
๐บ
๐บ
Galang memijat tengkuk Amara yang tiba-tiba saja muntah-muntah saat dia mulai memandikannya.
"Kan udah aku bilang nggak mau mandi!"ย Perempuan itu menggerutu.
Rasa mual menyeruak begitu saja ketika pria itu mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower.
"Tanggung, Neng." Namun Galang malah meneruskan kegiatan itu. Meski Amara terus-terusan muntah dan baru berhenti setelah acara mandi pagi itu selesai.
"Kakak ih nggak ngerasain!" keluh Amara yang meringkuk dibawah selimut setelah dia selesai berpakaian.
Wajahnya cemberut dengan bibir mengerucut. Dia merasa kesal setengah mati.
"Ya kan sudah tanggung. Masa kamu tidak mandi gara-gara itu?" Galang merapikan rambutnya.
"Mau makan sekarang?"
"Belum lapar."
"Tapi aku harus pergi sekarang. Ada pertemuan di sekitar sini."
"Pergi aja, nggak apa-apa."
"Yakin?" Pria itu menghampirinya kemudian duduk di pinggiran tempat tidur.
"Hu'um." Amara mengangguk.
"Mau tetap di sini atau pindah ke depan?" tawar Galang sebelum pergi.
"Di sini aja, aku pusing. Kayaknya mau tidur lagi deh."
"Morning sick hum?" Pria itu menunduk seraya mengusap kepalanya kemudian mengecup pelipisnya. Sementara tangan yang satunya lagi mengusap perutnya yang masih rata.
"Kayaknya."
"Sudah mulai ya?"
"Iya."
"Kamu yakin akan baik-baik saja selama aku bekerja?" Kemudian pria itu bangkit menegakkan tubuhnya.
"Yakin."
"Baik. Nanti ada yang datang untuk menemanimu ya? Mungkin sebentar lagi."
Amara mengangguk lagi.
"Aku pergi."
"Kakak nggak sarapan dulu?"
"Nanti saja di tempat pertemuan."
"Baiklah."
"Telfon aku kalau ada apa-apa ya?" ucap Galang lagi yang beranjak dari tempat tidur mereka.
"Peluk dulu?" Amara merentangkan tangannya sambil tersenyum.
Galang terdiam sebentar, namun sesaat kemudian dia kembali dan memeluk Amara.ย
"Cium?" Perempuan itu mengerucutkan mulutnya, dan Galang tertawa sebelum akhirnya dia mengecupnya beberapa kali.
"Sudah, aku harus pergi." ucap Galang ketika perempuan itu tak kunjung melepaskannya.
"Aku mau ikut." Amara bergumam.
"Aku mau bekerja, bukannya jalan-jalan."
"Terus aku jalan-jalannya kapan?"
"Besok akhir pekan. Sekalian terapi ya?"
"Besok nggak ada kerjaan?"
"Tidak ada."
"Yakin?"
"Yakin."
"Oke." Dan dia pun melepaskannya.
__ADS_1
Galang bangkit seraya merapikan pakaiannya. Dia melambaikan tangan kemudian benar-benar pergi.
๐บ
๐บ
"Semangat sekali kamu?" Arfan memperhatikan putra pertamanya yang pagi itu tampak riang.
"Iya dong, kan hari Jum'at." jawab Arkhan yang beberapa hari ini sudah bersikap normal kembali.
Dia bahkan tidak lagi membahas soal motor ataupun mengeluh tentang hal lainnya.
"Memangnya ada apa hari Jum'at? Ada kegiatan kah?" Pria itu menyesap kopinya yang masih panas.
"Nggak ada, kayak biasa aja." Arkhan menjawab lagi.
"Terus kenapa bersemangat sekali?"
"Nggak ah, biasa aja."
"Benarkah?"
"Beneran Pah."
"Hmm โฆ." Sang ayah memicingkan mata.
Pasalnya sudah hampir dua minggu ini Arkhan tampak bersemangat setiap kali sudah mendekati akhir pekan. Apalagi kini setiap Sabtu sore, anaknya itu pergi untuk menginap di apartemen Galang.
"Aku udah selesai, kalian udah belum?" ucap Arkhan kepada saudara-saudaranya.
"Udah."
"Aku juga udah."
"Aku juga." jawab yang lainnya.
"Oke. Kita pergi sekarang?" katanya lagi, dan dia berlagak seperti pemimpin sekarang ini.
"Siaaappp!" ucap adik-adiknya, begitu juga Anandita.
"Oke lets go!" Mereka pun bangkit bersamaan.
"Pergi dulu Pah, Mom." Ke empat anak itu mencium tangan orang tua mereka bergantian.
"Nggak usah. Pak Robi aja yang antar." tolak Arkhan ketika sopir mereka keluar dari dapur begitu mendengar anak-anak majikannya sudah siap.
"Begitu?"
"Ya."
"Yakin?"
"Iya." Mereka keluar berurutan setelah Arkhan.
Sang ayah tertegun melihat hal tersebut.
"Sepertinya ada yang aneh?" Lalu pria itu bergumam.
"Apanya yang aneh?" Dygta menghabiskan sarapannya.
"Arkhan."
"Kenapa dengan Arkhan?"
"Dia terlalu bersemangat." Arfan belum memalingkan pandangan dari jendela di mana dia melihat anak-anaknya pergi dengan sopir mereka.
Tanpa drama, tanpa keluhan, apalagi sikap murung seperti sebelumnya.
