My Only One

My Only One
Pamit


__ADS_3

🌺


🌺


"Bagaimana persiapanmu?" Dimitri menutup dokumen terakhir yang dia tanda tangani.


"Lancar Pak." Galang menjawab.


"Ada yang kamu perlukan? Kamu bisa mengatakannya kepada staf dan mereka akan mengurusnya untukmu." Pria itu berujar.


"Tidak usah Pak terima kasih. Semuanya sudah ditangani."


"Ya?"


"Iya Pak. Segalanya sudah saya serahkan kepada Pak Arfan, dan pegawainya yang akan menangani."


"Hmm …." Dimitri menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kalian sudah akur rupanya?" Pria itu sedikit mengerutkan dahi.


"Ada kemajuan ternyata." Lalu dia tertawa.


"Ya Pak."


"Syukurlah kalau begitu, jadi kalian bekerja sama dalam hal ini?" Dimitri bertanya lagi.


"Bisa disebut begitu Pak." Galang terkekeh pelan.


"Bagus. Om Arfan biasanya paling sulit untuk diajak kerja sama. Tapi kepadamu dia melunak dengan mudah. Tidak bisa dipercaya."


"Hmm … saya rasa, saya hanya beruntung Pak."


"Ya, kamu benar soal itu. Dan manfaatkanlah dengan baik, karena kesempatanmu sangat langka." Dimitri kemudian bangkit.


"Aku harus pulang, dan sore ini perdebatan dengan Rania pasti akan berlanjut." Dimitri kembali mengenakan jasnya yang selalu dia lepaskan saat bekerja.


"Berdebat?" Galang mengerutkan dahi.


"Yeah, dia ingin kami pergi mendampingimu dari Bandung, sedangkan aku ingin kami ikut menyambutmu di rumah sakit saja."


"Apa?"


"Dia dan Anya sangat bersemangat soal ini. Kamu tahu, sahabatmu itu benar-benar sangat menjengkelkan." Sementara sang atasan memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa nyeri.


"Dan Bapak baru sadar setelah lima tahun?" Galang tertawa pelan.


"Yeah, dia memang selalu bersemangat  dalam segala hal. Apa pun harus di turuti, dan gilanya lagi aku hanya harus menurutinya agar dia diam."


"Memang itu solusinya kan Pak?"


Dimitri terdiam.


"Bapak pikir kita akan menang melawan Rania? Om Angga saja kalah, apa lagi kita. Kalau tidak Bapak turuti ya, dia pasti pergi sendiri ke Bandung sambil bawa anak-anak."


Sang atasan mengerutkan dahi.


"No way!" Dia segera beranjak dari tempatnya berdiri.


"Bapak mau pulang sekarang?" Galang kemudian bertanya.


"Tentu saja, memangnya aku harus membiarkan anak dan istriku pergi ke Bandung sendirian?" Dimitri berjalan tergesa sambil melakukan panggilan telpon, sementara Galang menggelengkan kepala sambil tertawa.


***


"Oh hey, baru saja aku mau masuk ke sana?" Clarra bengkit bersamaan dengan Galang yang keluar dari ruangan Dimitri setelah memastikan atasannya itu menyelesaikan pekerjaannya.


"Ya, ada apa?" Pria itu memasukkan ponsel ke dalam saku jas setelah memeriksa pesan yang masuk.


"Seseorang di bawah menerima paket atas nama mu." Clarra menyerahkan sebuah bungkusan rapi kepada Galang.


"Oh, … dari NStore?" Dia menerimanya, kemudian memeriksa benda tersebut.


Sebuah paper bag hitam berukuran kecil dengan logo sebuah huruf N berwarna ungu berisi sebuah benda kotak di dalamnnya.


Clarra pun menganggukkan kepala.


"Aku lihat sekilas sepertinya iya. Kamu memesan hape baru?" 


Kedua sudut bibir Galang tertarik ke belakang membentuk sebuah senyuman.


"Terima kasih Cla." ucap pria itu tang kemudian menyerahkan dokumen yang dibawanya kepada Clarra.


"Kita tidak ada pekerjaan tambahan setelah ini ya?" Pria itu setengah bertanya.


"Ya, seperti yang kamu tahu." Clarra menjawab.


"Baiklah kalau begitu." Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.


"Baik Cla, aku harus segera ke rumah sakit setelah ini." Lalu Galang berujar.


"Hmm … baik." Clara mengangguk pelan.


Pria itu melenggang ke arah lift dan bermaksud pulang sebelum akhirnya menghentikan langkahnya di depan pintu kotak besi tersebut, kemudian berbalik.


