
🌺
🌺
"Apa ini gawat?" Dimitri sudah siap di depan rumah begitu Galang tiba, setelah pria itu memberitahukan keadaan Clarra yang tidak mungkin bekerja dalam keadaan tidak sehat.
"Tidak juga Pak, masih bisa kita tangani." Galang menjawab seraya menerima kunci mobil milik atasannya itu.
"Kamu yakin?"
"Yakin Pak. Clarra sudah mengatur semuanya sejak kemarin. Sepertinya dia sudah mengetahui akan mengalami hal ini."
"Dia mengatakannya kepadamu?"
"Tidak Pak. Hanya saja seperti yang saya katakan tadi, dia sepertinya sudah tahu."
"Mungkin memang sudah dia rasakan sebelumnya. Akhir-akhir ini dia memang lebih banyak diam."
"Bisa jadi begitu."
"Papi mau pergi sekarang?" Anak dan istrinya muncul tak berapa lama.
"Ya sayang. Kalian sekolah Mommy yang antar ya?" Dimitri menjawab.
"Hu'um."
"Pergi dulu Zai." Pria itu memeluk Rania seperti biasa.
"Ya."
"Antar mereka pakai mobil ya, tidak boleh pakai motor?" Dimitri memperingatkan.
"Ya, padahal baru aja mau bilang antar pakai motor. Kan Asyik." Anya bereaksi.
"Tidak boleh, berbahaya."
"Nggak, kan Mommy jago bawa motornya?"
"Kalau hanya kamu mungkin boleh, tapi kan ada Zenya juga?"
"Zenya minta antar pak sopir aja."
"No, aku juga mau diantar Mommy!"
"Pak sopir aja Zen!"
"No, diantar Mommy!"
"Heh, apa sih pagi-pagi!" Rania menghentikan percakapan di antara kedua anaknya.
"Oke, aku pergi Zai." Dimitri segera masuk ke dalam mobilnya, diikuti Galang yang duduk dibalik kemudi.
"Dah Om Galang?" Anya melambaikan tangan, namun hanya di balas dengan anggukkan oleh pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu sedang apa?" Vita menghentikan kegiatan Clarra yang tengah sibuk dengan ponsel dan laptop miliknya.
"Aku harus menyelesaikan ini Ma."
"Sudah, seharusnya kamu istirahat. Tidak boleh memaksakan diri seperti ini." Vita hampir saja menarik laptop dari depan putrinya.
"Stop Ma!"
"Kamu harus istirahat. Kalau tidak, kamu tidak akan sembuh Nak."
"Aku tidak apa-apa Ma, sudah minum obat dan sudah melakukan apa yang dokter katakan."
"Tapi tidak seharusnya kamu seperti ini. Kamu terlalu banya bekerja."
Clarra terkekeh.
"Bukankah sudah Galang gantikan? Jadi kenapa kamu masih harus repot-repot mengerjakan ini?"
"Aku takut Galang akan kerepotan. Ini pertama kalinya dia aku biarkan sendiri."
"Tidak mungkin. Kamu bilang dia mampu mengerjakan apa saja. Dan bukankah dia sudah dua tahun di Nikolai Grup? Mama rasa itu cukup untuk membuatnya mengerti apa yang seharusnya dia lakukan."
Clarra terdiam.
"Sudah, biarkan saja seperti itu."
"Tapi Ma?"
"Istirahat Cla. Kalau kamu sayang Mama, menurutlah."
"Kenapa Mama membawa masalah itu?" Clarra tertawa, seraya menutup laptopnya.
"Habisnya kamu selalu membuat Mama khawatir. Selalu menyibukkan diri seperti ini, bahkan di saat seharusnya kamu beristirahat."
"Mama sendiri tahu kalau aku sudah terbiasa seperti itu."
"Ya, tapi tetap saja itu mengkhawatirkan. Tanggung jawabmu di Nikolai Grup sangat besar ya?"
"Hmm ...."
"Padahal staffnya Dimitri bukan hanya kamu."
"Tetap saja."
"Berapa tahun kamu bekerja di sana?"
__ADS_1
"Tujuh tahun."
"Mama rasa itu cukup."
"Cukup untuk apa?"
"Mempercayakan sebagian pekerjaanmu kepada orang lain."
"Tidak mungkin."
"Mungkin saja. Karena cepat atau lambat kamu pun harus menyerahkan semuanya jika saatnya tiba."
"Maksud Mama?"
"Masa kamu mau bekerja di sana seumur hidup?"
"Kalau bisa kenapa tidak?"
