
🌺
🌺
Berhari-hari setelahnya …
"Minggu ini pulang ke Bandung?" Mereka berjalan ke arah kantin pada istirahat makan siang.
"Sepertinya iya. Baru berpikir saja ibu sudah tanya. Apalagi tahu aku beli mobil. Orang tuaku sangat senang dengan hal itu." Galang memeriksa ponselnya ketika sebuah pesan masuk dari ibunya.
"Hm …."
"Kenapa? Mau ikut?" Pria itu menoleh ke arah Clarra, kemudian tersenyum.
"Apa? Tidak. Hanya bertanya."
"Aku kira mau ikut. Kalau mau ya aku bawa. Sekalian test drive mobilnya jarak jauh." Pria itu terkekeh.
"Memangnya mobilmu sudah bisa dibawa keluar kota ya?"
"Sudah dong."
"Plat nomornya dan surat-surat sudah keluar?"
"Sudah kemarin."
"Cepat juga ya?"
"Satu minggu cukup lah. Kalau tidak, aku cabut izin dealernya. Masa proses begitu saja lama? Mereka masih dibawah Nikolai Grup kan?"
"Duh, Bapak asisten mulai mau menunjukkan taringnya ya?"
"Bukankah boleh begitu?" Galang terkekeh.
"Ya, jika cara kerja mereka tidak sesuai dengan SOP yang diturunkan perusahaan."
"Dan Nikolai Grup mempercepat semua birokrasi agar pekerjaan dan kepentingan apa pun bisa lebih lancar."
"Ya, kamu benar."
"Dan perusahaan mengizinkan, kepada pimpinan dan orang kepercayaannya untuk menjalankan wewenang apa pun."
"Kamu ingat bagian itu ya?"
"Tentu saja, dan itulah bagian terbaiknya jadi tangan kanan Pak Dimitri."
"Hmm … kamu mulai menikmatinya ya?" Clarra menganggukkan kepala.
"Ya apa lagi? Sudah seharusnya seperti itu." Galang menjawab.
"Jadi gosip itu beneran ya? Kalau Pak Galang sama Bu Clarra itu pacaran?" Beberapa orang tampak berkumpul di dekat pintu masuk kantin.
"Mungkin. Nggak lihat ya kalau setiap hari mereka sama-sama terus? Nggak jarang juga Pak Galang ikut mobilnya Bu Clarra."
"Nggak nyangka ya, Pak Galang suka yang lebih tua. Pantes dia nggak merhatiin pegawai lain, orang sudah di hak milik sama sekretaris." Salah satu diantara Mereka tertawa.
"Iyalah. Kalau staff ya sama staff lagi, mana mungkin mau sama karyawan biasa seperti kamu."
"Kalau aku mau, aku bisa saja menggoda Pak Galang dan membuat dia jatuh cinta kepadaku. Tapi nggak level, masa saingan sama yang lebih tua. Malu dong akunya?"
"Malu atau takut? Bu Clarra itu bisa bikin kamu dipecat tanpa pesangon tahu? Apa lagi udah ngatain dia tua?"
"Eh, memang kenyataannya begitu kan? Dia memang lebih tua, sama Pak Galang aja jauh. Nggak pantes kalau dilihat."
"Sudah, kalian dari kemarin memperdebatkan itu terus. Bahaya kalau ada yang dengar. Bisa dipecat kalian berdua!" Mereka kemudian segera masuk ke dalam kantin tanpa menyadari keberadaan dua orang yang baru saja dibicarakan.
Sementara Galang dan Clarra tertegun mendengar pembicaraan tersebut.
"Apa itu barusan?" Pria itu bergumam, kemudian dia mempercepat langkahnya, namun Clarra segera menahannya.
"Kenapa?"
"Mungkin kita sebaiknya nggak makan di kantin." Clarra berucap.
"Kenapa?"
"Aku malas mendengar hal seperti itu."
"Aku juga, makanya harus diluruskan." Pria itu bermaksud meneruskan langkah.
"Tidak usah. Lagi pula apanya yang harus diluruskan?" Clarra kembali menahan tangannya.
Galang menatapnya sebentar.
"Ayo kita pergi ke tempat lain?" pinta Clarra.
Galang menghembuskan napasnya pelan, lalu dia menggelengkan kepala. Dia tahu percakapan tersebut membuat perempuan itu merasa tak nyaman.
