
🌺
🌺
"Kalian jangan nakal ya?" Rania berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan kedua anaknya.
"Iya Mommy." Anya menjawab, di samping adik kembarnya yang hanya terdiam, seperti biasa.
"Nanti nurut apa kata Enin ya?"
"Hu'um." Anya menganggukkan kepala.
"Zen?" Rania beralih kepada putranya. Dia mengusap puncak kepala anak itu dan menatap wajahnya yang sendu.
"Jangan sedih. Mommy cuma sebentar. Lusa juga pulang." ucap perempuan itu.
"Aku nggak sedih. Aku cuma mau ikut Mommy!" Akhirnya Zenya menghambur kr pelukan ibunya.
"Nggak bisa sayang, Mommy nggak bisa bawa kamu. Mungkin lain kali?"
"Lain kalinya kapan? Mommy selalu bilang gitu."
"Ya ... lain kali." Rania melirik kepada Dimitri. Dan tampaknya pria itu cukup mengerti.
"Nanti ya? Kalau Papi sudah bisa atur jadwal lagi, dan nanti kalau Mommy balapan kita akan menyusul." Pria itu mengambil alih situasi.
Namun sang anak mulai terisak.
"Bukannya kamu mau ke Bandung ya? Om Ega sama Enin sudah menunggu kamu lho." Lalu Angga muncul untuk mengingatkan.
"Iya, kan kemarin kamu bilang begitu?"
"Ayo Nak? Mommy harus pergi, nanti terlambat." Dimitri mengulurkan tangannya setelah terdiam menyimak percakapan tersebut.
"Mommy, ..." Zenya tak mau melepaskan diri dari Rania.
"Ayo Zen." Dimitri meraup tubuh kecil putranya agar Rania bisa segera pergi.
"No, Mommy!"
"Pergilah. Dia seperti ini hanya sebentar. Nanti juga pulih sendiri." Dimitri berujar.
"Maaf harus begini." Rania merangkul anak dan suaminya, menciumi mereka bergantian. Dan dengan berat hati dia segera menjauh.
Bukan hal pertama baginya melihat hal seperti ini. Zenya memang terkadang tidak mau ditinggalkan, terutama saat dirinya akan pergi untuk menunaikan kewajibannya sebagai pembalap. Terlebih, kedua mertuanya masih berada di Rusia hingga waktu yang tidak di tentukan.
Ada banyak hal yang harus Satria urus pasca wafatnya Nikolai, dan itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, dan hal itu cukup berpengaruh terhadap kedua anaknya terutama Zenya. Yang akan selalu bersikap manja ketika nenek dan kakeknya tidak ada.
"Anom, aku mau ikut!" Zenya menggapai-gapaikan tangannya di udara. Mencoba memohon terhadap kakeknya yang biasanya mengikuti segala kemauannya.
"Nggak bisa Jen." Angga menggelengkan kepala.
"Zen Pah." Rania mundur dan bereaksi.
"Hmm .... Seperti Papi kamu bilang. Lain kali oke?" Pria itu membujuk sang cucu yang terus terisak.
"Anom!!" rengek Zenya kepada kakeknya.
Namun hal itu tak dapat menghentikan sang ibu yang harus menunaikan tugas. Membawa nama baik negara untuk bertarung di lintasan bertaraf internasional. Dia mengerti, tapi tetap saja keinginannya begitu besar untuk bersama dengan perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Dadah Mommy, pulang bawa piala ya?" Dimitri berucap sambil memeluk erat putranya yang terus terisak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Cla, apa aku bisa mengajukan cuti bulan depan?" Galang menghentikan langkah Clarra yang hampir saja keluar dari ruangannya.
"Cuti?"
"Ya."
"Mmm ... bisa." Perempuan itu menjawab.
"Yes!"
"Satu hari ya? Soalnya kita ada banyak proyek yang harus di tinjau ulang, dan beberapa pertemuan yang harus kamu hadiri." Clarra berbalik.
"Apa?" Galang setengah berteriak.
"Ish, kenapa harus berteriak begitu? Mau membuatku tuli ya?" Perempuan itu bereaksi.
"Aku minta cuti, bukan libur."
"Apa bedanya?"
"Kenapa kamu hanya memberiku satu hari?"
"Memangnya mau berapa hari?"
"Paling nggak ya tiga atau empat harian lah."
"Gila kamu!" Clarra kembali mendekat.
"Justru aku minta cuti biar nggak gila. Selama dua tahun aku nggak pernah minta cuti lho, selain hari raya. Itu juga cuma tiga hari, sedangkan karyawan lain sampai dua minggu." Galang bangkit dari kursinya, kemudian berjalan mengitari meja kerja sambil mengenakan jasnya.
