
Aku tak pernah meminta , seorang pendamping sempurna
Cukup dia yang selalu sabar menemani ,Dalam kekuranganku
Namun Tuhan menghadirkan , kamu wanita terhebat
Kuat tak pernah mengeluh , Bahagiaku selalu bersamamu
Andai ada keajaiban , Akan aku ukirkan , namamu di atas bintang bintang di angkasa
Agar semua tau , kau berarti untukku , selama lamanya kau milikku
Kini telah ku buktikan , kamu pendamping setia
...----------------...
"Trimakasih padaku , untuk apa ."tanya mutiara sambil menatap wajah Ardy .
"Terimakasih , karena kamu telah menemani hari hari saya ."ucap Ardy sambil membalas tatapan mata Mutiara dengan tatapan kagum .
"Maksudnya , mengisi hari hari pak Ardy ."tanya mutiara yang tak mengerti dan membuat Ardy menyadari bahwa dirinya telah keceplosan ucapkan sesuatu .
"eemm ." Ardy gelapan
"Iya ...kamu kan tiap hari kerja di kantor saya , dan tiap hari pula kamu selalu menemani kemana saja saya pergi . Itukan nama nya kamu menemani hari hari saya ."ucap Ardy dengan sedikit gugup .
"Belum Ardy sabar , belum saatnya kamu menyatakan cinta ke Tiara . Tunggu sedikit lagi Ardy , sampai proyek kamu benar benar selesai , dan siap semua nya . Baru kamu mulai menata hatimu, dengan tatanan yang baru , dan memulai semua nya dari awal ."gumam Ardy dalam hati .
Ngita yang masih setia menguping ucapan mutiara dan Ardy pun menjadi panas mendengarnya .
"Apa Ardy menyukai perempuan kampungan itu . Tidak , aku tidak akan biarkan itu terjadi . Aku harus cari cara agar Ardy kembali fokus padaku seorang . Aku akan merebut perhatian Ardy lagi . Perhatian Ardy tidak boleh di berikan pada sekretaris tak tau diri itu ." umpat Nagita sambil memukul mukulkan tinjunya ke tembok .
...----------------...
__ADS_1
Hari wisuda Dimas telah tiba . Sejak dari subuh Dimas sudah berkutat di depan cermin seperti cewek cewek yang lagi jatuh cinta .Dimas meraih ponselnya dan mengabari mutiara ,untuk datang di hari wisudanya .
Drt....drt..drt
Mutiara yang akan melangkah ke dapur membalik kan badan nya saat mendengar ponselnya bergetar .
"Dimas ..
"Jangan lupa nanti datang di acara wisuda aku ."
Mutiara segera membalas sms Dimas . Dan segera pergi ke dapur untuk masak . Dimas sedikit kecewa mendapat balasan dari mutiara .
"Aku bisa datang nanti saat jam istirahat ."itulah jawaban dari mutiara .
"Begitu juga baik , tidak apa apa ,yang penting mutiara datang . Dengan begitu Mutiara tidak akan bertemu muka dengan mama . Dimana mama pasti akan memakai baju ibu ibu kaum sosialita yang mungkin masih tetap jauh berbeda di banding dengan pakaian mutiara .
Jam istirahat kantor telah tiba .mutiara meletak kan berkasnya sedikit kasar di atas meja .
"Pak.Ardyy..."pekik mutiara yangvterkejut melihat Ardy sudah berdiri di depan pintu dan ingin mengetuk pintu .
"Maaf , saya kira kamu tidak akan keluar ." ucap Ardy yang salah tingkah karena dalam satu ayunan saja mungkin tangan akan mengetuk jidat mutiara bukan mengetuk pintu .
Mutiara sendiri juga ikut salah tingkah . melihat tatapan mata Ardy yang menuju ke tas yang menyampir di bahunya . Karena hendak pergi keluar .
" Kamu mau kemana ."tanya Ardy penasaran .
"Saya mau minta ijin keluar sebentar . Sebentar saja kalau sudah selesai , saya akan segera pulang ."ucap Mutiara .
"kemana ." Ardy tetap kekeh ingin tau kemana Mutiara akan pergi .
"Hari ini Dimas wisuda . Saya ingin pergi mengucapkan selamat kepada nya ."ucap mutiara gemetar .
