My Only One

My Only One
Hati Amara


__ADS_3

🌺


🌺


"Kalian datang?" Amara memutuskan untuk menemui Rania bersama keluarganya begitu pegawainya memberitahukan keberadaan mereka. 


"Es krim?" Anya segera mengacungkan tangan.


"Eh, es krim aja yang ada di kepalanya?" sergah Rania.


"Waktu itu Kak Ara bilangnya begitu?" Anya menjawab.


"Kalau dibilangin ada aja jawabannya?"


"Mommy …."


"Padahal kamu nggak usah keluar, kan lagi repot?" Rania berujar. Melihat si pemilik kedai yang menyambut kedatangan mereka secara khusus pada jam sibuk seperti itu.


"Di gantiin Nania sebentar." Amara menjawab. "Anya sukanya apa? Strobery, vanila, cokelat, cinamon, atau apa? Nanti Kakak bawain."


"Mix aja." Anya menjawab.


"Hum?"


"Jangan maruk Anya!"


"Nggak, waktu dikasih sama Om Galang juga gitu kan di dalemnya macam-macam. Enak lho Mommy!" 


"Astaga!" Rania mengusap wajah dengan tangannya.


"Eh, Om Galang tadi mana ya? Udah pulang gitu?" Anya baru menyadari hal tersebut.


"Apa?" Amara bereaksi.


Dia datang?


"Tadi ada di sini kan sama Tante Clarra. Huh, kabur kayaknya." anak itu terus mengoceh seperti tak mungkin untuk dihentikan.


"Anya!" Sehingga Dimitri pun mulai bersuara.


"Umm … Anya tadi maunya apa? Kakak buatin deh." Amara mengalihkan topik pembicaraan. Dia berusaha menghindar dari apa pun yang bersangkutan dengan Galang.


"Stroberi, vanila, coklat, cinamon, kopi …." 


"Kebanyakan, Sayang." Dimitri berujar.


"No, it's enough Papi!"


"Nggak apa-apa Kak, nanti dibuatkan khusus untuk Anya."


"Yeayyy!!!" Anak itu berjingkrak kegirangan.


"Kamu jangan nyesel ya? Si Anya tuh ingatannya panjang, nanti kalau hari Minggu dia pasti sering minta kesini untuk makan es krim yang sama." Rania memperingatkan.


"Nggak apa-apa Kak. Nanti aku bikin itu sebagai menu khusus untuk Anya." Amara tersenyum.


"Terima kasih."


"Kalau Zenya mau apa?" Lalu dia beralih kepada anak laki-laki yang terdiam di samping Dimitri.


Anak itu menoleh kepada ibunya.


"Zenya juga boleh kalau mau es krim, ini kan hari Minggu?"


"Really?"


"Ya, pesanlah."


"Mau es krim coklat." jawab Zenya, singkat.


"Terus?" Amara menatapnya sambil tersenyum. Dia berpikir bahwa anak itu sangat berbeda dari ibu dan kembarannya.


"Udah."


"Serius?"


Zenya mengangguk.


"Mau ditambahin stroberi?"


"No."


"Vanila?"


"No. Just coklat." jawab Zenya.


"Oke." Amara terkekeh. Dia ingin mengatakan jika anak itu sangat mirip dengan Dimitri waktu kecil, setidaknya itu yang dia ingat, tapi segera ditahannya. 


"Terus Kakak mau makan apa? Biar sekalian dibuatkan." tanya nya kepada Rania dan Dimitri.


"Aku cappucino cincau aja. Papi mau apa?" 


"Sama lah, biar gampang."


"Makannya?" 


"Nanti aja."


"Oke kalau gitu, dibikinin sekarang ya?"


Rania mengangguk, kemudian Amara segera kembali ke ruang memasaknya.


"Anya bisa nggak sih jangan bilang soal Om Galang di depan Kak Ara?" Rania kini beralih kepada putrinya.


"Kenapa?"


"Ya jangan aja."


"Iya jangannya kenapa?"


"Kesannya lagi pamerin Om Galang barengan sama Tante Clarra tahu?"


Anya mengerutkan dahi.


"Kan kasihan Kak Ara nya?"


"Kenapa kasihan?"


"Nanti Kak Aranya sedih."


"Kenapa kak Ara sedih?"


"Karena tahu Om Galang sama Tante Clarra."


Anya terdiam menatap wajah ibunya.