"Hey, kamu ini bukan karyawan biasa ya, tapi asistennya Dimitri. Mana bisa di samakan begitu? Lagi pula memangnya hanya kamu? Aku, Pak Andra, dan staff utama yang lain juga hanya dapat cuti hari raya selama tiga hari. Kamu pikir aku kerja di sini hanya enak-enakkan ongkang-ongkang kaki sementara kamu bekerja? Tidak lihat apa yang sudah aku kerjakan? Jadwal-jadwal, dan semua agenda yang kalian kerjakan itu lebih dari yang kalian bayangkan. Kamu pikir itu mudah?" Clarra mencondongkan tubuhnya.
Sementara Galang mundur hingga bagian belakang tubuhnya membentur pinggiran meja.
"Bukan cuma kamu yang bekerja keras tanpa henti disini. Tapi semua orang. Dan kalau kamu pikir pekerjaanmu yang seperti ini sudah berat, coba lihat pekerjaanku." Clarra menggendikkan kepalanya.
"Berapa banyak jadwal yang harus aku atur sehingga tidak berbenturan antara satu dan yang lainnya? Dan berapa tim juga yang harus aku atur untuk menjalankan sistem sehingga menjadi sebaik ini? Kalau kamu merasa lelah hingga merasa hampir gila, lalu bagaimana dengan aku?" Perempuan itu mendorong dada Galang dengan ujung telunjuknya.
"Ummm ... iya, tap-tapi jangan begini." Galang tergagap.
"Lalu harus bagaimana? Membiarkanmu cuti untuk liburan sementara aku, Pak Andra, dan Dimitri di sini bekerja begitu keras?" Clarra terus maju sehingga jarak di antara mereka hampir menghilang.
Galang terdiam dengan mulutnya yang tertutup rapat.
"Kamu ini baru saja akan di angkat sebagai asisten utamanya Dimitri, dan apakah kamu tahu kalau hal itu tidak akan membuat posisimu menjadi lebih mudah? Pekerjaanmu itu sangat banyak, dan tugasmu menjadi sangat penting. Kamu akan menjadi orang nomor dua di Nikolai Grup!"
"Aku kan tidak ...."
"Jadi jangan minta hal sembarangan seperti itu. Lagi pula, untuk apa sih kamu meminta cuti selama itu?" Clarra mundur kemudian melipat kedua tangannya di dada.
"Coba katakan, kenapa kamu membutuhkan cuti sebanyak itu? Kamu tahu, hanya pengantin baru yang diberi cuti lebih dari tiga hari. Jadi, kalau misalnya mau aku beri cuti yang lama, sebaiknya cari jodoh dulu sana, dan menikahlah!"
"Kenapa sih malah bawa-bawa soal jodoh segala? Tahu sendiri kalau aku ini jomblo?"
"Maka diamlah, jangan meminta macam-macam!"
"Ya sudah, kenapa harus begini juga?" Galang terdiam.
"Coba katakan kamu mau kemana sampai meminta cuti sebanyak itu?"
"Ha-hanya mau touring Cla."
"Touring apa?"
"Touring dengan teman-teman komunitas."
__ADS_1
"Komunitas apa?"
"Motor."
Clarra mendengus kasar.
"Sekarang sudah bukan waktunya lagi kamu bermain-main. Pekerjaan menuntutmu untuk berusaha sebaik mungkin, dan tidak seharusnya kamu meluangkan terlalu banyak waktu untuk hal seperti itu."
"Hanya refreshing Cla."
"Refreshing kepalamu! Sementara semua orang di sini sedang sibuk mengejar deadline." Perempuan itu berujar.
Sementara Galang memutar bola matanya.
"Jadi tidak bisa?" Lalu dia bertanya.
"Tidak." Dan Clarra menjawab dengan tegas seraya melenggang ke arah pintu yang sudah terbuka.
"Huh, dasar kejam!" Galang menggumam.
"Apa katamu?" Namun perempuan itu berhenti lalu berbalik.
"Hah, tidak Cla, tidak apa-apa, aku hanya ...."
"Sepenting itukah touring dengan komunitasmu dari pada pekerjaan?"
"Umm ... tidak juga. Kenapa malah menjadi masalah seperti ini?"
"Jadi kenapa ngotot sekali mau ikut touring?"
"Sudah aku bilang kan ...."
"Tentukan mana prioritas, yang lainnya bisa kamu nomor duakan. Kalau tidak, maka kamu tidak akan berhasil menggapai apa pun!"
Kini Galang terdiam.
