
🌺
🌺
"Kamu tidak akan kembali ke rumah sakit malam ini?" Dygta naik ke tempat tidur di mana suaminya sudah berbaring.
Malam sudah semakin larut namun pria itu belum beranjak dari tempatnya.
"Aku mau istirahat malam ini, rasanya lelah sekali." Arfan meletakkan sebelah tangannya di wajah.
"Lalu bagaimana dengan Ara?"
"Ada Galang." Pria itu menjawab.
"Memangnya mereka benar-benar kembali bersama ya? Se bebas itu kamu membiarkan Galang menungguinya di sana?"
"Hmm …."
"Lalu bagaimana dengan Clarra?"
"Mereka sudah putus."
"Secepat itu laki-laki berpaling? Sudah putus langsung kembali?" Dygta menggerutu.
Arfan tak menyahut.
"Sayang?" Dygta mendekat.
"Hmm …."
"Kamu benar akan membiarkan Galang membiarkan menunggui Ara sendirian di rumah sakit?"
"Iya, aku sudah lelah. Mau istirahat dulu satu malam ini saja."
"Serius membiarkan mereka berdua di sana?"
"Ya, sudahlah …."
"Tumben?"
"Apa maksudmu?" Arfan menyingkirkan tangannya.
"Biasanya kamu buru-buru pergi karena ingat Ara hanya ditunggui Galang?"
"Memangnya apa yang akan terjadi?"
"Entahlah, … apalagi mereka cuma berdua." Dygta menahan senyum.
Arfan terdiam sebentar.
"Memangnya Galang tega melakukan sesuatu kepada Ara dengan keadaannya yang seperti itu?" Pria itu berujar.
"Eh?"
"Lagipula kepalanya sudah aku pukul tadi sebelum pulang."
"Apa?"
"Dan lagi aku sudah menyuruh dia untuk meminta orang tuanya datang."
"Kenapa meminta orang tuanya datang?"
"Untuk membicarakan hal serius?" Dygta mengulang ucapan suaminya.
"Ya."
"Soal apa?"
"Soal pernikahan."
"Pernikahan?" Dygta tampak terkejut.
"Ya."
"Siapa yang mau menikah?"
"Ya Galag dengan Ara lah, masa aku?"
Perempuan itu tertegun.
"Kamu mau menikahkan mereka?" Kemudian dia bertanya untuk meyakinkan pendengarannya.
"Iya, apa lagi?"
"Kenapa?"
"Kok kenapa?"
"Kenapa kamu mau menikahkan mereka?"
"Kenapa kamu bertanya begitu?" Arfan balik bertanya.
"Kamu benar mau menikahkan Ara dengan Galang?" Dygta mengulang pertanyaannya.
"Iya, itu terus yang kamu tanyakan!"
"Habisnya ini terlalu tiba-tiba. Apa sudah terjadi sesuatu?"
"Maksudmu?"
"Apa mereka sudah melakukan sesuatu?"
Arfan malah tertawa.
"Kenapa kamu malah tertawa?"
"Pertanyaanmu sangat aneh. Persis seperti Mama mu waktu kita akan menikah."
"Karena memang sangat tiba-tiba."
Arfan terdiam.
"Sayang?" Dygta menepuk pundak suaminya.
"Aku hanya berpikir."
"Soal apa?"
"Soal Ara dan Galang. Aku pikir mungkin tidak ada salahnya jika kita membiarkan mereka bersama. Mengingat apa yang sudah mereka alami, dan ada beberapa kejadian juga. Aku rasa kita tidak bisa melakukan apa pun untuk menghalangi itu."
"Jadi kamu akan membiarkan mereka kembali?"
"Tidak, mereka memang sudah kembali bersama, jadi aku tidak bisa melakukan apa-apa soal itu."
"Dia bahkan sudah berbicara soal pernikahan dan Ara segera menerimanya. Lalu aku bisa apa?" Arfan teringat saat mendengar percakapan mereka sore tadi. Yang sempat membuatnya merasa tidak percaya telah membiarkan seorang pria kembali masuk ke dalam kehidupan putrinya.
