My Only One

My Only One
Tentang Rasa


__ADS_3

🌺


🌺


Galang menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lelah tentu saja dia rasakan setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan. Belum lagi masalah hati yang semakin hari terasa mejadi semakin rumit saja.


Ada apa denganmu ini Galang? Bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk menjauh dan mencari jalan lain? Tapi mengapa malah kau yang goyah sendiri?


Tidakkah kau lihat keadaannya yang baik-baik saja?


Banyak yang mengelilinginya. Dia bahkan mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari orang sekelilingnya. Dia bahkan tak membutuhkanmu. Jadi mengapa kau seperti ini?


Pria itu bangkit kemudian mengacak rambutnya sendiri.


Kalau saja waktu itu aku tidak hanya menurutkan emosi, mungkin sekarang kita sudah ….


"Aarrgghh!" Dia kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Rasanya ingin sekali berlari kesana dan mengatakan kepada Amara betapa perasaannya masih besar kepadanya.


Tapi apakah pantas?


Belum lagi keberadaan Clarra yang statusnya kini adalah sebagai kekasihnya. Mereka bahkan belum genap satu bulan menjalin hubungan asmara.


"Dia akan sangat tersakiti jika aku melakukan itu!" gumamnya, seraya menatap langit-langit kamarnya yang sebagian atapnya transparan sehingga dia dapat melihat cakrawala yang menggelap.


Galang, Galang! Kau ini seorang pengecut yang bersembunyi dibalik kata move on!


Pria itu berguling sambil berteriak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rapat dewan perusahaan baru saja akan dimulai. Hampir semua pemegang saham hadir, termasuk semua anggota keluarga Nikolai yang dua anak laki-lakinya akan segera masuk bergabung untuk sama-sama menjalankan bisnis keluarga ini.


Satria sebagai pemilik mutlak, juga Dygta dan Arfan yang memiliki sebagian kepemilikan saham, juga pihak lain yang memiliki andil dalam berjalannya sistem sehingga menjadi seperti sekarang ini.


Tak lupa, Dimitri sebagai pemegang puncak kepemimpinan Nikolai Grup bersama seluruh bisnisnya yang telah menempati posisi itu selama bertahun-tahun. Didampingi oleh sekretaris dan asisten utamanya, Galang dan Clarra.


"Selamat pagi?" Galang berdiri di depan khalayak sebagai pembicara.


"Selamat datang kepada seluruh pemegang saham, dewan kepemimpinan, juga pemilik utama Nikolai Grup. Hari ini kita kembali dipertemukan dengan suasana yang begitu baik. Semoga berdampak juga pada kemajuan perusahaan dan keadaan yang semakin kondusif." Pria itu berbicara dengan tenang.


Dia berbicara mengenai beberapa hal. Tentang laporan pertanggung jawaban tahunan pimpinan perusahaan yang dipegang oleh Dimitri, menunjukkan beberapa keberhasilan pencapaian perusahaan yang luar biasa, tempat-tempat usaha yang baru saja dibuka, dan beberapa perubahan yang dialami Nikolai Grup selama Dimitri memimpin.


"Dan terakhir, kami ucapkan selamat datang kepada dua putra Nikolai, yang akan menjadi penerus bisnis mendampingi pimpinan tertinggi kita, Daryl Grigori Nikolai, dan Darren Andrei Nikolai. Selamat bergabung, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."


Semua orang menatap ke arah dua pria muda seumuran Galang yang kemudian berdiri dan saling menganggukkan kepala.


"Demikian rapat ini kita akhiri, semoga hubungan kerjasama ini menjadi semakin erat dan semakin baik kedepannya." Galang mengakhiri acara resmi hari itu.


***


"Bagus, bagus! Semakin yakin saja dengan kemampuanmu." Satria menepuk-nepuk punggung Galang dengan bangga. 


Pegawai yang dia pilih sendiri untuk masuk ke perusahaan keluarganya terbukti bisa menjadi apa yang dia harapkan.


"Terima kasih Pak." Galang mengangguk hormat.


"Kamu bisa santai sedikit, Andra. Ada orang-orang muda yang akan mengambil alih pekerjaanmu." ucap Satria kepada Andra, yang kini lebih banyak bekerja di perusahaan ketimbang bertugas keluar seperti dulu.


"Ya Pak, tenang saja. Saya belum berniat mengundurkan diri. Anak-anak saya masih sekolah." jawab Andra, sedikit bergurau.


Hampir semua orang tertawa mendengar apa yang dia ucapkan.


"Nah, setelah mereka lulus kuliah, biarkan bekerja di sini juga untuk menggantikanmu jika kamu sudah pensiun nanti." 


"Saya tidak bisa janji Pak. Alvian mau jadi pilot, sedangkan adiknya mau jadi kowad."


"Maka biarkan dia jadi pilot di Nikolai Airlines. Dan untuk adiknya, … terserah dia maunya bagaimana. Mungkin nanti mau bergabung di jasa keamanan? Atau bagian penyelidikan?" mereka tertawa lagi.


