
🌺
🌺
Arfan menatap putrinya yang baru saja selesai dirias. Rambutnya ditata terurai ke belakang dengan hiasan bunga yang sangat cantik. Sementara Galang pun sudah siap sejak beberapa saat yang lalu dan berada diluar untuk memeriksa beberapa hal.
"Udah mau mulai?" Amara menatap pantulan dirinya di cermin. Begitu pula sang ayah yang berada di belakang.
"Sebentar lagi." Arfan mendekat.
"Yang lain udah pada turun belum?"
"Sebagian sudah." Mereka berdiri bersisian.
"Hmm … terus kenapa Papa malah ke sini?"
"Mau lihat kamu sebentar."
"Setiap hari juga lihat."
"Tapi tidak dalam keadaan seperti ini."
Amara tersenyum.
"Padahal akadnya sudah, tapi Papa merasa gugup." Arfan berujar.
"Yang nikah kan aku, masa Papa yang gugup?"
"Entahlah. Mungkin semua orang akan merasa begitu ketika anak mereka sudah menempuh hidup baru. Kamu tahu, kami merasa takut kalau hidup anak-anak tidak akan sebaik ketika kalian masih bersama kami." Pria itu mengusap rambut putrinya yang terlihat sedikit keluar.
"Papa doain aja."
"Itu sudah pasti. Tanpa kamu minta pun Papa akan selalu mendoakanmu."
"Terima kasih, Papa. Mungkin aku nggak akan pernah bisa membalas apa yang udah papa lakukan dari sejak aku kecil. Aku cuma bisa bilang terima kasih, dan semoga Papa nggak akan pernah bosen untuk tetap bersama aku. Walaupun aku udah punya suami."
Arfan tersenyum, seraya mengusap pipi sang putri dengan punggung tangannya.
"Tidak mungkin. Kamu bisa datang kapanpun kamu mau dan mengatakan apa saja jika itu memang diperlukan. Kamu tahu, rumah tangga itu tidak semudah kelihatannya. Dan terkadang kita membutuhkan orang lain untuk berbagi beban. Bukan berarti untuk mendapatkan sesuatu, tapi setidaknya bisa meringankan perasaan."
Amara mengangguk.
"Nanti setelah ini, jangan menjauh ya? Kamu memang sudah bersuami, tapi Papa masih orang tuamu. Mommy, Mama mu juga."
"Iya."
"Janji?"
"Janji, Papa." Perempuan itu terkekeh kemudian mengulurkan tangan untuk memeluk sang ayah.
"Aku sayang sama Papa. Nggak akan ada yang bisa menggantikan itu."
Arfan tak menjawab. Dia hanya menyeka sudut matanya yang basah lalu mengeratkan pelukan.
Ingatannya kembali pada saat pertama kali Amara lahir ke dunia. Dia sendiri yang memotong tali ari-arinya, lalu mendekapnya begitu selesai dibersihkan. Sementara paramedis menangani Mytha yang jatuh koma.
Pria itu jugalah yang memberikannya minum susu pertama kali, meski harus lewat botol, dan sering begadang untuk menenangkannya di malam hari.
Memberi makanan pertama, berguling pertama, merangkak pertama, dan berjalan pertama. Sepertinya tidak ada orang lain selain dirinya yang mengasuh anak itu meski sehari-harinya ada suster yang menangani. Tapi Arfan tak pernah melewatkan seharipun pertumbuhan putri pertamanya yang terasa luar biasa.
Dan hari ini dia benar-benar akan merelakan anak perempuan itu bersama suami pilihannya. Meski ketidakrelaan sempat mendominasi perasaannya sebagai seorang ayah, tapi tak ada yang bisa dilakukan selain menerima dengan lapang dada. Karena kebahagiaan Amara adalah segalanya, dan dia harus memprioritaskan itu, bukan?
"Hey, acaranya sudah mau dimulai, kenapa kalian malah sedih-sedihan di sini?" Dygta muncul setelah beberapa saat dan menemukan suami juga anak sambungnya yang sedang berpelukan. Diikuti Galang yang tiba kemudian.
"Sudah siap?" katanya.
"Hmm …." Amara melepaskan pelukan.
"Oke, sepertinya kita tetap harus menggunakan kursi roda ya? Nanti dibawah kamu baru pindah." Pria itu berujar.
"Tenang saja, kursi roda nggak akan mengurangi kecantikanmu." Galang mengulurkan tangan untuk membantu Amara duduk.
"Heh, gombal." Arfan berkomentar sambil memutar bola mata. Membuat Dygta terkekeh sambil mengusap punggungnya.
Namun dia pun segera membantu sang putri untuk duduk di kursi roda miliknya.
Galang tak menghiraukan ocehan mertuanya, dia merasa sudah mulai terbiasa dengan hal tersebut.
