My Only One

My Only One
Hati Galang


__ADS_3

🌺


🌺


~ Flasback On ~


Clarra tertegun ketika sebuah mobil mewah masuk ke dalam pekarangan rumahnya pada sore hari.


Kendaraan roda empat itu kemudian berhenti tepat di depan teras, lalu seorang perempuan paruh baya dengan penampilan elegan turun.


"Aku mau bertemu Clarra." Perempuan yang dia kenali sebagai ibu kandungnya itu berujar.


"Clarra?" Vita menoleh kepada putrinya yang berdiri di ambang pintu.


"Ya, izinkan kami menemuinya." ucap Larra.


"Kami?" Fahmi membeo.


Kemudian seorang pria paruh baya pula turun dari mobil tersebut. Membuat Vita dan Fahmi saling pandang.


"Ada seseorang yang ingin bertemu dengannya." Larra berujar.


"Tapi …."


"Cla, Mama datang sayang. Lihat siapa yang Mama bawa?" Perempuan itu berbicara kepada Clarra dengan nada begitu riang. Seolah dia sedang berbicara kepada anak kecil.


Namun Clarra bergeming.


"Masuklah dulu." Vita mempersilahkan masuk.


Mereka kemudian sama-sama berjalan kedalam rumah, sementara Clarra beranjak pergi.


"Cla?" Panggil Vita kepada putrinya.


"Kenapa dia selalu begitu?" Larra menggumam.


"Duduklah dulu, nanti aku panggilkan Clara." ucap Vita yang segera pergi ke kamar putrinya.


"Cla?" Dia mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat.


Namun tak ada sahutan dari dalam sana.


"Clarra?" Vita kembali mengetuk, dan penghuninya tetap tak memberi jawaban.


"Clarra, bukalah pintunya!"


"Stop Ma! Aku tidak mau bertemu dengan dia." Akhirnya perempuan itu menjawab.


"Mama mu ingin bertemu Nak."


"Tapi aku tidak mau. Sudah berkali-kali aku katakan kalau aku tidak ingin bertemu dengannya."


"Ayolah."


"Tidak mau!"


"Cla?"


"Sudah, jangan dipaksa." Fahmi menghentikannya.


"Tapi aku tidak enak kepada Larra. Setiap kali dia datang berkunjung pasti selalu mendapat penolakan dari Clarra."


"Apa boleh buat? Keadaannya memang tidak memungkinkan. Tahu sendiri bagaimana dia kalau sudah bertemu dengan ibunya? Apalagi setelah pernikahannya dengan Syahril gagal."


"Tapi tidak bisa begitu juga. Lama-lama dia seperti anak kecil." Vita berujar.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu! Dia anak kita, dan kita sama-sama tahu bagaimana keadaannya selama ini, dan apa yang menyebabkannya menjadi seperti itu. Padahal dulu dia anak yang ceria." Fahmi sedikit menggeram. Mengingat apa yang selama ini terjadi dan menyebabkan Clarra mengalami keadaannya yang seperti sekarang.


"Kamu tahu depresinya seperti apa, dan bagaimana beratnya kita menghadapi itu. Aku tidak terima anakku diperlakukan seperti ini! Meskipun perempuan itu sahabatmu."


Namun kemudian Clarra membuka pintu setelah mendengar perdebatan kedua orang tuanya.


"Apa … kalau aku menemuinya dia akan pergi?" katanya yang berbicara dari celah pintu yang terbuka.


"Entahlah, mungkin saja. Dia hanya ingin bertemu denganmu Nak." Vita menjawab.


"Tapi aku tidak mau bertemu dengan dia lagi setelah ini."


Vita hampir saja membuka mulutnya untuk menjawab.


"Mama harus janji." Clarra memperingatkan.


"Mm … baiklah."


Clarra terdiam sebentar, lalu dia keluar dari kamarnya.


