
🌺
🌺
"Pemulihannya cukup bagus, hanya perlu tetap berhati-hati dan semuanya akan benar-benar pulih dengan baik." Dokter spesialis tulang menunjukkan hasil pemeriksaan pada pagi itu.
"Mungkin setelah dua minggu dari sekarang sudah bisa dimulai terapinya." lanjutnya seraya menambah keterangan pada catatan kesehatan Amara.
"Sudah bisa dilakukan?" Galang merespon.
"Bisa, mungkin dimulai dengan terapi ringan. Nanti terapistnya sendiri yang akan menerangkan apa saja yang akan dilakukan."
"Baik."
"Jangan bosan untuk meminum obatnya ya? Ini demi kesembuhan." ucap Sang dokter yang kemudian tersenyum melihat wajah cemberut pasiennya.
"Mulut aku rasanya udah kebas Dokter. Udah males minum obat terus." Amara menjawab.
"Untuk bisa cepat sembuh memang harus minum obat. Nanti juga berhenti kalau sudah tidak perlu."
"Bisa nggak sih dikurangi obatnya? Banyak amat?" Amara menatap ngeri obat-obatan yang harus dikonsumsinya yang terdiri dari beberapa bungkus itu.
"Tidak bisa, ini semuanya memang perlu diminum agar kamu cepat pulih."
"Tapi rasanya aku udah mual. Tiap mau minum obat itu perut aku kayak yang diaduk-aduk."
"Maaf ya? Tapi ini memang harus."
"Hmmm …." Amara mengerucutkan mulutnya.
"Baik Dokter, terima kasih. Kalau sudah selesai kami pamit." Galang yang bangkit dari kursinya.
"Sudah, sudah selesai. Sama-sama, semoga cepat sembuh ya? Jangan lupa hubungi saya kalau ada apa-apa."
"Baik, terima kasih sekali lagi."
"Cepat sembuh cepat sembuh, tapi nggak sembuh-sembuh?" Amara menggerutu ketika mereka sudah berada di luar ruang pemeriksaan.
"Itu do'a Neng, aminkan saja. Siapa tahu ada malaikat lewat dan do'a dokternya dikabulkan." Galang mendorong kursi roda ke arah luar.
"Tapi kelamaan Kak?"
"Iya kan cedera kamu parah? Memangnya ini bambu yang setelah dipotong terus diikat bisa langsung bagus? Kan tulang."
"Tapi asli, ini sakitnya udah agak berkurang."
"Sakitnya berkurang bukan berarti kamu sembuh. Kalaupun sembuh kan harus terapi dulu. Dengar tidak apa yang dokter katakan tadi?"
"Denger."
"Terus kenapa kamu sepertinya tidak mau menurut? Kalau begini nanti sembuhnya akan lebih lama lagi."
Amara terdiam.
"Kamu mau lama-lama begini?"
"Ya nggak lah! Baru dua bulan nggak ngapa-ngapain aja rasanya udah kesel?"
"Ya makanya, menurutlah. Bukankah kamu ini anak manis dan penurut?" Mereka berhenti di dekat mobil milik Galang.
"Kelamaan."
"Kamu masih beruntung. Ada orang lain yang mengalami kecelakaan lebih parah. Mereka bahkan sampai tidak bisa bangun sama sekali. Apa itu tidak bisa membuatmu lebih bersyukur?"
Amara terdiam lagi.
"Kita ke rumah Papamu, oke? Setelah ini aku harus ke sekolahnya Anya."
"Ke sekolahnya Anya ada apa?" Amara mendongak.
"Ada sedikit urusan."
"Lama?"
"Hanya sebentar, setelah itu bekerja." Kemudian Galang membantu Amara berdiri lalu memindahkannya ke dalam mobil. Dan setelah memasukkan kursi roda ke belakang, mereka pun bergegas menuju ke kediaman Arfan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Saya sebagai perwakilan orang tua dari Anya meminta maaf atas apa yang dia lakukan. Ini benar-benar diluar kendali kami Bu." Galang berbicara setelah mendengar pernyataan dari orang tua teman sekelas Anya, juga guru dan kepala sekolahnya.
"Kami akan bertanggung jawab penuh untuk segala perawatan dan pemulihan anak ibu sepulangnya dari rumah sakit."
