
🌺
🌺
"Kakak ih, jangan lihatin aku terus. Aku kan malu." Amara menutupi dadanya dengan tangan kiri, sementara tangan dan kaki kanannya yang sudah ditutupi kain dia jauhkan sedikit.
Drama sudah dimulai saat Galang membantunya untuk mandi pagi-pagi sekali begitu mereka bangun tidur.
"Lagian ini dingin Kak. Cepetan mandiinnya kenapa?" Perempuan itu merengek.
"Umm …." Suasananya memang terasa canggung bagi keduanya. Ini pertama kalinya mereka ada dalam situasi tersebut terutama Galang yang sama sekali belum pernah melihat perempuan dalam keadaan tak berpakaian seumur hidupnya hingga sedewasa ini.
Film? Majalah? Percaya atau tidak, dia tidak pernah mengalaminya sama sekali. Baik saat remaja ataupun sudah dewasa. Dunianya terlalu dipenuhi oleh hobby dan pekerjaan, menjadikannya terlalu sibuk dan tak memiliki kesempatan untuk menikmati hal tak berguna lainnya.
"Kakak!" Amara yang dia dudukkan di kursi plastik kembali merengek.
"Iya Neng, iya. Aku mau periksa dulu airnya, takutnya kepanasan." Pria itu menyalakan shower dan mengalirkannya ke telapak tangan. Memastikan bahwa air yang mengalir cukup hangat untuk tubuh istrinya.
Tubuh.
Ah, siksaannya belum apa-apa Lang. Batinnya, dan dia segera mendekati Amara yang sudah tak berpakaian.
Galang mengaliri tubuh polosnya dengan air hangat. Membasahi seluruh rambut di kepala, wajah hingga ke seluruh tubuh.
Sesaat dia mematikan air dan membubuhkan sabun di pundak dan punggung Amara. Mengusapnya dengan lembut hingga seluruh punggung sampai ke pinggang bagian belakangnya dipenuhi busa sabun. Lalu dia kembali ke pundaknya, memijatnya dengan hati-hati.
"Depannya." Amara menengadahkan tangan kirinya.
"Apa?"Â
"Minta sabun untuk depannya." ulang Amara.
"Biar aku …." Galang menghentikan apa yang dia lakukan kemudian maju.
"Nggak usah, aku aja!" Amara sedikit memekik membuat pria di belakangnya terkejut.
"Kamu kenapa sih selalu membuat aku kaget?" protes Galang.
"Ya makanya nggak usah! Aku minta sabunnya aja, biar aku yang …."
"Ya kenapa harus teriak? Bilangnya biasa saja kan bisa?" Pria itu mengeluarkan sabun cair di telapak tangan Amara yang kemudian segera perempuan itu usapkan pada bagian depan tubuhnya.
"Habisnya kalau nggak teriak Kakak nggak ngeuh. Kenapa sih tiba-tiba jadi oon?"
"Astaga! Kamu sebut suamimu oon? Dosa tahu!"
"Ya habisnya …." Amara tertawa.
Bisa-bisanya dia tertawa disaat menegangkan seperti ini? Sementara aku hampir kena serangan jantung. Batin Galang.
"Mau pakai shampo?" tawarnya kemudian.
"Huum." Amara mengangguk.
Lalu Galang membubuhkan shampo kemudian mengusak rambutnya hingga timbul busa yang cukup banyak.
"Jangan keras-keras Kak, ini kepala bukannya batu!" Amara bergumam ketika merasakan sentuhan pria itu di kepalanya cukup keras.
Galang tak menjawab, namun dia hanya memutar bola sambil mendengus pelan.
Setelah yakin dia melakukannya dengan baik, maka Galang meraih shower dan kembali menyalakannya. Membilas busa sabun yang menutupi sebagian besar tubuh telanjangnya Amara.
"Sudah, ayo?" katanya setelah dia menggulung rambut basah Amara dengan handuk dan menyampirkan bathrobe yang sengaja dia minta pada staff rumah sakit tadi subuh.
Pria itu mengangkatnya dalam gendongan seperti biasa, lalu mendudukkannya di pinggir tempat tidur.