Dan di sinilah mereka berlima. Di ruang tamu dalam suasana sendu. Terutama bagi Clarra. Karena perasaannya tidak baik-baik saja ketika dia berhadapan dengan Larra, ibu yang telah melahirkannya ke dunia.


Ingatannya tentu saja selalu kembali pada saat di mana pertama kalinya perempuan itu menemuinya di rumah tersebut. Dan pertama kalinya pula dia mengetahui jati dirinya yang ternyata bukan anak kandung dari pasangan yang selama ini dikenalnya sebagai orang tua.


Dan itulah awal dari segala depresi yang dialaminya selama ini.


"Ini adalah ayahmu." Larra tanpa basa-basi. Membuat ketiga orang di depannya mendongak bersamaan.


Sedangkan pria sebaya yang ada di sampingnya menatap Clarra dalam diam.


"Ayah kandungmu." lanjut perempuan itu. "Bukankah ini yang menyebabkan kamu tidak mau menerima Mama? Kamu merasa sebagai anak yang tidak jelas asal usulnya? Dan menyalahkan Mama atas semua yang terjadi kepadamu?"


Clarra menatap wajah ibu kandungnya.


"Asal usulmu jelas. Ada ayah, ada ibu. Apa lagi? Jangan terus menyalahkan Mama atas apa yang telah terjadi kepadamu. Karena Mama terpaksa harus meninggalkanmu. Malah, yang seharusnya kamu salahkan adalah Satria." Larra mengepalkan tangannya.


"Satria tidak ada hubungannya dengan ini, dia …." Fahmi menggantung kata-katanya saat Larra mengangkat tangan. 


"Dia yang menjadi awal keburukan yang terjadi kepadamu, dan j*lang yang bersamanya sekarang ini."


"Seandainya kamu tahu bagaimana Mama berjuang sendirian setelah mereka menyingkirkan Mama. Kamu pasti akan mengerti."


"Bukan mereka yang menyingkirkanmu, tapi kamu yang lari!" Vita buka suara, tidak terima perempuan dia depannya menyudutkan sepupunya.


"Kamu tidak tahu kenyataannya, Vita."


"Aku tahu! Aku tahu apa yang terjadi sehingga menyebabkan dia ingin menyingkirkanmu. Kelakuanmu sendiri yang membuatnya seperti itu! Tapi tidak dengan Clarra."


"Satria bahkan yang membiayai Clarra sejak aku membawanya pulang ke rumah ini. Sepupuku bertanggung jawab penuh atas kehidupannya bahkan hingga dia dewasa." Vita mulai mendebatnya.


"Tentu, memang begitu seharusnya. Sudah haknya Clarra mendapat semuanya, karena sepupumu merampas milikku untuk dia berikan kepada pel*cur itu."


"Stop Larra!" Fahmi memperingatkan.


"Tidak, aku tidak akan berhenti sampai Clarra tahu semuanya dan menerima keberadaanku." 


"Bukan begini caranya!" Vita menjawabnya. "Lagi pula , apa lagi yang harus dia tahu? Dia sudah tahu semuanya. Dan jangan berani kamu tambah-tambahi lagi. Aku tidak akan membiarkannya."


"Vita, aku …."


"Berhenti!" Clarra bereaksi.


Dia kemudian bangkit sambil menutup telinga dengan kedua tangannya.


"Ya, kamu ibu, yang telah melahirkan aku. Dan dia … ayahku. Jika kalian memang jujur." Dia menunjuk pria yang sejak tadi diam saja di samping Larra.  

__ADS_1


"Yang menyebabkan aku ada di dunia ini. Tapi itu bukan berarti kalian punya hak atas diriku. Apa pun yang terjadi kepadaku karena ulah kalian." Clarra mundur beberapa langkah ke belakang.


"Seandainya kalian diam saja, dan tidak menampakan diri. Mungkin hidupku akan baik-baik saja." Clarra menunjuk ke arah orang-orang di depannya.


"Kalian tidak tahu apa yang terjadi kepadaku? Kalian tidak mau tahu!" Clarra berteriak, kemudian dia berlari ke arah luar.