"Kamu ini aneh. Kemarin Arkan murung jadi keluhan. Sekarang dia bersemangat juga sama. Apa sih sebenarnya maumu?"
"Sudah aku katakan jika dia terlalu bersemangat."
"Terlalu bersemangat? Sepertinya tidak. Dia memang seperti itu, dan kali ini terlihat lain karena sebelumnya Arkhan murung. Ditambah dia sempat puasa bicara kepadamu." Perempuan itu meneguk habis air minumnya.
"Aku tahu anak-anakku, Sayang." Arfan berujar.
"Dan kamu mau mengatakan kalau aku tidak tahu anak-anakku?" Dygta membalikkan ucapannya.
"Tidak, bukan begitu maksudku."
"Aku rasa bagus juga Arkhan seperti itu. Karena itu artinya dia baik-baik saja. Bukankah pada dasarnya dia memang periang dan selalu bersemangat meskipun irit bicara? Jadi apa masalahnya? Selama dia tidak berbuat hal negatif mengapa harus menjadi masalah bagimu?"
"Aku tidak menganggapnya sebagai masalah, aku hanya โฆ."
"Mengkhawatirkan dia. Tapi kekhawatiranmu itu berlebihan."
__ADS_1
"Berlebihan katamu?" Arfan mengerutkan dahi.
"Ya. Anak jaman sekarang mana bisa diperlakukan seperti aku? Mereka akan merasa dikekang meski kita menjaga untuk keselamatannya."
"Dan kamu ingin mengatakan bahwa seharusnya aku membebaskannya saja?" Arfan mencondongkan tubuhnya.
"Tidak seperti itu juga."
"Lantas?"
"Setidaknya jangan selalu curiga dengan apa pun yang mereka lakukan. Membiarkannya melakukan apa pun selama itu positif aku rasa lebih baik."
Arfan terdiam.
"Ingat, suatu saat nanti anak kita akan punya kehidupannya sendiri. Mereka akan memutuskan tanpa meminta pendapat kita, dan menjalani kehidupan tanpa bantuan kita. Jadi apa salahnya kalau kita membiasakannya sejak sekarang?"
"Itu masih lama." Arfan memutar bola mata.
"Siapa bilang? Arkhan dan Ann sebentar lagi 17 tahun, dan umur mereka sudah cukup untuk mendapat kebebasan. Sementara Aksa dan Asha sudah melewati masa puber. Kamu pikir waktu kita banyak?"
"Justru karena itu aku menerapkan aturan yang aku buat sekarang kepada mereka."
"Ya tapi jangan keterlaluan seperti itu."
"Keterlaluan katamu? Aku ini seorang ayah, dan keselamatan keluarga ini adalah tanggung jawabku. Jadi apa salahnya jika aku mengantisipasi semuanya dari pada hal buruk terlanjur terjadi?"
"Hal buruk apa yang mungkin terjadi? Lalu apa fungsinya orang-orang kepercayaanmu yang kamu tugaskan untuk mengawasi anak-anak? Apa selama ini mereka melaporkan hal buruk? Tidak kan?"
Arfan terdiam lagi.
"Jadi, santailah sedikit Papa. Biarkan orang-orangmu mengerjakan tugasnya sementara kita hanya memerintah dari sini." Dygta bangkit dari kursinya.
"Sudah. Dan itu membuat menantumu berani memberi Arkhan kesempatan mengendarai motor." jawab Arfan seraya mengabiskan kopinya yang sedikit dingin.
"Apa?"
"Kamu pikir kenapa minggu-minggu ini anak kita mau menginap di tempat Galang?"
"Benarkah?"
"Ya."
"Rencananya, jika besok mereka berkendara lagi aku akan mengirim polisi untuk menilang Arkhan."
"Kok begitu?"
"Agar dia jera."
"Ish, kamu keterlaluan!"
"Aku tidak keterlaluan." sergah Arfan.
"Merusak kebahagiaan anak itu apa namanya kalau bukan keterlaluan? Kamu mau melihat Arkhan murung lagi? Atau dia berhenti bicara lagi kepadamu? Itu yang kamu mau?"
"Tidak akan."
"Siapa bilang? Aku yakin kalau Arkhan tahu perbuatanmu, dia akan berhenti bicara kepadamu selamanya. Dan dia akan curiga."
"Tidak mungkin."
"Lupa ya dia keturunan siapa? Coba saja kalau kamu berani!" ancam Dygta kepada suaminya.
"Padahal selama ini Arkhan sudah menjadi anak baik. Dia menuruti semua yang kita katakan. Sekolah dengan baik dan tidak berbuat macam-macam. Perkara berkendara di akhir pekan memang apa masalahnya? Toh dia tidak membawa motor ke sekolah seperti yang kita larang."
"Kamu mau membela Arkhan?"
"Memangnya siapa lagi yang akan membela anak-anakku selain aku? Selama tidak berbuat salah aku pasti membela mereka. Kamu mau apa?"
"Duh?"
"Aku rasa Arkhan pantas mendapat imbalan atas sikap baiknya selama ini. Suka atau tidak, dia pantas mendapatkannya. Setidaknya Arkhan masih menuruti aturan kita." Dygta dengan tegas membuat suaminya bungkam seketika. Dan ini pertama kalinya pria itu tidak membantah.
๐บ
๐บ
๐บ
Bersambung ....
Duh, jawab dong Pah kayak biasanya ๐๐๐
Like komen hadianya kirim lagi dong
Alopyu sekebon๐๐
__ADS_1