"Kakak?"
"Hum?" Galang yang tengah menyiapkan pakaian untuknya.
"Ini gipsnya kapan dibuka sih? Aku udah kesel pakai ini terus?"
__ADS_1
"Ya nanti kalau sudah benar-benar pulih." Pria itu kembali ke dekatnya.
"Emang belum ya? Lama amat?"
"Sedikit lagi. Kalaupun sudah pulih kita harus tetap hati-hati lho. Masalahnya ini tulang, penyembuhannya memang lama."
"Oh ya?"
"Iyalah." Galang tertegun.
"Kenapa?"
"Ini mana dulu yang harus dipakai? Yang atas atau yang bawah?" Pria itu mengangkat sepasang pak*ian d*lam berwarna hitam milik Amara.
"Biasanya yang bawah dulu."
"Oke." Lalu Galang membungkukkan tubuh untuk memasangkan segitiga mini itu pada kedua kaki Amara sambil menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba saja memerah.
Segala hal pertama kali baginya dan dia benar-benar belum terbiasa. Namun hal ini memang harus dia lakukan karena sudah menjadi hak dan kewajibannya bukan? Meski ada perawat, tapi dia harus membiasakan diri. Apa lagi setelah pulang dari rumah sakit nanti, segala hal benar-benar akan menjadi tugasnya sepenuhnya.Â
Dia menaikkan benda itu hingga hampir menutupi ar*a pr*badi Amara, dan menarik istrinya sejenak untuk memastikannya terpasang dengan benar.
"Ininya?" Galang menggenggam bra berukuran sedang dan lagi-lagi wajahnya tampak memerah. Otaknya segera saja melayang entah ke mana saat dia menatap kain tipis yang berada di tangannya itu.
Amara membiarkan bathrobe yang semula membalut tubuhnya itu ditarik lepas oleh Galang. Meski dia merasa malu, namun pasrah saja karena tak ada pilihan lain.
Hal ini pun sama pertama baginya, dan dia belum terbiasa melakukannya. Tapi segalanya memang harus dimulai dari sini bukan? Apalagi dengan keadaannya yang seperti ini, sudah tentu suaminyalah yang akan mengurus segala hal untuknya.
Galang lagi-lagi harus menekan debaran yang mulai menggila. Kali ini siksaannya bertambah berkali-kali lipat. Bayangkan saja, di hadapannya terpampang nyata tubuh molek istri yang sudah menjadi miliknya.
Leher jenjang, kulit mulus, dada yang ranum yang dia yakini belum tersentuh oleh siapa pun. Tentu saja, semua orang juga tahu tidak ada yang lebih dekat dengan Amara selain dirinya. Dan itulah bagian terbaiknya.
Dan kini atas status baru mereka, sudah menjadi haknya untuk menyentuh dan melakukan apa saja yang dia mau kepada Amara tapi keadaan sekarang ini belum memungkinkan.Â
Benar-benar membuat frustasi!
Dengan susah payah Galang menautkan pengait bra nya dengan posisi seperti berpelukan dan dada mereka hampir menempel antara satu sama lainnya. Dan hal ini cukup membuat canggung sekaligus terasa intim bagi keduanya.
"Hum?"
"Ini …." Perempuan itu menggerakkan lutut kirinya agar menjauh dari Galang ketika merasakan sesuatu yang keras bersentuhan dengannya. Dan itu rasanya tidak nyaman.
"Diamlah, kamu sudah membuatnya terbangun." Galang berbisik saat menyadari sesuatu.
"Apaan?"
"Si Ulil." Pria itu dengan suara rendahnya.
"Hah?"
"Bukan apa-apa, hanya ...."
"Tapi …."
Galang menarik kepalanya setelah selesai memasangkan pengait bra di belakang tubuh Amara.
Dia memindai wajah polos tak bermake up yang terlihat lebih segar itu untuk beberapa lama dan menikmati setiap detiknya dengan sungguh-sungguh. Tak ada satu hal pun yang ingin dia lewatkan setelah ini.