"Cla?" panggilnya kepada Clara.


"Ya?" Perempuan itu menjawab.


"Kami tidak akan mengadakan pesta untuk saat ini karena keadaan Ara yang tidak terlalu baik. Tapi aku mengundangmu untuk hadir di acara pernikahan kami lusa di rumah sakit." Galang kembali menatap wajah mantan kekasihnya itu untuk beberapa saat.


"Aku?" Clarra menunjuk dirinya sendiri.


"Ya."


"Aku kira itu hanya untuk orang terdekat saja?"


"Aku pikir karena kamu anaknya sepupu Pak Satria membuat statusmu cukup dekat dengan keluarga Pak Arfan. Belum lagi kita bekerja di ruangan yang sama bukan?"


Clarra tertegun.


"Hanya kalau kamu bersedia. Tidak juga tidak apa-apa, aku mengerti."


"Umm … kita lihat saja nanti ya? Tapi aku nggak janji." ucap Clarra, diplomatis.


"Baiklah kalau begitu, harus segera ke rumah sakit sekarang juga." Galang kemudian benar-benar masuk ke dalam lift yang kemudian membawanya turun ke lantai bawah.


***


"Apa harus Bu? Sebenarnya kita kan bisa saja pergi dari sini, dari apartemenku. Aku yang siapkan apa yang Ibu dan ayah perlukan." Galang berbincang dengan orang tuanya di telfon.


"Pulang dulu Lang. Se nggaknya kita harus syukuran dulu di rumah." Mayang membujuk putranya.


"Iya Lang, hanya sehari. Besok Ibu mau mengadakan syukuran masa kamunya nggak ada? Kan lucu?" Sang ayah menyahut di belakang.


"Nggak usah begitulah. Keluarga Pak Arfan juga sepertinya nggak syukuran?" jawab Galang lagi.


"Itu urusan mereka, tapi kalau di sini ya urusan keluarga kita. Masa, kamu anak ibu satu-satunya mau menikah saja tidak ada acara khusus di rumah? Mana kalian nggak pesta lagi kan? Kalau pun ada, pasti masih lama." Mayang kembali membujuk putranya.


"Bu …."


"Pak Arfan itu kan anaknya banyak, makanya kalau pun pernikahan Ara tidak dia rayakan, tapi masih ada anak-anak lainnya yang pernikahannya bisa mereka rayakan. Nah ibu? Cuma kamu Lang."


Galang berhenti di depan pintu kamar rawat Amara.


"Lang?" panggil ibunya lagi, yang membuat sang putra sedikit menghembuskan napas keras.


"Lang?"


"Iya bu iya, sebentar lagi aku pulang ke Bandung. Ish! Ibu ini, maksa." Akhirnya dia pun terpaksa menyetujui keinginan ibunya.


"Beneran lho ya?" Mayang memastikan ucapan putranya.


"Iya Bu, sudah dulu. Aku mau pamitan kepada Ara."


"Hmm … iya baik." Lalu percakapan itu pun diakhiri.


Galang terdiam sebentar mendengarkan suara orang bercakap-cakap di dalam sana. Amara dan Piere pastinya, yang diketahuinya Arfan tugaskan untuk menemani kekasihnya hari ini, terdengar terlibat pembicaraan yang cukup menyenangkan. Hal itu terbukti dari derai tawa riang yang sering terdengar, terutama Amara.


Galang menekan handle pintu seraya mendorong benda tersebut dengan cepat. Membuat percakapan dua orang itu segera terhenti. Amara yang berbaring setengah duduk di ranjangnya, dan Piere yang duduk di kursi tak begitu jauh darinya.


Pria itu masuk tanpa mengucapkan sepatah kata dan segera mendekat kepada Amara, lantas dia duduk di sisi ranjang seperti biasa tanpa mempedulikan keberadaan Piere di sana.


"Kakak nggak lembur?" Amara bertanya.


Galang menggelengkan kepala, lalu dia meletakan paper bag kecil yang dibawanya sejak dari kantor tadi di dekat lengan gadis itu.


"Kakak bawa apa?" Amara meraih benda tersebut dan memeriksanya.


"Kakak beli hape baru?" Amara bertanya lagi, yang dijawab Galang dengan anggukkan kepala. Kemudian dia mengeluarkan benda tersebut dari tempatnya.

__ADS_1


"Biar kamu nggak kesepian." Galang menyalakan alat komunikasi tersebut lalu menunjukkannya kepada Amara.