"Dan Arfan, bagaimana? Bukankah membanggakan melihat anak didikmu sampai di titik ini? Mereka berdua menjalankan semua yang kamu ajarkan." Satria beralih kepada menantunya, Arfan.


"Ya, selamat untuk kalian berdua." Arfan seperti biasa, singkat. Sambil menatap kepada Dimitri dan Galang.


Dan dua pria yang dimaksud mengangguk bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kalian datang lagi?" Amara meletakkan nampan di meja pantry setelah mengantarkan pesanan kepada pelanggan.


Hari itu dia membiarkan Nania menguasai ruang masak bersama Ardi. Sudah seharusnya semua orang menguasai banyak hal, siapa tahu dia harus meninggalkannya sesekali.


"Kan sudah aku bilang kalau aku akan berkunjung setiap hari." Daryl menjawab. "Lagipula, aku sudah resmi bekerja sekarang." katanya, dengan bangga.


"Masa? beneran?"


"Ya. Aku di divisi pemasaran, dan Darren di keuangan."


"Wow."


"Bagus bukan? Ini pertama kalinya kami dipisah. Om Andra bilang nggak boleh terus sama-sama."

__ADS_1


"Ya memang, pada akhirnya nanti kalian harus berpisah. Masa mau sama-sama terus sampai tua?"


"Tapi rasanya aneh, kami masih belum terbiasa." jawab Daryl.


"Kamu saja yang tidak bisa hidup tanpaku, tapi aku bisa pergi ke manapun aku mau." ucap Darren.


"Benar? Lalu kenapa selama ini kamu terus mengikuti aku?"


"Hanya untuk memastikanmu selamat. Kamu ini kan cerobohnya minta ampun."


Daryl mencebikkan mulutnya.


"Nggak usah berantem. Mending makan. Tunggu ya, aku bikinin." Amara masuk ke ruang masaknya untuk membuatkan makanan spesial untuk dua pria tersebut.


"Jangan coba-coba Der!" Darren mengingatkan saat kakaknya itu tidak memalingkan pandangan dari Amara.


"Apa?"


"Sering aku ingatkan kalau Ara itu sudah seperti adik kita. Papanya kakak ipar kita, jadi jangan memikirkan hal konyol."


Daryl tertawa.


"Itu saja yang kamu katakan!" katanya sambil mendelik.


"Memang keadaannya begitu. Aku bukan Kak Dim yang akan berebut Ara denganmu ya? Aku hanya mengingatkanmu kalau kamu nekat, nanti keadaannya akan menjadi rumit."


Daryl terdiam.


"Kenapa juga aku harus menyukai dia? Dan kenapa juga Om Arfan malah jadi Kakak ipar kita?"


"Itu terus yang kamu katakan! Memang harusnya seperti itu, Der."


"Ugh, untung ada kamu yang selalu mengingatkan, kalau nggak, tidak tahu aku akan bagaimana." Daryl mengacak rambut saudaranya sambil tertawa.


"Ya, jadi dengarkanlah aku, jangan dengarkan emosimu!" jawab sang adik seraya menepis tangan Daryl.


"Jangan berantem." Amara datang dengan nampan berisi dua piring makan siang untuk mereka.


"Kamu sudah makan siang Ra?" Daryl bertanya.


"Belum, aku masih sibuk. Makannya nanti kalau kedai udah sepi."


"Apa kamu nggak mau menemani aku makan?" Pria dengan manik kecoklatan milik sang ibu itu tertawa.


"Nggak."


"Hah, singkat padat dan jelas. Seperti Om Arfan." 


Lalu lonceng di atas pintu kedai kembali berbunyi seperti biasanya ketika ada orang yang masuk.


"Selamat siang, selamat datang di Amara's Love." sambut gadis itu dengan suara riang seperti biasa.


Dia memutar tubuh untuk menyapa pengunjung seperti yang selalu mereka lakukan. Memberikan sambutan terbaik bagi siapa pun yang datang, dan membuat mereka merasa nyaman begitu masuk ke dalam kedai.


Namun napasnya terhenti sejenak ketika mendapati orang yang baru saja tiba.


Galang, dengan gagahnya berdiri di dekat pintu, dan dia memindai keadaan.


"Umm …."


Suasana mendadak terasa hening bagi Amara, dan dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Ini pertama kalinya mereka kembali bertemu setelah percakapan menguras emosi sekitar dua minggu sebelumnya.


Kemudian lamunannya buyar ketika orang berikutnya menapakkan wajah. Yakni Clarra yang berada disamping pria itu yang tersenyum sumringah.


"Hai?" Perempuan itu melambaikan tangan.


"Kak Clarra." Amara bergumam.


"Apa masih ada tempat?" Clarra bertanya.


"Mm … Kak Clarra!" Amara segera menghampiri mereka berdua, kemudian menghambur untuk memeluk Clarra.


"Apa kabar? Senang sekali kalian datang." Katanya, dengan begitu ceria.


