
🌺
🌺
Clarra berdiri di dekat jendela lantai dua puluh dan menatap pemandangan di bawah dalam diam. Dia menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan, kemudian kembali ke meja tempatnya bertugas.
Perempuan itu duduk dan menempelkan punggungnya pada sandaran kursi, menikmati rasa ngilu yang menyayat-nyayat hati ketika dua sejoli di bawah sana asyik berpelukan bahkan di tempat terbuka.
“Its oke Cla, ini bukan pertama kali kau mengalaminya. Sebelumnya bahkan lebih menyakitkan dari ini. Dan kau beruntung, ini belum berjalan lebih jauh. Kau mengetahui kenyataan yang sebenarnya jauh sebelum kau merasa terlalu nyaman dan terbawa suasana.” Dia bermonolog.
Clarra kemudian terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri yang hampir saja merasa bahwa apa yang di alaminya beberapa minggu belakangan adalah hal yang nyata.
Seharusnya aku tahu, dan mengerti bahwa apa yang pria itu lakukan hanya sebagai pengalihan semata. Dia patah hati, dan butuh seseorang untuk mengisi kekosongan perasaannya. Usianya bahkan terlalu muda untuk aku sukai.
Sekali lagi Clarra menghirup napas dalam-dalam agar mendapatkan lebih banyak oksigen untuk paru-parunya yang terasa kering.
Entah apa, dan bagaimana perasaannya bisa kembali jatuh untuk seseorang, dan mengapa juga harus dia? Mengapa harus Galang, yang mampu mencairkan kebekuan di dalam hatinya dan membuatnya merasa lebih baik setiap kali mereka menghabiskan waktu bersama walau hanya beberapa menit.
Mungkin pembawaannya yang tenang, hangat dan bersahabat membuatnya merasa nyaman dan menaruh kepercayaan untuk membuka diri. Meski pada kenyataannya tetaplah mengecewakan.
Kecewa? Dia bahkan tak memiliki perasaan yang sama sepertimu. Apanya yang harus dibuat kecewa? Hanya kau dan hatimu saja yang merasa kecewa. gumamnya lagi.
“Apa selanjutnya ada jadwal keluar lagi?” Tiba-tiba saja Galang sudah ada di depannya, membuat Clarra terlonjak saking terkejutnya.
“Astaga, Galang!” Perempuan itu setengah berteriak.
“Kamu ini kenapa sih? Melamun ya?” Pria itu malah tertawa.
“Cih, bahagianya ketemu pacar setelah dua tahun berpisah.” cibir Clarra.
“Apaan?”
“Eh, bukannya kalian putus ya? terus kalau misalnya sekarang ketemu lagi, itu artinya kalian jadian lagi dong?” Clarra menegakkan tubuhnya.
“Mmm ….”
“Jadi tidak usah galau lagi Pak, tambatan hatimu sudah pulang, dan kamu harus bahagia karenanya.”
“Ya, harusnya aku bahagia.” Galang menjawab, tapi raut wajahnya tidak sesuai dengan ucapannya.
“Apa itu? Kenapa sih ekspresimu malah begitu?” Clarra menyalakan laptopnya, seraya membuka beberapa laporan yang dia terima dari pegawai di bawah.
Galang terdiam di tempatnya berdiri.
“Aku salah tidak ya, kalau misalnya tidak menanggapi Ara?”
“Maksudmu?” Clarra berusaha fokus pada pekerjaannya.
“Eh, aku lupa kalau ini jam kerja. Tidak seharusnya aku membicarakan urusan pribadi denganmu. Lagi pula tidak seharusnya hal seperti ini aku bicarakan juga dengan orang lain.” Pria itu berujar.
Clarra melirik sekilas.
“Cla?”Â
“Ya?” Dia segera merespon.
“Kerjaanku sekarang apa?” Galang mencondongkan tubuhnya, melihat beberapa dokumen yang ada di meja perempuan itu.
“Membantuku memeriksa semua laporan ini.” Clarra menjawab.
“Banyak sekali?” Pria itu menarik kursi di sisi lainnya.
“Memang.” Sementara Clarra kembali menatap layar laptopnya.
“Ada yang harus aku antarkan kepada Pak Dimitri?” Galang kemudian duduk dikursi yang barusan dia tarik.
“Sejauh ini belum ada, tunggu aku periksa dulu lah.” Clarra menjawab.
“Atau kalau mau lebih cepat, bantu aku sekarang juga, jadi nanti sore bisa kamu serahkan kepada atasanmu. Agar besok dia bisa memberikan keputusan kepada calon-calon penerima proyek ini.”