"Bisa mendengarkan musik yang kamu suka, nonton video, atau bahkan menelfon aku." Dia meletakkannya di genggaman Amara.


"Nomor dan semua aplikasinya sudah aku atur sama persis seperti yang ada di hapemu yang dulu."


"Hum?"


Galang tersenyum.


"Hape kamu." katanya sambil menunjukkan benda tersebut dan segala yang ada di dalamnya.


"Kakak bilang hape aku hancur waktu kecelakaan?" Amara tampak menjengit.


"Memang."


"Semua aplikasinya baru, apa udah kakak atur lagi?" gadis itu menggerak-gerakkan ujung jarinya, menggeser layar dan menekan tombol.


Tampak segala apa yang ada pada benda pipih itu sama persis dengan miliknya. Bahkan foto profil akun media sosialnya pun sama seperti yang dia buat termasuk data di dalamnya.


"Aku atur dan unduh semua data yang kamu punya dan memindahkannya ke sini." Galang menjelaskan.


"Emang bisa?'


"Bisa lah, sekarang apa yang aku nggak bisa?" Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Amara.


"Hmm … sombong!" Gadis itu mencibir, membuat Galang kemudian tertawa.


"Ehmm …." Piere berdeham untuk membuat dua orang di depannya menyadari keberadaannya.


"Sepertinya aku mau keluar sebentar, ada yang harus aku lakukan." Piere berbicara dalam bahasa Prancis kepada Amara.


"Oui." Gadis itu menganggukkan kepala.


"Oke." Lalu pria bule itu segera menghambur ke arah pintu dan keluar seperti yang dikatakannya barusan.


Galang terlihat mendengus agak keras 


"Bukankah dia bisa bahasa Indonesia?" katanya, dengan nada tidak suka.


"Bisa."


"Terus kenapa barusan dia bicara dengan bahasanya? Aku kan nggak ngerti."


Amara tertawa.


"Malah ketawa?" Galang mendelik.


"Nggak apa-apa, kami udah terbisa ngobrol pakai bahasanya kan?" Amara menjawab.


"Iya sih, tapi aku kan nggak ngerti."


"Kakak nggak usah ngerti, bukan masalah serius juga."


"Memangnya apa yang dia bilang barusan?" Galang dengan rasa penasarannya.


"Bukan apa-apa." Amara mengatupkan mulutnya rapat-rapat untuk menahan senyum ketika melihat raut wajah kekasihnya itu berubah.


"Nanti aku belajar bahasa Parancis lah biar ngerti kalau kalian ngobrol."


Lalu tawa Amara pecah seketika.


"Ketawa lagi, apanya yang lucu?" Galang kini dengan raut kesal.


"Kakak ih, kenapa akhir-akhir ini jadi kayak gitu? Aneh tahu!"


"Memangnya bagaimana?"


"Dulu Kakak tuh apa-apa nyantai, terus nggak mempermasalahkan hal-hal sepele. Tapi sekarang Kakak jadi terlalu serius."


"Masa?"


"Iya." Amara menganggukkan kepala.


"Apa kerja di Nikolai Grup membuat Kakak berubah?" Lalu dia berkelakar.


"Tidak juga."


"Tapi nyatanya Kakak jadi berubah."


"Apa itu buruk?"


"Terus?"


"Aku merasa agak aneh." Amara tertawa lagi.


"Hmm …." Galang menatap wajah gadis itu lekat-lekat.


"Kamu nggak suka aku yang seperti ini? Kamu suka aku yang bagaimana? Atau kamu suka orang yang seperti Piere?"


"Hah?" Amara mengerutkan dahi hingga kedua alisnya terlihat saling bertautan.


"Dia sepertinya orang yang cukup menyenangkan. Sering membuatmu tertawa seperti itu, apa lagi kamu selalu ceria kalau ada dia."


Amara kembali mengatupkan mulutnya.


"Kadang aku merasa tidak aman kalau ada dia. Seperti Piere itu akan membuatmu berpaling dan …."


Amara meraih tangan itu yang bertumpu di dekatnya.


"Kakak cemburu ya sama Piere?"


Galang terdiam.


"Kan kita mau nikah lusa?"


Pria itu tidak menjawab.


"Dia kan cuma temen aku."


"Aku tahu, tapi tetap saja." Galang sedikit menjengit, tapi dia merasa lucu dengan pikirannya sendiri.


Sementara Amara malah tertawa.


"Jangan tertawakan aku, ini normal tahu?" Galang menyentuh wajah gadis itu dengan punggung tangannya.


Amara mengangguk namun tidak menghentikan tawanya.


