
🌺
🌺
"Bagaimana keadaanmu?" Mereka duduk bersisian di kursi taman hotel tersebut.
Beruntung kedatangan Galang bertepatan dengan jam istirahat Amara. Sehingga mereka bisa menyisihkan waktu sebentar untuk berbicara.
"Baik. Kakak sendiri gimana?" Gadis itu menjawab.
Kecanggungan jelas tercipta di antara mereka. Dua tahun berpisah bukanlah waktu yang sebentar dan keduanya terlibat pertengkaran di hari tetakhir mereka bertemu. Yang menyebabkan terputusnya hubungan.
"Seperti yang kamu lihat, aku juga baik." ucap Galang.
"Syukurlah." Amara masih menetralisir debaran di dada. Dia tak mampu melihat wajah pria di sampingnya lebih lama karena begitu gugupnya.
Bahkan setelah dua tahun perasaannya masih tetap sama. Kendali atas dirinya pun sempat menghilang tak lama setelah Galang memeluknya. Dan lift hotel menjadi saksi, betapa rasa itu masih tetap ada.
Ketika keduanya saling mencumbu untuk mengungkapkan rindu yang begitu menggebu. Saling memeluk untuk melepaskan perasaan yang tertahan begitu lama, dan kembali melampiaskan apa yang selama ini bersemayam di dada.
Meski akhirnya mereka tersadar bahwa keadaan tak lagi sama.
"Kamu bekerja sekarang?" Galang menatap seragam hotel yang dikenakan oleh gadis itu.
"Iya." Amara meremat ujung kemejanya untuk menyalurkan kegugupan.
Jantung sialan! Kenapa aku lemah seperti ini?
"Kenapa kamu bekerja? Orang tuamu tidak lagi mengirimkan uang?"
"Nggak." Amara dengan suara pelan.
"Hah?"
"Maksudnya, aku harus mengisi waktu luang sambil nunggu kelulusan. Dan belajar kerja juga. Kakak tahu, untuk pengalaman." Dia memberanikan diri menoleh kepada Galang, dan perasaannya lagi-lagi tak karuan.
Melihat penampilan pria itu yang berbeda dari terakhir mereka bertemu. Penampilannya begitu rapi meski dia mengenakan pakaian casual. Namun auranya tentu sangat jauh dari sebelumnya. Dia terlihat lebih dewasa, berwibawa, dan tentu saja, tampan. Apalagi yang bisa lebih dari itu? Segala hal memang berubah, dan Galang tentu menjadi semakin baik tanpa dirinya.
"Kamu belum lulus?" Galang bertanya.
"Belum. Baru selesai ujian tulis, dua minggu lalu selesai ujian praktek."
"Jadi belum bisa pulang?" Galang memiringkan kepalanya sehingga dia bisa melihat wajah gadis itu lebih jelas.
"Belum. Harus nunggu kelulusan, habis itu wisuda, ijazah, kakak mungkin udah tahu apa lagi."
"Terus kamu tinggal di mana?"
"Sekitar sini. Nggak jauh kok. Menara Eiffel aja masih kelihatan dari apartemen aku."
"Tinggal sendiri?"
"Sendiri lah, emangnya mau sama siapa?"
"Bisa saja kan, ...."
"Kakak lagi ngapain di sini? Ada tugas dari Kak Dim?" Amara kemudian bertanya.
"Nonton Rania balapan." Galang menjawab.
"Oh, ... jauh-jauh ...."
"Nemenin Pak Dimitri, juga ngawasin anak-anak."
"Mereka juga datang?"
"Ya. Memangnya kamu pikir apa? Aku jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menonton balapannya Rania?" Galang terkekeh. Dia tahu hal seperti itu yang selalu menjadi permasalahan bagi gadis di sampingnya ini. Mengira kedekatannya dengan keluarga atasan karena ada hubungannya dengan Rania.
Amara terdiam.
"Bagaimana kabar mereka?" Lalu dia berbicara lagi.
"Baik juga. Anak-anak tumbuh dengan cepat, bisnis keluarga semakin bagus dan kakrirnya Rania yang nggak kalah baiknya. Apalagi? Selama mereka masih bersama semua pasti akan baik-baik saja."
"Umm ...."
"Bagaimana bisa kamu bekerja di sini? Bukankah tidak sesuai dengan jurusan kuliah?" Galang terus mencari bahan pembicaraan. Dia enggan mengingat jika sebentar lagi mereka harus berpisah karena dirinya harus kembali ke Le Mans dan Amara harus kembali bekerja. Mereka harus memanfaatkan momen yang ada.
"Cuma ngisi waktu Kak. Lagian kerja itu kayaknya nggak harus sejalan sama jurusan kuliah juga kan? Contohnya Kakak. Kuliahnya apa, kerjanya apa?"
Galang terkekeh sambil menganggukkan kepala.
"Kamu benar."
__ADS_1
"Aku baru ngerti sekarang."
"Lalu kapan kamu akan pulang?"
"Nggak tahu."
"Setelah wisuda?"
Amara tampak berpikir.
"Kayaknya nggak."
"Lalu?"
"Aku mau kerja dulu di sini, nambah pengalaman, nambah teman, juga banyak yang mau aku lakukan."
"Betah sekali di negri orang?"
"Ya, disini asik."
"Dirumah nggak asik?"
Amara terdiam lagi.
"Umm ... udah waktunya kerja lagi Kak, beberapa hari ini hotel penuh terus." Amara melihat layar ponselnya.
"Ya, aku lihat itu."
"Balap motor berdampak bagus juga, jadi orang-orang di sini dapat keuntungan."
"Hmm ...."
"Kakak masih mau di sini?" Amara menatap wajah pria itu lagi.