"Pulang sana! Istrirahat dan gunakan waktumu untuk hal-hal yang penting!" ucap Clarra lagi, dan dia benar-benar berjalan keluar.
"Healing juga berguna, biar kamu nggak emosian!" Pria itu kembali bergumam seraya mengikuti langkar Clarra.
"Aku dengar itu Lang!" Dan perempuan yang sudah masuk ke dalam lift itu pun berujar, membuat Galang kembali menutup mulutnya rapat-rapat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ah, sial!" Clarra menendang ban mobilnya yang tiba-tiba saja berhenti melaju di sebuah jalan yang cukup ramai. Namun tak ada seorangpun yang peduli bahkan sekedar bertanya.
Malam sudah menjelang, dan dia bermaksud untuk pulang setelah menyelesaikan semua pekerjaan agar akhir pekannya tidak harus terganggu oleh panggilan-panggilan yang tidak terduga.
Asap tebal mengepul dari kap depan, dan dengan terpaksa dia membukanya. Membuat kepulan itu menjadi semakin pekat dan terlepas di udara.
"Apa ada yang aku lupa? Oh, ayolah jangan seperti ini!" Perempuan itu menggeram kesal.
"Ada apa dengan mobilmu?" Tiba-tiba saja Galang muncul entah dari mana.
Clarra tak lagsung menjawab, namun dia malah memicingkan mata kepada pria itu yang segera menghentikan laju kendaraan roda duanya.
"Kenapa sih aku harus selalu bertemu denganmu? Di kantor bekerja denganmu, diluar bertemu juga? Membuat kesal saja!" gerutunya kepada Galang.
"Dih? Udah diluar kantor juga masih galak? Nggak capek apa?"
Clarra mendelik.
"Mobilnya kenapa? Mogok ya?" tanya Galang setengah mengejek, lalu dia turun dari motornya.
"Memangnya apa yang kamu lihat?"
"Ya ... mogok sih." Pria itu tergelak.
"Butuh bantuan?" tawar Galang seraya mendekat.
"Nggak usah, aku mau telfon bengkel."
"Sudah?"
"Belum. Ini baru mau." Clarra menekan satu nama kontak di ponsel untuk melakukan panggilan.
Namun setelah beberapa menit panggilan tersebut tidak tersambung, dan malah mulai membuatnya frustasi.
"Kenapa sih?" Perempuan itu menatap layar ponselnya dengan kening berkerut, hingga membuat kedua alisnya tampak saling bertautan.
Kemudian dia kembali mencoba menghubungi nomor tersebut, dan hal yang sama juga terjadi.
"Ah, ... kenapa juga malah begini?" gumamnya, dan dia memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam saku blazernya.
"Sudah?" Galang kembali berbicara.
"Nggak tersambung."
"Bengkel?"
Clarra menganggukkan kepala.
"Coba aku lihat dulu, siapa tahu bisa di akalin?"
"Memangnya kamu bisa?"
Dih, ngece nih cewek?
"Kamu nggak tahu kalau aku ini dulu jadi mekanik andalannya Rania?"
"Yang kamu tangani kan motor?"
"Kamu pikir aku cuma bisa menangani motor?"
"Memangnya mobil bisa juga ya?" Clarra mengulang pertanyaan.
Galang tampak mendelik, tidak terima dengan pertanyaan perempuan di depannya.
"Minggir, aku mau lihat!" Pria itu kemudian menyentakkan kepalanya.
Clarra pun bergeser ke samping, memberi ruang kepada pria itu untuk melakukan apa yang diucapkannya barusan.
Galang melepaskan jas, yang kemudian dia serahkan kepada Clarra. Lalu dia menggulung bagian lengan kemejanya hingga sebatas sikut.
Pria itu mendekat ke arah mobil yang bagian mesinnya masih mengepulkan asap, namun tak sepekat tadi. Lalu sedikit merunduk untuk melihat keadaannya.
"Hmm ...." Galang bergumam.
"Apa parah?"
Dia tidak menjawab.
"Lang, apa parah? Mobilnya rusak?" Clarra pun mendekat.
"Bagaimana kamu menggunakan mobilnya sampai begini?" Pria itu malah bertanya.
"Maksud kamu?"
"Radiatornya bocor, menyebabkan airnya merembes keluar. Itu yang menyebabkan mobinya kekeringan dan akhirnya seperti ini." Dia menoleh kepada perempuan itu.
__ADS_1
"Hanya itu?"
Galang menggelengkan kepala.
"Mesinnya juga aus, sepertinya kamu berlebihan menggunakannya. Habis apa sih? Kebut-kebutan?"