Dan yang paling tak disangka-sangka adalah ketika Galang mengutarakan niatnya untuk menikahi Amara. Tentu saja dia tak mengira hal itu akan terjadi sekarang ini, dan dirinya bahkan merasa belum siap untuk kehilangan putrinya.
Dygta menatap wajah suaminya yang tiba-tiba berubah sendu. Dia sangat mengerti dengan apa yang dirasakan pria itu.
Lalu Dygta merebahkan tubuh di sisinya. Dia mengulurkan tangan untuk mengusap dadanya.
"It's oke, cepat atau lambat hal ini akan terjadi kan? Kita tidak tahu dengan siapa dia akan menjalaninya. Jika tidak dengan Galang, bisa saja dengan orang lain yang tidak kita kenal sama sekali." katanya, seraya menyurukkan kepala di dada pria itu.
"Tetap saja aku merasa tidak rela. Aku mengurusnya dari bayi, membersarkannya hingga seperti sekarang ini, lalu setelah dewasa dia diambil orang."
Dygta tertawa.
"Kamu bicara begitu seolah jodohmu yang diambil?"
"Hmm … belahan jiwamu akan pergi, dan itu buka denganmu. Melainkan dengan pria lain yang tidak tahu apa dia akan mengasihinya sebaik dirimu atau sebaliknya?"
"Kamu masih punya empat belahan jiwa lainnya, ditambah aku. Apa kami tidak berarti bagimu?" Dygta mengangkat kepala dan kembali menatap wajah suaminya.
Menatap wajah pria itu yang menjaganya sejak kecil hingga kini mereka tetap bersama mengarungi kehidupan.
__ADS_1
"Sayang, maksudku bukan begitu. Hanya saja Ara …."
"Aku tahu, dan aku mengerti. Itu hakmu sebagai Papanya. Tapi hak kami juga untuk mendapat perlakuan yang sama darimu. Anak-anak akan pergi, dan aku juga mungkin akan mengalami hal yang sama jika mereka sudah menemukan jodoh dan menjalani kehidupan masing-masing. Dan pada akhirnya hanya tinggal kita berdua yang tersisa di rumah ini."
Arfan kembali terdiam.
"Hakmu untuk merasa seperti itu, tidak apa. Tapi jangan lama-lama, karena kami juga membutuhkanmu." Dygta kembali menyurukkan kepalanya di dada pria itu, seraya memeluknya dengan erat. Dan Arfan membalas pelukan itu tak kalah eratnya.
"Terima kasih, karena kamu paling mengerti." Pria itu mengecupi puncak kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Amara menatap wajahnya di cermin setelah Mytha membantunya mengoleskan pelembab wajah. Perempuan itu memang selalu datang setiap pagi untuk membantunya membersihkan diri bersama perawat yang bertugas.
Garis-garis merah kelabu bekas luka memang masih terlihat dengan cukup jelas. Dan Amara menyentuhnya dengan ujung-ujung jari tangan sebelah kirinya.
Masih ada sedikit rasa ngilu setiap kali area itu disentuh, dan dia benar-benar merasakannya. Dua minggu memang bukan waktu yang lama untuk pulih, tapi cukup lama untuk membuatnya jengah dan bosan. Tapi apa boleh buat, semuanya harus dijalani demi proses penyembuhan.
"Operasinya menunggu kaki dan tanganmu pulih ya?" Mytha memulai percakapan saat dia menyisir rambut panjang putrinya.
"Hum?"
"Operasi wajahnya menunggu kaki dan tanganmu pulih. Apa Papa tidak memberitahu?"
"Apa harus?"
"Kita tidak tahu apa bekas lukanya akan hilang, karena ini cukup banyak. Jadi …."
"Aku jadi jelek ya Ma?"
"Tidak, siapa bilang? Kamu tetap cantik. Iyakan, Galang?" Mytha beralih kepada pria yang duduk tak jauh dari mereka.
Dan Galang pun menganggukkan kepala.
