
🌺
🌺
"Aku senang melihat Ara yang sekarang." Rania naik ke tempat tidur begitu yakin kedua anaknya sudah terlelap di kamar mereka.
"Iya?" Dimitri melepaskan kaca mata bacanya, dan meletakkan laptop ke tempat asalnya.Â
"Dia nggak sok tahu kayak dulu."
"Masa?" Pria itu terkekeh.
"Hu'um. Kayaknya kuliah di Paris dampaknya baik buat dia ya?"
"Mungkin."
"Ya, syukurlah. Tadinya aku sempat khawatir, apa lagi tahu Galang udah sama Clarra. Sempat mikir gimana nantinya ya? Tapi ternyata nggak apa-apa."
"Memangnya kenapa?"
"Ya kali Ara bakalan patah hati gitu?"
"Kenapa harus patah hati? Mereka kan putus sebelum Ara pergi."
"Masalahnya, aku denger mereka hampir balikan?"
"Siapa yang bilang?"
"Ada lah."
"Pasti dari Kak Dygta."
"Hmm …."
"Dasar ibu-ibu!"
"Terus aku lihat juga si Dudul nggak move on-move on. Aku pikir dia juga nungguin Ara, taunya malah jadian sama Clarra."
"Memangnya salah ya?"
"Nggak juga sih. Baguslah, dia pacaran sama orang sekantor. Jadinya tahu kesehariannya gimana. Sering sama-sama juga, nggak akan ada kesalah pahaman."
"Hmm …."
"Tapi lucu juga ya kalau mereka bener jadian?" Rania tertawa.
"Lucunya di mana?"
"Ya Galang seumuran aku, dan Clarra yang seumuran kamu."
"Terus?"
"Jadinya Clarra yang ngemong si Dudul ya? Bukan sebaliknya? Hahaha."
"Tidak apa, sekali-sekali perempuan yang lebih tua. Bagus juga buat Galang. Siapa tahu sifatnya Clarra menular."
"Dih, ada sikap nular?"
"Ya ada lah. Sikap kita akan menyesuaikan dengan siapa kita bergaul."
"Galang jadi galak dan kaku gitu?"
"Mungkin."
"Nggak yakin. Yang ada paling Clarra yang tiba-tiba jadi ramah."
"Ya, bagus juga untuk Clarra. Jadi lebih santai."
"Hmm …."
"Kamu … sudah tidak marah lagi kepada Ara?" Dimitri memberanikan diri.
"Aku? Marah sama Ara? Kenapa?"
"Soal kejadian terakhir itu."
Rania mencoba untuk mengingat.
"Ah, sudahlah. Jangan bicarakan soal itu, nanti kita malah bertengkar. Runyam jadinya." Dimitri bersiap untuk tidur.
"Kan itu udah lama. Kenapa aku harus marah?"
Dimitri tertawa.
"Kayak nggak tahu aku aja deh? Aku kan kalau udah marah sekali ya udah, nggak akan di perpanjang. Lagian itu udah berapa tahun ya? Anak-anak aja udah segede gitu?"
"Iya, sudah Zai, jangan diteruskan."
"Ye, kamu yang mulai."
"Iya, maaf maaf, kita tidur saja. Kalau diteruskan takutnya kita bertengkar. Rasanya tidak enak kalau itu terjadi."
"Makanya jangan mulai membahas hal nggak penting."
"Iya Zai. Ayo, tidur? Bukannya besok mau ke Bandung?"
"Hu'um. Papa nelfon terus, wanti-wanti. Katanya mumpung libur balapan."
"Makanya, ayo tidur?"
"Yakin?"
"Apa?"
"Mau tidur."
"Iya, memangnya kenapa? Aku lelah seharian ini."
__ADS_1
"Oke kalau gitu."
Dimitri hampir saja memejamkan mata.
"Padahal tadinya aku udah siap-siap." Rania menarik selimutnya. Namun ucapan perempuan itu membuatnya kembali terjaga.
"Siap-siap untuk apa?"
"Nggak, kan nggak jadi. Kamunya juga mau tidur?" Perempuan itu tersenyum lebar.
"Umm …."
"Ayo, Papi. Kita bobo aja." Rania pun memejamkan mata.
"Oh, tidak bisa." Dimitri kemudian melepaskan pakaiannya.
"Apaan?"
"Karena kamu sudah menawarkan, jadinya aku berubah pikiran."
"Hah? Menawarkan apa?"Â
"Yang kamu bilang barusan?"
"Aku cuma tanya, bukannya menawarkan!"
"Bagiku artinya sama saja Zai." Pria itu menunduk untuk meraih apa yang diinginkanya.