Sebelah tangannya menyentuh bibir Amara sementara sebelah tangan lainnya bertumpu pada pinggiran tempat tidur.
"Kakak, bajunya …." belum perempuan itu menyelesaikan kalimatnya, Galang sudah mendaratkan ciuman pada bibir mungil itu.
Menyesapnya sepenuh hati seperti dia baru saja melakukannya. Memagutnya begitu dalam seolah dia mau menghabiskannya saat itu juga. Lidahnya yang hangat dan basah menyapu lembut dua belahan kenyal merah muda milik Amara, yang membuat si empunya bibir terlena dan terbuai.
Dia segera membalas pagutan itu dengan senang hati. Balas menyesap sebaik yang dia bisa, lalu menikmatinya seolah tak ada yang mampu dia lakukan selain itu. Hingga suara decapan pun mengudara memenuhi ruang perawatan pada pagi itu.
Galang terus merangsek dan semakin merapatkan tubuhnya kepada Amara, dan kedua tangannya segera menjelajah lekukan indah perempuan itu.
Napas mereka sudah menderu-deru dan kesadaran pun hampir menghilang seiring hasrat yang sudah menguasai ketika terdengar suara orang bercakap-cakap di depan pintu. Membuat Galang segera melepaskan cumbuan.
"Kak?" Pintu diketuk lalu didorong dari luar. Dan nampaklah wajah Dygta yang muncul dari celah yang dia buka.
__ADS_1
"Sudah bangun?" tanyanya, dan perempuan itu melebarkan celah pintu.
"Sudah." Galang menelan ludahnya dengan susah payah untuk mengendalikan gejolak rasa dan sesak di bagian bawah tubuhnya.
"Sudah mandi?" Mytha muncul kemudian.
"Sudah Bu, um … Ma." jawab Galang lagi yang segera menarik bathrobe yang sempat terlepas dari tubuh Amara.
"Ah, … padahal kita sudah buru-buru ya? Takutnya kamu kerepotan?" Dygta segera masuk, begitu juga Mytha.
"Udah dibangunin dari subuh Mommy." jawab Amara.
"Subuh? Pagi amat Lang?"
"Iya Bu. Eh, Mom. Soalnya hari ini mau kerja." Galang pun menjawab.
"Lho? Memangnya kamu tidak dapat cuti? Di Nikolai Grup kan kalau baru menikah dapat cuti, setidaknya satu minggu?"
"Saya tidak ambil."
"Kenapa?" Mytha menyela.
"Sengaja, agar nanti bisa mendampingi Ara operasi sampai penyembuhan."
"Ohh."
"Ih, … Kakak so sweet mau nemenin aku oprasi." Amara memeluk pinggang pria itu yang masih berada di dekatnya.
"Ya, mm … tentu ... Hehe." Dan membuat Galang salah tingkah karena kelakuannya.
"Hmm …." Dygta tampak mencebik.
"Terus kamu mau berangkat jam berapa? Ini sudah setengah delapan lho." Mytha pun kembali berbicara.
"Umm … harusnya sih sekarang Ma, tapi … Ara belum selesai." Galang melirik Amara yang menyurukkan kepala di dadanya.
"Ya sudah, sana siap-siap. Nanti kamu kesiangan." Mytha segera mendekat dan setengah mengusirnya.
"Tapi Ara belum selesai berpakaian Ma."
"Mama yang bantu, sekarang kamu siap-siap kerja sana!" ucap Mytha lagi yang mendorong menantunya menjauh.
"Umm …."
"Lagipula kenapa kamu tidak memanggil suster? Kan sudah tugasnya membantu Ara. Kok malah mengurusnya sendiri sih?" gumam perempuan itu yang membantu putrinya berpakaian.
Galang malah terdiam.
"Lang?" Dygta memanggil pria itu yang masih berada di sana.
"Ya Mom?"
"Pergi kerja, sudah mau jam delapan." Perempuan itu mengingatkan, yang membuat Galang segera bersiap untuk kemudian pergi bekerja.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
acie cieee bisa icip-icip😄😄
oke gaess, minta like komen sama hadiahnya lagi ya.
alopyu sekebon😘
__ADS_1