My Only One

My Only One
Percakapan Aneh


__ADS_3

🌺


🌺


"Mau berangkat sekarang?" Mayang yang memang sudah terbangun begitu awal, mengetahui putranya telah bersiap saat masih gelap.


"Nunggu Clarra bangun." Galang melirik perempuan yang meringkuk di sofa. Berselimutkan kain dan jas miliknya yang dia relakan semalam.


"Kasihan dia dari semalam tidur di sana, pasti nanti badannya sakit. Kamu tega, kenapa nggak mencarikan hotel sih?" Mayang juga melakukan hal yang sama.


"Maunya begitu, suka-suka dia lah."


Namun sang ibu tertawa.


"Ada yang lucu Bu? Kok ketawanya gitu amat?"


Mayang menggelengkan kepala. Dia lantas mengusap kepala putranya dengan lembut. Menatapnya dengan penuh kasih sayang seperti biasa.


"Ibu apaan sih?" Galang balik menatap wajah ibunya yang sudah memiliki kerutan di beberapa bagian, tanda usianya yang sudah tiba pada masa tua. Namun tak menghilangkan garis-garis kecantikan dari masa mudanya.


"Nggak kenapa-kenapa." Mayang menjawab.


"Nggak kenapa-kenapa tapi senyum-senyum? Kayak habis menang lotere."


"Kamu baik-baik saja sekarang?" Sang ibu bertanya.


"Aku baik."


"Bagaimana rasanya bekerja dan tinggal sendirian di Jakarta?"


"Biasa aja. Udah dua tahun kan?"


"Masa?"


"Hu'um." Galang mengangguk pelan.


"Jadi sudah terbiasa ya?" Mayang bertanya lagi, seraya melirik Clarra yang masih terlelap.


"Iyalah, apa lagi? Kerjaan bagus, gajinya gede."


"Bagus." Si ibu tersenyum lagi.


"Ibu jangan mikir yang aneh-aneh ya?" Galang menangkap hal yang tak biasa dari raut wajah ibunya.


"Jangan ngira yang macam-macam." Dia memperingatkan.


"Soal apa?"


"Soal apa aja."


Lalu Mayang tertawa.


"Kan, ibu mulai!"


"Apa Lang?"


"Terserah ibu aja lah."


"Kamu bawa anak orang dari Jakarta ke sini nggak mikir apa-apa?"


"Maksud ibu?"


"Mikir nggak gimana orang tuanya sementara anaknya kamu bawa pergi?"


"Clarra?"


"Siapa lagi? Memangnya ada orang lain yang kamu bawa selain Clarra?"


"Orang bukan aku yang ajak, dia sendiri yang tib-tiba mau ikut." Galang menjelaskan.


"Masa?"


"Srius. Pas aku mau pergi banget, tiba-tiba dia ikut."


"Dan kamu bersedia kalau dia ikut?"


"Ya gimana lagi, dia orangnya gitu nggak bisa ditolak."


"Nggak bisa ditolak?" Mayang tersenyum lagi.

__ADS_1


"Umm ... maksudnya ... mungkin karena dia senior aku jadinya agak susah kalau mau nolak. Dia kayak lagi nyuruh aku apa gitu."


Ucapan itu membuat Mayang tergelak.


"Intinya dia yang mau ikut sendiri, bukan aku yang ngajak. Malu Bu kalau harus ngajak-ngajak?"


"Kenapa malu?"


"Ya malu lah. Dia sekretarisnya Pak Dimitri, belum lagi masih sepupuan. Senior pula di kantor, yang lama aja nggak berani."


"Terus kenapa dia mau ikut?"


"Ya mana aku tahu? Sumpek kali kerja terus. Hari-harinya sibuk terus, kayak nggak ada waktu lagi selain buat kerja."


"Ibu kira kamu yang ngajak."


"Udah aku bilang nggak juga."


"Jadi posisinya bagaimana?"


"Udah aku bilang dia sekretaris."


"Bukan itu, maksud ibu posisinya sama kamu."


"Posisinya sama aku?"


"Iya. Dia apanya kamu?"


"Senior aku lah."


"Astaga!"


"Ibu mau nanya apa sih, ribet deh?"


"Maksid ibu, dia bukan pacar kamu?" Mayang berbisik.


"Apa?" Galang hampir berteriak.


"Nggak usah teriak-teriak, masih subuh!" Perempuan itu menepuk paha putranya.


"Ibu ngomong sembarangan!"


"Emangnga bukan?"


"Ibu pikir ...."


"Nggak!"


Mayang tertawa lagi.


"Jangan mikir macem-macem lah." Galang bangkit dari kursinya.


"Mau kemana?"


"Nyari makan."


"Masih subuh kan?"


"Perut lapar." Pria itu segera pergi untuk menghindari percakapan aneh di antara dia dan ibunya.