"Kita makan di kantin saja." katanya, yang memindahkan genggaman tangan Clarra.Â
Dia menakutkan jari-jari mereka, kemudian menariknya ke arah kantin. Dan Galang tak melepaskannya sama sekali ketika mereka berjalan memasuki tempat tersebut, melewati beberapa orang yang masih memilih menghabiskan istirahat makan siangnya di sana.
Tentu saja hal tersebut menyita perhatian sebagian karyawan yang sudah lebih dulu berada di sana, termasuk beberapa orang yang baru saja membicarakan mereka.
"Lang." Clarra berusaha menarik tangannya. Dia merasa ternyaman dengan hal tersebut.
"Apa?" Galang menoleh.
"Lepas …."
"Biar aku luruskan di sini." Mereka menghentikan langkah sejenak, lalu pria itu memutar tubuh sehingga mereka berhadapan.
"Bukankah kita memang ada hubungan? Dan mereka menyebutnya dengan pacaran. Lalu di mana masalahnya?" ucap pria itu.
"Kita memang pacaran kan? Apa yang dipermasalahkan? Karena kamu lebih tua dari aku? Bukan masalah bagiku." Galang menggeleng pelan.
"Aku tidak memandang umur sebagai sebuah patokan, dan tidak ada salahnya juga dengan perbedaan itu. Memangnya salah kalau laki-laki lebih muda dari kekasihnya? Kalau ada orang yang merasa bermasalah dengan perbedaan umur dalam sebuah hubungan, aku rasa itu bukan masalah kita, tapi masalah mereka sendiri. Jadi kenapa harus diambil pusing?"
Clarra hampir membuka mulutnya untuk berbicara.
"Aku yang memilihmu, lantas mengapa mereka yang merasa bermasalah?" Galang berbalik, lalu meneruskan langkah ke arah kursi yang setiap hari mereka duduki. Dengan tetap menggenggam tangan Clarra.
Dia bahkan menunjukkannya, sehingga mereka yang berada di ruangan itu dapat melihatnya dengan jelas. Tak terkecuali tiga perempuan yang tadi membicarakannya di lorong.
Dan Galang memberikan tatapan intimidasi kepada mereka, yang membuat ketiganya tampak mengkeret di kursinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Selamat sore, selamat datang di Amara's …." Nania memutar tubuh ketika mendengar lonceng diatas pintu yang berbunyi setiap kali tamu baru masuk. Seraya membawa nampan berisi dua gelas jus milik pengunjung. Hari itu dia bertugas di depan untuk menerima pesanan.
Yang tanpa disadarinya keberadaan seseorang dibelakangnya. Sehingga tanpa terduga mereka bertabrakan dan menyebabkan minuman yang dibawanya tumpah mengenai orang itu.
"Wow wow wow! Hati-hati!" Daryl setengah berteriak seraya melepaskan kaca mata hitamnya.
"Duh? Maaf Pak maaf." Nania tentu saja merasa terkejut.
Lalu dia tertegun saat menyadari pakaian pria itu yang basah kuyup terkena tumpahan minuman yang dibawanya.
"Astaga! Maaf!" Dia segera menarik kain lap dari saku afronnya, kemudian mengusapkannya ke stelah jas Daryl.
Namun hal itu tak menyelesaikan masalah, malah menambah noda pada kain tersebut.
"Ya Tuhan! Bagaimana ini?" Dia terus saja mengusap-ngusap kain tersebut.
Daryl tampak gusar. Dia mengetatkan rahang dan memejamkan mata, kemudian menepis tangan gadis itu.
"Maaf Pak, saya nggak sengaja." ucap Nania.
"Ada apa sih?"Amara muncul dari balik pantry untuk melihat keributan yang terjadi.
"Maaf Pak, maaf." Nania masih berusaha membersihkan pakaiana Daryl.
"Stop, stop! Are you crazy?" Pria itu setengah berteriak.
"Ma-maaf." Nania berhenti melakukan hal tersebut, lalu mundur dua langkah ke belakang.
"Ardi, bikin lagi minuman barusan. Nindi, bersihin bekasnya ini." Amara menujuk bekas kekacauan yang diciptakan oleh salah satu pegawainya itu.
"Kakak, bersihin diatas gih." Lalu dia beralih kepada Daryl.
"Ck! Aku ada kencan sebentar lagi tahu? Kamu akan membuatku terlambat!" Pria itu menggerutu. Dengan pandangan kesal kepada pelayan kedai tersebut.
