
🌺
🌺
Amara memutuskan untuk pergi begitu mendapat jawaban dari sekuriti jika Galang sudah keluar dari gedung Nikolai Grup sejak beberapa saat yang lalu.
Dia lantas memacu Pajero Sport putih miliknya membelah jalanan kota pada hampir petang di akhir minggu itu.
Jalanan tentu saja padat karena semua orang baru saja mengakhiri hari kerjanya, dan sebagian dari mereka menikmati waktu libur akhir minggu mulai sore itu.
Amara ingin segera tiba di rumah, dia merasa begitu lelah setelah seharian menata ruangan dari kedai yang akan menjadi tempatnya memulai usaha.
Dia memutuskan mengambil jalan pintas yang diingatnya sering dilalui baik Arfan maupun Dygta ketika menjemputnya di sekolah dulu, saat masih kecil.
Sebuah jalan pemukiman menengah yang cukup besar dan kebetulan tidak terlalu padat.
Amara mengendarai mesin beroda empatnya dengan santai sebelum akhirnya melewati sebuah rumah besar di pinggir jalan. Dan sosok yang begitu dia kenal berada di sana.
Gadis itu memelankan laju mobilnya untuk memastikan, kemudian dia berhenti. Dan ya, itu memang orang yang sangat dia kenal.
Motor besarnya yang dia ingat dibeli bersamanya di sebuah dealer kenalan Arfan, terparkir di depan teras. Dan mereka sedang bercakap-cakap.
Dokter Fahmi, yang Amara kenali sebagai ipar sepupu dari Satria, juga tentunya Clarra. Mereka tampak akrab, dan Galang bahkan berbicara sambil tertawa dengan pria paruh baya pemilik rumah.
Dan jangan lupakan juga, sikapnya kepada Clarra, dan perempuan itu yang bertingkah berbeda. Dia tahu, dan faham dengan sikap seperti itu.
Dan untuk beberapa saat Amara berada di sana untuk menyimak adegan tersebut dengan pikiran yang menerka-nerka.
Tentu saja dia meminta waktu, apalagi tidak membuka blokirannya di media sosial. Mungkin saja ini yang menjadi penyebabnya, dan dia tidak sadar.
"Tidak, tidak!" Amara menggelengkan kepala.
Tapi … dua tahun itu lama, dan orang bisa berubah seiring waktu.
Dia ingat kata-kata sang ayah.
"Papa pasti tahu sesuatu tentang ini. Mungkin maksudnya …." Dia bermonolog.
Bersamaan dengan itu, galang melajukan motornya keluar dari halaman rumah dokter Fahmi diikuti lambaian dan senyuman manis dari Clarra.
"Kak Galang, apa ini penyebabnya?" gumamnya dengan hati ngilu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Galang memacu Kawasaki Ninja hijaunya keluar dari area apartemen. Bermaksud untuk pulang ke Bandung seperti yang selalu dia lakukan di setiap akhir minggu.
Malam telah merangkak naik, dan pria itu memang memilih berkendara di malam hari untuk menghindari kemacetan dan cuaca panas di perjalanan pulangnya.
Motornya berhenti di depan lampu merah yang menyala, disamping sebuah mobil berwarna putih yang sepertinya dia kenali?
Pria itu membuka kaca helmnya, dan benar saja seperti dugaannya, bahwa kendaraan roda empat itu milik Amara.
Si pemilik tampak fokus pada menatap ke depan, entah ke jalanan yang ramai atau lampu lalu lintas yang warnanya berubah-ubah. Dia sepertinya melamun?
Lalu Galang memutuskan untuk mengetuk kacanya yang tertutup rapat.
Amara tampak terkejut, seseorang mengetuk kaca mobilnya di saat dirinya sedang melamun tentu saja membuatnya gelagapan.
Dia menoleh sambil mengerutkan dahi, mendapati seorang pria di atas motor besar menggerakkan tangannya.
"Ya?" Gadis itu membuka kaca.
"Ikuti aku!" Galang berteriak.
"Apa?"
Pria itu melepaskan helmnya sejenak sehingga Amara bisa mengenalinya.
"Nanti ikuti aku." ulang Galang yang membuat Amara semakin tertegun saja.