“Apa pun yang kamu perintahkan, Bu.” Galang menarik satu dokumen dari dekat Clarra, kemudian membukanya seperti perempuan itu.
“Jadi merasa tua kalau aku mendengarmu menyebutku Bu.” Clarra menggumam.
“Masa? Hahaha ….”
“Mentang-mentang kita nggak seumuran.”
“Kamu terlalu sensitif.”
“Orang di usia seperti aku ini memang kadang terlalu sensitif untuk segala hal, jadi jangan macam-macam ya?”
“Macam-macam apanya?” Galang mengerutkan dahi, tapi perhatiannya tidak dia alihkan dari laptop dan dokumen di tangannya.
“Jangan bersikap berlebihan kepadaku.”
“Maksudnya?” Pria itu melirik sekilas.
“Jangan berlagak memberikan perhatian lebih meski itu hanya sebuah kepedulian saja, karena dampaknya akan sangat besar kepadaku.”
Galang menghentikan pekerjaannya sebentar, kemudian menatap wajah perempuan itu.
“Orang rapuh sepertiku akan sangat mudah berharap pada perhatian kecil, makanya aku berusaha menjauhkan semua orang dari batas teritorialku agar aku tidak akan pernah merasa berharap kepada mereka. Kamu tahu alasannya?”
Galang terdiam.
“Karena rasanya menyakitkan ketika tahu jika kenyataan tidak sesuai dengan harapanmu.”
Suasana menjadi terasa cukup hening saat itu.
“Nah kan, aku juga jadi membahas hal pribadi denganmu.” Clarra terkekeh.
“Haih, … kenapa kamu ini suka sekali membuat seseorang merasa bahwa mereka itu sangat penting padahal kenyataannya tidak?” Clarra masih memfokuskan perhatiannya pada layar laptop di depannya. Sementara Galang asyik memperhatikannya.
Ada sesuatu dengan perempuan ini, yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Ketegarannya malah menunjukkan betapa lemahnya dia. Dan semua ketegasannya malah menunjukkan betapa rapuhnya dia. Apalagi setelah dirinya mengetahui banyak hal tentang Clarra yang di awal membuatnya merasa iba karena tahu perempuan itu telah melewati banyak hal menyakitkan selama hidupnya. Dan dirinya menjadi saksi betapa berat tekanan yang dia alami, terutama tekanan pada psikisnya.
Tapi di sinilah uniknya Clarra. Dia menghadapinya dengan tenang dan begitu dewasa. Mungkin di balik layar dia remuk, namun dia tidak pernah menunjukkannya di depan orang lain. Meski harus berpura-pura bahwa dia baik-baik saja, setidaknya dia selalu berusaha sekeras mungkin untuk bertahan kemudian berjuang.
“Kamu tahu Cla, kamu bisa selalu mengatakan apapun kepadaku jika kamu mau, tanpa harus merasa malu atau canggung. Aku akan menjadi pendengar yang baik seandainya kamu memerlukan.” Galang berujar.
“Tidak usah, terima kasih. Aku tidak ingin menjadi terlalu nyaman dan akhirnya membuatku tergantung kepada orang lain.” Clarra tersenyum. “Kamu tahu, karena itu akan membuatku lemah dan lebih rapuh dari sebelumnya. Dan nantinya aku akan hancur dengan mudah.”
Galang merasakan hatinya seperti diremat dengan kuat. Sebagai seorang laki-laki dewasa hatinya memang selembut itu, dan dia tak mampu menolak perasaan serumit ini.
“Apa sikapku selama ini terlalu berlebihan kepadamu?” Akhirnya dia menghentikan pekerjaannya.
“Hum?” Clarra juga menoleh.
“Apa aku telah melakukan kesalahan kepadamu?”
Perempuan itu menatapnya untuk beberapa saat.
“Tidak, hanya saja keadaanku yang seperti ini tidak mampu membedakan mana sikap biasa, hanya berteman, dan mana yang mengandung maksud tertentu.”
“Maksudmu?”
“Sudahlah, jangan bicara terus. Nanti aku malah ngelantur ke mana-mana.” Clarra tertawa sambil mendorong wajah pria itu dengan tangannya.
🌺
🌺
__ADS_1
"Gimana Pah?" Amara duduk di kursi kosong di samping ayahnya.Â
Mereka bertemu di sebuah kawasan perkantoran yang cukup strategis. Terlihat dari ramainya keadaan, apa lagi di jam kerja seperti itu.