"Apa kamu tidak akan memikirkan dirimu sendiri?"
"Soal itu ...."
"Tidak mungkin kan? Kamu akan menemukan seseorang, lalu berkeluarga. Tidak mungkin juga meninggalkan anak-anakmu hanya untuk tetap bekerja di sana. Mama Rasa tabunganmu sendiri sudah cukup untuk bekal setelah kamu mengundurkan diri?"
"Mama mulai lagi?"
"Begini Cla ...."
"Stop, aku tidak mau bicara soal itu, atau apa pun yang akan Mama katakan. Percuma saja."
"Tidak ada yang percuma, semuanya harus kita bicarakan."
Clarra menggelengkan kepala.
"Dengar Cla ...."
"Tidak mau Ma. Aku tahu apa yang akan Mama katakan."
"Apa?"
"Pasti Mama akan bicara soa jodoh, yang sudah mama ketahui itu tidak ada dalam prioritasku saat ini."
"Kenapa? Kamu sudah cukup umur untuk ...."
"Bla bla bla ... kalimat sama yang selalu Mama katakan." Dia tertawa lagi, kemudian bangkit.
"Aku tidak butuh siapa pun untuk hidup selain Mama dan Papa. Dan untuk hal lainnya, Mama tahu aku juga tidak memerlukannya. Aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri bahkan jika aku berhenti bekerja. Apa yang Om Satria berikan kepadaku sangat lebih dari cukup. Mama tahu itu bahkan sama sekali belum aku gunakan sampai sekarang. Karena kalian selalu memenuhi semua hal yang aku butuhkan. Jadi, bagaimana aku akan membutuhkan orang asing yang bahkan tidak aku kenal?"
"Cla ...."
"Stop. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama Mama dan Papa. Tidak dengan orang lain."
"Bagaimana jika kami sudah tidak ada?"
"Clarra."
"Aku tidak takut. Karena pada akhirnya kita akan sendirian bukan? sama seperti saat kita dilahirkan."
"Kamu tahu, terkadang Mama menyesal karena mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Mengapa kami tidak simpan saja semuanya, jadi kamu tidak akan seperti ini."
"Ma, tidak ada hubungannya. Mau bagaimana pun semua sudah ada jalannya sendiri. Lebih baik aku tahu dari kalian dari pada aku tahu dari orang lain kan?"
"Tapi dampaknya kepadamu jadi seperti ini. Kamu sangat keras pada dirimu sendiri, dan menolak siapa pun yang datang mendekat. Dokter Syahril bahkan sudah tiga kali bertanya kepada Mama soal ...."
"Stop!" Clarra tertawa lagi.
"Aku sudah tidak mau membicarakannya lagi." Dia menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Sekali saja Cla?"
"Tidak. Mama bilang aku harus istirahat?"
"Ya memang, tapi ...."
"Maka aku akan istirahat." Clarra segera menghambur ke kamarnya di lantai dua. Persis seperti sebelum-sebelumnya, setiap kali sang ibu membahas masalah perjodohan dan keadaan dirinya saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lelah?" Piere duduk di samping Amara yang tengah mengistirahatkan tubuhnya.
Pekerjaannya baru saja selesai namun dia yakin sebentar lagi akan ada pekerjaan lainnya yang mungkin lebih berat.
"Kalian kuat sekali bekerja seperti ini. Sementara aku, baru dua minggu rasanya sudah ingin menyerah saja."
Pria di sampingnya tertawa.
"Aku terbiasa hanya menunjuk apa yang aku mau, dan aku mendapatkannya dengan mudah. Di rumah, aku hanya melihat para pekerja melakukan tugas seperti ini. Pagawai di resot ayahku bahkan bekerja lebih ringan dari pada di sini." Gadis itu bercerita.
"Orang tuamu pasti sangat kaya ya? Sehingga membuat hidpmu begitu mudah?" Piere berujar.
Amara tak menjawab. Kata kaya menjadi hal yang tak ingin dia dengar akhir-akhir ini karena itu membuatnya terlihat berbeda dengan orang-orang di sekelilingnya. Meski pada kenyataannya itu memang benar, namun tetap saja dia merasa tak nyaman.
"Kita sebut saja sukses." ucap Amara yang menenggak minuman miliknya.
"Ya, sukses dalam bisnis. Dan itu membuat keuarga kalian memiliki segalanya."
Amara terdiam lagi.
"Bersyukurlah, karena kebanyakan orang tidak memiliki apa yang kau miliki. Bahkan sebagian dari kami harus berjuang sangat keras agar mendapatkan kesempatan seperti itu."