"Dimas wisuda hari ini ."tanya Ardy yang di angguki oleh Mutiara dengan rasa takut tak mendapatkan ijin .
__ADS_1
"kalau begitu kita pergi sama sama ." ucap Ardy yang membuat mutiara melongo .tanpa menunggu jawaban mutiara . Ardy langsung menuju ruangan nya untuk mengambil kontak mobilnya .
"Pak Ardy ingin ikut saya , menghadiri wisuda Dimas ."tanya mutiara yang jalan mengekori di belakang Ardy .
"Iya , kenapa ? Apa tidak boleh saya ikut ." cecar Ardy dengan cepat .
"Bu...bukan begitu . Apa tidak merepotkan Pak Ardy . Dimas juga bukan siapa siapanya bapak ."ucap Mutiara
" apa itu artinya , saya tidak boleh antarkan kamu . Apa kamu ingin berdua duaan dengan Dimas . Atau kamu dan Dimas memang pacaran .kalau iya , saya hanya takut di sana kamu akan melihat sesuatu , yang tidak ingin kamu lihat . Karena Dimas juga cowok tampan pasti banyak teman kampus yang menyukainya . Dan kalau itu benar dan kamu ,tiba tiba kabur kemana saya akan cari kamu ."ucap Ardy seakan tau apa yang akan terjadi . Sambil memicingkan matanya menatap mutiara .
"Apaan sih ." gerutu mutiara kesal dan keluar meninggalkan ruangan kerja Ardy .dengan perasaan dongkol .
"Gimana mau pacaran , Dimas saja tidak pernah mengatakan perasaan cinta pada ku . Malah bermesraan dengan perempuan lain ." gerutu mutiara dengan hati kesal dan rasa cemburu menjadi satu .
"Tapi apa benar kata pak Ardy , aku akan melihat sesuatu ya, tak seharus nya aku lihat . Tapi kalaulah iya aku juga tak dapat melarang nya . Dan pak Ardy tidak ada hak ikut campur urusan pribadi aku . "lanjut mutiara dalam hati .
Ardy tetap.dalam pendirian nya untuk mengantar kan Mutiara menghadiri acara wisuda Dimas , bukan tidak ada alasan ia ikut ke sana . Ardy tidak ingin Dimas memanfaatkan situasi ini untuk mengungkapkan perasaan nya kepada mutiara .
" Aku tidak akan biarkan Dimas , mengungkapkan perasaan nya kepada Tiara . Sesama lelaki aku tau , Dimas sangat mencintai mutiara . Dia bahkan rela ngelakuin apa saja demi bisa bersama dengan Tiara setiap hari ." batin Ardy sambil menatap punggung Tiara yang berjalan dengan cepat di depan nya .
"Tiara kamu mau kemana ." tanya Rani yang menghalangi langkah mutiara yang akan melangkah keluar kantor .
"Saya sudah minta ijin sama pak Ardy ." jawab Mutiara cuek dan melangkah pergi , karena suasana hatinya sedang tidak baik baik saja . Dan melangkah pergi tidak menghiraukan Rani .
Baru beberapa langkah mutiara pergi , datang Ardy menyusul mutiara di belakangnya .
"Pak Ardy , pak Ardy mau kemana ." Tanya Rani , ia tau pertanyaan nya lancang . Tapi perasaan penasaran dia tentang hubungan Ardy dan Mutiara . Membuat hati nya meronta ingin bertanya .
Ardy tidak langsung menjawab . Tapi malah menatap tajam ke arah Rani .
"Bukan urusan kamu ." Rani mengigil seketika mendapat tatapan tajam dari Ardy . Serasa seluruh sendi badan nya , seperti kena sengatan listrik yang hampir saja membakar seluruh saraf sarafnya . Dan tubuhnya hampir saja ambruk karena terkejut .
Memang Ardy sangat tampan . Tapi tidak dapat di pungkiri juga, tatapan Ardy kalau sedang marah juga sangat menyeramkan .Tapi Ardy juga tak pernah menunjuk kan wajah marahnya kepada karyawan kantor . Kecuali pada seseorang yang telah melakukan kesalahan fatal seperti Rani , yang telah berani mencampuri urusan nya .
__ADS_1