"Soal itu kami sudah memaafkan Pak. Tapi apa Pak Galang bisa menjamin kalau Anya tidak akan berbuat begitu lagi? Ini sudah dua kali lho Pak, Anya berbuat begitu. Dan yang ini lebih parah. Apa nantinya tidak akan membahayakan?"
Galang menghembuskan napas keras.
"Mungkin sebaiknya Anya dipindahkan saja, bahaya untuk anak-anak lain lho Pak kalau begitu terus? Lama-lama mungkin tidak bisa dikendalikan."
"Maaf Bu, Anya sebenarnya anak baik. Dia tidak akan bereaksi kalau tidak diusik."
"Dari mana Bapak tahu? Orang tuanya saja mungkin tidak peduli makanya hanya mengutus Bapak sebagai pesuruh."
"Maaf, saya juga tahu Anya dari kecil, jadi sudah pasti tahu Bu."
"Benarkah? Pantas saja orang tuanya mengutus Pak Galang yang datang, bukannya hadir secara langsung untuk melihat perbuatan anaknya. Tidak heran kalau kelakuan Anya seperti itu?"
Galang mengerutkan dahi.
"Maaf Bu, atasan saya tidak ada wakty untuk mengurus hal seperti ini. Tapi kalau untuk anak-anaknya bisa saya jamin mereka sangat bertanggung jawab."
"Lalu kenapa punya anak kok seperti Anya ini? Yang kelakuannya seperti preman. Ini sekolah internasional loh Pak Galang, bukan sekolah kampung yang anak-anak dibebaskan untuk berkelahi. Kami memasukkan anak ke sekolah ini agar mendapatkan pendidikan yang baik, bukannya malah jadi samsaknya Anya."
"Apakah anak ibu setiap hari mendapat pukulan dari Anya?" Galang bertanya.
"Ya tidak juga sih. Tapi ini kedua kalinya anya memukul anak saya, sampai berdarah-darah lagi. Pak Galang tahu, saya harus membawa anak saya kerumah sakit begitu tahu dia kena pukulan Anya."
"Apa sangat parah?"
"Tentu, hidungnya berdarah dan dia sering pusing."
"Sekali lagi saya minta maaf, tapi sungguh Anya tidak akan melakukan hal seperti itu jika dia tidak diusik."
"Alah, anak kecil tahu apa? Kalau sudah wataknya seperti itu ya sudah pasti terus begitu."
"Apa ibu sudah bertanya kepada Anya kenapa dia memukul anak ibu?"
"Tidak perlu bertanya Pak, buktinya kuat kok."
__ADS_1
"Atau ibu tanya anak ibu sendiri kenapa Anya begitu kepadanya?"
"Anak saya tidak bisa ditanya, dia sakit."
"Sampai separah itu ya?"
"Iya, makanya saya minta pertanggung jawaban orang tuanya Anya."
"Jangan khawatir, seperti yang saya katakan tadi kalau kami akan bertanggung jawab. Atau mungkin mau dipindah ke Nikolai Medical Center saja, biar kami tangani secara intensif?"
"Eee … Nikolai … Medical … Center?" Perempuan itu tergagap.
"Ya, rumah sakit khusus milik Mommynya Anya. Saya pastikan disana anak ibu akan mendapatkan perawatan terbaik."
"Umm … itu …"
"Karena tadi juga Mommynya Anya berpesan, kalau perlu bawa ke NMC saja. Beliau juga minta maaf karena tidak bisa hadir. Karena saat ini sedang ada di Portugal untuk balapan. Baru berangkat kemarin malam."
Perempuan itu tertegun, dia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Karena desas desus hanya menyebutkan jika anak perempuan yang telah memukul anaknya hanya anak seorang pembalap. Dan dirinya hanya baru bertemu sekali saja ketika kejadian pemukulan yang pertama terjadi. Tapi dia tidak mengira jika itu adalah benar-benar orang yang Galang maksud.
"Bagaimana Bu? Apa perlu kita bawa ke NMC?"
"Ohh … soal itu sepertinya tidak usah Pak Galang."