"Lampunya sudah hijau Ra!" teriak pria itu lagi ketika kendaraan di depan mulai bergerak.
Dia tetap melajukan motornya di samping mobil Amara, dan menggiringnya ke suatu tempat. Dan tak ada yang Amara lakukan selain mengikuti arahan Galang, meski hatinya terus berdenyut nyeri. Tapi mungkin hal ini harus di selesaikan sekarang juga.
Mereka masuk ke kawasan pantai setelah berkendara cukup lama. Area itu sudah sepi, tentu saja karena malam memang telah larut. Kecuali kafe pinggir pantai yang masih buka, dan menjadi satu-satunya tempat ramai oleh pengunjung.
Keduanya berhenti tak jauh dari kafe, dan Galang segera turun dari motornya seraya melepaskan helm. Sementara Amara masih diam di dalam mobil.
Pria itu kembali mengetuk kaca mobil Amara yang kemudian terbuka perlahan.
"Aku mau bicara." katanya, begitu wajah gadis itu terlihat jelas. Matanya tampak sembab, mungkin dia baru saja menangis.
"Turunlah, kita bicara di luar." ucapnya, sambil membukakan pintu bagi Amara.
Mereka sama-sama diam untuk beberapa saat. Menatap kegelapan malam yang menaungi pantai di anjungan hanya dengan penerangan dari untaian lampu kecil yang dipasang dari tiang ke tiang.
"Ara, aku …." Galang memberanikan diri untuk memulai percakapan.
Amara bergeming.
"Kamu dari mana malam-malam begini?"
"Jalan-jalan."
"Sendirian?"
Amara mengangguk.
"Kenapa?"
"Aku harus menenangkan pikiran." jawab Amara, datar.
"Ra, maafkan aku karena …."
"Kakak dengan Kak Clarra?" Gadis itu langsung bertanya.
__ADS_1
Wajah Galang memucat.
"Ap-apa?"
"Kakak sudah dengan Kak Clarra?"
Pria itu terdiam dengan mulut sedikit menganga.
"Aku tanya, Kakak sudah berhubungan dengan Kak Clarra?" Amara mengulang pertanyaannya.
"Bagaimana kamu tahu?" Galang menjawab dengan rasa terkejut.
"Jadi benar?"
"Bagaimana kamu tahu? Kamu menyelidiki aku?" Pria itu meraih lengan Amara, kemudian mencengkeramnya dengan kuat.
"Aku nggak ada niat untuk menyelidiki Kakak, aku hanya … melihatnya begitu saja." Dia meringis saat rematan Galang mengencang di lengannya.
"Kamu mengikuti aku?"
Gadis itu menggelengkan kepala.
"Aku cuma nggak sengaja lewat di depan rumah Kak Clarra waktu mau pulang. Dan b*gonya aku milih jalan itu karena macet. Jadinya aku lihat Kakak ada di sana." Amara terkekeh getir.
Dahi Galang berkerut tajam.
"Jadi benar?" Amara menatap wajah pria itu dengan perasaan perih.
"Aku hanya ingin …."
"Jawab saja, benar atau tidak?" Gadis itu maninggikan suaranya.
Sementara Galang mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Jawab aja kenapa sih? Jadi aku nggak akan berharap lagi sama Kakak!"Â
Bibir Galang bergetar.
"Benar." Dan kata itu keluar juga dari mulutnya.
Amara mengangguk-anggukkan kepala.
"Oke." katanya, seraya melepaskan cengkraman Galang dari lengannya.
"Terima kasih." Dia bermaksud pergi.
"Ra." Galang kembali menarik lengannya untuk menghentikannya.
Amara menepis tangan pria itu untuk menghindar, namun gagal. Galang malah berhasil meraihnya dan menariknya agar kembali ke tempatnya berdiri.
"Dengarkan aku dulu!"
"Apa lagi? Udah jelas kan? Apa yang harus aku denger? Penjelasan apa pun nggak akan merubah keadaan kalau Kakak udah sama orang lain. Aku bisa apa?"
"Bicara soal apa?"
Pria itu menatap wajah Amara yang sendu.