"Aku bingung Mommy ngomong apa?"


"Gini aja deh, pokoknya jangan bilang apa-apa soal Om Galang di depan Kak Ara. Kamu nggak usah tanya kenapa." ucap Rania saat putrinya itu membuka mulut untuk berbicara.


"Stop! Kamu harus jadi good girl."

__ADS_1


"Umm … i am a good gir!"


"Kalau good girl harus apa?"


"Harus nurut."


"Nurut sama siapa?"


"Sama Mommy."


"Anya pinter." Rania mengusap puncak kepala putrinya.


"Tapi kan itu …."


"Ssstt! Pokoknya nggak boleh!" Rania mengacungkan telunjuknya di depan wajah.


"Oke anya? Apa kamu good girl?"


"Yes, i am a good girl."


"Oke."


Kemudian tibalah pelayan membawakan pesanan mereka, yang membuat keluarga itu segera fokus pada apa yang ada di depan. Menyebabkan si pembuat makanan di pantry menatap sambil tersenyum. Dia bahagia, karena melihat keceriaan mereka yang melahap apa yang dibuatnya.


Meski sekilas dia kembali teringat pada ucapan Anya soal kedatangan Galang dan Clarra ke kedainya hari itu, namun Amara berusaha segera menepisnya.


🌺


🌺


"Serius kamu sudah sembuh?" Clarra turun dari mobilnya, bersamaan dengan Galang yang tiba dengan motor besarnya.


"Kan sudah aku bilang?" Pria itu melepaskan helm, kemudian merapikan rambutnya.


"Hu'um, syukurlah."


Galang turun dari motornya, kemudian mereka berjalan bersisian ke arah gedung.


"Mau aku bantu?" tawar Galang seraya mengulurkan tangan untuk meraih totebag di tangan kanan Clarra.


"Nggak usah, aku bisa …." Perempuan itu sempat menolak, namun  Galang sudah merebut tas tersebut dari tangannya.


"Satu lagi?" ucap pria itu seraya menunjuk tas laptop di tangan yang satunya.


Clarra tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Cla …." 


"Nggak usah, aku terbiasa." Dia tergelak.


"Ck!" Galang berdecak.


"Ayo cepat, …." Perempuan itu meraih tangganya dan menarik Galang dengan cepat memasuki gedung.


"Kenapa sih kita selalu harus cepat-cepat? Kita kan sudah di kantor."


"Justru karena kita sudah di kantor makanya harus cepat-cepat." Clarra menjawab.


"Kenapa?"


Clarra bungkam.


Mereka kemudian segera masuk ke dalam lift. Diikuti tatapan heran orang-orang.


***


"Aku ada jadwal keluar hari ini?" Dimitri Segera memulai pekerjaan begitu Galang mengantarkan dokumen ke ruangannya.


"Tidak Pak. Kita hanya bekerja di kantor." Sang asisten menjawab.


"Bapak ada rencana keluar?"


"Rania mengajak makan siang bersama di tempatnya Ara sepulang dia menjemput anak-anak nanti." Tangannya dengan lincah bergerak di atas keyboard laptopnya.


"Tempatnya Ara?"


"Ya, Amara's Love." ucap Dimitri.


"Jadi benar kedai itu punya Ara?" Galang maju lebih dekat.


"Ya. Kamu tidak tahu ya?"


Galang bungkam.


"Kedai itu buka satu minggu yang lalu. Promosinya gencar di media sosial punya Ara, juga di selebaran yang dibagikan di jalan."


"Benarkah?"


"Ya. Serius kamu baru tahu?"


Galang menganggukkan kepala.


"Jangan katakan jika kemarin kita bertemu di sana itu pertama kalinya kamu berkunjung? Dan kamu tidak mengetahui kedai itu milik siapa."


Galang tak menjawab.


"Astaga." Dimitri tertawa. "Kemana saja kamu selama ini?"


"Saya cedera Pak. Baru masuk hari ini, ingat?" Galang berujar.


"Ya ya ya. Tidak lihat di media sosial juga?"


"Saya jarang buka media sosial."


"Serius?"


Galang mengangguk lagi.


"Ckckckc! Kamu benar-benar mengasingkan diri dari dia ya?"


"Begitulah."


"Kamu serius dengan Clarra?" Dimitri kemudian bertanya.


"Kenapa Bapak bertanya seperti itu?"