"Clarra!" Fahmi berusaha mengejarnya, namun amarah anak perempuannya itu tampaknya tidak tertahankan sehingga dia tak mampu mengejarnya yang berlari keluar gerbang.


~ Flashback Off ~


Galang memejamkan matanya untuk beberapa detik. Kemudian dia mengusap wajahnya dengan perasaan frustasi.


Hal ini tentu terasa lebih rumit lagi. Bagaimana dirinya harus bisa menempatkan diri, dan memikirkan lagi apa yang harus dilakukan. Karena semuanya memanglah tak mudah.


Sementara Clarra masih terisak, mencoba untuk menerima keadaan, namun dia tak mau. Rasa benci itu sudah terlanjur mendarah daging dan tak bisa dipulihkan lagi.


"Aku hanya tidak mau dia menemuiku lagi. Apa pun yang akan dia lakukan aku tidak peduli, yang penting dia tidak pernah menghubungiku. Tapi kenapa semua orang tidak mengerti?" 


"Dia ibumu Cla, tidak boleh seperti itu."


Clarra terkekeh dalam tangisnya.


"Ya, itu sudah pasti. Kenapa semua orang berkata seperti itu? Dia ibuku. Ya, aku tahu. Dan tidak perlu diperjelas lagi. Tapi apa kalian mengerti kenapa aku begini? Karena dia! Karena dia yang kalian sebut ibuku! Apa aku tidak punya hak untuk menolak? Apa aku harus menurutinya, sementara selama ini dia bahkan tidak peduli kepadaku? Dia datang dan pergi seenaknya seolah aku ini hanyalah sebuah benda yang pantas ditinggalkan. Aku ini manusia, aku punya hati dan perasaan yang ketika sudah sakit maka sulit untuk disembuhkan. Tidakkah dia mengerti?" Clarra mulai meracau.


"Sstt, Cla!" Galang mencoba menghentikannya.


"Keinginanku hanyalah satu, dia tidak usah menemuiku apa pun yang terjadi. Jangan membuatku kembali mengingat hal apa saja yang sudah dia lakukan. Karena semakin dia berusaha mendekat, maka aku semakin merasa benci."


"Maka katakanlah kepadanya."


"Sudah, tapi dia tidak mau tahu!" Clarra berteriak, kemudian dia menutup wajah dengan kedua tangannya. Isakan kembali keluar dari mulutnya.


Galang menghembuskan napas berat.


"Kemarilah!" Lalu dia menariknya ke pelukan, karena bukan hal yang baik untuk terus mendebatnya saat ini. Emosinya jelas lebih mendominasi dan dia tidak bisa diajak berdiskusi. Semuanya adalah tentang kemarahan dan rasa bencinya terhadap keadaan.


"Aku hanya tidak ingin bertemu dia, kenapa tidak ada yang mau mengerti?" Clarra menangis dipelukannya.


"Iya, aku tahu. Nanti kita bicara dengannya. Oke?"


Clarra terdiam.


"Kamu mau aku yang berbicara dengan mereka? Atau harus juga aku bicara dengan orang tuamu?"


Perempuan itu tak menjawab. Tapi dia lebih tenang dari sebelumnya.


Mungkin Ara benar. Kami dipertemukan karena satu alasan. Dan Clarra jelas lebih membutuhkan aku dari pada dia.


Galang kembali memejamkan mata, meredam rasa sesak dan ngilu di dada. Ini jelas tak mudah, namun dirinya harus membuat keputusan.


Mungkin juga kamu benar Ra, kalau kita ini nggak jodoh. Makanya, pasti selalu ada yang membuat kita nggak bisa bersama.


Batinnya, dan dia berusaha memantapkan hati.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Terus? 😒


Tebak-tebak buah manggis, ayo tebak terus ya manis? 😉

__ADS_1


jan lupa like komen sama hadiahnya kirim lagi.


alopyu sekebon😘😘


__ADS_2