
🌺
🌺
"Astaga Tuhan!" Nania mengusap wajahnya dengan keras untuk mengenyahkan ingatannya tentang kejadian beberapa saat yang lalu.
Ketika dirinya dengan langkah yang ringan dan senang hati berjalan menuju kamar rawat Amara seperti biasanya. Menenteng sebuah tote bag berisi makanan yang dipesan oleh pemilik kedai tempatnya bekerja hampir tiga bulan belakangan itu.
Dia berhenti di depan pintu yang tertutup rapat, dan dengan cepat mengetuknya untuk mencari tahu apakah ada orang di dalam sana?
Jam memang sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam dan keadaan sudah sepi. Menandakan tidak ada lagi aktifitas di area itu.
Sekali lagi Nania mengetuk pintu namun tetap tak ada jawaban. Sehingga membuatnya memberanikan diri untuk menekan handle dan mendorongnya secara perlahan. Takut kalau si penghuninya sudah tertidur pulas.
Dan apa yang ditangkap oleh matanya adalah hal yang tidak terduga. Ketika dua sejoli yang dia ketahui statusnys baru dua hari sebagai suami istri itu tengah asyik bercumbu mesra.Â
Galang bahkan tampak dominan menguasai Amara yang sebagian tubuhnya mengalami cedera parah karena kecelakaan hampir satu bulan yang lalu.
Dia menindihnya dan menyentuh tubuh Amara yang tampak tak berdaya. Entah sedang menikmati atau memilih pasrah saja karena keadaan.
Yang membuat Nania segera mengurungkan niatnya untuk memberikan pesanan secara langsung, dan segera kabur setelah menggantungkan tote bag tersebut pada handle pintu.
"Ah sial!" Dia menendang apa pun yang ada dijalan yang tengah dilaluinya malam itu.
Lalu Nania berhenti. Dia tertegun sebentar, kemudian berjongkok sambil meremat kepalanya sendiri.
"Tuhan, aku kan nggak sengaja. Tolong bersihkan lagi otakku!" gumamnya.
Sementara di sisi lain jalan, sebuah mobil mengkilat tiba-tiba saja berhenti ketika si pengemudi melihat sosok yang dia kenal tampak frustasi.
Dan hal itu membuatnya memutuskan untuk benar-benar berhenti dan turun dari mesin beroda empatnya.
"Hey, kenapa kamu masih ada di jalan selarut ini?" katanya, yang segera menghampiri Nania.
Gadis itu mendongak dan menemukan pria tinggi bersetelan jas yang sudah tidak rapi berdiri menjulang di depannya. Membuatnya menghembuskan napas keras.
"Kenapa sih saya harus selalu ketemu Bapak? Nggak di kedai, nggak di jalan? Ketemuuuuuu terus." ucap Nania dengan kesal.
"Nggak sopan. Aku tanya apa kamu jawabnya apa. Malah balik bertanya lagi?" Daryl bereaksi.
"Habisnya kita ketemu terus sih? Saya kan jadi kesel. Perasaan Jakarta ini luas deh, tapi kita ketemu lagi ketemu lagi. Padahal di kedai aja kayaknya udah cukup?" Gadis itu berujar.
"Memangnya aku sengaja ingin menemuimu? Tidak Nona. Hanya karena jalan ini adalah jalan yang setiap hari aku lewati ketika pulang bekerja, bukan berarti aku punya niat seperti yang ada di otakmu ya?"
Nania mencebik.
"Kamu sendiri, masih berkeliaran di jalan. Padahal ini bukan jalan yang seharusnya kamu lewati saat pulang. Bukankah seharusnya kamu melewati jalan lain? Kenapa juga malah ada di jalan ini? Mencurigakan." Daryl memicingkan mata.
"Maksud Bapak?" Nania pun bangkit.
"Jangan-jangan kamu mengikuti aku ya? Makanya kita sering ketemu. Are you a stalker?" Pria itu tertawa. Dia merasa geli dengan pemikirannya sendiri.
Stalker? Yang benar saja!
__ADS_1
"Kegeeran!" Nania menggeram. "Yang ada juga Bapak!" sergah Nania dengan kilat kekesalan di matanya.
"What?"
"Di kedai selalu ada, dijalan ketemu, terus di sini juga. Curiga Bapak ini predator."
"Apa katamu?"
"Bapak ganteng oke, kaya juga oke. Tapi maaf, Bapak nggak akan bisa menjebak saya. Terlalu mudah ditebak alur Bapak ini."
"What are you talking about? Do you think that i want to do something to you?"
"Jelas kok. Bapak kayak yang mau nerkam saya. Kemana-mana ngikutin terus."
Daryl terdiam dengan mulut menganga. Seumur-umur baru kali ini ada yang berbicara seperti itu kepadanya. Dan orangnya bahkan tidak selevel dengannya. Tapi gadis ini memiliki nyali yang cukup besar sehingga mampu berbuat begitu.
"You!" Daryl mengacungkan telunjuknya kepada Nania.
