
🌺
🌺
Sebuah bangunan besar yang tentu saja tampak tak asing bagi Arfan dan Satria. Ketika mereka turun dari mobil yang dikemudikan oleh Andra, juga Galang yang ikut di belakang mereka. Meski sempat mendapat penolakan dari Arfan, pria muda itu tetap memaksa untuk ikut.
"Hmm … mengingatkan tentang masa lalu bukan?" Satria membenahi letak kaca mata hitamnya.
Matahari memang cukup terik saat itu, membuat siapa pun memicingkan mata.
Arfan tak menyahut, namun dia segera mengayun langkah lebarnya melewati pintu yang sudah terbuka begitu penjaga mengetahui kedatangan mereka.
Diikuti Andra dan Galang yang menatap dengan raut takjub sekaligus tidak percaya. Dia baru mengetahui ada hal semacam ini, dan tak pernah menyangkanya sedikitpun.
"Tahanan melawan waktu ditangkap Pak." ucap penjaga yang membukakan pintu sebuah ruangan di dalam.
Tampak tiga orang pria yang salah satunya kira-kira seumuran Arfan duduk terikat di kursi. Mulutnya tertutup lakban dan mata diikat sehelai kain.
Keadaan mereka tampak tidak baik-baik saja, dan semuanya terlihat babak belur. Pasti sudah menerima siksaan lebih dulu sebelumnya.
Si penjaga membuka kain penutup mata dan lakban yang menutup rapat mulut mereka , lalu ketiganya tampak mengerjap ketika cahaya mengenai netra.
Arfan bersedekap sambil memicingkan mata.
"Siapa di antara kalian yang menabrak mobil anakku?" katanya dengan suara rendah.
Tak ada yang menjawab.
"Aku tanya, siapa di antara kalian yang menabrak mobil anakku?" Pria itu mengulangi pertanyaannya. Kali ini suaranya lebih keras.
Masih tidak ada yang menjawab, sampai akhirnya Arfan merasa hilang kesabaran.
"Apa kalian bisu dan tuli, sialan?!" Pria itu akhirnya menerjang mereka. Menendang wajah ketiganya secara bergantian hingga mereka terjengkang ke belakang.
"Kenapa tidak ada yang mengaku? Bukankah kalian punya nyali dengan menampakkan diri dan menyerang anakku?" Arfan berteriak.
Napasnya menderu-deru, tampak sekali jika pria itu benar-benar marah.
"Dia bahkan tidak tahu apa masalahnya, tapi kenapa?" Arfan kemudian berjongkok di dekat pria yang terlihat seumuran dengannya.
"Kau masih dendam kepadaku?" Dia menarik kerah kemejanya yang sudah basah oleh keringat dan air yang disiramkan penjaga kepadanya.
"Kenapa bukan aku yang kau hadapi? Kenapa anakku?" Kemudian menghempaskannya kembali ke lantai.
"Aku tanya sekali lagi." Lalu Arfan bangkit, bersamaan dengan penjaga yang mengembalikan para tahanan yang terikat di kursi mereka itu kembali ke posisinya semula.
"Siapa yang menabrak anakku?" Arfan memelankan suaranya, namun hal itu malah menghadirkan suasana yang benar-benar mencekam.
Galang bahkan bisa merasakan kemarahan yang teramat sangat di dalamnya.
"Masih tidak mau mengaku?" Pria itu berjalan mengitari mereka, lalu berhenti di belakang tiga pria yang tampak ketakutan itu.
Kemudian dia mengaitkan lengan kepada salah satunya dan menekan lehernya sekeras yang dia bisa.
"Lalu siapa yang memukulinya malam itu?" Arfan setengah berbisik dan mengarahkan pandangan pria tersebut kepada Galang.
"Katakan!"
"Stop Arfan, kau akan membunuhnya." Satria mencoba menghentikannya.
"Berhenti." Pria itu menghampiri Arfan kemudian menepuk pundak menantunya tersebut.
"Sudah, hentikan!"
__ADS_1
Dan Arfan pun akhirnya menghentikan tindakannya.