"Iya, iya. Bersihin diatas. Terus telfon orang rumah untuk nganterin baju yang baru. Nggak usah ribet deh?" ucap Amara.
"Haahhh! Stranaya devushka!" Dia berlalu sambil mengomel denga bahasa yang tidak mereka mengerti.
"Maaf Kak, aku nggak sengaja. Aku nggak tahu kalau Pak Daryl ada di belakang aku." Nania dengan raut takut-takut.
"Udah, nggak apa-apa. Sekarang balik kerja, bantuin Nindi beresin semuanya. Habis itu kamu antar lagi minumannya." jawab Amara yang hendak kembali ke dalam ruang masaknya.
"Iya kak." Nania menurut.
"Nania?"
"Ya kak?"
"Itu ada orangnya Kak Daryl di depan nganter baju. Kamu tolong ambil terus antar ke atas ya?" Amara dengan ponsel menempel di telinga.
"Oo iya Kak." Sang pegawai segera melakukan apa yang dia perintahkan.
"Ini Kak, udah. Tapi orang itunya langsung pergi." Nania kembali setelah beberapa saat. Menenteng dua setelan jas yang dibawakan oleh pegawai dari kediaman Nikolai.
"Iya udah, kamu antar sekalian ke atas." Amara menjawab.
"Aku Kak?"
"Iya siapa lagi? Aku lagi bikin pesanan."
"Umm … oke." gadis itu kemudian bergegas naik ke lantai atas di mana kamar Amara berada.
"Ya, masuk." Daryl menjawab dari dalam.
Gadis itu ragu. Dan takut juga, mengingat kejadian sebelumnya yang membuat pria di dalam sana sepertinya marah kepadanya.
"Maaf Pak, ini bajunya." Nania menyodorkannya dari balik pintu. Dia tak berani masuk karena merasa ruangan itu adalah tempat pribadi.
Lalu terdengar Daryl yang berdecak dari dalam sana.
"Kamu ini nggak tahu sopan santun ya?" Pria itu menarik pintu dengan keras hingga terbuka lebar.
"Kalau disuruh itu kerjakan yang betul. Jangan begini!" katanya dengan ketus.
"Mmm …." Nania membeku di tempatnya.
Pemandangan ini membuatnya tak bisa berkata apa-apa selain menggumam. Melihat pria tinggi di depannya yang tak mengenakan atasan membuatnya kehilangan kata-kata.
"Hey, stranaya!" Daryl menjentikkan jarinya, membuat Nania tersadar dari lamunannya.
"Mm … maaf Pak." Lalu dia segera memberikan pakaian yang dibawanya, kemudian segera mundur dan kembali ke lantai bawah.
"Huh, gadis aneh dan menyebalkan!" gerutu Daryl yang kemudian segera berpakaian.
***
"Kenapa Kakak cemberut begitu?" Amara melihat raut wajah pria yang baru saja turun dari lantai atas setelah kurang lebih setengah jam berada di sana.
"Mana gadis itu?" Daryl hampir saja menerobos pantry jika Amara tak menahannya.
"Ada apa?"
"Aku harus membuat perhitungan dengannya."
"Memagnya kenapa?"
"Mana dia? Kenapa tidak ada? Kabur ya?"
"Tunggu, ada apa?"
"Gara-gara dia kencanku gagal!"
"Apa? Kencan?"
"Sore ini, sepulang kerja aku ada janji kencan dengan seseorang. Tapi gagal karena terlambat datang. Gara-gara pegawaimu!"
"Kencan sama siapa?" Amara bertanya.
"Dengan seseorang.."
"Aku kenal?"
Daryl menghelengkan kepala.
"Terus gimana?"
"Ya gagal. Apa lagi? Gara-gara dia menumpahkan minuman kepadaku, membuat aku terlambat menemuinya. Dan dia marah."
__ADS_1
"Astaga! Hahaha … itu kan nggak sengaja." Amara tertawa.
"Tetap saja!" Daryl mendelik.
"Duduk sana, aku bikinin minum."
"Awas saja, nanti aku buat perhitungan dengan dia!" Pria itu masih mengggerutu.
Bahkan sampai Amara kembali dengan minuman dingin untuknya, Daryl masih misuh-misuh.