"Ssstttt!!" Galang dengan kedua pipinya yang mulai memerah. Tentu saja dia merasa begitu gemas kepada gadis ini.


Bagaimana bisa dia menertawakan dirinya karena memiliki perasaan seperti ini? Namun hal ini memang terasa cukup konyol baginya.


"Tapi ah, … lega juga." ucapnya, dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik ke belakang membentuk sebuah senyuman.


"Lega kenapa?" Amara menghentikan tawanya.


"Aku juga bisa membuatmu tertawa seperti itu." Galang menggendikan bahu.


"Dih?"


Galang tersenyum lagi.


"Kamu senang dengan aku yang seperti itu hum?" Galang kembali mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu.


Amara menggelengkan kepala.


"Tapi kamu terlihat senang sekali kalau sedang bersama Piere. Kamu sering tertawa, dan wajahmu selalu ceria. Kadang aku ini merasa kalau …." Tiba-tiba saja Amara menutup mulut pria itu dengan telapak tangannya agar dia berhenti berbicara.


"Jangan ngomong terus, Kakak bikin aku pusing." Lalu dia berkata.


"Mm …."


"Aku suka bagaimanapun Kakak. Nggak peduli Kakak sering bikin aku ketawa atau nggak, karena waktu Kakak sering bikin aku nangis pun aku tetap sayang sama Kakak."


"Jadi nggak usah kayak orang lain, karena dengan begini pun aku bahagia. Kalau Kakak sama kayak orang lain apa bedanya?" Pelan-pelan bibir gadis itu melengkung membentuk sebuah senyuman.


Galang menyentuh pergelangan tangannya, kemudian menariknya turun. Lalu dia meremat jemari gadis itu dan merasakan kehangatan yang segera menyebar setiap kali mereka bersentuhan.


"Bahkan setelah semua yang kita lewati perasaanmu masih tetap sama." Pria itu berujar.


"Kakak nggak tahu aja gimana kerasnya usaha aku biar bisa lupain Kakak."


"Masa?"


Amara mengangguk pelan.


"Dan kamu juga nggak tahu seberapa keras aku bertahan. Meski akhirnya aku sempat menepi bersama orang lain." Galang mengingat masa-masa di mana mereka dalam keadaan terpisah.


Amara terkekeh pelan.

__ADS_1


"Kita sama-sama nggak bisa move on ya?" Galang memindai wajah yang sebelah kanannya terdapat beberapa bekas luka gores. Diantaranya cukup mencolok walaupun sudah mengering.


"Can't falling love, when i found the one how can i supposed to move on? When you never really too far gone." Amara bernyanyi pelan dan terputus-putus.


"The memories won't go away, i feel pain everytime i hear your name. But i always think of you  the same?" Lalu dia tersenyum lagi.


"Jangan diteruskan, itu lagu perpisahan." Tangan Galang terulur untuk meraih leher gadis itu kemudian menariknya hingga jarak diantara mereka menghilang.


Wajah mereka bahkan hampir saja menepel dan bibir keduanya hampir bertabrakan, lalu Galang terkekeh.


"Kakak, aku kan masih sakit." rengek Amara, mengingatkan.


"Aku tahu."


"Terus kenapa Kakak sering banget ngelakuin hal kayak gini ke aku? Jangan sering-sering kenapa? Tangan sama kaki aku sakit kalau gerak tiba-tiba kayak gini." Lalu dia mengeluh.


Namun Galang malah menertawakan kekonyolannya sendiri.


"Kakak!"


"Maaf maaf." katanya, seraya melepaskan gadis itu dan membiarkannya kembali bersandar pada bantal di belakang.


"Aku sekalian mau pamitan." ucap Galang kemudian.


"Pamit? Memangnya Kakak mau ke mana?" Amara cukup terkejut mendengar perkataan kekasihnya.


"Hanya pulang ke Bandung." Galang pun menjawab.


"Oh, … kirain mau ke mana." Gadis itu tertawa.


"Dan kita akan bertemu lagi lusa ya?" Galang masih menggenggam tangan kecil milik Amara.


"Kok gitu? Berarti kita ketemu lagi pas nikah dong?"


"Ya, kamu benar."


"Umm …."


"Ibu mau mengadakan syukuran dulu di rumah sebelum kita menikah minggu nanti." Galang menjelaskan.


"Syukuran?"


"Ya. Ini semacam keinginan orang tua yang nggak bisa aku tolak. Nanti ibu marah dan aku akan susah."


Amara tertawa.


"Serius. Kalau ibu marah bisa bahaya." Dan Galang pun tergelak.