"Hanya ingin tahu."


"Hmm …."


"Kalian benar berhubungan?"


"Benar."


"Kenapa?"


"Maksud Bapak?"


"Tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin tahu." Dimitri tergelak.


Galang memutar bola matanya.

__ADS_1


"Saya mengerjakan bagian saya dulu Pak." Lalu Galang memutuskan untuk pergi.


Enak saja mau membuat pikiranku kacau ya? Susah payah aku melupakannya semalaman, terus dia membuatku mengingatnya lagi? 


***


"Hai?" Amara menatap layar ponselnya di sela istirahatnya pada hampir sore.


"Bagaimana kabarmu?" Piere tersenyum, dan wajahnya memenuhi layar. 


"Baik, kamu sendiri bagaimana?"


"Baik juga."


"Syukurlah."


"Jadi sekarang kamu sudah resmi bekerja di Plaza Athens?" Rania duduk di rooftop lantai suanya. Kebetulan pada sore hari kedai tidak terlalu ramai seperti siang hari. Jadi dia bisa mengambil waktu istirahatnya sejenak.


"Ya. Sudah mau dua minggu." jawab Piere.


"Bagus. Bukankah itu hotel bintang lima paling terkenal di Paris?"


"Kamu benar. Seleksi untuk asisten koki saja sangat ketat. Aku harus berjuang begitu keras untuk masuk kualifikasi."


"Wow, seperti mau balapan ya?" Amara tertawa.


"Begitulah. Kedaimu sendiri bagaimana? Sepertinya sangat ramai?"


"Seperti yang kamu lihat."


"You good Amara, that's a great job!"


"Aku tahu, terima kasih. Tapi nggak mudah."


"I know. Tapi kamu bisa kan?"


"Bisa. Kalau nggak bisa aku tanya Papa." Amara tertawa. 


Dia lantas berjalan-jalan mengelilingi area atap tersebut dan memperlihatkan pemandangan kota kepada teman sekelasnya di Paris tersebut.


"Sepertinya kotamu sangat sibuk ya?"


"Hmm … kamu akan tahu kalau kesini."


"Sayangnya aku belum bisa. Aku baru bekerja, ingat?"


"Iya, padahal tadinya aku mau mengenalkanmu kepada Kak Rania."


"Sure."


"Ya. Dia sering kesini lho."


"Really?"


"Iya, tadi saja dia makan di sini dengan suami dan anaknya."


"That's cool."


"Aku serius Piere, kalau kamu kesini akan aku kenalkan kamu dengan Kak Rania."


Piere tampak tersenyum.


"Datanglah nanti kalau kamu bisa."


"Baik, aku usahakan."


Amara mengangguk-anggukkan kepala.


"So, what about him?"


"Maksud kamu?"


"Bagaimana dengan pria itu, kekasihmu yang kamu perjuangkan? Yang membuatmu membatalkan segala rencanamu di Paris?"


Amara tertegun sebentar.


"Amara?"


"Hum?"


"What about him?"


Gadis itu menggelengkan kepala.


"Why?"


"Dia sudah dengan orang lain, Piere." Amara menjawab.


"Really?"


Lalu Amara mengangguk.


"I thought …."


"Jangan bicarakan soal itu, aku sedang tidak ingin menangis." Amara terkekeh namun dia menyeka sudut matanya yang terasa memanas.


Penyesalan ini rasanya sakit sekali. batinnya.


"I'm so sorry."


"Nggak apa-apa, memang seharusnya begitu bukan?"


Kini Piere yang mengangguk-anggukkan kepala.


"Baiklah, jam istirahatku sudah selesai, aku harus kembali ke hotel." Pria itu berujar.


"Yeah, benar."


"Au revoir, a plus tard ( selamat tinggal, sampai nanti)."


"Ya." Amara melambaikan tangannya, lalu panggilan pun berakhir, namun dia masih menatap layar ponselnya.


"Kak?" Nania muncul dari pintu di ujung.


"Ya?"


"Ada Papa."


"Papa?"


"Ya."


"Ya ampun! Kapan datangnya?" Amara segera berlari menuruni tangga ke lantai bawah.


Sementara seseorang mengawasi lewat jendela besar di ujung lantai paling atas gedung tempatnya bekerja.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Bersambung ....


like komen sama hadiahnya lago dong 😉😉


__ADS_2