"Aku pulang, dengan semangat karena punya tujuan. Sehingga membatalkan semua rencanaku semula di Paris. Kakak mau tahu apa tujuanku?"
Galang bungkam.
"Kakak." Suaranya tercekat.
"Aku mengerti kenapa Kakak bersikeras masuk Nikolai Grup. Aku mengerti kenapa Kakak tetap bekerja di sana. Dan aku juga mengerti apa yang membuat Kakak berusaha keras mendapatkan pekerjaan itu. Bukan soal mimpi atau cita-cita. Tapi ada hal lebih besar yang harus Kakak perjuangkan. Dan aku terlambat menyadarinya. Kenapa butuh waktu begitu lama untuk aku menyadari semua itu." Kedua mata gadis itu mulai terasa panas dan berkaca-kaca.
"Aku minta maaf." Lalu buliran bening meluncur dari sudut matanya.
"Aku yang salah. Menganggap semua yang aku pikirkan adalah benar, dan mengira semua yang aku inginkan harus dituruti."
"Aku salah."
"Aku juga tidak menganggap ucapan dan perasaan Kakak sebagai hal yang harus dihargai. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku minta maaf."
Galang hanya terdiam.
"Beruntung Piere selalu menasehatiku. Dia menjelaskan segala hal dengan gamblang sehingga aku mengerti." Amara terkekeh lagi.
"Kenapa juga harus dia yang membuatku mengerti, kenapa bukan ucapan Kakak?"
Raut wajah Galang berubah mendengar gadis itu menyebut nama Piere, dan bayangannya kembali pada kejadian beberapa minggu yang lalu ketika dirinya melihat mereka berpelukan di belakang hotel.
Rahangnya mengeras dan giginya bergemeletuk.
"Kamu tahu, tidak ada janji di antara kita untuk saling menunggu. Kamu yang meninggalkan aku selama itu tanpa sekalipun mengabari."
"Aku tahu, dan aku salah."
"Lalu tiba-tiba kamu datang tanpa merasa berdosa, kemudian meminta kita untuk kembali."
"Ya, aku ingin …."
"Kamu anggap apa aku ini?" Galang berteriak. Dan ini pertama kalinya sejak mereka saling mengenal pria itu berbuat demikian.
"Aku ini punya hati, dan tidak terbuat dari barang yang bisa di daur ulang sehingga bisa kembali seperti semula. Dan kamu, dengan gampangnya berbicara seolah-olah aku ini bukan manusia."
Pundak Amara bergetar menahan tangis. Tidak ada yang pernah membentaknya seperti itu, bahkan ayahnya yang mangasuhnya sejak bayi tidak pernah bicara dengan nada menyakitkan seperti pria di depannya.
"Aku tidak menghianatimu. Kita sudah putus dua tahun yang lalu. Kamu yang pergi dan memilih untuk membiarkan aku berjuang sendirian padahal aku sedang memantaskan diri agar tidak merasa rendah di depan Papamu."
Amara menyeka buliran bening yang meluncur bebas di pipinya.
Bagian itu dia benar. Batinnya.
"Kita bahkan tidak punya janji apa-apa, jadi apakah aku salah kalau memutuskan untuk memilih orang lain?"
__ADS_1
Amara menjawab dengan gelengan.
"Jadi aku tidak salah kan memilih untuk bersama Clarra?"
Kemudian Amara mengangguk.
"Lalu di mana masalahnya?"
"Aku pikir apa yang kita lakukan di lift hotel ada artinya untuk Kakak." Amara dengan suara parau.
"Aku pikir itu …."
"Aku hanya terbawa suasana. Aku begitu senang menemukanmu sehingga membuatku tidak sadar dan bertindak begitu." Galang menjawab dengan tegas
"Apa?"
"Kalau aku tahu kamu sudah bersama orang lain, tidak mungkin aku melakukannya."
Amara mengerutkan dahi.
"Pria itu yang mungkin sudah menemanimu selama di sana, dan menjadi tempatmu mengungkapkan perasaan sehingga tidak lagi membutuhkan aku."
"Maksud Kakak?"
"Lalu apa artinya aku dibandingkan dia yang kamu peluk di taman belakang hotel?"
"Jadi waktu itu Kakak benar-benar datang?"
