
🌺
🌺
Galang tertegun diambang pintu saat dia tiba di apartemennya pada jam pulang di malam hari. Mendapati keberadaan kedua mertua dan adik-adik iparnya di tempat itu.
"Umm … Kalian datang berkunjung?" Pria itu meletakkan tas kerjanya di sofa terdekat yang mampu dia jangkau.
"Sudah lama?" katanya, dan dia mendekat.
"Lumayan, kami bahkan menunggumu sampai selarut ini." Arfan menjawab seraya meletakkan cangkir kopinya di meja.
"Ah, ya … maaf. Tadi ada rapat dadakan jadi harus …menghadirinya dulu. Lagi pula saya tidak tahu kalau kalian akan datang hari ini, jadi …."
"Oh, tidak masalah. Untung kami datang, jadinya Ara tidak sendiri. Kami khawatir setelah mendapat kabar kalau Ara tidak mau ke rumah. Takut terjadi sesuatu selama kamu bekerja, jadi kami putuskan untuk datang. Dan orang yang kamu tugaskan mendadak harus pulang tadi sore." jawab Arfan lagi, membuat Galang mengalihkan perhatiannya kepada Amara.
"Iya, tadi dia bilang anaknya sakit. Ya udah aku ijinin pulang, kasihan." Perempuan itu berujar.
"Kenapa tidak mengatakannya kepadaku? Mungkin aku akan mengirimkan orang lain untuk menjagamu?" Galang berusaha untuk tetap tenang meski dia merasa cukup canggung.
"Aku pikir Kakak mungkin lagi sibuk, makanya dari siang nggak ngechat aku? Tahunya bener kan? Pulang aja sampai jam segini padahal tadi pagi bilangnya nggak ada lembur?"
"Soal itu … memang ada rapat dadakan, dan aku harus hadir karena Pak Dimitri harus ke Bandara menjemput Rania."
"Iya, aku tahu."Â
"Kamu tahu Pak Dimitri ke bandara?"
"Bukan. Aku tahu Kakak sangat sibuk, jadinya mungkin nggak akan bisa aku hubungi."
Galang mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Sekilas dia melirik ke arah mertuanya yang diam bersedekap menyimak percakapan itu.
"Iya, maaf." katanya.
"Nggak apa-apa, sana cepetan mandi. Setelah itu kita makan, Mommy udah masakin buat kita." ucap Amara yang duduk nyaman disamping ayahnya.
Galang menuruti perkataan perempuan itu tanpa membantah.
***
Pria itu kembali setelah beberapa menit dalam keadaan segar. Pakaiannya cukup santai namun rambut basahnya tetap tersisir rapi, dan dia segera berbaur dengan keluarga istrinya yang sudah siap di meja makan.
"Maaf ya Galang, kalau kami datang tiba-tiba? Papa hanya khawatir setelah tadi pagi kamu memberi kabar tidak akan mengantar Ara ke rumah. Takutnya ada apa-apa." Dygta memulai percakapan, melihat menantunya yang tampak canggung dengan keberadaan mereka di sana.
"Tidak apa-apa Mom. Saya senang ada yang berkunjung, apa lagi Ara." Sang menantu menjawab.
"Kan udah aku bilang kalau aku nggak apa-apa, cuma capek aja mesti bolak-balik?" Amara menyela.
"Tetap saja Papa khawatir." Dan Arfan pun tidak tinggal diam.
"Tapi udah lihat kan kalau aku baik-baik aja?" ujar Amara kepada ayahnya.
"Iya." Pria yang mulai melahap makanan itu pun menjawab.
"Jadi nggak usah khawatir, aku pasti baik-baik aja." Amara memegang tangan sang ayah yang berada di sampingnya.
"Papamu tidak akan percaya kalau tidak melihat dengan matanya sendiri, Kak." Dygta menyahut setelah memberi ke empat anaknya yang duduk di sofa makanan yang sama.
"Iya, terima kasih udah mengkhawatirkan aku. Papa memang yang terbaik!" katanya, yang meremat tangan sang ayah.
"Kenapa makanmu sedikit? Apa masakan Mommy tidak enak?" Dygta yang memperhatikan sejak tadi. Menemukan jika anak sambungnya itu tampak tidak begitu berselera dengan makanan yang dibuatnya. Padahal biasanya Amara paling bersemangat untuk menyantap masakannya.
"Enak Mom. Tapi kayaknya aku belum lapar." Amara menjawab.
"Ini sudah hampir malam, dan kita sengaja menunggu Galang agar bisa makan sama-sama, dan kamu bilang tidak lapar?" Arfan bereaksi.
"Memang akunya belum lapar. Biasanya juga nanti sebentar lagi."
"Apa? Makanmu telat seperti itu pantas saja sering merasa tidak enak badan?"
