
🌺
🌺
"Kakak!" Untuk ketiga kalinya Amara membangunkan Galang yang sejak semalam memeluknya tanpa bergerak sama sekali.
Dia bahkan sampai menekan sikutnya pada perut pria itu di panggilan ketika sekedar untuk membuatnya segera terbangun.
"Hum? Ya ada apa? Kamu mau ke kamar mandi?" Hal tersebut berhasil membangunkan suaminya.
"Ng …."
"Udah pagi Kak, dibangunin dari tadi tetep aja tidur. Kayak orang pingsan?"
Galang mengucak kedua mata untuk membuatnya benar-benar terjaga.Â
"Jam berapa ini?" Pria itu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam enam pagi.
"Kita kesiangan Neng!" Dia segera melepaskan rangkulannya pada tubuh Amara, kemudian bangkit seraya menyugar rambut di kepalanya.
"Ya emang." Perempuan itu dengan nada sedikit kesal.
Amara kemudian mencoba bangkit dan membenahi pakaiannya yang berantakan akibat Galang yang terus meyentuhnya sebelum mereka benar-benar tertidur tadi malam.
"Sebentar aku mandi dulu ya?" Pria itu turun dari tempat tidur kemudian melenggang ke arah kamar mandi.
Namun dia berhenti diambang pintu ketika satu ide melintas di otaknya.
Galang kemudian kembali ke arah tempat tidur di mana Amara masih mencoba membenahi dirinya sendiri. Dan tanpa basa basi dia segera meraup tubuh semampai istrinya itu dan segera membawanya ke kamar mandi.
"Katanya mau mandi?" Amara yang sedikit terkejut karena kelakukan suaminya.
"Memang." Galang kemudian mendudukkannya di kursi plastik yang memang sudah tersedia di sana.
Dia kemudian mencoba melepaskan satu persatu kancing piyama yang Amara kenakan.
"Kakak mau ngapain?" Perempuan itu menahan gerakan tangannya.
"Memandikan kamu?"
"Umm …."
"Nggak usah malu, kan dari kemarin kamu aku yang mandikan?"
"Eee …."Â
Pria itu kemudian melanjutkan kegiatannya, dan Amara lantas pasrah saja dengan apa yang dia lakukan.
"Tutup gipsnya?" Amara bereaksi ketika Galang tak menutupi gips di tangannya seperti biasa.
"Tidak usah, nanti kan mau dibuka." Pria itu menjawab.
"Emang nggak apa-apa?"
"Nggak. Paling nanti gipsnya akan terbuka sendiri karena basah." Galang melepaskan pengait bra di belakang tubuh Amara, lalu menarik talinya turun hingga benda itu terlepas.
Jantungnya mulai berdegup kencang dan dia menelan ludahnya dengan susah payah. Menatap bulatan ranum yang kini tampak benar-benar jelas.
"Ehm …." Pria itu bahkan sampai berdeham untuk menekan kegugupannya sendiri.
Setelah itu Galang menarik cel*na dal*m yang masih menutupi tubuh bagian bawah Amara.Â
"Sebentar." Namun perempuan itu menahannya untuk beberapa saat.
"Kenapa?" Galang tampak terkejut.
"Pelan-pelan kenapa?" protes Amara dengan malu-malu. Kedua pipinya bahkan sampai merona karena saking malunya.
"Ck!" Galang berdecak.
Dia kemudian berjongkok di depan Amara dan dengan sekuat tenaga menahan gejolak di dada saat dengan perlahan menarik kain terakhir yang menempel di tubuh perempuan itu.
__ADS_1
Setelah itu dia menyalakan shower dan mengarahkan aliran air untuk membasahi seluruh tubuh Amara dari kepala hingga kaki.Â
Membubuhkan shampo di kepalanya, mengusaknya hingga berbusa, kemudian bergantian memberinya sabun mandi. Lalu dia mengusapkannya pada punggung Amara dan ke seluruh tubuhnya.
