
🌺
🌺
"Apakah kita tidak salah membiarkan dia tetap di Paris?" Dygta menyodorkan pakaian kepada suaminya yang baru saja selesai membersihkan diri.
"Aku rasa tidak. Dia sedang menuntut ilmu dan mencari mengalaman hidup. Apanya yang salah?" Arfan mengusak rambutnya yang masih basah.
"Terlalu lama di luar negeri tanpa pengawasan kita, apa itu baik untuknya?"
"Lama apanya? Baru dua tahun. Kamu malah empat tahun tinggal di Rusia, dan lihat? tidak terjadi apa-apa."
"Dan aku rasa anak perempuan akan lebih bisa membatasi dirinya dalam segala hal. Ingat mereka ada di mana dan harus bagaimana. Tidak seperti anak laki-laki yang cenderung bebas melakukan segala hal."
"Begitu?"
"Rata-rata. Lihat saja Dimitri."
"Hah, kalian laki-laki memang suka berbuat bebas semaunya sekalipun itu tanpa batasan. Sementara perempuan harus selalu membatasi diri."
"Bukan aku, tapi adikmu."
"Sama saja."
"Apa kita akan berdebat? Karena serius, aku sangat lelah hari ini. Perjalanan dari puncak benar-benar menguras emosi, selain karena macet juga karena aku harus mengurus banyak hal. Soal pegawai resort yang berulah dan hal lainnya. Sepertinya aku tidak ingin berdebat lagi di rumah." Dia segera mengenakan pakaiannya, sementara Dygta mengatupkan mulutnya.
"Dengar Sayang, Ara itu sudah dewasa. Dia bisa menentukan apa pun yang diinginkannya. Dan aku tidak bisa membatasi dia seperti yang aku lakukan kepadamu. Dia ssngat berbeda. Keras kepalanya tidak bisa di bandingkan dengan siapa pun, dan dia bisa menjalankan apa pun sesuai dengan keinginannya sendiri. Jadi biarkan sajalah dia begitu."
"Aku hanya khawatir Papa."
"Kamu pikir aku tidak khawatir melepaskan anak perempuanku sendirian di luar negri? Aku bahkan mengirimkan orang untuk mengawasinya selama 24 jam penuh di sana hanya untuk memastikan dia baik-baik saja. Kamu pikir apa itu namanya?"
"Aku baru menyadari bahwa ternyata selama ini kita sudah terlalu memanjakannya. Membuat hidupnya begitu mudah dengan memberika apa pun yang dia inginkan. Mengabulkan semua permintaannya dan menuruti semua kemauannya. Tapi aku tidak sadar jika hal itu telah membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang egois. Hanya memikirkan dirinya sendiri, dan segala hal hanya berputar tentang dirinya."
"Tapi dia anak yang baik."
"Ara memang anak yang baik. Selalu menurut apa yang kita katakan. Tapi apa kamu tahu, jika dia punya keinginan, maka itu harus selalu terwujud sesuai dengan keinginannya. Tidak bisa di tawar, dan tak ada toleransi untuk hal lain."
"Dia seperti kamu tahu?" Dygta terkekeh, meski dia segera menyesali ucapannya sendiri.
"Memang. Dia begitu mirip denganku. Dan aku rasa sikapnya yang begitu karena aku juga. Kamu tahu, rasa bersalah karena perpisahan membuatku ingin membayar semua waktu yang terbuang itu dengan menuruti segala kemauannya. Aku pikir itu akan bisa mengganti hal-hal yang hilang. Tapi nyatanya tidak seperti yang aku pikirkan." Arfan dengan nada kecewa.
"Oh, tidak. Kamu adalah Papa yang baik." Dygta segera merangkul suaminya.
"Aku harap begitu." Arfan kemudian terkekeh.
"Jadi, kenapa tidak kita biarkan saja Ara dengan hidupnya di sana. Siapa tahu dia akan menemukan dirinya sendiri, dan merasakan apa yang tidak dia rasakan di sini."
"Biarkan?"
"Hmm ... "
Dygta terdiam.
"Kamu terlalu mengkhawatirkannya seperti dia itu lahir dari rahimmu saja?"
"Hey, aku yang memeluknya sejak bayi tahu. Jadi aku tahu rasanya. Tidak perlu lahir dari rahimku untuk menyayangi dia."