"Mereka hanya akan memperbaiki dan menutup bekas lukanya agar kembali seperti semula. Tidak akan merubahnya ke bentuk yang lain." jelas Mytha.
"Jangan takut, kamu akan baik-baik saja." Sang ibu menyelesaikan pekerjaannya.
"Kamu tidak bekerja, Galang?" Lalu Mytha beralih lagi kepada Galang.
"Sebentar lagi Bu."
"Baik."
"Dan mungkin nanti siang saya akan membawa orang tua ke sini." Pria itu berujar.
"Apa?" Mytha bereaksi.
"Ya, kami ada janji dengan Pak Arfan untuk bertemu. Semoga ibu juga ada waktu." lanjut Galang yang membuat perempuan di depannya tertegun.
"Ada apa?"
"Ada hal yang harus dibicarakan, dan ini agak serius."
"Soal apa?" Mytha segera bertanya.
"Soal pernikahan."
"Pernikahan?"
"Iya Bu."
"Kalian akan menikah?" Mytha menatap Amara dan Galang secara bergantian.
Galang mengangguk sementara putrinya menundukkan kepala, tak berani menatapnya.
"Kenapa?" Mytha dengan nada terkejut.
"Maksud ibu?"
"Kenapa secepat ini?"
"Umm … belum tentu juga Bu, karena baru saja akan dibicarakan hari ini." Galang menjawab.
"Tetap saja ini terlalu cepat."
"Ibu … tidak setuju?"
"Bukan masalah setuju atau tidak. Ara baru saja lulus kuliah, dan dia bahkan sedang sakit. Kenapa sudah memikirkan pernikahan?"
"Saya rasa itu tidak akan jadi masalah." Galang menjawab dengan cukup hati-hati. Dia menangkap penolakan dari reaksi perempuan di depannya. Meski tidak terbuka tapi dia tahu apa yang Mytha maksud.
"Papamu tahu soal ini Kak?" Lalu Mytha bertanya kepada putrinya.
"Tahu Bu. Kemarin sore kami sudah berbicara, dan Pak Arfan sendiri yang meminta saya untuk menghubungi orang tua." Galang memberi jawaban.
"Apa?"
"Ya, jadi … kami memang sudah berbicara mengenai masalah ini, dan untuk selanjutnya memang perlu berbicara dengan orang tua saya."
"Dan kalian memutuskan ini tanpa membicarakannya dulu dengan saya? Kamu tidak mengatakannya dulu kepada Mama Kak?" Mytha beralih lagi kepada Amara.
"Iya, masalahnya ini juga baru kemarin. Kan rencananya …"
"Tidak bisa dipercaya. Jadi sekarang semuanya memang benar-benar tergantung Papamu ya? Mama tidak dilibatkan untuk masalah seperti ini?" Mytha tampak kecewa.
"Bukan begitu Ma."
"Maaf Bu, karena yang saya temui setiap hari adalah Pak Arfan, jadi …."
Lalu pintu terbuka dan sosok Arfan yang muncul kemudian masuk ke dalam.
"Selamat pagi? Bagaimana keadaanmu hari ini?" Pria itu menyapa putrinya.
Tidak ada yang menjawab selain anggukkan Amara.
"Ada apa ini? Kenapa kalian diam?" ucap pria itu lagi yang menatap mereka secara bergantian.
"Bukankah kamu harus bekerja, kenapa masih ada di sini?" tanya nya kepada Galang.
"Sebentar lagi Pak."
Arfan menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 7.45.
"Pergilah, jangan sampai terlambat."
"Baik Pak." Galang hampir saja pergi.
"Oh iya Pak, orang tua saya sedang dalam perjalanan, mungkin nanti siang aka datang ke sini."
"Hmm … bagus. Saya tunggu."
"Ya, kalau begitu saya pamit."
"Ya, pergilah."
Galang kemudian melenggang pergi setelah menganggukkan kepala kepada Mytha dan Amara yang terdiam di tempat tidurnya.