***
Orang-orang mulai berdatangan dan acara sudah dimulai. Para undangan hadir dengan penampilan terbaik mereka, begitu pun tuan rumah. Para pria mengenakan stelan jas abu-abu, atau pakaian dengan warna sejenis. Sementara para perempuan mengenakan gaun putih dengan berbagai macam model.
Arfan dan Dygta masuk ke barisan keluarga, sementara Galang mendorong kursi roda Amara melewati orang-orang yang sudah menunggu mereka. Diikuti Anya dan Zenya yang berjalan di depan sambil menaburkan kelopak bunga dari keranjang.
__ADS_1
Sebagian besar tamu sangat dikenali, sementara sebagian lainnya pasti merupakan kenalan para orang tua.Â
Beberapa di antaranya melambaikan tangan, menandakan agar kehadiran mereka diketahui oleh kedua mempelai.
"Ara?" Seperti halnya Lita, yang tiba bersama Hari. Yang kemudian segera memeluk pengantin dengan perasaan bahagia.
"Uyut baru datang?" Amara bertanya.
"Iya Sayang." Perempuan tua itu mengusap-usap punggung Amara.
"Makasih udah repot-repot ke sini?"
"Kebetulan Abah sedang santai." jawab Lita.
"Abah masih ke kebun ya?"
"Sesekali." Lalu mereka tertawa.
Dan seorang Master Of Ceremony pun berbicara untuk membuka acara. Di mana dia menerangkan bahwa akad nikah sudah dilaksanakan pada dua bulan sebelumnya dalam keadaan darurat setelah kecelakaan, dan kini sang pengantin telah mendapat kepercayaan lewat hadirnya dua bayi dalam rahim Amara. Yang tentu saja membuat mereka semua cukup terkejut namun tidak mengurangi kebahagiaan yang sudah tercipta.
Lalu rangkaian demi rangkaian acara pun berjalan seperti yang sudah direncanakan. Beberapa orang berbicara di depan khalayak, memberikan wejangan bagi kedua mempelai yang sudah sah ini.
"Kekurangan akan menjadi milik setiap manusia, di manapun kita berada. Jadi berusahalah untuk saling memahami agar kehidupan rumah tangga berjalan dengan baik. Kita semua masih belajar, karena pernikahan merupakan pengenalan seumur hidup. Kalian akan menemukan hal baru setiap hari. Sikap dan sifat yang tidak ditunjukkan ketika sebelum menikah, dan kebiasaan yang jarang dilakukan selama berhubungan. Mungkin akan terkejut, tapi itulah kenyataan. Dan masing-masing dari kalian harus bisa menerima." Arif berbicara untuk keuarganya.
"Galang belum berpengalaman, maka kami titipkan dia untuk menjalani hari-hari barunya sebagai seorang suami di sini, dan semoga Anda semua bersedia membimbingnya agar menjadi lebih baik. Kami sudah melakukan kewajiban kami sebagai orang tuanya, namun tentu saja itu belumlah cukup. Tapi kami berusaha sebaik yang kami bisa."
"Bersabarlah dalam menghadapi apa pun, dan untuk kalian berdua, Ayah dan Ibu hanya bisa berdoa. Semoga segala kebaikan di dunia menjadi milik kalian, anak-anakku." Lalu dia kembali ke tempat duduknya.
"Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi kedua orang tua, ketika melihat putrinya disunting oleh seorang pria. Dan sejak saat itu, gugurlah tanggung jawab kami atas dirinya. Semuanya pindah ke pundakmu, Galang." Arfan menjadi orang terakhir yang berbicara.
Dia melirik kepada anak dan menantunya yang duduk di pelaminan.
"Papa hanya akan mendoakan semoga kalian selalu bahagia. Karena tidak akan ada hal lain yang kami harapkan selain itu. Semua orang tua memiliki harapan yang sama, bukan? Maka berbahagialah apa pun yang terjadi. Selama kalian tetap bersama, maka semuanya akan baik-baik saja. Saling menjaga, saling menerima. Saling memahami dan saling mengerti. Semoga segalanya dimudahkan." Berkali-kali Arfan menyeka matanya yang basah. Dan dia pun sempat berhenti untuk menenangkan diri.Â
Tangannya tampak bergetar, begitupun suaranya. Dia memang akan menjadi orang yang paling merasa kehilangan atas pernikahan putrinya, dan itu jelas terlihat. Dan tak ada siapa pun yang tidak merasakannya.
Anak pertama, dan paling dia cintai akan menempuh hidup baru bersama suaminya? Rasanya dia tak bisa merelakan. Namun tak ada hal lain yang harus dia lakukan selain itu.
Karena sekali lagi, kebahagiaan Amara adalah segalanya.