"Nggak, maksud aku emang akunya yang gitu Pa, bukannya telat makan. Kalau Kak Galang libur, seharian dibikinin makanan terus, jadinya aku kebiasaan kayaknya?"
"Tapi hari ini Galang bekerja?" Dygta kembali pada makananya.
"Tapi Kak Galang sediain aku banyak makanan, jadinya seharian ini aku tetep makan juga. Jadi masih kenyang." Amara menepuk perutnya sendiri sambil tertawa.
"Apa tidak sebaiknya kalian tinggal di rumah Papa dulu? Setidaknya sampai kamu benar-benar sembuh?"
"Nggak usah, disini aja."
"Kalau begini Papa pikir Galang akan kerepotan. Pagi-pagi harus mengurusmu, pergi bekerja, belum lagi mengurus hal lainnya."
Amara terdiam sebentar.
"Kakak kerepotan ngurusin aku?" Lalu dia beralih kepada suaminya.
"Ti-tidak." Galang menggelengkan kepala.
"Kata Kak Galang nggak." Dia kembali kepada sang ayah.
"Tetap saja."
"Nggak apa-apa Papa. Habis ini aku akan minta orang untuk nemenin aku lagi. Papa nggak usah khawatir." Amara kembali meyakinkan ayahnya.
***
"Baiklah, kami pamit ya? Kamu harus baik-baik saja Kak." Dygta memeluk anak sambungnya.
"Iya, hati-hati."Â
"Kamu juga." Arfan juga melakukan hal yang sama kepada putri kesayangannya.
"Kalian juga baik-baik ya? Jangan nakal. Jangan demo terus!" ucap Amara kepada ke empat adiknya sebelum mereka pergi.
"Nggak akan Kak." Arkhan menyahut sambil tertawa.
"Iyalah, udah dibawa jalan-jalan sama Kak Galang sampai ninggal-ninggalin Kakak. Kebangetan kalau kamu masih demo."
"Apa? Jalan-jalan ke mana?" Arfan bereaksi.
Galang dan Arkhan tampak saling pandang.
"Ee … cumaaa …."
"Ke Car Free Day." sambung Galang, yang menatap mertua dan adik iparnya secara bergantian.
__ADS_1
Arfan memicingkan mata.
"Cuma lari pagi ya Kak? Jajan sama cuci mata." Arkhan ikut menjawab.Â
"Hmm … hanya begitu saja? Seperti pergi ke bulan?" gumam sang ayah yang kemudian melenggang ke arah pintu.
"Cepetan Papa, aku masih ada tugas." Tiba-tiba saja Arkhan meraih tangan ayahnya.
"Tugas apa? Bukankah sudah kamu selesaikan tadi siang?" ucap Arfan sambil menjengit.
"Masih ada sedikit lagi."
"Tidak biasanya kamu menyisakan tugas seperti itu?"
"Tadi ada yang kelupaan." Mereka pun keluar dari unit apartemen Galang, dengan celotehan Arkhan yang masih terdengar.
"Emang iya, beneran lari Kak?" Amara bertanya setelah Galang menutup pintu.
"Hum?"
"Masa lari pakai jeans sama jaket kulit?"
"Soal itu …." Galang mengusap tengkuknya yang tiba-tiba saja terasa meremang.
"Itu juga pakai bilang cuci mata? Maksudnya apa?"
"Bukan, Arkhan pasti salah bicara."
"Tapi tadi Kakak jawab iya iya aja?"
"Hanya jawab biar cepat."
Amara memicingkan mata, seperti yang dilakukan ayahnya tadi.
"Tidak apa-apa Neng, hanya jalan-jalan." Galang tertawa. Ini rasanya menggelikan seperti dirinya sedang menutupi hal besar saja.
"Awas loh Kakak bawa Arkhan berbuat yang aneh-aneh?" Mereka kembali ke ruang tengah, dan Galang membantunya pindah dari kursi roda ke sofa.
"Aneh-aneh apanya? Cuma ajak dia jalan-jalan terus membicarakan banyak hal."
"Membicarakan apa?"
"Banyak."
"Iya apa?"
"Ada lah. Itu urusan laki-laki."
"Urusan laki-laki apa?"
Galang hanya tertawa.
"Kalau urusan laki-laki aku nggak boleh tahu?"
Pria itu menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
Suaminya itu terdiam, namun kemudian dia tertawa.
Galang tertawa seraya membenamkan wajahnya dipangkuan perempuan itu.
"Kakak! Jangan bawa Arkhan bikin yang aneh-aneh!"
"Nggak Neng!"
"Tapi Kakak rahasia-rahasiaan?"
Galang tertawa lagi.
"Kakak!"
"Tidak ada. Hanya mengajak dia berbicara seperti teman."
"Masa?"
"Kamu tahu, anak seusia Arkhan itu sedang labil. Dia hanya akan menganggap pendapatnya sendiri yang paling benar sekalipun itu salah. Dia tidak akan mendengarkan perkataan orang lain padahal mereka orang terdekat."