Arfan memutar tubuh setelah pria itu pergi, dan dia hampir saja berbicara ketika Mytha mendahuluinya.
"Ada yang mau Mas katakan kepadaku?"
"Apa?"
"Entahlah, karena sepertinya Mas berhutang penjelasan kepadaku."
"Oh iya, soal …."
"Soal Ara dan Galang. Ada yang perlu aku tahu?"
"Ya, baru saja aku akan mengatakannya kepadamu."
"Ah, baru saja?" Mytha melipat kedua tangannya di dada.
"Ya, aku menelfon memintamu datang pagi-pagi sekali karena ingin berbicara soal ini."
__ADS_1
Mytha menunggu.
"Mereka akan menikah." lanjut pria itu.
"Mas!" Lagi-lagi Mytha bereaksi.
"Apa?"
"Dan Mas mengizinkan mereka menikah?"
"Memangnya aku tidak boleh mengizinkannya?"
"Bukan tidak boleh, tapi masa secepat ini?"
"Tidak cepat juga. Kita masih akan membicarakannya dengan orang tua Galang. Kamu dengar sendiri bukan jika hari ini mereka akan datang?"
"Ya, tapi masa harus se serius ini?"
"Lalu bagaimana kita harus menanggapi niat Galang?"
"Bukannya mereka sudah putus ya?"
"Ya, tapi mereka sudah kembali."
"Dan Mas menerimanya begitu saja?"
"Memangnya aku harus bagaimana?"
"Mas tidak lihat keadaan Ara begini? Bagaimana kita bisa menerima niat seorang laki-laki sementara keadaannya belum pulih benar?"
"Itu bisa diusahakan, bukankah Ara sedang menjalani penyembuhan?"
"Iya Mas, tapi kenapa kamu tidak membicarakannya dulu denganku? Kamu anggap apa aku ini?"
"Semuanya serba mendadak. Kami bahkan baru bicara kemarin sore, dan semuanya baru terpikirkan begitu saja."
"Tapi masalahnya kamu mengambil keputusan secara sepihak tanpa berunding denganku."
"Kenapa? Memangnya kamu tidak setuju?"
"Buka masalah setuju atau tidak."
"Lalu apa?"
Mytha terdiam.
"Hanya pembicaraan biasa antara orang tua. Setelah Galang meminta izin dan dia mengatakan memiliki niat yang serius kepada Ara, aku rasa langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah bertemu dengan orang tuanya. Bukankah itu hal bagus?"
"Ya, tapi tidak secepat ini Mas."
"Lalu kapan?"
"Setidaknya menunggu Ara sembuh, dan janganlah kamu memutuskan dengan terburu-buru."
"Aku tidak memutuskannya dengan terburu-buru, aku hanya memilih hal yang baik untuk dilakukan."
"Tetap saja rasanya ini terlalu cepat Mas." sergah Mytha.
"Tidak ada yang terlalu cepat, mungkin memang sudah sampai pada waktunya."
"Kamu percaya hal seperti itu?"
"Ya, kenapa tidak? Bukankah ini hal baik? Ketika ada seorang pemuda yang datang kepadamu, dan memintamu untuk mengizinkannya meminang putrimu? Apa lagi dia bersedia membawa orang tuanya untuk menghadap. Mengapa itu menjadi masalah bagimu?"
"Aku tidak memandangnya sebagai masalah hanya saja … rasanya ini terlalu cepat. Ara baru saja lulus kuliah, dan dia bahkan baru saja memulai usahanya. Terutama keadaannya yang belum pulih." Mytha bersikeras dengan pendiriannya.
"Dan aku pun tidak memandangnya sebagai masalah. Justru aku melihat kesungguhan Galang dalam situasi seperti ini. Bagaimana dia akan menerima keadaan Ara disaat yang paling buruk, dan bisa mempercayakan putriku kepadanya. Dan jika kamu merasa bahwa aku membuat keputusan sepihak karena tidak membicarakan terlebih dahulu denganmu, maka kamu salah. Karena seperti yang sudah aku katakan, itulah sebabnya aku memanggilmu untuk datang lebih pagi hari ini."