"Apaan sih Pak nunjuk-nunjuk?" Gadis itu maju kemudian menepis tangan Daryl yang menunjuk ke arahnya. Lalu dia melewatinya dan melanjutkan perjalanan.
"Hey, anak SMP! Aku masih belum selesai bicara." Daryl memutar tubuh.
Nania pun berhenti kemudian dia melakukan hal yang sama.
"Anak SMP anak SMP. Saya ini punya nama. Nama saya Nania. Na-ni-a. Nania. Pemberian ayah saya, yang dia sanjung-sanjung setiap hari seolah saya ini ratu. Dan Bapak, orang yang nggak kenal sama sekali seenaknya aja manggil saya gitu. Ingat Pak, nama saya Nania. Dan saya ada di jalan ini cuma karena baru aja nganter makanan untuk Kak Ara." ucap gadis itu yang menunjuk gedung rumah sakit yang masih terlihat dari tempatnya berdiri.
Dia kemudian segera meninggalkan Daryl ketika muncul sebuah motor yang pengemudinya mengaku berasal dari sebuah aplikasi ojek online yang dia pesan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Yakin Pak. Saya rasa ini yang terbaik."
"Fasilitas di sini juga bagus. Dan pelayanan mereka selama Ara dirawat juga sangat baik."
"Iya Pak."
"Terus kenapa mau pindah ke sana?"
"Tidak apa-apa, hanya agar lebih dekat dan saya tidak harus terlalu memutar kalau ingin melihat Ara. Lagi pula agar memudahkan semuanya."
Arfan terdiam.
"Dokter yang akan menangani Ara juga ada di sana kan, jadi ini lebih mudah. Belum lagi tidak harus semua orang datang dan menunggui karena perawat akan selalu siaga setiap menit ketika dibutuhkan. Jadi semua orang tidak harus selalu datang ke rumah sakit. Bapak masih bisa bekerja, mama dan mommynya Ara juga tidak harus membagi perhatian. Dan saya bisa bisa mencapai Ara dengan cepat meski sudah ada di kantor karena areanya masih cukup dekat dengan Nikolai Medical Canter."
Sang ayah berpikir.
"Kamu tidak apa-apa kalau dipindahkan ke sana?" Lalu dia beralih kepada putrinya.
"Gimana baiknya aja." Amara menjawab.
Arfan kemudian kembali kepada menantunya.
"Kamu pikir kamu bisa lebih memperhatikan Ara jika memindahkannya ke NMC?" Dia bertanya lagi.
__ADS_1
"Bisa Pak." jawab Galang.
"Walau kamu bekerja sekalipun?"
"Iya pak."
"Hmm …."
"Masalahnya jarak yang cukup dekat dengan kantor dan saya mudah mengaksesnya."
"Masuk akal." Arfan mengangguk-anggukkan kepala.
"Bagaimana dokter?" Lalu dia beralih kepada dokter Syahril.
"Tidak ada masalah dengan itu Pak. Seperti yang Galang katakan jika salah satu dokter yang menangani operasi Ara nanti memang bertugas di sana jadi itu memang cukup memudahkan."
"Baiklah, kamu suaminya bukan? Segalanya menjadi tanggung jawabmu sekarang. Jadi tidak ada yang bisa menghalangi, apa pun agar Ara mendapatkan pelayanan yang terbaik. Dan jika di sana juga baik, maka bisa menjadi pilihan juga." Arfan pun setuju.
"Baik kalau begitu, saya akan mengurus semuanya." ucap Galang yang sudah siap dengan ponselnya.
"Uruslah. Sementara aku akan menyelesaikan urusan administrasinya di sini." sahut Arfan yang kemudian keluar bersama dokter Syahril.
"Beneran dipindahin?" Amara yang menyimak percakapan antara ayah dan suaminya baru saja bereaksi.
"Kan sudah aku bilang?" Galang yang baru memerintahkan kepada bawahannya untuk pemindahan Amara.
"Kayaknya sama aja deh mau di sini atau di sana juga?"
"Iya." Galang duduk di sampingnya.
"Terus kenapa Kakak ngotot mau pindahin aku?"
"Kan sudah aku bilang agar lebih dekat. Jaraknya dari kantor hanya tiga blok, Neng. Jadi aku akan lebih cepat sampai kalau mau melihatmu."
"Lagian Kakak emang setiap hari di kantor gitu? Kan nggak. Kadang ada meeting keluar kantor juga kan?"
"Tetap saja, NMC bisa jadi pilihan."
"Curiga ada motif lain?" Amara menatap suaminya dengan curiga.
"Motif apa? Hahaha …." Galang tertawa.
"Alah, aku kayaknya mulai hafal modusnya Kakak."
"Kamu ini ngomong apa sih? Kita harus memanfaatkan fasilitas yang baik ini. Lagi pula hanya tinggal beberapa hari lagi ke operasi kan?"
"Hmm …."
"Serius." Galang tertawa lagi, dan dia merasa tidak sabar untuk segera memindahkan istrinya ke tempat yang dimaksud.
🌺
🌺
__ADS_1
🌺
Bersambung ...