
🌺
🌺
Galang tertegun ketika memasuki kamar rawat Amara dan di dalam sana menemukan Daryl. Pria itu berada sangat dekat dengannya yang masih terlelap, efek obat tidur yang diberikan setelah dokter menghentikan pemberian obat bius padanya hari ini.
"Oke, Araku? Kamu harus cepat sembuh ya? Karena kami sangat merindukanmu." Pria itu merebahkan kepalanya di samping kepala Amara seraya mengelus rambutnya yang terurai.
"Kedai sepi, dan Nania bertingkah menyebalkan beberapa hari ini. Dia banyak mengatur seperti bosnya saja." adunya kepada gadis itu seolah dia bisa mendengar.
"Kamu pasti bisa pulih dengan cepat, aku yakin Araku pasti kuat." katanya lagi.
"Baiklah, sepertinya aku harus pergi. Sudah malam, lagi pula satpammu sudah datang." Kemudian Daryl mengangkat kepala ketika menyadari keberadaan Galang di sana.
"Oke Araku? Semoga besok aku bisa kembali. Tapi nggak janji ya?" Dia pun bangkit.
"Rajin sekali kamu ini? Mentang-mentang sudah putus dengan Clarra?" Daryl berjalan ke arah dekat pintu di mana Galang berdiri.
Pria itu mengerutkan dahi.
"Der? Mau pulang sekarang tidak?" Sofia muncul setelah menunggu cukup lama.
"Yes Mom."
"Ya sudah, cepat. Papi sudah ke bawah duluan." ucap sang ibu.
"Oke, tapi aku kan bawa mobil. Mama dan Papi bisa duluan."
"Tidak, Mama mau pulang denganmu."
"What? Why?"
"Tidak kenapa-kenapa, hanya ingin saja."
"Darren?"
"Dengan Papi."
"Astaga!" Pria itu memutar bola matanya.
"Sebentar, Mama mau pamitan dulu sama Ara." Perempuan itu menerobos masuk dan menghambur ke arah ranjang di mana Amara terbaring.
"Ara, Mama Fia pulang dulu ya? Nanti ke sini lagi. Mama harap ketika nanti Mama datang lagi kamu sudah bangun. Ya sayang?" Perempuan itu mengusap puncak kepala Amara kemudian mengecup keningnya dengan lembut.
"Kamu tetap di sini Lang?" Kemudian dia beralih kepada Galang yang berjalan mendekat.
"Ya, sepertinya begitu Bu." Dan pria itu pun menjawab.
"Baiklah. Titip Ara ya?" ucap Sofia yang bersiap untuk pergi.
"Baik Bu."
"Ara, Mama pulang." Sofia berbisik lagi.
"Mama pakai titip-titip segala sih, Ara kan sudah besar?" Ibu dan anak itu berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Ya harus dong, biar dijaga dengan baik, Ara kan sedang sakit." Sofia merangkul lengan putranya.
"Aku nggak percaya sama dia." Suara mereka terdengar menjauh.
"Memangnya siapa yang memintamu untuk mempercayainya?"
"Tidak ada, hanya saja …."
"Jangan urusi urusan orang lain."
__ADS_1
"Aku tidak begitu."
"Makanya diam."
"Oke Mom."
"Apa kita akan langsung pulang?"
"Ya kalau Mama ikut aku kita langsung pulang."
"Kalau Mama tidak ikut kamu?"
"Aku mau mampir ke kedainya Ara."
"Kenapa? Kan Aranya ada di sini?" Kemudian mereka berhenti dan Daryl tertegun.
"Iya juga. Kenapa juga aku mau ke sana?" Keningnya berjengit.
"Ah sudah, ayo kita ke sana?" Sofia menarik putranya.
"Kemana?" Daryl berjalan tersaruk-saruk mengikuti ibunya.
"Ke kedainya Ara."
"Mau apa?"
"Makan."
"Tapi Papi …."
"Nanti beri tahu papi kalau kita sudah sampai kedai."
"Nanti Papi marah kepadaku."
"But Mom?"
"Sudah diam. Mama sedang mau jalan-jalan denganmu! Mumpiung kita sedang ada diluar."
“No! Kita akan pulang, aku nggak mau kena masalah dengan Papi. Bisa kacau urusannya kalau aku membawa Mama keluyuran malam-malam begini.”
“Ah … kamu?”