"Bagus. Kamu pandai memilih tempat. Dari mana tahu tempat ini?" Arfan melihat-lihat bangunan yang tidak terlalu besar itu.
"Dari sosmed."
"Sepertinya akan ramai di siang hari?"
"Ya, sekitar sini kan kawasan perkantoran."
"Memang. Nikolai Grup hanya beberapa blok dari sini kan?"
"Papa hafal." Amara tersenyum.
"Tentu saja, lebih dari dua puluh tahun Papa bekerja di sini." Pria itu memeriksa keadaan.
"Kalau Papa setuju, bisakah kita sewa tempat ini untuk beberapa bulan dulu?"
"Sewa?" Arfan kembali ke hadapan putrinya.
"Iya."
"Kamu tahu sebelumnya tempat ini dipakai usaha apa?" Pria itu menyelidik.
"Tahu, dulunya bakery, tapi karena kurang laku makanya pemiliknya berhenti dan mau menyewakannya."
"Benar?"
"Beneran. Papa nggak lihat di sini ada kitchen sama semua peralatannya?" Amara berjalan ke sisi lainnya, di mana sebuah area memasak lengkap dengan segala peralatan khusus. Bahkan ada juga oven berukuran besar yang mengisi satu sudut di ujung.
"Hmm … dan kamu akan membuat usaha apa di tempat ini?" Sang ayah bertanya.
"Semacam kafe kecil Pah. Atau kedai gitulah."
"Kenapa tidak dibuat gerai makanan yang punya tema khusus?"
"Nanti aku pikirin lagi, konsepnya masih mentah."
"Pikirkan yang matang Ara. Kamu tidak bisa sembarangan membuka usaha jika rencanamu hanya begitu saja. Karena usaha itu bukan hanya soal modal, tapi juga butuh perencanaan yang sempurna." Arfan berujar.
"Iya Papa."
"Jadi, mau kamu sewa untuk berapa bulan tempat ini?"
"Aku mau coba untuk tiga bulan dulu Pah."
"Kenapa sebentar sekali?"
"Kan kita nggak tahu, gimana kalau ternyata dalam waktu selama itu usahanya sepi dan nggak berkembang?"
"Ya kamu usahakan dong biar ramai. Jangan mengandalkan perkiraan saja, tapi harus kamu bangun dan membuatnya menjadi usaha yang berkembang."
Amara mendengarkan.
"Tempatnya bagus dan strategis, tapi itu tidak bisa menjamin akan ramai atau tidak. Semuanya tergantung seberapa keras usahamu untuk mengembangkannya. Ada tempat yang buka di gang kecil dan tersembunyi. Tapi karena memiliki strategi yang baik dan cara yang bagus untuk promosi, tetap di datangi oleh banyak orang."
"Jadi selain memulai usaha, aku juga harus belajar strategi marketing?"
"Ya. Itu harus."
Gadis itu terdiam.
"Tidak apa, nanti Papa bantu."
"Beneran?"
"Tentu saja."
"Tapi kamu juga harus berusaha. Mempelajari apa saja yang di perlukan. Karena bantuan dari Papa saja tidak cukup."
"Oke, aku ngerti."
"Jadi mau ambil sewa berapa bulan?"
"Tiga bulan dulu Papa."
"Yakin?"
"Yakin."
"Bagaimana kalau ternyata ramai?"
"Ya terusin."
"Kenapa tidak kita beli saja sekalian?"
"Apa?"
"Kan bagus. Mau ramai ataupun sepi, kamu tidak harus memikirkan beban sewa."
"Kan namanya ini aku mulai dari nol Pah. Segini juga rasanya aku agak gimana gitu karena mengandalkan modal dari Papa. Seharusnya aku mengeluarkan modal sendiri kan? Jadi nggak benar-benar dari nol." Amara terkekeh.
"Tidak apa-apa. Selagi Papa mampu, papa akan mempercayakannya kepadamu. Urus segala hal, putar uangnya, dan manfaatkan setiap kesempatan yang ada dengan baik. Tidak semua orang bisa sepertimu."
"Iya, aku tahu."
"Papa harap kamu bisa menjaga kepercayaan Papa, untuk apa pun itu."
Amara menganggukkan kepala.Â
Kemudian mereka keluar dari bangunan tersebut.
"Pah?" Amara menggenggam tangan Arfan dan menautkan jari-jari mereka.
Keduanya berjalan menyusuri trotoar sepanjang kawasan perkantoran tetsebut.
"Hmm?"