Gugup? Jangan ditanya. Laki-laki mana yang tidak akan merasa gugup jika melakukan apa yang saat ini dia lakukan? Melihat dan menyentuh tubuh istrinya secara jelas tanpa bisa melakukan hal yang lebih karena kondisinya yang seperti itu. Benar-benar membuatnya frustasi!
"Kakak gipsnya kebasahan." Amara mengingatkan.
"Tidak apa, biar lebih gampang membukanya nanti."
"Oke." Amara menurut saja dengan apa yang pria itu lakukan kepadanya.
Apalagi ketika Galang membilas dan membersihkan sisa busa di seluruh tubuhnya. Sampai akhirnya selesai dan dia memakaikannya bathrobe juga handuk untuk rambutnya yang sudah bersih.
"Tunggu sebentar ya? Aku juga mau mandi." Pria itu menggeser kursi yang diduduki Amara ke sisi lain kamar mandi, kemudian melepaskan pakaiannya yang memang sudah basah sejak tadi.
"Serius?" wajah Amara memucat seketika. "Tapi aku masih di sini Kak?"
"Memangnya kenapa?" Dan Galang benar-benar melakukan apa yang dia katakan.
Pria itu membelakangi Amara dan membiarkan air dari shower di atas kepalanya mengaliri seluruh tubuhnya yang sudah telanjang.
Lalu dia menyabuni dirinya sendiri seperti yang dia lakukan kepada istrinya barusan. Sementara dia yang berada di sebelahnya berusaha untuk tidak terpengaruh. Meski pada kenyataannya dia merasa begitu gugup, tapi Amara mencoba untuk mengalihkan perhatian.
Tapi pemandangan di depan mata sungguh sangat menggoda.
Punggung yang kokoh dengan pundak lebarnya yang terlihat kuat. Juga kedua lengan yang bisepnya tampak berotot mendominasi pandangannya. Sepertinya pria ini rajin berolah raga. Tapi kapan?
Lalu dia beralih pada bagian bawahnya. Amara langsung menatap kaki panjangnya yang berpijak pada lantai marmer dibawahnya yang dialiri air penuh busa sabun itu.
Ah, … rasanya dia tidak sanggup untuk tetap berada di sini. Tubuhnya terasa merinding meski yang digunakan Galang untuk membilasnya tadi adalah air hangat.
"Eee …." Amara segera memalingkan pandangan saat Galang berbalik.Â
Pria itu sepertinya sengaja berbuat begitu. Entah apa tujuannya, namun yang pasti segalanya kini tampak benar-benar jelas.
"Kakak mandinya cepetan, aku kan kedinginan." Amara yang mengalihkan pandangannya pada dinding marmer di depan.
"Kakak?"
"Hmm …."
"Mandinya masih lama nggak?" Amara mengusap tengkuknya sendiri ketika keadaan itu benar-benar membuatnya merasa canggung.
"Sudah." Pria itu mematikan shower sehingga air berhenti mengalir.
Dia lantas menarik handuk yang menggantung di dinding sebelah Amara, lalu menggunakannya untuk mengeringkan tubuhnya yang basah.
Mau tidak mau perempuan itu menatap apa yang ada di depan matanya, meski sudah menghindar namun pemandangan itu menjadi yang paling mendominasi untuk saat ini.
Dada yang bidang, perut kotak-kotak, lalu saat tatapannya turun ke bawah dan dia menemukan alat tempur pria itu yang tampak menegang.
"Kakak?"
"Ya?" Galang masih sibuk mengusak rambutnya yang basah.
"Cepetan."
"Ini juga sudah cepat."
"Tapi Kakak lambat."
Galang mengintip dari balik handuk dan mendapati Amara yang menatapnya dengan raut tak biasa.Â
"Hey, kamu lihat apa?" Pria itu memergokinya yang seolah berusaha mengalihkan pandangan.
"Nggak." Amara mendongak.
Galang melilitkan handuk di pinggangnya ketika satu ide gila muncul di kepalanya. Dia menyeringai.