"Ayo, mengaku sajalah. Tidak akan ada untungnya bagi kalian untuk tetap bungkam. Tidak akan ada yang keluar dengan selamat dari tempat ini kecuali dengan berkata jujur." Satria buka suara.
"Dan jika berkata jujur, setidaknya kalian akan kami serahkan ke polisi dengan tuduhan perencanaan pembunuhan. Atau bisa dikondisikan jika memberi tahu siapa yang menabrak Ara. Tuduhannya akan di peringan menjadi pengancaman, tidak apa-apa. Bukankah kami ini sangat baik?" Satria menggulung bagian lengan kemejanya hingga sebatas sikut.
Dua diantara mereka terperangah.
"Rafi, kami hanya bertugas mengawasi keadaan lalu mengirimkan informasi. Semuanya Rafi yang melakukan. Pengancaman dan eksekusinya dia yang menjalankan." keduanya secara bersamaan.
Arfan memicingkan mata. Baru dia hendak kembali menerjang pria itu ketika dengan tiba-tiba Galang melayangkan tendangannya di dada. Membuat Rafi seketika kembali terjungkal ke belakang dan menghancurkan kursi yang terikat kepadanya.
"Nah kan, apa kataku?" Satria berujar, namun kali ini dia tak berusaha menghentikan Galang.
"Kau membuat masalah dengan orang yang salah. Kau tak pernah belajar ya?" Dia berdiri di dekat Arfan dengan kedua tangan terlipat di dada.
Galang mencengkram kerah kemejanya, kemudian menariknya agar pria itu bangkit. Dan memang sosoknya sangat mirip dengan pria yang memukulinya ditengah hujan tempo hari. Meski memakai penutup wajah, namun Galang tidak akan pernah lupa dengan gestur tubuhnya. Belum lagi mereka memang telah bertemu sebelumnya ketika bersama Clarra.
"Aku tidak mengenalmu, dan kau pun sebaliknya. Tapi kau berani-beraninya mengusikku hanya karena aku membela kepentingan seseorang. Ditambah lagi dengan perbuatanmu mencelakai orang lainnya.” Galang terdengar menggeram.,
“Apa yang ada dalam kepalamu? Bukankah Clarra itu adalah anakmu? mengapa kau memperlakukannya seperti ini? Lalu kau menyakiti Ara, dia bahkan tidak mengerti dengan apa yang terjadi. ”
Rafi masih bungkam.
“Kau tahu, sebenarnya Larra sudah mengelabuimu sedemikian rupa sehingga kau melakukan banyak hal untuknya. Dia memperalatmu seperti halnya yang ingin dia lakukan kepada Clarra. Apa kau belum menyadarinya?” Satria kemudian maju.
“Kita ini sudah tidak muda lagi, dan apa yang kau lakukan membuatku malu sebagai laki-laki dewasa. Begitu mudahnya kata-kata dan keinginan Larra mempengaruhimu sehingga kau berbuat seperti ini. Bahkan kepada anak yang tidak tahu apa-apa."
Galang menatapnya dengan raut yang benar-benar marah. Dan dia segera melayangkan pukulan pada wajah pria paruh baya itu secara bertubi-tubi.
"Stop Galang, dia bisa mati. Tenagamu tak sepadan dengan pria seumuran dia." Satria pun segera menghentikannya.
Galang pun menghentikan apa yang diperbuatnya. Dia berniat mundur menjauh tapi amarah masih menguasai hati dan pikirannya.
Andra hampir saja menghentikannya namun Satria menahan dengan isyarat.
"Kalian benar-benar salah memilih lawan." Galang kembali mendekat lalu menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya benar-benar mundur menjauh.
"Urus mereka, dan segera serahkan kepada polisi. Pastikan mereka mendapatkan hukuman yang sesuai. Dan jangan sampai ada kemungkinan bebas sebelum waktunya. Atau aku sendiri yang akan memberikan hukuman." ucap Satria kepada penjaga, yang kemudian memberikan isyarat kepada tiga pria di dekatnya untuk keluar.