“Kalau mau Mama ajak saja Papi ke sana besok, atau kapan saja.”
“Tapi Mama maunya denganmu.”
“Aku yang tidak mau.”
“Kenapa? Gengsi ya kalau jalan berdua dengan Mama?”
“Bukan gengsi.”
“Terus kenapa?”
“Hanya tidak mau kena masalah karena bawa istri orang jalan-jalan.” Pria itu tertawa.
“Ah, kamu ini dasar!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Galang mendekat, kemudian duduk di kursi tak jauh dari Amara. Tanpa merasa bosan dia terus menatap wajahnya yang tampak lebih tirus dari sebelumnya. Dia juga meraih tangan kirinya yang tergolek lemah di depannya, kemudian bergeser agar lebih dekat.
"Kamu … dengar tidak?" Galang mulai berbicara. Seperti yang selalu dilakukannya setiap kali berada di ruangan itu.
"Semua orang merindukanmu."
__ADS_1
"Aku tahu kamu sudah sadar. Hanya saja aku belum benar-benar melihatmu membuka mata ketika aku ada. Aku pasti sedang berada di suatu tempat, atau sedang bekerja jika itu terjadi. Jadi hanya papamu atau orang lain yang kamu lihat. Padahal aku selalu datang ke sini."
"Ara?"
"Tahu tidak? Hari ini aku menemani Dimitri bertemu dengan orang Mesir. Kami berhasil bernegosiasi dan mereka langsung setuju untuk mengadakan kerja sama. Bukankah itu bagus?"
Dia tetap menatap Amara.
“Aku merasa senang karena berhasil bekerja dengan baik dan mereka merasa apa yang aku terangkan cukup memuaskan. Itu bagus bukan?” Galang mendekatkan wajahnya.
“Ara?”
Namun gadis itu bergeming.
“Baiklah, aku juga akan istirahat. Panggil aku kalau kamu bangun ya?” Pria itu pindah ke sofa di belakang kursinya.
“Aku akan ada di sini sampai Papamu kembali besok pagi.” katanya, lalu dia merebahkan tubuhnya.Â
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daryl melenggang begitu saja kedalam kedai yang masih lengang. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi tapi tempat itu masih sepi. Para pegawai pun masih bersantai-santai ria karena tugas mereka sudah selesai beberapa saat yang lalu.
“Bapak kesini lagi? Padahal masih pagi?” Seperti biasa, Nania yang bertugas di depan menyambut kedatangannya.
“Memangnya kenapa? Tidak boleh?” jawab pria itu yang kemudian duduk di kursi yang terletak di sudut paling dalam kedai, seperti biasa. Dan area itu menjadi tempat favoritnya untuk mengamati keadaan.
“Om Arfan sudah kesini belum?” Kemudian dia bertanya.
“Udah, baru aja pergi. Udah ngasih arahan juga harus gimana-gimananya.” Nania menjawab.
“Bagus.”
“Terus Bapak mau apa disini? Pak Arfan kan sudah ngasih tugas?” Gadis itu bertanya lagi.
“Kamu makin lama makin ngelunjak ya? Terserah saya dong, ini kan kedainya Ara, masih keluarga saya. Memangnya ada larangan ya?”
“Maksudnya ….”
“Baru lho, saya ketemu pegawai seperti kamu? Sudah cerewet ngeselin lagi? Apa-apa ditanya, apa-apa jadi bahan masalah.”
“Saya kan cuma tanya Pak?”
“Pertanyaan kamu ngeselin, dan nggak sopan.”
Nania tampak mengerucutkan mulutnya.
“Sana kerja, saya di sini untuk mengawasi kalian kerja selama Ara masih belum pulih?” ucap Daryl yang menghentikan Nania saat gadis itu hampir pergi.
“Masa? Orang Pak Arfan tadi pagi nggak bilang apa-apa.” Dia kembali ke hadapan Daryl.
“Memangnya apa yang Om Arfan katakan?”
“Cuma titip kedai sama kerja yang baik selama Kak Ara nggak ada. Dan tutupnya nggak usah terlalu malam. Nggak ada bahasan soal Pak Daryl yang gantiin Kak Ara di sini.”
“Umm ….”
“Eh lupa, kan masih keluarganya Kak Ara ya? Jadi, terserah Bapak aja deh.” Gadis itu melenggang ke arah pantry.
“Ish! Dasar anak SMP!” Daryl menggumam.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1