"Kamu … mau ketemu si ulil?" Dia mendekat kepada Amara.
__ADS_1
"Hum?" Perempuan itu mengerutkan dahi.
"Eh, dari tadi sudah lihat ya?" katanya sambil tertawa.
"Kakak apaan sih, cepetan deh."
Galang tertawa lagi, dan dia bisa melihat wajah Amara yang memerah. Namun dia menyukainya ketika perempuan itu tersipu dan terlihat malu-malu. Membuatnya merasa bersemangat.
Eh?
"Kamu … nggak tahu rasanya jadi aku." katanya.
"Ya?" Amara mendongak lagi. Dia menatap wajah suaminya yang setengah basah dengan rambut hitamnya yang masih meneteskan air.
Galang perlahan menunduk dengan kedua tangannya yang bertumpu pada dinding marmer. Menyudutkan Amara yang memang sudah tersudut sejak tadi.
"Kakak, kita kan mau …."
"Kamu mau?" bisiknya, dan dia benar-benar sudah menunduk. Menemukan bibir Amara yang segera disesapnya sepuas hati.
Keadaan memang benar-benar mendukung yang membuat Amara segera terbawa suasana. Tanpa banyak basa-basi mereka segera saling membalas seperti biasa.
Tangan kiri Amara bergerak merayap di pundak Galang. Merasakan ototnya yang kokoh dan kehangatan yang menguar begitu saja. Lalu menekan tengkuknya agar ciuman itu menjadi semakin intens.
Lalu di detik berikutnya Galang meraup pinggang perempuan itu dan dengan mudah menariknya untuk berdiri tanpa melepaskan cumbuan.
Galang menggeser kursi dibelakang Amara dengan kakinya, kemudian menyeretnya hingga tersudut di dinding. Mereka meneruskan cumbuan itu menjadi semakin dalam setiap detiknya.
Amara meronta ketika merasakan sesuatu menekan perutnya dengan keras saat Galang merapatkan tubuhnya. Tangan kirinya mendorong dada pria itu agar memberinya ruang untuk bernapas sejenak.
"Kakak!" rengeknya setelah dirinya mampu melepaskan cumbuan, lalu menunduk untuk memeriksa keadaan.
Tampak sesuatu menyembul dari balik handuk yang dikenakan oleh Galang, dan dia tahu benda apa itu.
"Umm …."
"Sentuhlah." bisik Galang ditelinganya.
"Hum?" Amara mengerutkan dahi.
"Ini ... tidak menggigit."
Amara menaikka sebelah alisnya keatas.
"Hanya … sentuh saja." ucap pria itu lagi yang kemudian mencekal pergelangan tangannya dan membimbingnya ke bawah untuk menyentuh alat tempurnya.
"Mm …." tangan Amara sudah berada di sana. Dengan bergetar menggenggam sesuatu yang semakin mengeras dibalik handuk yang dikenakan Galang.
Dengan dada berdebar dan pikirannya yang mulai berkelana dia menatap wajah suaminya.Â
Sementara itu, kedua sudut bibir Galang tertarik membentuk sebuah senyuman dan matanya megerjap-ngerjap. Merasakan sentuhan Amara secara langsung pada senjatanya.Â
Otaknya sudah membayangkan hal lain dan perasaannya sudah meronta-ronta ingin dipuaskan.Â
"Udah." Namun ucapan itu membuyarkan imajinasinya ketika disaat yang bersamaan Amara melepaskan genggaman tangannya.
"Katanya hari ini mau buka gips? Kalau gini terus kita bisa telat." Perempuan itu mendorongnya dengan keras sehingga tercipta jarak diantara mereka.
"Tapi Neng?" Galang dengan raut frustasi.
"Pegang-pegangannya nanti diterusin kalau gipsnya udah dibuka." ucap Amara lagi yang kemudian membuat Galang membenahi handuknya.
Dia lantas meraup tubuh perempuan itu dan segera membawanya keluar dari kamar mandi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
__ADS_1
hadeh, udah kenalan hahaha 😂😂