"Udah, ih jangan ngambekan. Udah dewasa juga?" Amara duduk di seberangnya.
"Habisnya ini menyebalkan. Susah payah aku mengajak gadis ini kencan, tapi setelah dia mau malah gagal gara-gara karyawanmu itu."
"Iya iya tahu, aku minta maaf."
"Kenapa kamu minta maaf? Yang salah dia. Siapa tadi namanya?"
"Nania."
"Ya, dia. Nania. Ugh! Menyebalkan."
Amara tersenyum.
"Sekarang kemana dia? Kabur ya? Takut kepadaku?" Daryl menyesap minuman yang dibawakan Amara untuknya.
"Dia pulang." Gadis itu menjawab.
"Huh, pasti dia takut. Makanya pulang. Mau kabur ya? Besok aku pasti kesini untuk membuat perhitungan. Lihat saja."
"Jangan gitu, jelek. Lagian dia nggak sengaja. Cuma ketumpahan minuman, nggak usah dibesar-besarkan lah. Masukin ke laundry juga bersih lagi."
Daryl tampak mendengus.
"Dia tadi minta minta maaf lagi, sebelum akhirnya harus pulang karena ada panggilan dari rumah. Ayahnya masuk rumah sakit."
Daryl mendongak.
"Biasanya dia kerja dengan baik. Tapi hari ini Nania lebih banyak melamun. Makanya aku suruh dia bertugas di depan aja."
"Ya kalau bekerja seharusnya nggak boleh seperti itu." Pria itu menjawab.
"Kita nggak tahu keadaan orang lain kayak gimana, hanya karena dia kelihatan baik-baik aja. Nania memang pernah bilang kalau ayahnya lagi sakit. Mungkin itu yang bikin dia agak melamun akhir-akhir ini."
"Umm …
"Udah lah, jangan membesar-besarkan masalah. Cuma baju sama gagal kencan doang, kenapa bisa bikin kakak bertindak buruk sama orang lain?"
Daryl terdiam.
"Dia cantik?"
"Kalau nggak cantik aku nggak akan ngajak dia kencan." Daryl menjawab.
"Siapa? Model? Artis sinetron?"
"Brand Ambasador produknya Mama."
"Wow, pantes Kakak kesal karena gagal kencan sama dia." Gadis itu tertawa.
"Makanya. Mau mendekati dia susah tahu?" adu Daryl kepadanya.
"Masa seganteng ini susah deketin cewek? Kayaknya mustahil deh?" Amara menyentuh lengan pria di depannya.
"Bukan perempuannya yang susah aku dekati."
"Terus apa?"
"Hatiku yang susah beralih kepada orang lain." Daryl balas meremat tangannya.
"Ish!! Gagal move on?"
Pria itu menganggukkan kepala, sementara Amara tertawa karenanya.
"Kalau jodoh nggak akan kemana." Amara kemudian menggengam tangan Daryl dengan berat.
"Berarti kesempatan untuk kita ada?"
"Haih, bukan itu maksud aku."
"Terus apa?"
"Maksudnya, kalau kakak jodoh sama modelnya Mama, pasti nanti bisa ketemu lagi."
"Hmmm … cara menghiburmu itu nggak menyenangkan."
"Kenapa? Tadi kakak marah-marah karena gagal kencan sama dia."
Daryl mencebikkan mulutnya.
"Udah, ganteng-ganteng jangan ngambekan. Nanti nggak ada cewek yang mau dekat."
"Kalau dia nggak mau ya cari lagi. Masih banyak model, artis dan selebritis diluar sana yang pasti akan suka sama Kakak."
Daryl memutar bola mata.
"Masa seorang Nikolai kaya gitu?" Amara terkekeh lagi.
"Nggak ada hubungannya sama nama keluarga tahu?"
"Ya ada lah. Keluarga Nikolai tangguh-tangguh. Nggak mungkin menyerah karena satu masalah. Apa lagi cuma masalah percintaan."
Daryl tertawa pelan.
"Udah, nanti kita cari cewek yang lebih seksi dari modelnya Mama." Amara pun tertawa lagi.
Mereka sama-sama tertawa sementara sepasang mata di seberang sana menatap sendu. Sama seperti hari-hari sebelumnya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
jiah, ... masih aja nguntit. 🤣🤣🤣
__ADS_1
ayo ayo like komen sama hadiahnya dikirim lagi. Kita lihat setelah ini ada apa lagi.