"Nanti aku sendiri dong?"


"Ya. Hanya dua hari lagi. Tapi kan papamu sudah menugaskan Piere, dan aku yakin kamu nggak akan kesepian kalau dia ada." Galang menoleh ke belakang di mana pintu tertutup rapat.


"Ah iya, Kakak benar. Dia juga bisa nemenin aku tidur di sini ya?" Amara dengan cueknya.


"Ish! Kenapa kamu berkata seperti itu?" Kening Galang berkerut dalam.


"Kenapa?"


"Jangan mengucapkan hal seperti itu, nanti kalau ada yang dengar jadi salah persepsi."


"Apaan?"


"Soal menemani tidur."


"Emangnya kenapa? Emang kalau malam nemenin aku tidur kan? Kayak Kakak."


"Haih, … Soal itu … memang iya, tapi kan ... ."


"Apa?" Suara bariton di belakang menginterupsi percakapan dua orang itu.


Galang kembali menoleh dan dia menemukan sosok Arfan yang berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar, bersama Piere di belakangnya.


"Apa yang kamu katakan barusan?" Pria itu melangkah maju, dan dia menatap wajah dua orang itu secara bergantian dan  penuh kecurigaan.


"Soal yang nemenin aku tidur." Amara menjawab, dan ucapannya membuat Galang menepuk keningnya sambil menggelengkan kepala.


Pasti salah tanggap. Batin Galang.


"Siapa?" tanya Arfan lagi.


"Kak Galang, siapa lagi? Yang nemenin aku tiap malam ya Kak Galang, jadi dia yang nemenin aku tidur." 


Mati aku! Dia melihat wajah Arfan yang tampak mengeras.


"Aku di sini biar pun sering susah tidur, dan Kak Galang di sana yang kalau kepalanya udah nyentuh bantal langsung aja mimpi nggak tahu melayang ke mana." Gadis itu menunjuk sofa di dekat tembok.


Arfan terlihat mendelik.


"Papa jangan salah faham. Kayak Kak Galang aja apa-apa suka salah faham?" Sang putri sedikit melayangkan pembelaan untuk kekasihnya.


"Ya, tadi kamu mengatakan hal itu." Arfan menjawab.


"Tapi nggak kayak yang ada di pikiran Papa sama Kak Galang." Dua pria yang dimaksudpun saling melirik.


"Kamu hari ini bukannya harus pulang ke Bandung?" Lalu Arfan beralih kepada calon menantunya itu 


"Iya Pak." jawab Galang. "Kok Bapak tahu?" Dia pun bertanya.


"Tahu, ibumu menelfon tadi siang."


"Duh? Apa yang ibu saya katakan?" Galang was-was, takut kalau ibunya mengatakan hal lain kepada calon mertuanya itu.


"Hanya memintamu untuk pulang dulu."


"Lalu?"


"Tidak ada lagi."


"Hmm …."


"Cepat pulang sana, keluargamu menunggu di rumah." ucap Arfan lagi.


"Mm … baik." Galang menatap Amara untuk beberapa saat.


"Aku pergi, Ra." Dengan berat hati dia berpamitan.


Amara menganggukkan kepala.


"Ketemu lagu hari Minggu ya?" Galang turun dari tempat tidur.


"Iya."


"Nanti aku telepon." Dia berjalan mundur.


"Oke."


Galang berhenti sebentar.


"Saya pergi Pak." Lalu dia berpamitan kepada Arfan.


"Hmm …." Pria itu hanya menjawab dengan gumaman.


"Bapak yang menemani Ara di sini kan?" Namun Galang bertanya sebelum pergi.


"Tentu saja. Kamu pikir saya datang ke sini mau apa?" Arfan menjawab.


"Oh, .... Saya pikir …." Pria itu melirik Piere yang berdiri tepat di sampingnya.


"Saya yang menemani Ara tidur malam ini." Arfan berujar.


"Iya baik Pak." Galang mengangguk, namun kemudian dia mengerutkan dahi sambil menatap calon mertuanya yang segera duduk di sofa dekat tempat tidur Amara.


"Sudah, sana pergi. Kalau kamu telat sampai di Bandung ibumu nanti menelfon lagi." Arfan setengah mengusirnya.


"I-iya." Dia kemudian melirik kepada Amara yang tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Galang tertegun sebentar, meski akhirnya dia kemudian memutuskan untuk segera pergi.


"Aku pergi." katanya, dan dia pun keluar dari ruangan tersebut.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


__ADS_1



__ADS_2