"Ck!" Amara berdecak.
__ADS_1
"What?"
"Kenapa ucapanmu terkadang seperti seseorang yang aku kenal?" Gadis itu menoleh kepada tema sekelasnya tersebut.
"Ucapan yang mana?"
"Yang barusan, dan ucapan-ucapan yang dulu."
Pria asli Prancis itu tertawa.
"Lucu sekali kau ini!" katanya, seraya mengusak puncak kepala Amara.
Gadis itu tertegun menatap wajah Kaukasianya yang menawan. Siapa pun tidak akan menyangka jika pria di depannya merupakan seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu di sebuah hotel bersamanya. Orang-orang pasti akan mengira jika teman sekelasnya itu memiliki pekerjaan yang lebih baik.
"Now what?"
"Tidak, hanya saja ... aku ingat orang lain setiap kali melihatmu." Dia mengalihkan pandangan ketika merasakan matanya mulai memanas.
Segumpal daging di dalam tubuhnya terasa bagai diremas kuat setiap kali mengingatnya. Dan nengapa pula semakin hari rasanya malah semakin menyesakkan saja? Dan ini mulai membuatnya frustasi.
"Dia membuatmu patah hati, sehingga kau memilih pergi ke negara ini?" Piere bertanya.
"Tidak, tapi mungkin aku yang mematahkan hatinya."
"Jahat sekali kau ini?"
"Benarkah?"
"Kenapa kau melakukannya?"
"Karena dia ...."
"Oh ya, sudah mendengar kabar penyelenggaraan Women Superbike bulan depan?" Piere mengalihkan topik pembicaraan.
"Apa?"
"Women Superbike di Le Mans?"
"Balap motor?"
"Ya, Superbike."
"Memangnya kenapa?"
"Hotel harus bersiap, karena bisa dipastikan kota Paris akan semakin ramai."
"Kenapa?"
"Kenapa katamu? Ya karena ada superbike lah."
"Memangnya jarak dari sirkuit ke Paris dekat?" Amara bertanya.
"Tidak juga sih."
"Lantas kenapa hotel harus melakukan persiapan juga?"
"Biasanya akan berpengaruh pada bertambahnya wisatawan. Dan itu akan berdampak juga pada wilayah sekitar."
"Benarkah?"
"Ya. Paris akan di banjiri wisatawan asing selama digelarnya balapan dan kita akan sangat sibuk."
Amara terdiam lagi.
"Dan aku dengar pembalap dari negaramu juga akan hadir."
"Rania?"
"Ya Rania. Dia sangat terkenal."
"Hmm ... memang."
"Aku berharap dia dan timnya menginap di sini, tapi itu tidak mungkin. Jarak Paris ke Le Mans menghabiskan waktu dua jam, dan itu cukup jauh."
"Kamu penggemarnya juga?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak? Seorang yang berasal dari balapan liar di jalanan sebuah kota menjadi pahlawan bagi negaranya di ajang internasional? Aku rasa itu sangat luar biasa."
"Sepertinya kamu tahu soal dia ya?"
"Benar, aku mengidolakannya sejak pertama kali dia muncul. Dia hebat sekali. Aku rela menukar dengan apa saja asalkan bisa bertemu dengannya."
Sejenak Amara lupa dengan perasaannya. Perhatiannya teralihkan oleh pembicaraan dan setiap ekspresi dari teman sekelasnya itu. Betapa keinginan beberapa orang menjadi hal mudah baginya. Bagaimana dirinya mengenal Rania sebagai anggota keluarga dari ibu sambungnya, dan itu cukup membanggakan saat dia mendengarnya di ucapkan oleh orang lain. Dan dirinya sangat beruntung bukan?
Namun kemudian dia tersadar. Betapa selama ini dia menganggap sepele segala hal, dan mengira semuanya mudah untuk dilakukan. Tanpa berpikir bagaimana jika orang lain yang mengalaminya? Tentu semuanya akan berbeda.
"Jam istirahat kita sudah habis Ra." Piere bangkit dari duduknya.
"Sebaiknya kita cepat kembali. Ingat, ini hari gajian." Pria itu mengulurkan tangannya yang segera Amara sambut. Kemudian mereka pun kembali pada pekerjaannya masing-masing.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Inget terus ya Ra? Aneh 😄😄😄
sabar gaess, semua akan ketemu pada waktunya. Meski harus berbelok, menikung, atau pun menanjak. Semuanya butuh proses bukan?😂😂
__ADS_1
yang penting kirim dulu like komen sama hadiahnya, biar Kang Dudul makin naik 😄