"Nggak mau, tadi kamu bilangnya capek, mau tidur." Rania menahan tubuh suaminya yang merapat kepadanya.
"Sekarang tidak lagi!" Dan sesuatu pun terjadi lagi malam itu, persis seperti malam-malam sebelumnya.
***
"Haaaaaahhh …." Nania menjatuhkan bokongnya di kursi. Setelah menyelesaikan pekerjaannya bersama tiga rekan yang sama-sama bekerja keras seharian itu.
Kedai sudah dibereskan dan tanda tutup sudah dipasang di pintu. Beberapa kursi bahkan sudah dinaikkan ke meja agar terlihat lebih rapi.
"Kalau kita buka di weekend gimana menurut kalian?" Amara memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya di sana.
"Nggak apa-apa. Emang kalau weekend disini masih ramai?" Raka menjawab.
"Masih. Kan ada beberapa kantor yang buka setengah hari di hari Sabtu. Terus hari minggunya kadang ada yang sengaja jalan-jalan di sekitar sini."
"Buka aja kak. Kita coba besok. Kalau responnya bagus kita terusin selanjutnya." Sahut Ardi.
"Kalian gimana?" Amara beralih kepada Nania dan Nindi.
"Aku sih ikut aja."
"Oke kalau gitu, kita sepakat ya?"
"Hmm …" Mereka berempat mengangguk bersamaan."
"Perlu aku sebarin pamfletnya lagi, biar nambah buat weekend nya?" tawar Ardi.
"Aku bawa sekarang deh, biar besok pagi aku sebarin sambil berangkat."
"Terserah kamu. Ya udah, kalau mau pulang silahkan, mumpung belum terlalu malam." ucap Amara yang bangkit dari kursinya.
"Kakak sendiri mau pulang atau nginep lagi di sini?"
"Aku kayaknya di sini lah."
"Nggak takut kak?"
"Takut apa?"
"Kalau malam-malam area ini kan sepi baget?"
"Ada satpam di seberang. Di gedung yang itu juga. Aman lah." jawab Amara sambil menunjuk beberapa gedung di sekitar kedai.
"Ya udah kalau gitu, kita pamit ya?"
"Hmm … udah pastikan semua jendela terkunci kan?"
"Udah kak."
"Baik, selamat jalan." katanya yang mengantar kepergian ke empat pegawainya hingga mereka menghilang di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi. Lalu dia mengunci pintu depan kedai sebanyak dua kali, memastikan semuanya aman untuk dirinya.
Amara kemudian menoleh ke arah jendela besar di mana dia dapat melihat gedung Nikolai Grup yang puncak menaranya berpendar karena lampu LED nya menyala.
Lantai paling atas tampak gelap tak seperti malam-malam sebelumnya. Mungkin mereka tidak ada yang mengambil lembur seperti biasanya.
Kemudian dia teringat ucapan Anya siang tadi, tentang Galang yang mengalami cedera di kakinya.
Ah, kenapa juga aku harus peduli kepadamu? Sudah ada orang yang akan lebih peduli sekarang. Dan itu bukan aku.
Lalu dia mematikan seluruh lampu ruangan bawah, seraya melenggang ke lantai atas di mana ruangan untuknya beristirahat sudah dia benahi. Tempat tidur bahkan sudah tersedia. Sengaja, dia menjadikannya sebagai semacam tempat tinggal. Siapa tahu dia memerlukannya.
***
Clarra tak bisa menghentikan kakinya yang terus bergerak-gerak sejak tadi. Dia duduk di ruang tunggu dengan tangan bersedekap, menunggu gilirannya untuk pemeriksaan rutin atas penyakit lambung yang diidapnya belakangan ini. Hari Sabtu, menjadi pilihannya untuk mengatur jadwal konsultasi bersama dokter yang telah berjalan beberapa tahun belakangan.
Galang mengulurkan tangannya menyentuh lutut perempuan itu agar gerakannya terhenti. Mereka beralih ke bagian umum setelah memeriksa keadaannya di spesialis tulang.
"Kamu kenapa?" Pria itu bertanya.
"Hum?" Clarra mendongak.
"Kaki kamu gerak-gerak dari tadi?"
"Umm … oh ya?" Clarra menatap tangan Galang yang bertumpu di lututnya.
"Ya. Tenanglah, jangan gugup seperti itu. Hanya pemeriksaan rutin kan?"
"Mm …." Clarra menganggukkan kepala.
__ADS_1
Seorang perawat keluar dari ruangan dokter Syahril dan memanggilnya.