"Bagaimana dengan Larra?" Satria bertanya kepada penjaga.
"Dia di ruangan sebelah Pak."
"Benarkah? Aku pikir dia sudah diserahkan ke polisi?"
Penjaga tak menjawab, namun dia hanya melirik kepada Andra.
"Kalian mau menemui dia dulu? Mungkin untuk mengucapkan salam perpisahan atau semacamnya?" Satria menoleh kepada Galang dan Arfan.
Tak ada yang menjawab, namun mereka sama-sama berhenti di depan pintu ruangan lainnya.
Terdengar jeritan perempuan yang menandakan sedang terjadi sesuatu di dalam.
"Apa yang sedang mereka lakukan kepadanya?" Satria bertanya.
"Hanya sedikit hukuman Pak."
"Hukuman apa?"
Si penjaga hampir membuka mulutnya untuk menjawab.
"Ah, semoga dia gila. Aku tidak bisa membayangkan sekecil apa hukumannya sampai dia meraung seperti itu." Satria berujar.
__ADS_1
"Kalian mau masuk dan melihat hukuman apa yang mereka berikan kepadanya?" lalu dia bertanya lagi kepada Arfan dan Galang.
"Nanti saya lebih emosi Pak." Menantunya menjawab.
"Galang?"
Pria yanh dimaksud menggelengkan kepala.
"Baiklah, tapi jangan menyesal ya? Karena setelah ini dia akan diserahkan ke kantor polisi dan kalian tidak akan aku perkenankan untuk melakukan apa-apa kepadanya." Kemudian pemilik Nikolai Grup itu melanjutkan langkahnya, diikuti ketiga pria tersebut.
***
Mereka kembali ke rumah sakit pada hampir sore. Dan mendapati ketegangan lainnya ketika mendengar raungan dari kamar rawat Amara.
"Ara sadar?" Arfan berlari ke arah di mana Dygta dan Mytha berada.
"Baru saja." Dygta menjawab.
Tanpa menunggu lama, pria itu segera menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dua perawat dan seorang dokter tengah berusaha menenangkannya. Namun suara raungan Amara malah semakin keras.
Arfa segera mendekat dan dia meraih tangan kiri putrinya yang tidak mengalami cedera.
"Ampuuun!! Sakit Papa!" Teriak gadis itu dalam tangis.
"Tenanglah, mereka akan mengobatimu."
"Aku mau pulang, nggak mau di sini."
"Iya, nanti kalau kamu sudah sembuh ya?"
"Ampuuunn! Sakit!" Amara terus saja meraung.
"Ara …"
"Kami akan memberikan obat bius dan penahan sakit lagi Pak. Ini pasti akan sangat menyiksa selama beberapa hari, jadi Ara sangat membutuhkannya." Dokter menjelaskan.
"Berikan, berikan saja. Lakukan apa yang dibutuhkan agar dia membaik."
"Tapi mungkin Ara tidak akan sadar lagi setelah ini."
"Apa itu berbahaya?"
"Tidak, ini hanya efek obat. Tapi ini yang dia butuhkan untuk sementara waktu. Karena jika tidak kejadian seperti ini akan terus terulang setiap hari."
"Baik, lakukan saja. Kalian lebih mengetahui daripada kami bukan? Lakukan saja dokter."
"Baik." Lalu dokter mendekat, meski Amara terus meraung dan menolak untuk didekati, namun prosedur itu harus dilakukan untuk menenangkannya.
Semakin lama suaranya terdengar semakin memilukan, meski dokter telah menyuntikkan obat kepadanya, namun Amara masih tetap menjerit-jerit untuk beberapa saat. Dan Arfan tidak beranjak sedikitpun dari sisinya.
Dia tetap berada di sana, memegang tangannya, dan berusaha membuatnya merasa baik meski kenyataannya Amara tetap merasa begitu kesakitan.
Sementara orang-orang hanya menunggu dan menatap adegan itu dengan hati ngilu. Terutama Galang yang berdiri di dekat pintu, tidak berani mendekat karena takut mengalami penolakan.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1