"Lho? Tadi ibu bilang keadaan anak ibu sangat parah sehingga dia tidak bisa ditanya soal penyebab pemukulan yang dilakukan Anya?"
"I-iya, masalahnya tadi anak saya sedang tidur waktu saya mau berangkat ke sini Pak Galang."
"Benarkah? Jadi bagaimana?"
"Umm … saya hanya …."
"Bolehkan saya memanggil Anya dan Zenya masuk untuk kita tanyai? Agar tahu penyebabnya apa dan kita tidak hanya menyalahkan satu pihak saja?" Lalu dia menoleh kepada guru dan kepala sekolah.
"Boleh Bu?" Galang bertanya.
"Boleh, silahkan."
"Baik."
Kemudian sang Guru membawa Anya masuk ke dalam ruangan kepala sekolah, di mana beberapa orang dewasa tengah beradu argumen.
"Anya?"
"Kok Om Galang ada di sini?" Gadis kecil itu mendekat.
"Iya, mau ketemu Anya."
"Ada apa? Mommy nggak kecelakaan kan?"
"Eh, kenapa tanya begitu?"
"Habisnya Om tiba-tiba datang. Kan aku jadi curiga?"
Galang terkekeh seraya mengusak puncak kepalanya.
"Nggak apa-apa, Mommy sekarang sedang latihan."
"Ohh ...."
Anya menatap wajah asisten ayahnya.
"Kamu memukul seseorang?"
"Oh … Elvan?"
"Apa?"
Anya mengalihkan pandangan kepada perempuan di depan Galang.
"Kemarin aku mukul Elvan." Anak itu segera menjawab.
"Kenapa memukul Elvan?"
"Karena dia nakal." katanya, masih menatap perempuan yang dia kenali sebagai ibu dari teman sekelasnya.
"Kan Om sudah bilang jangan memukul."
"Habisnya dia keterlaluan." Anya kembali beralih kepada Galang.
"Keterlaluannya di mana?"
"Dia sebut Mommy payah."
"Apa?"
"Katanya Mommy jarang ke sekolah, karena Mommy payah. Dia bilang Mommy nggak sayang aku sama Zen makanya jarang datang. Om nggak tahu sih aku sakit hati kalau Mommy dibilang gitu? Zen aja sampai nangis." Dia mengenggam pergelangan tangan saudara kembarnya.
"Terus?"
"Dia juga bilang kalau Mommy it's a bad Mom. Nggak ngurusin anak-anaknya. Kayak yang tante bilang kemarin kan?" Dia kembali menatap perempuan yang menenteng tas dengan merk terkenal itu.
"Padahal Mommy kan lagi kerja, makanya jarang anter aku ke sekolah. Kalau ada di rumah latihan juga kan? Kalau nggak gitu nanti Mommy nggak juara lagi? Nggak keren lagi."
Galang mengalihkan pandangan pada perempuan di hadapannya.
"Dan kamu pikir orang seperti itu harus dapat pukulan?"
"Iya, dia nggak sopan. Terus bohong lagi? Kata Anom kalau orang suka bohong harus dikasih pelajaran. Biar kapok!" Anya dengan ekspresi tidak senang.
Dia merasa tidak terima jika ingat sebutan orang tua temannya kepada sang ibu. Dan itu tidak akan pernah dia lupa.
"Oke."
"Tapi aku udah minta maaf lho Om kemarin sama Tante nya. Aku nyesel udah mukul Elvan. Pasti habis ini aku kena marah sama Mommy pas pulang nanti. I'm not a good girl anymore. I'm sorry Tante." katanya lagi dengan nada sendu.
Galang mengusap punggung anak itu dengan lembut.
"Terima kasih Anya. Sekarang kembali ke kelas ya? Jangan nakal, ingat pesan Momny?"
"Aku nggak nakal, aku good girl. Zenya juga good boy. Tapi kalau ada yang ngomongin Mommy aku nggak suka. Because she's a great mom!"
"Iya iya, Om tahu. Sekarang kembali ke kelas ya?"
"Aku nggak dihukum?"
"Nggak."
__ADS_1
"Aku nggak usah pindah sekolah?"
"Kenapa harus pindah sekolah?"