"Sepertinya aku juga harus kembali, Pak Dimitri pasti membutuhkan aku." Galang pun bangkit.
"Ya udah kalau gitu." Amara pun melakukan hal yang sama.
"Iya." Mereka tertegun untuk beberapa saat.
"Baiklah." Amara tak tahu bagaimana harus mengucap perpisahan. Tapi tak mungkin juga jika dia meninggalkan pria itu begitu saja.
Belum lagi perasaannya yang semakin lama semakin meyeruak memenuhi rongga dada, dan dia jelas menyadarinya. Kali ini gadis itu menyerah, dan dia kembali menghambur ke pelukan Galang.
"Kakak harus baik-baik ya? Doakan aku juga disini." katanya, dan dia memeluk erat tubuh pria itu.
Sikap Amara yang seperti ini membuat harapannya kembali tumbuh. Mungkin ada yang bisa mereka perbaiki, sehingga semuanya akan kembali seperti dulu.
Galang balas merangkul tubuh gadis itu tak kalah eratnya. Perasaannya pun sama, dan dia tak berniat untuk menyembunyikannya.
"Aku harus kembali Kak." Amara melepaskan rangkulan tangannya.
"Hmm ... iya, aku juga."
Mereka mundur untuk menciptakan sedikit jarak, namun pandangan tak dia lepaskan. Tak ingin kehilangan saat membahagiakan ini karena tahu waktu mereka tidaklah banyak.
"Oke, aku harus ... masuk." Amara memutar tubuh lalu melangkahkan kakinya ke arah bangunan hotel.
Galang menatap punggung kecilnya yang berangsur menjauh.
"Ara?" Namun dia memanggilnya lagi.
"Ya?" Amara berbalik lagi, dan mereka saling tatap untuk beberapa saat.
"Hati-hati." ucap Galang, kemudian dia tersenyum.
Amara menganggukkan kepala, dan dia balas tersenyum. Kemudian melanjutkan langkahnya hingga dia menghilang dibalik bangunan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dia itu kenapa?" Dimitri melihat gerak-gerik dari asistennya yang lain dari biasanya.
"Kenapa?" Rania juga melihat ke arah sahabatnya yanh duduk di kursi santai tak jauh dari mereka.
"Sejak kembali dari mengambil jam gelagatnya aneh. Senyum-senyum sambil melihat jam tangannya. Tapi dia juga menyendiri?" Dimitri menyantap makanan yang terhidang di meja.
"Masa?"
"Lihat saja, kamu nggak memperhatikan ya?"
"Mana ada? Lihat anak-anak aja aku sibuk? Emangnya kamu?"
Dimitri tertawa.
__ADS_1
Keadaannya memang seperti itu, anak-anak cenderung lebih menempel kepada Rania dari pada kepadanya. Apalagi Zenya yang selalu mengikuti ibunya kemana pun dia pergi. Bahkan ketika perempuan itu sedang berada di kamar mandi, putra mereka itu duduk setia menunggu di depan pintu. Padahal umurnya sudah lima tahun, tapi kelakuannya terkadang seperti batita yang takut ditinggal ibunya.
"Jangan cuma ketawa! Bikin kek gimana caranya biar anak-anak nempel juga sama kamu."
"Tidak bisa, kalau mereka begitu, bagaimana aku bekerja?"
"Se nggaknya biar mereka nggak gini lah sama aku."
"Kamu kan Mommy nya? Pantas mereka seperti itu."
"Kamu juga Papinya, seharusnya sama kamu juga begitu."
"Tapi merekanya tidak begitu, bagaimana?"
"Ah, kamu ini!"
"Papi, mau jalan-jalan." Anya muncul setelah puas bermain di taman belakang villa.
"Jalan ke mana?"
"Ke mana aja."
"Papinya sedang makan. Tunggu selesai ya?"
"Ah, Papi lama."
"Sebentar lagi Anya."
"Nggak, maunya sekarang!"
"Eh, nggak boleh gitu. Harus tunggu Papi selesai makan." Rania menyela.
"Ya udah, aku mau ajak Om Galang aja. Pasti mau." Anak perempuan itu berlari ke arah Galang yang masih menikmati kebahagiaannya.
"Om, anter aku jalan-jalan." ucap Anya seraya menarik lengan pria itu.
"Apa? Jalan-jalan? Ke mana?"
"Ke mana aja, aku mau jalan-jalan."
"Tapi Om nggak tahu tempat ini Anya."
"Bisa tanya orang-orang."
"Orang-orang siapa? Kita nggak kenal siapa-siapa di sini."
"Ya kenalan dong."
"Ish, kamu ini."
"Cepat Om!" Gadis kecil itu terus menarik-narik Galang agar bangkit dari duduknya.
"Sabar dong."
"Nggak mau. Kalau sabar nanti ketinggalan."
"Ketinggalan apa?"
"Apa aja."
"Omongan kamu ini kayak bukan anak lima tahun." Galang pun bangkit.
"Iya, iya. Terserah Om deh. Asal anter aku jalan-jalan."
"Huh, pemaksaan." katanya, namun tak urung juga dia mengikuti langkah gadis kecil itu keluar dari villa diikuti Zenya yang mengekor di belakang.
"Lihat? Dia malah mengajak Galang?" Rania berujar.
"Biar sajalah. Bagus untuk Galang."
"Kok bagus untuk Galang?"
"Biar dia nggak melamun sambil senyum-senyum terus. Aku ngeri melihatnya."
"Dih?"
"Jomblo kelamaan membuat dia jadi seperti itu." Dia melanjutkan kegiatan makannya.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung ...
ayo like komen hadiahnya, lagi!!!! 🤣🤣