"Kakak bagaimana? Semuanya baik?" Amara beralih kepada Galang yang membeku disamping Clarra. Yang tiba-tiba saja menyesali keputusannya menuruti kemauan perempuan itu untuk datang ke tempat tersebut.


Ini ... tidak baik.


"Baik." jawab Galang, pelan. Dia berusaha mati-matian meredam perasaannya yang hampir saja meledak begitu Amara menghampiri mereka.


"Kedainya semakin ramai ya?" Clarra berujar.


"Ah, iya Kak. Lumayan. Ayo ayo, aku tunjukan tempat yang bagus." Amara menarik Clarra ke sebuah spot di sebelah kiri.


Meja di dekat jendela besar yang bisa melihat ke segala arah.


Mereka duduk di kursi yang tersedia, dan Amara segera memberikan buku menu.


"Mau pesan apa?" gadis itu berusaha untuk setenang mungkin. Meski saat ini perasaannya tak karuan. Bagaimana bisa dia baik-baik saja ketika dia, pria itu yang berhari-hari dia coba untuk lupakan malah mendatanginya. 


Kamu benar-benar ingin menunjukkan bahwa kamu bisa ya? 

__ADS_1


Kamu benar Kak, dan kamu berhasil. Sementara aku?


"Enaknya pesan apa ya? Aku bingung. Sepertinya semua makanan di sini enak-enak." Clarra melihat-lihat menu.


"Iya Kak. Semuanya recomended." Amara menjawab. Dengan debaran di dada yang menggila.


Sementara Galang masih membeku di tempat duduknya. Pikirannya mulai tak fokus sekarang ini. Sesekali dia melirik gadis yang berdiri di dekatnya.


Amara yang hari itu mengenakan skinny jeans dengan atasan kemeja longgar berwarna krem dilapisi affron hitam bertuliskan Amara's Love di bagian depannya. Rambut panjangnya yang diikat ke belakang sehingga membuat wajahnya terlihat lebih jelas.


Ah Galang, kau lemah! Batinnya.


"Kamu mau apa Lang?" tanya Clarra yang membuat tatapan pria itu segera beralih kepadanya.


"Apa saja." Galang menjawab, dan dia tetap menatap perempuan yang kini berstatus sebagai kekasihnya.


Dia yang berpenampilan formal dengan stelan kerjanya. Rambutnya yang selalu tertata rapi, dan make up yang meski tidak terlalu mencolok tapi membuatnya tampak selalu cantik. Ya, dia memang lebih dewasa, tapi Clarra selalu bisa menyesuaikan diri.


Apa kau mulai membandingkan?


Sekilas dia kembali melirik kepada Amara.


"Aku mau chicken cordon bleu, bisa?" Clarra mendongak ke arah Amara yang setia menunggu.


"Boleh Kak." Dan Gadis itu mencatatnya dengan cepat.


"Minumnya … air putih dan jus stroberi ya?"


"Baik." Amara mencatatnya lagi.


"Kamu Lang?"


Pria itu tak langsung menjawab.


"Sama lah, tapi minumnya aku minta … cappucino dingin saja."


Amara menganggukkan kepala.


Bukan ayam geprek dan es boba?


"Ada lagi?" Lalu dia bertanya.


"Aku cukup. Kamu?"


Galang mengangguk pelan.


"Oke, bisa tunggu sebentar ya? Pesanannya aku buatkan." Amara melirik ke bagia pantry.


"Oke."


Gadis itu segera berlalu.


"Butuh bantuan lagi Ra?" Daryl berucap saat Amara melewatinya.


"Nggak usah, Kakak makan aja." jawabnya yang segera masuk ke ruang masak di belakang.


"Kenapa Kakak malah masuk? Biar aku yang buatkan pesanan. Kakak di depan aja." ucap Nania.


Amara tak menyahut, dia malah berdiri menyandarkan punggungnya di belakang pintu.


"Kak?" Nania memanggilnya yang tampak membeku.


"Kak, yang barusan pesan apa? Cepet, mau aku …."


Tubuh Amara melorot hingga terduduk di lantai. Dia menundukkan wajah hingga hampir menempel dengan lututnya.


"Kak!" Nania segera menghampirinya, sementara Ardi tertegun melihat kejadian itu.


"Oh astaga!" Amara bergumam. 


Dia lantas mengangkat kepala, dan mengusap matanya yang basah. 


Amara berkali-kali menghirup dan menghembuskan napasnya dengan cepat untuk menetralisir rasa sesak di dada.


"Kak!" Nania tampak khawatir.


"Aku nggak apa-apa." Gadis itu berusaha menenangkan diri.


"Kembali bekerja, pelanggan kita terus bertambah."


"Tapi Kakak …."


"Aku nggak apa-apa …." Amara pun perlahan bangkit.


"Ayo, bikin makanan paling enak di dunia. Sehingga orang-orang nggak akan bisa melupakannya sama sekali." ucapnya, dan dia segera melakukan pekerjaannya.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2