mencoba untuk menghentikannya.


Namun sang anak tidak menggubrisnya. Dia meneruskan langkah keluar dari rumah.


"Amara!" Arfan berteriak lagi, dan dia hampir mengejar putrinya namun sebuah panggilan menghentikan langkahnya.


"Ya?" Napasnya masih menderu-deru karena menahan amarah.


"Larra sudah kami temukan Pak." Suara dari seberang menjawab.


"Lalu tunggu apa lagi? Tangkap dia bodoh!" Pria itu menggeram.


"Sudah Pak. Mau kami bawa ke markas?"


"Serahkan dia ke kantor polisi saja, juga semua barang buktinya. Jangan sampai aku melihat wajahnya yang menjijikan itu. Atau aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri." katanya, lalu dia mengakhiri panggilan.


Dygta semakin mengeratkan pelukan pada tubuh Arfan. Baru kali ini dia melihat suaminya seperti itu, dan rasanya sungguh menakutkan.


Pria itu berusaha melepaskan diri darinya, namun Dygta tetap mengeratkan pelukan.


"Lepas Dygta, aku harus mengejar Ara."


"Tidak, jangan sekarang. Biarkan dulu dia pergi. Kalian sedang sama-sama marah."


"Dygta!"


"Piere!" Lalu Dygta berteriak, dan pemuda yang dimaksud pun bersiap. Bersamaan dengan suara klakson yang begitu nyaring, yang dipastikan berasal dari mobil Amara.


"Pergi, jangan biarkan dia melakukan hal buruk." ucapnya kepada Piere dengan masih menahan suaminya.


"Yes Ma'am." Dan Piere pun segera keluar dari rumah tersebut.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Amara meninggalkan rumah orang tuanya dengan perasaan gusar. Bagaimana bisa sang ayah melakukan semua itu tanpa merasa bersalah sedikitpun? 


Rasa tidak sukanya memang nyata adanya, seperti yang sering dirasakan oleh Galang ketika mereka masih berhubungan.


Pria itu memang tidak pernah bersikap ramah kepada Galang, atau siapa pun. Dan mungkin itu jugalah yang membuatnya memiliki keinginan keras untuk tetap berada di Nikolai Grup. Ingin membuat mereka setara, sehingga sang ayah akan menerimanya dengan baik.


"Oh, … Kak Galang! Maafkan aku yang tidak pernah mengerti!" katanya dengan penuh penyesalan.


"Kurangi kecepatanmu Ra." Piere yang sejak tadi terdiam di tempat duduknya mengingatkan.


"Kenapa Papa berbuat buruk? Walau bagaimana pun Kak Galang nggak seharusnya dia perlakukan seperti itu!"


"Ara! Kurangi kecepatanmu!"


Gadis itu menginjak rem beberapa puluh meter sebelum mobil yang dia tumpangi tiba di tikungan, sehingga kecepatannya berkurang.


"Kamu tahu Piere, papaku sekejam itu. Dia melakulan hal terburuk sekalipun untuk menjauhkan Kak Galang dari aku. Padahal kami sudah berusaha untuk saling merelakan. Tapi Papa tidak merasa puas."


"Aku rasa kamu salah paham Ra."


Amara menggelengkan kepala.


"Memang sejak awal Papa tidak suka kepada Kak Galang. Sikapnya tidak pernah baik setiap kali aku membawa Kak Galang pulang ke rumah."


"Dan Papa bahkan merasa tidak puas padahal kami sudah berpisah. Sekarang aku mengerti kenapa Papa membiarkan aku pergi ke Paris dan membebaskan aku untuk memilih apa pun. Karena tujuannya hanya satu, agar aku benar-benar menjauh dari Kak Galang."


"Well …


"Seharusnya aku tahu sejak awal!" 


"Dan dengan teganya Papa menyakiti Kak Galang karena dua malam lalu dia menemuiaku di kedai."


Piere mencerna setiap kalimat yang dikatakan oleh gadis itu.


