
"Loh Ada versi baru untuk ngupas bawang merah ya , kapan selesainya pak Ardy . Tidak takut cacaing di perut pak Ardy dangdutan , karena kelamaan tak di kasih makan ." sindir Mutiara sambil mendekati Ardy , dan melihat cara Ardy mengupas bawang merah yang pakai tangan .
"Habis susah ngupas pakai pisau . saya tidak bisa ," jawab Ardy yang masih tetap fokus untuk mengupas bawang nya .
"Pak Ardy , jas nya di lepas dulu . Nanti bau dapur lo . Dan pak Ardy taruh jas nya di kursi ruang tamu dulu ."ucap Mutiara yang menyalakan kompornya .
"Tolong bukain sebentar ." ucap Ardy tanpa beban . Membuat mata mutiara melotot .
"Pak Ardy jangan ngaco ."ucap Mutiara .
"Saya serius , tangan saya sudah bau bawang . Kalau saya pegang jas , nanti seluruh jas aku bau bawang dong ."ucap Ardy yang telah membentangkan kedua tangan nya dan membusungkan dada nya agar mutiara mudah melepaskan jas nya .
"Ngak mau ," sahut mutiara sambil membuang wajahnya .
" ya Alloh kenapa wajah pak Ardy sekarang jadi tampan sekali . Padahal tadi aku malas sekali menatap wajahnya , karena telah menganggu pertemuanku dengan Dimas ." gumam mutiara sambil mengatur ritme detak jantungnya yang seakan ingin loncat keluar .
"Ya sudah kalau tidak mau ." ucap Ardy dan kembali pada pekerjaan nya untuk mengupas bawang lagi , Dengan jemarinya .
Mutiara sesekali melirik Ardy yang menguoas bawang dengan tangan nya . Ia menjadi gemes melihat Ardy yang punya sifat keras kepala .
"Siniii biar saya bukain ." ucap mutiara yang sebenarnya lidahnya kelu untuk mangatakan itu .
Membuka jas Ardy , otomatis mutiara harus berdiri berhadapan hadapan dengan Ardy .Dan itu tidak menyehatkan jantungnya . Dan karena itu ia tak mau membantu Ardy membukakan jasnya . Mutiara takut dan malu , kalau Ardy mendengar detak jantung nya yang tiba tiba berdetak kencang tak beraturan .
"Nih ."ucap Ardy sambil membuka kedua tangan dengan tersenyum mengoda mutiara .
__ADS_1
Mutiara yang tak oernah melihat Ardy bercanda . Kembali berdiri kaku hanya hanya bola matanya yang gerak kanan dan kiri .
" loh kok malah jadi patung ,cepatan , biar cepat masak nya saya sudah lapar ."ucap Ardy berbohong .
mutiara menelan ludahnya dengan susah payah . Ia genggam tangan nya hanya tinggal ibu jari dan telunjuk jari untuk membuka kancing jas Ardy .dan menarik ujung lengan jas Ardy agar lepas .
"Jas aku bersih 99% , jadi kamu jangan takut kalau jas aku ada kuman nya , jadi kamu tidak usah merasa jijik ."ucap Ardy gemes melihat cara mutiara menyentuh jasnya .
"Apaan sih pak Ardy ." ucap mutiara dengan kesal dan meraih bahu Ardy untuk melepas kan jas Ardy sebelah kiri . Tinggal jas sebelah kanan yang belum lepas . Melihat tinggi mutiara yang hanya sebahunya Ardy menaikan bahunya agar mutiara jinjit .
"maaf pak sebentar lagi ."ucap mutiara canggung .
"hemm cepat ya aku dah kesemutan kakiku ."ucap Ardy pura pura .setelah mutiara jinjit ardy pura pura menurun kan bahu sambil menghembuskan nafas kasar , dan duduk di kursi yang ada di belakangnya . Sehingga mutiara ikut jatuh dan hampir terpelanting ke samping . Dengan cekatan ardy menarik badan mutiara hingga mutiara duduk di pangkuan Ardy .
Mutiara dapat mencium bau maskulin badan Ardy . Ardy menyingkap rambut mutiara yang menutupi wajahnya ke samping telinga mutiara . Mutiara merasa geli dengan perlakuan Ardy ia ingin segera bangkit dari pangkuan Ardy . Tapi Ardy menahan badan nya . Dan berbisik di telinga mutiara .