"Soal Kak Galang …."
"Apa?" Arfan menoleh kepada putrinya. "Kalian sudah bertemu?" kemudian dia bertanya.
"Udah."
"Kapan?"
"Tadi siang."
"Di mana?"
"Nikolai Grup."
"Kamu datang ke sana?"
"Iya."
"Sudah baikan?"
"Udah juga."
__ADS_1
"Sudah balikan?"
Amara menghentikan langkahnya.
"Sekarang apa?" Pria itu pun melakukan hal yang sama seperti putrinya.
"Papa kok tahu kalau aku ke sana untuk itu?"
"Hanya mengira-ngira." Arfan menjawab.
"Bohong." Amara mendelik.
"Tidak, Papa serius."
"Papa pasti ngawasin aku lagi?" Gadis itu memicingkan mata.
"Tidak Ara …."
"Tapi kok tahu kalau aku punya niat gitu?"
"Ya memangnya apa lagi kalau kamu mau ke sana? Tidak akan ada yang akan kamu cari selain Galang kan?"
"Mm …."
"Tidak mungkin kamu mau menemui Clarra atau Dimitri. Apalagi Andra?"
"Apaan? Papa ngaco!"
"Makanya."
Gadis itu tertawa.
"Jadi bagaimana? Sudah balikan?" Keduanya meneruskan langkah. Berniat menghabiskan waktu hanya berdua saja seperti yang sering mereka lakukan sebelum Amara pergi ke Paris.
"Nggak." Amara menggelengkan kepala.
"Kenapa?" Arfan memiringkan kepala.
"Nggak tahu."
"Kok tidak tahu?"
"Kak Galangnya butuh waktu."
"Butuh waktu untuk apa?"
"Berpikir."
"Berpikir soal apa?"
"Soal hubungan ini."
"Kenapa dia bicara begitu?"
Amara terdiam sebentar.
"Mungkin Kak Galang kaget karena aku tiba-tiba pulang tanpa kabar."
"Hmm … bisa jadi."
"Atau udah ada orang lain ya?" Amara kembali berhenti.
"Eh, tapi nggak mungkin." Gadis itu terkekeh. "Masa waktu itu …." Kedua pipinya merona saat mengingat kejadian di hotel tempatnya bekerja di kota Paris.
"Apa?" Arfan bereaksi.
"Umm … nggak. Hehe …." kemudian mereka meneruskan langkah.
"Kalau misalnya aku balikan lagi sama Kak Galang, gimana?" Amara kembali berbicara.
"Tidak bagaimana-bagaimana." Arfan menjawab.
"Boleh?"
"Apa Papa bisa melarangmu?" Arfan membalikkan pertanyaan.
"Nggak juga sih sebenarnya, hahaha."
"Makanya."
"Jadi nggak apa-apa?"
"Terserah kamu."
"Tapi feeling aku nggak enak nih."
"Kenapa?"
"Kak Galang agak berbeda."
"Maksudnya beda?"
"Ya kayak yang aku bilang tadi. Dia minta waktu."
"Ya berikanlah dia waktu."
"Menurut Papa begitu?"
"Iya, seperti katamu tadi. Mungkin dia sedikit terkejut karena kepulanganmu yang tiba-tiba?"
"Mm …."
"Kamu tidak bisa meninggalkan seseorang dengan mudah, lalu kembali begitu saja tanpa basa-basi. Bisa saja dia sudah punya kehidupan yang berbeda dari sejak kamu tinggalkan, atau mungkin ada hal lainnya."
"Papa tahu sesuatu?"
"Tidak juga, Papa hanya memperkirakan. Dua tahun itu lama Ara."
"Hmm … Papa bener. Orang bisa aja berubah dalam waktu selama itu ya?"
"Kamu mengerti rupanya?"
"Tapi gimana kalau bener?" Amara mendongak.
"Apanya?"
"Kak Galang udah berubah?"
"Ya tidak apa-apa. Memangnya kenapa?" Pria itu menatap wajah sang putri.
"Iya ya, memangnya kenapa?" Gadis itu tertawa, meski hatinya terasa sedikit ngilu.
"Umm … ayo kita mampir dulu ke sana?" Amara menunjuk sebuah kedai di ujung jalan.Â
"Kayaknya tempatnya bagus?" Dia menarik Arfan menyeberangi jalan yang cukup ramai pada sore itu.
"Kita udah lama nggak makan berdua." katanya, dan setengah berlari menuju tempat tersebut.
🌺
🌺
__ADS_1
🌺
Bersambung ...