"Tantenya bilang aku harus pindah sekolah biar nggak ketemu Elvan lagi. Padahal aku seneng sekolah di sini. Temen-temen yang lain baik kok, nggak rese kayak Elvan."
Galang melirik si ibu yang tiba-tiba terlihat canggung.
"Teman-tema yang lain baik?"
"Ya."
"Tidak pernah menjelek-jelekkan Mommy?"
"Nggak. Mereka bilang Mommy cool karena jadi juara terus."
"Mommy memang cool kan?"
"Iya, Rania Yudistira is my Mom!" Anya dengan bangganya.
"Ya ya ya." Galang terkekeh sambil kembali mengusak kepala anak itu.
"Sekarang Anya belajar lagi ya?"
"Beneran nggak usah pindah sekolah?" Anya bertanya lagi.
"Nggak usah."
"Oke."
"Zenya juga, belajar lagi ya?"
Anak laki-laki itu hanya mengangguk.
"See? Kalau kita bilang sama Om Galang pasti percaya. Makanya lain kali ngadunya sama Om Galang aja, jangan sama Papi." Dua anak itu keluar dari ruangan tersebut.
"Jadi …."
"Maaf Pak Galang?" Perempuan yang merupakan ibu dari Elvan tersebut menginterupsi.
"Ya bu, silahkan?"
"Benar kalau Anya itu anaknya Rania Yudistira?" Dia bertanya.
"Benar Bu."
"Yang menikah dengan anaknya Pak Nikolai?"
"Iya."
"Ee …."
Galang sedikit menyeringai, dia tahu bagaimana akhirnya setelah ini.
"Apa ada yang perlu saya lakukan untuk menebus kesalahan Anya? Mungkin ibu butuh sesuatu atau …."
"Oh, tidak Pak Galang terima kasih. Hanya hal ringan, dan masih bisa saya atasi. Dulu juga setelah Bu Rania membawa Elvan ke klinik besoknya sembuh. Mungkin kali ini juga begitu." Dia terkekeh canggung.
"Benarkah?"
"Ya, saya juga minta maaf. Bukankah anak-anak memang begitu ya? Selalu saling mengejek, tapi tidak lama mereka akur lagi?"
"Hmm … ya, begitulah anak-anak Bu."
"Iya Pak Galang."
"Jadi bagaimana? Urusannya mau diteruskan?"
"Oh, … tidak Pak. Sampai di sini cukup."
"Baik kalau begitu."
"Ya, mungkin sebaiknya kita sudahi saja diskusinya sampai di sini Pak. Saya harus pulang karena Elvan membutuhkan saya di rumah."
"Di rumah? Saya kira di rumah sakit Bu?"
"Eee … iya, maksudnya … di rumah sakit Pak. Dia harus pulang. Kalau begitu saya permisi?" Perempuan itu bergegas pergi.
"Hmm …" Galang melihat pesan di ponselnya.
"Dia istri staff di cabang Nikolai Grup. Baru bekerja tiga bulan yang lalu di bagian administrasi." Pesan dari Clarra.
"Pantas." Lalu Galang memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.
"Sepertinya urusan sudah selesai Bu?" Dia beralih kepada kepala sekolah.
"Iya Pak, syukurlah."
"Saya minta maaf karena ulah Anya."
"Iya, terkadang Anya tidak bisa dikendalikan. Apalagi jika itu tidak sesuai dengan apa yang diketahuinya."
"Begitulah Bu. Sekali lagi saya minta maaf. Saya berharap Ibu tidak akan memberikan sanksi atau apa pun sebagai bentuk hukuman untuk Anya."
"Soal itu … mungkin setelah mempertimbangkan pengakuan Anya, kami tidak akan memberi hukuman apa pun. Tapi kami berharap Anya tidak akan mengulangi tindakannya lagi Pak."
"Baik Bu, kami akan berusaha memberi pengertian untuk Anya."
"Terima kasih Pak Galang."
"Sama-sama. Saya pamit?
"Baik, silahkan."
Dan Galang pun segera pergi dari tempat itu.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ....
Hadeh, Anya ada-ada aja😂😂
Cuss likenya mana? Mentang-mentang bukan episode pemersatu bangsa likenya lambat. Kan Kang Anu juga ada kerjaan. Masa anuan terus?🤣🤣
__ADS_1