Mytha kembali terdiam.
"Aku tidak melakukannya untukku, tapi untuk Ara. Maka tolong mengertilah. Aku pun tidak rela melepasnya sekarang jika itu yang kamu rasakan. Tapi lihat Ara. Adalah kebahagiaan yang sedang aku usahakan, bukan egoku."
"Kalau Mama nggak setuju, ya udah batalin aja." Amara buka suara.
"Apa? Tidak mungkin!" sahut Arfan.
"Aku nggak mau bikin keluarga ini jadi ribut hanya karena urusan aku. Beberapa tahun ini aku udah merasa nyaman. Kalian damai kaya gini, tanpa perselisihan dan membuat aku merasa nggak kehilangan orang tua meski kalian berpisah. Tapi kalau urusan ini bikin kalian jadi ribut, lebih baik dibatalin aja." katanya, dengan raut sendu.
"Lagian apa yang Mama bilang juga ada benernya. Keadaan aku kayak gini gimana mau menerima lamaran orang? Nanti aku malah jadi beban. Kasihan hidup kak Galang jadinya terhambat."
Arfan mengusap wajahnya sambil menghembuskan napas kasar.
"Tidak Kak, bukan begitu maksud Mama." Mytha duduk di samping putrinya.
"Kayaknya kemarin keputusan aku nerima Kak Galang salah deh. Seharusnya aku mikir lagi, bukannya nanti malah menghambat hidupnya dia ya? Terus gimana kalau orang tuanya nggak setuju karena lihat keadaan aku? Kayaknya aku nggak tahu diri."Â
"Kamu membuat kepercayaan dirinya turun Mytha, padahal kami dengan susah payah membangunnya kembali."
Mytha menggigit bibirnya dengan keras.
"Dan bukan dia yang akan sulit pulih, tapi ucapan seperti ini yang akan membuatnya sulit memulihkan diri." Arfan menggelengkan kepala.
"Tidak Kak, tidak begitu." Sang ibu lantas merangkul pundak putrinya.
"Maaf, Mama hanya terkejut."
"Papa, telpon lagi aja Kak Galangnya, bilang pertemuannya nggak jadi." ucap Amara kepada sang ayah.
"Tidak, tidak. Jangan begitu. Itu akan menyinggung orang tuanya Galang." Mytha menyela.
"Terus aku harus gimana setelah ini?"
"Tidak bagaimana-bagaimana. Baiklah … maafkan Mama. Kita akan menghadapinya sama-sama ya?"
"Kalau Mama nggak setuju …."
"Tidak, jangan bicara soal itu. Sekali lagi maafkan Mama. Mama hanya terkejut makanya berbicara seperti itu."
"Umm …."
"Apa memang ini yang kamu mau?" Lalu Mytha bertanya untuk meyakinkan.
"Aku nggak tahu, tapi Kak Galang bilangnya begitu."
"Tapi kamu senang dia mengatakan hal seperti itu?"
Amara terdiam sebentar, namun kemudian menganggukkan kepala.
"Baiklah kalau begitu, sepertinya Mama tidak bisa berbuat apa-apa."
"Jadi bagaimana? Apa aku harus menelpon Galang dan membatalkan pertemuan dengan orang tuanya?" Arfan sudah siap dengan ponselnya.
"Jangan Mas." Mytha menjawab.
"Tadi kamu bilang …."
"Sudah, jangan dibahas. Sudah aku katakan kalau aku terkejut kan?"
"Hmm …."
"Baiklah, yang akan kita lakukan hanya menunggu bukan?"
Amara kembali menganggukkan kepala.
"Maka Mama akan menemanimu menunggu mereka disini." ucap perempuan itu dengan lapang dada.
Sementara Galang diluar ruangan itu pun menghembuskan napas lega. Setelah mengira akan mendapatkan penolakan, namun pada akhirnya masalah itu selesai juga.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
Duh, Mama bikin kaget aja deh, kirain bakal ngelarang?😅😅
hampir aja kena demo.