"Sendiri bisa?" Galang berujar ketika perempuan itu bangkit dan hampir melangkah masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Clarra menghentikan langkah, kemudian memutar tubuh.
"Kamu mau menemani aku kedalam?" ucapnya.
"Boleh." Galang pun bagkit dari kursinya. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam sana.
"Selamat siang?" Pria dengan jas putih dan mengenakan kacamata itu duduk di kursinya. Bersiap untuk sesi konsultasi dengan pasien tetapnya hari itu.
Namun dia sempat tertegun untuk beberapa saat ketika mendapati Clarra yang masuk bersama seorang pria yang sudah dikenalnya.
"Silahkan." katanya.
Kemudian Galang menarik kursi untuk Clarra dan membiarkannya duduk terlebih dahulu.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" Dokter Syahril memasang wajah paling ramah yang dia bisa. Meski hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Baik Dokter." Clarra menjawab. Dia pun berusaha setenang mungkin, meski perasaannya hampir saja tak mampu dia kendalikan setiap kali mereka berhadapan seperti ini.Â
Meski setelah sekian lama nyatanya perasaan itu masih ada. Namun keberadaan Galang disampingnya membuat dia mampu menahan diri.
Perempuan itu bahkan meraih tangan Galang, dan menggenggamnya dengan kuat, seolah dia akan terjatuh jika tidak melakukan hal tersebut.
"Baiklah, bisa kita mulai pemeriksaan ini?" Dokter Syahril bangkit dari kursi setelah perawat mempersiapkan semua yang dia butuhkan.
"Kamu makan teratur?" Pria dengan rambut klimis itu mulai melakukan pemeriksaan.
Dia memeriksa detak jantung, denyut nadi dan tekanan darah pada Clarra.
"Iya." Perempuan itu menjawab.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Lancar."
"Masih sering lembur?"
"Kadang-kadang."
"Sering merasa mual? Atau gejala seperti biasanya?"
Clarra menggelengkan kepala.
"Tidak juga."
Dokter Syahril sesekali menatap wajahnya, dan pandangan mereka bertemu.
"Bagaimana dengan obatnya? Rutin kamu minum kan?"
"Iya."
"Apa akhir-akhir ini kamu mengalami stress?"
"Tidak juga." Clarra masih menjawab meski rasanya dia sudah jengah. Pria ini seperti biasa membuat sesi pemeriksaannya menjadi lebih lama dari biasanya.
"Bagus sekali, tampaknya keadaanmu cukup baik sekarang ini." Pria 35 tahun itu menghentikan pemeriksaan.
"Bisa dilihat keadaanmu cukup stabil. Tapi tetap saja kamu tidak boleh melupakan makan teratur juga meminum obatnya ya?" Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.
Dokter Syahril menuliskan resep yang nantinya harus Clarra ambil di apotek seperti biasanya.
"Baik, terima kasih Dokter." Clarra berniat untuk segera pergi begitu pria di depannya menyerahkan kertas resep untuknya.
"Ya, sama-sama." Dokter Syahril menjawab, dan tanpa menunggu lama lagi kedua orang tersebut bangkit dari kursi mereka.
Keduanya hampir saja keluar ketika seorang anak perempuan tiba-tiba muncul di ambang pintu.
"Tante Clarra!"
Syahnaz, putri Dokter Syahril yang baru berusia tujuh tahun segera menghambur memeluk pinggangnya.
"Ha-hai Syahnaz?" Perempuan itu tentu saja terkejut.
"Kan, ketemu lagi. Untung aku ikut Papa." Gadis kecil itu mendongak.
"Umm … kamu nggak sekolah?"
"Nggak, kan hari Sabtu." Syahnaz menjawab.
"Iya, tante lupa."
"Tante udah berobatnya? Habis ini mau ke mana? Mau ikut aku sama Papa ke kebun binatang nggak? Aku perginya cuma berdua lho sama papa doang. Kalau Tante ikut pasti seru. Kita kan udah lama nggak …."
"Syahnaz?" Dokter Syahril menginterupsi.
"Umm …"
Clarra tertegun menatap kedalam mata jernih anak itu. Dan perasaannya pun masih sama ketika mereka masih sering bersama.Â
"Maaf Syahnaz, Tante tidak bisa." Clarra menarik tangan kecil milik anak itu sehingga terlepas dari pinggangnya.
"Tapi Tante?"
"Maaf sayang, tante harus pulang."
Gadis itu mundur dua langkah ke belakang dengan raut kecewa. Kemudian Clarra segera keluar tanpa menoleh ke belakang lagi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
serius? 🙉🙉