Sementara itu Clarra terdiam. Sudah sejak beberapa saat yang lalu dia terbangun, namun memutuskan untuk mendengarkan percakapan antara ibu dan anak tersebut.


Rasanya aneh, dan dia malah tetap mendengarkannya. Tapi seandainya dia segera bangun pun rasanya justru akan semakin aneh, jadi dia memutuskan untuk diam saja. Dan tidak menyangka akan mendengarkan hal itu dengan telinganya sendiri.


Sepertinya aku salah dengan ikut Galang kesini? Jadi ada yang salah faham kan? batinnya.


Padahal hanya ingin menghindari sesuatu tapi malah begini jadinya?


"Clarra?" Mayang mendekat.


Clarra cepat-cepat memejamkan mata agar perempuan itu mengira jika dirinya masih tidur untuk membuatnya tidak merasa malu.


"Clarra, mau bangun sekarang? Bukakah kalian harus pergi pagi-pagi sekali?" Mayang menyentuh pundaknya.


Clarra menggeliat, berpura-pura menguap dan bersikap seperti orang yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Ya Bu?" Dia mengucak matanya.


"Sudah jam empat subuh."

__ADS_1


"Oh, ...." Perempuan itu segera bangkit.


"Galang keluar dulu sebentar, jadi kamu bisa bersiap dulu sambil menunggu dia."


"Iya Bu." Clarra pun segera membersihkan diri.


Dia keluar setelah beberapa menit bersamaan dengan Galang yang tiba. Pria itu membawa beberapa bungkusan, termasuk tote bag dan makanan untuk sarapan mereka.


"Sudah siap?" Pria itu bertanya.


"Eee ... iya."


"Sepertinya kamu harus ganti baju dulu?" Galang menyodorkan tote bag kepadanya.


"Ganti baju?"


"Ya. Memangnya kamu mau berkendara dari sini ke Jakarta dengan pakaian kantor ya? Dingin tahu!"


"Umm ...."


"Ganti sana, nanti kalau kamu sakit kan aku juga yag repot. Siapa yang mau mengatur kerjaan staff Nikolai Grup?" Pria itu berujar.


Seperti bawahan kepada atasannya, Clarra begitu saja menerima benda tersebut dan segera melakukan apa yang Galang perintahkan.


Pria itu membawakan kaus, celana panjang dan juga jaket yang cukup tebal untuknya. Sepertinya dia rela repot-repot pergi ke swalayan yang buka 24 jam demi dirinya. Galang bahkan membelikannya paka*an dal*m yang ukurannya benar-benar pas di tubuhnya.


"Pria yang aneh." Clarra bergumam sambil mengenakan pakaian terebut.


Galang menata makanan dan minuman yang sudah dia pesan sebelumnya. Tiga porsi nasi kuning yang masih panas lengkap dengan lauknya. Juga segelas teh manis untuk ibunya, dan dua gelas kopi untuk mereka berdua.


"Aku nggak tahu kamu sarapannya apa, di depan baru ada kang nasi kuning." Pria itu tertawa.


Clarra kembali tertegun menatap makanan yang terhidang di meja.


"Sepertinya aku bisa makan itu."


"Baguslah. Berasa lagi sahur ya? Tapi kalau nggak makan nanti kamu masuk angin."


Kemudian mereka bertiga makan dalam diam dengan pikirannya masing-masing.


***


"Pergi dulu ya Bu?" Galang mencium tangan ibunya denga takdzim.


"Iya, hati-hati. Jangan ngebut, kamu bawa anak orang."


"Nggak akan."


"Nggak akan sedikit." Mayang menepuk lengan sang putra.


"Nah itu, ibu tahu?" Galang tertawa.


"Kalau terlalu ngebut, pukul saja kepalanya ya Cla?" Mayang beralih kepada Clarra yang juga menyalaminya.


"Iya, jangan khawatir."


"Nanti ibu sama ayah pulangnya gimana?"


"Ada Om Angga. Semalam dia kan bilang begitu."


"Oh, ya udah." Galang menyerahkan sejumlah uang yang dia ambil dari mesin atm di sekitar rumah sakit.


"Buat bayar biaya rawat."


"Nggak usah Lang, ibu juga punya." Mayang menolaknya.


"Aku tahu ibu punya, simpan aja kalau nggak ibu pakai untuk biaya rumah sakit."


"Tapi mungkin kamu butuh?"


"Aku masih punya cukup."


"Benar?"


"Iya, nggak usah khawatir."


Mayang terdiam.


"Ayah nanti nggak usah naik-naik lagi ke genteng. Suruh orang kek, atau apalah. Bahaya. Nyusahin ibu juga?"

__ADS_1


Arif hanya mengacungkan jempolnya tanda mengiyakan.


Kemudian dua orang ini segera pergi meninggalkan kota kembang untuk kembali ke Jakarta.


__ADS_2