"Seperti kata Ayahmu, semoga kebahagiaan dan segala hal baik menjadi milik kalian." Dia pun mengakhiri pidatonya sebelum nanti tangisnya pecah.
Lalu Arfan kembali ke sisi Dygta dan anak-anaknya yang segera memeluk untuk menenangkannya.
"Kak Nania!!" Anya menarik ujung gaun gadis yang dikenalinya.
Semua pegawai Amara's Love menjadi bagian dari pesta atas permintaan Amara sendiri.
"Ya Anya?"
"Mau es krim." Anak itu berujar.
"Memangnya boleh ya?"
"Kata Mommy boleh."
"Masa?"
"Hu'um."
"Kan belum hari Minggu?"
"Nggak apa-apa katanya, kan lagi di pesta."
"Beneran?"
"Iya."
"Sebentar." Nania mengedarkan pandangan ke seluruh area.
"Kak Nania cari siapa?"
"Mommy kamu, mau tanya. Takutnya kamu bohong."
"Nggak ih, aku jujur. Mana ada aku bohong?"
"Ya Kakak kan nggak tahu?"
"Serius Kak, kata Mommy boleh."
"Hmm … sebentar." Nania menggandeng tangan Anya ketika dia menemukan sosok Rania bersama Dimitri.
"Permisi Bu?" sapanya.
__ADS_1
"Ya?"
"Anya meminta es krim, apa diperbolehkan?" Nania segera bertanya.
"Oohh, iya iya, boleh. Hari ini pengecualian." Rania pun menjawab.
"Begitu ya? Baiklah." Kemudian gadis itu bermaksud membawa kembali Anya ke stand makanan.
"Benerkan aku nggak bohong? Kakak sih nggak percaya!" Anya menggerutu.
"Ya kan takutnya nggak boleh, nanti kamu kena masalah."
"Nggak akan lah."
"Hu'um." Nania fokus pada langkahnya sehingga dia tak menyadari sosok di depan berdiri membelakanginya.
"Ugh!!" Yang membuatnya menabrak sosok tinggi tersebut dengan keras.
"Hey, bisakah untuk tetap melihat kalau …." Daryl memutar tubuh dan menemukan dua perempuan berbeda usia di belakangnya.
"Umm … maaf Pak. Saya nggak sengaja." ucap Nania dengan wajah mendongak.
"Eee … sudahlah." Darylpun kembali berbalik.
Nania bergeser dan dia bermaksud melanjutkan langkahnya setelah pria itu kembali berbincang dengan kenalannya ketika tiba-tiba saja Anya berceloteh.
"Om udah ketemu sama Kak Nania kenapa gitu? Semalam ngintip-ngintip?" celetuknya, tanpa ragu-ragu.
Daryl menghentikan perbincangan, lalu menoleh.
"Om Der jua mahal. Nggak asik!" ucap Anya seraya menarik Nania ke arah stand makanan.
"Bicara apa anak itu? Aneh sekali. Hahaha." Katanya, dengan tawa canggung.
"Anya kalau di depan orang jangan begitu." Mereka duduk di kursi kosong di luar tenda.
Cuaca tidak terlalu panas hari itu, malah cenderung sedikit redup. Bulan memang sudah memasuki akhir tahun yang terkadang menurunkan hujan yang tak di duga.
"Apaan?" Dua cup es krim sudah pindah ke perut Anya.
"Jangan bilang-bilang hal sembarangan. Nggak baik lho." Nania memperjelas maksudnya.
"Hal sembarangan apa? Aku nggak ngomong apa-apa?"
"Tadi itu yang Anya bilang sama Pak, eh Om Daryl?"
"Aku nggak sembarangan. Emang itu bener."
"Apanya?"
"Om Der ngintipin Kakak semalam."
"Ngintip?"
"Hu'um." Anya menganggukkan kepala.
"Ngintip di mana?" Nania melirik kepada pria yang dimaksud.
"Di mobil, waktu Kakak mau pulang."
"Masa?"
"Serius, aku nggak bohong. Mommy bilang good girl nggak boleh bohong, nanti Tuhan marah sama aku."Â
"Umm …."
"Tapi kenapa sih Kakak kayak Mommy sama Papi yang suka bilang gitu kalau aku udah ngomong? Kan aku jadinya bingung. Katanya suruh jujur, tapinya suka di omel kalau udah jujur."
"Hadeh …." Nania menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Udah ah, mau balik lagi ke sana. Nanti Mommy nyariin." Anya turun dari kursinya kemudian berlari ke arah pesta yang masih berlangsung.
Sementara Nania menatap sosok Daryl yang asyik berbincang dengan kenalannya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Ehm ehm .... Cus like komen sama hadiahnya dikirim lagi. Siapa tau tar malam up lagi kan.😜
__ADS_1