"Aku nggak pernah kebut-kebutan. Mana bisa ngebut di Jakarta? Tahu sendiri lalu lintasnya bagaimana?" Clarra menjawab.
"Tapi buktinya?" Galang menunjuk mesin sedan hitam klasik itu yang masih menguarkan asap tipis.
"Ya nggak tahu. Aku cuma pakai itu, dan selama ini nggak apa-apa." Clarra menggendikkan bahu.
"Sebelumnya tidak seperti ini?"
"Belum pernah. Nggak pernah juga mendengar papaku mengalami hal seperti ini."
"Memangnya ini mobil siapa?"
"Papaku lah."
"Berapa lama kamu pakai?"
"Enam bulan ini."
"Sudah pernah masuk bengkel?"
"Selama aku pakai?"
Galang menganggukkan kepala.
"Belum pernah." Dan Clarra menggeleng pelan.
"Di servis?"
"Nggak."
"Hah, pantas!"
"Kenapa?" Lalu Clarra memiringkan kepala.
"Mesin apa saja kalau kamu biarkan ya pasti akan seperti ini."
"Mobil ini masih bagus kok. Biar kelihatannya kuno, tapi kondisinya masih layak. Makanya aku memilih menggunakanya dari pada yang baru aku beli."
"Kalau nggak kamu servis ya sama saja Cla."
"Justru karena masih bagus makanya nggak aku servis. Buat apa?"
"Buat apa kamu bilang? Ya biar kondisinya tetap bagus lah. Punya mobil tapi nggak di servis, sama juga bohong!"
"Aku nggak tahu soal itu."
"Kalau nggak tahu ya tanya."
"Aku kan cuma pakai, biasanya papaku yang mengurus masalah seperti ini. Ya mana aku tahu?"
Galang mencebikkan mulutnya.
"Jadi bagaimana?"
"Aku nggak bawa peralatan apa-apa. Kamu bawa?"
Clarra mengerutkan dahi.
"Alat-alat bengkel, kunci-kunci?"
"Untuk apa?"
"Ya untuk memperbaikinya kalau ada kerusakan?"
"Aku nggak ngerti soal begituan, jadi ya nggak bawa lah."
Galang mendengus keras.
"Begini nih kalau perempuan bawa kendaraan. Suka sembarangan! Emang cuma si Oneng satu-satunya yang ngerti masalah beginian!" Dia malah menggerutu.
"Jadi bagaimana?"
"Ya harus dibawa ke bengkel. Masalahnya bukan hanya karburatornya, tapi bagian lainnya juga."
"Tapi bengkel langganan papaku nggak bisa dihubungi."
"Memangnya cuma bengkel itu yang ada di Jakarta?" Galang melakukan panggilan dengan ponsel miliknya.
Dan beberapa saat kemudian muncullah sebuah kendaraan khusus untuk menderek mobil milik Clarra. Yang membawa benda tersebut ke sebuah bengkel yang terletak beberapa blok dari sana.
"Kamu mau ikut aku atau pesan taksi online?" Galang bertanya setelah mobil milik Clarra menghilang dari pandangan.
"Ikut kamu saja lah. Ke bengke kan?"
"Ya, mau lihat dulu apa saja kerusakannya?"
"Hu'um." Clarra menganggukkan kepala.
"Ya sudah, ayo?" Pria itu berbalik ke arah motornya yang rerparkir di pinggir trotoar.
"Jas kamu?" Clarra menyodorkan jas milik pria itu yang ada dalam genggamannya.
"Kamu pakai saja."
"Nggak usah, aku pakai blazer."
"Bukan untuk kamu pakai di sana."
"Terus?"
"Nggak sadar kamu pakai rok ya?" Galang menatap Clarra dari atas ke bawah. Membuat perempuan itu merapatkan kakinya yang terekspose dengan jelas dari lutut ke bawah.
"Mendingan kamu naik taksi aja deh? Nanti kedinginan kalau ikut aku." Galang menahan tawanya.
"Lama Lang, ayo cepat!" Clarra menyampirkan jas milik pria itu di bagian depan kakinya.
"Yakin?"
Perempuan itu mengangguk.
"Ya sudah." ucap Galang yang kemudia menaiki motornya. Dan hal yang sama juga dilakukan Clarra setelahnya. Kemudian mereka segera meninggalkan tempat tersebut.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Aku cuma berdoa, semoga NT/MT nggak eror melulu, jadi reviewnya sebentar. Kalo lama suka badmood akunya 😐
Jan lupa like, komen, sama hadiahnya ya
__ADS_1
lope lope sekebon 😘😘