"Memangnya Arkhan segawat itu ya?"
"Tidak juga."
"Terus kenapa Kakak menyediakan waktu khusus untuk Arkhan?"
"Aku hanya mengantisipasi hal buruk yang kemungkinan akan terjadi setelah ini."
"Kemungkinan buruk apa?"
"Kamu tahu kalau dia ada sedikit rasa iri kepadamu?"
"Masa?"
"Kamu tidak merasa ya?"
"Nggak."
"Yang aku tangkap dari Arkhan itu, sepertinya dia merasa sedikit iri karena sekarang ini semua orang memperhatikanmu. Mungkin untuk kita merupakan hal sepele, tapi bisa berbeda untuk Arkhan. Dan dia akan membuat kesimpulan sendiri terhadap apa yang dilihatnya selama ini."
"Kamu merasa tidak, bahkan setelah menikah pun, Papa masih sangat memperhatikanmu. Di depan semua orang pula."
"Papa emang gitu Kak, nggak cuma sama aku. Sama semua anaknya gitu kok. Beneran."
"Iya, kamu melihatnya begitu. Tapi yang lain?"
Amara terdiam.
"Kadang sudut pandang setiap orang itu berbeda. Dan kita tidak bisa menyamaratakannya dengan apa yang kita pikirkan."
"Terus apa yang Kakak lakukan sama Arkhan kemarin?" Amara masih bertanya.
"Astaga! Hahaha …." Galang kembali membenamkan wajahnya pada pangkuan Amara.
"Yang penting aku tidak membawanya melakukan sesuatu yang buruk. Aku hanya melakukan apa yang mungkin dia butuhkan sekarang."
"Apa? Motor?"
__ADS_1
"Bukan cuma motor." Galang mengangkat kepalanya lagi.
"Terus?"
"Jadi temannya Arkhan itu lebih mudah dari pada jadi menantunya Papamu."
"Hum?"
"Dan aku pikir seharusnya kita begitu kepadanya. Dari pada dia menghabiskan banyak waktu diluar dengan orang lain?"
"Ohhh …." Amara mengangguk-anggukkan kepala.
"Mengerti kan apa yang aku katakan?"
"Iya, mengerti."
"Jadi jangan khawatir. Karena apa yang aku lakukan dengan Arkhan adalah hal positif."
"Naik motor kan?"
"Ya, begitulah."
"Papa tahu?"
"Tidak."
"Kenapa nggak kasih tahu Papa?"
"Mungkin nanti."
"Kenapa nggak sekarang?"
"Aku rasa belum perlu."
"Jangan sampai Papa tahu sendiri lho, nanti malah jadi salah tanggap? Tahu kam gimana Papa?"
"Iya, aku tahu."
"Tahu-tahu tapi Kakak ngeyel?"
Galang tersenyum.
"Ayo kita jalan-jalan?" ucapnya saat teringat keinginan perempuan itu.
"Jalan-jalan?"
"Ya, bukankah semalam kamu bilang mau jalan-jalan?" Pria itu mengingatkan.
"Udah terlalu malam." Amara melirik jam di pergelangan tangan suaminya.
"Tapi kamu bilang mau jalan keluar?"
"Lain kali ajalah."
"Yakin? Nanti nangis-nangis karena aku nggak menuruti kemauanmu?"
Amara terkekeh.
"Ayo kita jalan-jalan?" Galang pun bangkit lalu berdiri sambil meraih tangan kiri perempuan itu.
"Besok aja, sekarang jalannya ke kamar dulu?"
"Apa?"
"Jalan-jalannya di tempat tidur aja."
"Di tempat tidur? Jalan-jalan apanya?"
Amara tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
Galang menggumam sambil memicingkan matanya.
"Ayo ayo!" Amara mengulurkan tangannya kepada pria itu yang segera meraup tubuhnya dalam gendongan.
"Jalannya yang lama ya Pak?" ucap perempuan itu dengan riang.
"Lama?"
"Hu'um." Amara menganggukkan kepala.
"Mau semalaman?" Galang membawanya masuk ke dalam kamar.
"Boleh."
"Baiklah. Jangan minta berhenti sebelum aku selesai ya?"
"Oke."
"Aku serius, aku nggak akan berhenti walaupun kamu merengek memohon kepadaku untuk berhenti."
"Nggak akan."
"Benar?"
"Beneran."
"Dasar gadis nakal!"
Amara hanya tertawa.
🌺
🌺
🌺
...Bersambung .......
...Dih yang mau jalan-jalan, mendaki gunung, lewati lembah, menyusuri sungai sampai ke samudera, bersama ayang bertualang....
...Kok berasa lagu ya? 🤔🤔...
...Dahlah terserah kalian, yang penting like komen dan kasih hadiah yang banyak....
alopyu sekebon
__ADS_1