"Papa kejam!"


"No, it's not him!" ucap Piere kemudian.


"Ya, aku yakin pasti Papa. Hanya Papa yang mampu berbuat seperti itu."


"Tidak, kamu salah."


"Kamu tidak tahu bagaimana Papaku Piere, dia bisa melakukan apa saja agar tujuannya tercapai dan menghindarkan keluarganya dari apa pun yang tidak dia inginkan."


"Dia Papamu! Tentu saja akan melakukan yang terbaik untuk keluarganya!"


"Ya, termasuk menyingkirkan orang yang tidak dia sukai." Amara terkekeh getir.


"Kamu salah!"


"Apa yang kamu tahu? Kamu tidak tahu apa-apa." tukas gadis itu seraya menoleh.


"Aku tahu!"


"Tidak! Kamu tidak tahu apa-apa."


"Kamu yang tidak tahu apa-apa, sementara aku tahu. Aku bahkan yang membawa Galang ke rumah sakit malam itu!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Piere, yang segera pemuda itu sesali pada akhirnya.


"Apa?"


"Umm … Aku … Menemukannya hampir pingsan di jalan, di tengah hujan. Setelah keluar dari kedai."


Amara terdiam dengan mulut menganga.


"Seseorang menelfonku untuk menghentikan Galang dari apa yang mungkin aka dia lakukan. Tapi pada kenyataannya aku malah membiarkan kalian berbicara." terlanjur pikirnya. Dan gadis ini butuh untuk segera disadatkam dari kesalahpahamannya.


"Seharusnya dia memang menjauh darimu karena akan berbahaya bagi kalian untuk terus bertemu. Kamu tahu, keadaannya sedang tidak baik-baik saja sekarang ini dan dia sedang dalam keadaan terancam. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa kamu akan tertarik ke dalamnya."


Amara menatap teman satu kelasnya itu lekat-lekat.


"Percayalah, aku tahu." Lalu dia berbicara dalam bahasa Indonesia.


"Kamu bisa bahasa?"


"Bisa. Dan aku mengerti apa pun yang kalian bicarakan."


"Bagaimana bisa?"


"Karena pekerjaan, you know?"


"Umm …" Kening Amara tampak berkerut tajam.


"Jadi saranku, cepat kita kembali ke rumah orang tuamu karena aku yakin keadaan sekarang mungkin sedang tidak baik."


"Apa?" Otak Amara berputar mencoba memahami apa yang tengah berlangsung saat ini.


"Aku tidak bisa melindungimu jika hanya sendirian." Piere memeriksa ke belakang mobil gadis itu. Namun dia merasa lega ketika melihat sebuah mobil hitam mengikuti mereka dan mengenali tanda yang diberikan penumpangnya. Yang menunjukkan bahwa mereka adalah suruhan Arfan.


"Kenapa kamu bicara begitu?"


"Ayolah kita kembali dulu ke rumah orang tuamu."


"Iya tapi kenapa?"


"Aku tidak tahu, tapi sebaiknya kita kembali. Karena mungkin saja ibunya Clarra sedang mengincarmu."


"Apa? Kenapa begitu?"


"Karena dia yang memerintahkan seseorang untuk memukuli Galang, bukan Pak Arfan."


Amara tertegun. Namun sesaat kemudian dia membelokan mobilnya ke kanan ketika menemukan tikungan. Bermaksud kembali seperti yang dikatakan oleh pemuda disampingnya yang terus berbicara memintanya untuk berputar arah.


Namun yang tak mereka duga sama sekali adalah ketika sebuah mobil melesat kencang dari arah belakang dan dalam hitungan detik menghantam bagian samping kanan mobil yang dikendarai Amara dengan keras. Sehingga membuat mesin beroda empat itu berputar ke kiri sejauh puluhan meter lalu terguling dan berhenti ketika membentur pembatas jalan. Sementara mobil yang menabraknya mampu melarikan diri tak lama setelah tabrakan terjadi.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2