__ADS_1
Arfan menarik dan menghembuskan napasnya pelan-pelan. Dia lupa, bahwa anak dan istrinya ini bisa di bilang tumbuh bersama. Dan sejak bayi, dialah yang selalu bersama Amara. Jadi apa pun yang akan dia katakan tidak akan merubah pandangan Dygta kepadanya.
"Tapi kalau kamu bilang begitu, ya sudah. Kamu pasti sudah memperhitungkan semuanya kan?"
"Ya, tentu saja. Jangan khawatir, aku tidak akan melepaskan pengawasan darinya. Dia akan tetap aman."
"Hmm ...." Dygta mengangguk-anggukkan kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadwal." Galang muncul tepat setelah Dimitri tiba.
Clarra melirik untuk melihat catatannya yang telah dia buat sebelumnya.
"Catat saja, nanti aku sampaikan kepada Pak Dimitri." ucap pria itu yang berdiri di samping mejanya.
Clarra terdiam sebentar, namun dia segera melakuka apa yang Galang perintahkan.
"Dua pertemuan dilakukan berurutan di ...."
"Catat saja yang jelas dan bisa di mengerti. Atau kalau aku tidak mengerti, nanti aku tanya kepadamu." tukas Galang, tidak seperti biasanya.
Beberapa hari ini dia memang lebih banyak diam dan mengerjakan tugasnya tanpa banyak bicara.
"Ini." Clarra menggeser selembar kertas berisi catatan kegiatan yang harus di kerjakan oleh pria itu bersama Dimitri.
"Terima kasih." Ucap Galang, kemudian segera masuk ke dalam ruangan atasannya.
Dia keluar tak lama kemudian bersama Dimitri yang akan melakukan beberapa pertemuan di tempat lain hari itu.
"Pergi dulu Cla, kalau Rania datang bilang saja aku ada meeting." ucap Dimitri sambil lalu.
"Tidak juga. Tapi siapa tahu dia datang? Mereka kan suka tiba-tiba muncul tanpa pemberitahuan." Dimitri menjawab.
"Oh, baik."
Kemudian dua pria itu segera meninggalkan tempat tersebut.
"Kalian ini sedang ada masalah ya?" Dimitri menoleh kepada asistennya yang berdiri tepat di sampinya, menunggu pintu lift terbuka.
"Maksud Bapak?"
"Kamu dan Clarra?"
"Kenapa?"
"Kalian tidak banyak bicara akhir-akhir ini?"
"Tidak apa-apa?"
"Habis bertengkar?"
"Tidak juga."
"Terus kalian kenapa?"
"Tidak apa-apa Pak."
__ADS_1
"Jangan campurkan pekerjaan dengan urusan pribadi, atau kamua akan mengacaukan semuanya."
"Siapa juga yang begitu?"
"Ya kalian."
Galang mendengus keras.
"Profesional lah." Mereka masuk ketika pintu lift terbuka.
"Ini juga profesional Pak. Malah Clarra yang bilang kalau dia tidak mau saya ajak bicara selain masalah pekerjaan." Galang bereaksi karena hal ini mulai terasa mengesalkan baginya.
"Ya bagus, dan dia memang benar. Memang di kantor seharusnya seperti itu. Kalau urusan pribadi ya bicarakan di luar saja."
"Apa?"
"Urusan pribadi."
"Urusan pribadi?" Galang membeo.
"Ya, urusan pribadi. Kalian punya urusan pribadi, bukan?"
"Tidak ada."
"Hmm ...."
"Ini maksudnya apa sih Pak?"
"Bukannya kalian sudah saling berkunjung ke rumah ya? Kamu membawa Clarra pulang ke Bandung, dan dia kamu antar pulang ke rumahnya?"
"Astaga." Galang menggelengkan kepalanya.
"Hebat, hebat. Kamu laki-laki pertama yag bisa mendekati dia, dan tidak mendapat penolakan." Dimitri menumbuk lengan Galang pelan-pelan, kemudian tertawa.
"Ini kayaknya ada yang salah faham deh?"
"Apanya yang salah faham? Bukankah itu bagus? Dua jomblo yang bertemu di satu kantor? Itu hal yang baik."
"Bapak salah sangka."
"Mau betul juga tidak apa-apa, kalian cocok. Walau dia lebih dewasa darimu, tapi aku rasa itu tidak masalah."
"Pak?"
"Dari pada menunggu yang tidak pasti. Hahaha ..." Sang atasan tertawa.
"Bapak salah."
"Terserah apa katamu."
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
Iya, terserah apa kata Kang Dudul deh 😂😂
mudah-mudahan hari ini lancar biar aku bisa crazy up