"Ya."
"Kenapa Kakak nggak menemui aku? Padahal aku udah nunggu Kakak sejak pagi."
"Untuk apa? Untuk melihatmu bermesraan dengan pacarmu?"
"Pacar?"
"Dengan melihat kalian berpelukan dan tertawa saja sudah membuatku merasa cukup. Harapan itu tidak ada lagi, Ara. Padahal aku menunggumu dengan sabar selama dua tahun tapi apa? Kamu menyia-nyiakan waktu yang sudah aku buang."
Amara mengingat kejadian terakhir yang dialaminya di Paris.
"Maksud Kakak Piere?"
"Hah, aku tidak perlu mengetahui namanya." Galang mundur dua langkah.Â
"Kakak mengira aku dan Piere …."
"Tidak usah dijelaskan. Aku tidak butuh penjelasan." katanya, dengan tatapan mengejek.
"Tapi Kak, Piere itu teman aku."
"Yeah, benar. Teman untuk mengisi kesepian. Dan untuk bermesraan."
Amara melesat dengan cepat dan tanpa di duga melayangkan tamparan pada wajah Galang.
"Jaga mulut Kakak ya!"
Pria itu membeku. Tamparan keras Amara membuatnya mati kutu.
"Aku, dua tahun di Paris itu belajar. Mengasah kemampuan dan menambah ilmu. Dan Kakak tahu, aku juga mendapatkan pengalaman yang cukup berarti. Dari teman-temanku, terutama Piere."
"Dan kalau pikiran Kakak saat ini buruk kepadaku, itu bukan salahku. Tapi hanya Kakak yang suka membuat kesimpulan sendiri tanpa mencari tahu kebenarannya."
Galang mengatupkan mulutnya rapat-rapat sambil merasakan wajahnya yang tarasa panas dan perih.
"Yang Kakak lihat di belakang hotel waktu aku berpelukan dengan Piere itu Kakak anggap sebagai bermesraan?" Napas Amara menderu-deru.
"Itu kami sedang merayakan kelulusan."
Pria itu menahan napasnya untuk beberapa detik.
"Aku hanya merasa senang karena kami lulus dengan nilai terbaik. Yang artinya kami punya kesempatan lebih bagus untuk mendapatkan peluang bekerja di tempat paling berkelas. Terutama untuk Piere. Dia nggak harus menghabiskan waktu untuk bekerja dengan gaji yang sangat kecil. Dia akan bisa menghidupi ayahnya yang sudah tua dan pengangguran. Dan membuktikan kepada ibunya jika dia salah karena telah meninggalkan mereka."
Galang mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya seperti dihantam godam raksasa, yang seolah membangunkannya dari ketidak sadaran.
"Kami merayakan kelulusan, bukan bermesraan." ulang Amara, kemudian dia mundur.
"Selamat, Kakak mendapatkan pengganti yang lebih baik dari aku. Semoga kalian bahagia." katanya, lalu dia berlari ke arah mobilnya.
"Ara!" Galang segera mengejarnya.
"Tunggu!" Lagi-lagi dia menarik Amara untuk tidak pergi.
"Lepaskan!!" Namun Amara berusaha melepaskan cengkeramannya. Rasa marah tentu saja kini mendominasi hatinya setelah dia mendengar semua kalimat yang terlontar dari mulut pria yang paling dicintainya setelah Arfan ayahnys.
"Kita harus bicara lagi Ra, kalau begitu …."
"Nggak usah!" Amara menolak.
"Harus Ra, banyak hal yang …." Lalu tanpa di duga Amara menjejakkan kakinya dengan keras pada tulang kering Galang, sehingga membuatnya membungkuk dan mengaduh kesakitan. Lalu dengan cepat mendorongnya hingga pria itu terjengkang ke belakang dan jatuh diatas pasir.
"Semoga Kakak bahagia!" Ara berteriak, kemudian masuk ke dalam mobilnya, lalu segera tancap gas dari tempat itu.Â
Meninggalkan Galang yang kesakitan dan berusaha bangkit sendirian.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Duh, anaknya kang jahe!!😱😱😱
Mana mana, like komen sama hadiah juga votenya ....
__ADS_1