Mutiara bisa merasakan hembusan nafas Ardy yang hangat menerpa wajahnya . Seakan Ardy tak ingin mutiara bangkit dari pangkuan nya .
"Lepaskan dulu pak , takut di lihat sama ibu ."ucap mutiara , sambil meraih tangan Ardy yang melingkar di pinggang nya . Dengan berat hati Ardy tidak menolak permintaan mutiara .
"maaf saya terbawa suasana ."ucap Ardy dan melangkah meninggalkan mutiara menuju ke ruang tamu .
Ardy meletak kan jasnya di kursi ruang tamu dan dirinya juga ikut duduk . Ia menghembuskan nafasnya kasar . Ia hampir saja mengunakan kesempatan dalam kesempitan .
" Sabar Ardy ." batin Ardy sambil menyugar rambutnya . Ia benar benar tidak tahan melihat mutiara yang sangat menarik di matanya .
__ADS_1
" pak Ardy kenapa ya , ? Apa dia sedang mengetes aku . Apa aku mudah tergoda atau tidak , ya ." batin mutiara sambil melanjutkan tugas Ardy mengupas bawang merah .
"Tiara , ibu bantu kamu ya ." ucap bu andini yang datang mengangetkan mutiara . Yang sedang merajang bawang merah .
"aouw ."pekik mutiara , yang jarinya kena pisau .Ardy yang mendengar pekikan Mutiara segera berlari ke dapur .
"Ada apa Tiara , kenapa ." tanya Ardy yang kelihatan panik .
"ini , aduh ibu minta maaf Nak . Bukan maksud ibu untuk ngagetin kamu ."ucap bu andini menyesal .
"Apa ada obat luka bu , Biar saya obati luka Tiara ." ucap Ardy sambil menekan luka mutiara agar darahnya tidak keluar terus .
" Iya ada , ibu ambilkan dulu ." bu andini pergi mengambil kotak P3K . Ardy membawa mutiara duduk di kursi .tak lama kemudian bu andini datang dan menyerahkan kotak P3K pada Ardy .
"Biar ibu yang lanjutin masaknya ."ycap bu andini .
"Iya bu itu juga sudah masak , tinggal tumisnya saja , bumbu bumbunya juga sudah Tiara siapkan ."ucap mutiara .
Bu andini mengambil alih pekerjaan mutiara . Ardy dengan telaten dan hati hati mengobati luka mutiara . Agar mutiara tidak merasakan perih dengan lembut dan pelan Ardy meniup niup lukanya sebelum di balut dengan kain perban .
"Pak Ardy sangat perhatian . Dan aku akui dia sangat tampan sekali . Ahh apaan sih aku , pak Ardy masih punya Bu Nagita , Aku tidak boleh cap pelakor benar benar tersemat lagi dalam hidupku . Aku tidak mau , aku harus SD (sadar diri ) jangan sampai SMP ( Senyumu Membawa Petaka ) Jangan sampai orang orang kampung mengiyakan aku , benar benar sebagai seorang pelakor . Aku bukan pelakor , bukan pelakor ." mutiara menegaskan pada diri sendiri tanpa sengaja ia menarik tangan nya dari Ardy .
"Kenapa , Apa sakit sekali ." tanya Ardy . Yang sebenarnya juga selesai membalut luka mutiara .
"Tidak terimakasih , bapak telah mengobati luka saya ." ucap mutiara dan langsung bangkit menemui ibunya , ikut membantu menyelesaikan masakan nya .
__ADS_1
Tiba tiba ponsel Ardy bergetar . Ia menerima pesan dari teman atau rekan kerjanya , ia buru buru menyelesaikan berkas berkas kerja sama mereka . Sehingga dengan berat hati Ardy harus segera pulang .
"Kalau aku tiba tiba pamit pulang sopan tidak ya , tadi aku yang memaksa Tiara untuk masak buat aku . Tapi apa sekarang belum siap semuanya aku harus pamit . Tapi berkas ini sangat penting ." gumam Ardy dalam hati . Ia merasa tidak enak dengan mutiara dan ibunya . Yang sudah capek capek masak . Tapi ia tidak bisa makan di sana .