
Dimas segera menarik kembali tangan nya dan meraih setir mobil . Mutiara segera memakai sabuk pengaman nya . Dan memalingkan wajahnya ke arah jalanan .
Dimas menarik nafas berat melihat sikap mutiara pada dirinya . Tapi dia juga tidak mau banyak bicara . Ia ingin mutiara nyaman dekat dengan nya seperti dulu .
"jangan lupa ini di minum obatnya . pagi dan malam , yang satu macam lagi sehari tiga kali ."ucap Dimas dengan lembut sambil menunjuk kan obat obat itu yang mana saja yang harus di makan . Sesuai peraturan dokter .
"Berapa semuanya , biayanya periksa dan tebus obat ." tanya mutiara tanpa melihat wajah Dimas .
" Sudah tidak usah kamu pikirkan itu , aku ikhlas kok mebayar semuanya ." ucap Dimas .
"Aku masih sanggup membayarnya , jadi semuanya berapa . Aku tidak mau berhutang budi dengan mu ." ucap mutiara .
"ssrriiitt , Dimas mengerem mobilnya dengan mendadak .mutiara menoleh dan menatap Dimas .
"kenapa berhenti di sini ."tanya Mutiara
"Aku mohon , bersikaplah seperti dahulu . Bersahabat baik tanpa ada rasa berhutang budi . Atau apa itu ." ucap Dimas dengan wajah penuh harap . Dia sedikit terkejut dengan sikap mutiara yang sekarang
" Tidak akan bisa seperti dulu ."ucap mutiara yang kini telah memalingkan wajahnya ke arah jalanan .
"Aku minta maaf telah mengecewakan kamu . Tapi aku tidak bermaksud untuk membohongi kamu . Aku juga sudah biasa di manfaatkan oleh orang lain .karena kekayaan orang tuaku ." ucap Dimas .
"Aku ingin cepat sampai rumah ,"ucap mutiara yang seolah tak ingin peduli dengan cerita Dimas . rasanya percuma juga ia bertanya berapa harga obat yang telah ia tebus . Dimas pasti tidak akan menjawab nya .
Dimas mulai melajukan mobilnya kembali . Tidak ada yang berbicara lagi di antara mereka berdua , hingga sampai ke rumah mutiara .
"Ini uang obat dan periksanya , terimakasih sudah mengantarku ke rumah sakit ."ucap mutiara sambil meninggalkan uang seratus ribu di dasbord mobil Dimas . Ia percaya uang itu cukup dari lebih , karena mutiara juga sering ke rumah sakit itu untuk berobat ibunya , dan dirinya sendiri .
Dimas mengusap kasar wajahnya , harga dirinya terasa tercabik cabik , saat melihat uang seratusan di atas dasbord mobilnya yang di tinggalkan oleh mutiara . Luka yang ia goreskan pada mutiara ternyata tak sesepele pemikiran nya .
Mutiara menutup pintu mobil Dimas dan langsung masuk ke rumah tak memperdulikan perasaan Dimas sekarang . Perasaan sendiri saja tidak tau akan sampai kapan terus tersakiti oleh orang orang di luar sana .
Mutiara terduduk lemas menangis sesegukan di kursi ruang tamu , bukan ia tudak tau sikap nya kepada Dimas sangat keterlaluan . Tapi sikap Dimas sendiri yang telah menyamakan dirinya dengan orang lain yang hanya akan memanfaatkan kekayaan orang tuanya hingga mau bersahabat dengan nya .
__ADS_1
Memang perhatian Dimas tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang , tapi perhatian dia telah di nodai oleh tirai kebohongan dan tiada saling percaya diri . Setelah tirai tersingkap malah meninggalkan luka baginhati mutiara .
Mutiara bangkit dari duduknya , ia hapus air matanya dan pergi mengecek keadaan ibu yang masih ada di kamar . Ternyata ibu sudah sanggup untuk bangun dan menganggkat jemuran yang ia cuci tadi pagi , dan sekarang sedang dia lipat .
"Ibu , apa ibu sudah sehat , kenapa anggkat jemuran ini bisa Tiara lakukan sebentar lagi bu , apa ibu sudah makan dan minum obat ." tanya mutiara tiada henti .
"Kamu kenapa nak , apa kamu sakit , wajahmu pucat dan sepertinya kamu habis menangis ." bu andini tidak menjawab pertanyaan mutiara , tapi malah melemparkan pertanyaan saat melihat ada yang beda dengan putrinya .
"Tidak bu , Tiara tidak apa apa , tadi di kantor banyak kerjaan Tiara lupa waktu istirahat jadi sedikit pusing dan kekurangan cairan . Tapi Tiara sudah beli obat ini ." ucap Mutiara sambil mengangkat plastik obatnya . Kedepan ibunya sambil tersenyum .
"Kamu yang kuat ya nak , Ibu percaya kamu anak ibu yang kuat , kamu pasti bisa melewati ini semua . Seperti lagunya siapa itu .
"indah pada waktunya ."ucap mutiara dan ibunya bersamaan .
"insya alloh ibu , Tiara juga butuh do'a ibu kalau ingin sampai ke situ ." ucap mutiara sambil memeluk ibunya .
"banyak banyak itiar ya ."ucap bu andini sambil mengelus wajah putrinya .
"Iya bu , Tiara tidak apa apa percaya sama Tiara . Tiara hanya kelelahan kok ."ucap mutiara menyakinkan ibunya dengan senyumnya . Tapi bu andini bisa melihat ada beban yang di tanggung oleh tiara , ia wanita yang melahirkan dan membesarkan nya puluhan tahun , sikap di mana tiara susah atau senang bu andini tau .
"Iya bu , kalau begitu Tiara masuk ke kamar dulu ." ucap Tiara pergi setelah mencium pipi ibunya .
...----------------...
keesokan harinya mutiara bangun dengan keadaan badan lebih segar . seperti biasa Tiara bangun pagi siapkan masakan untuk ibunya dan pergi kerja . Mutiara tidak mau menghubungi Ardy untuk minta izin istirahat . Peegi kerja lebih penting baginya , dari pada harus menghubungi Ardy .
Aku memang belum beruntung
gagal dan selalu gagal lagi
Hatiku tetap dekat
dan tak kan menyerah
__ADS_1
Aku masih belum beruntung
Salah dan selalu salah lagi
Di bawah teriknya matahari
Aku tumpahkan isi hatiku
Inginku teriak inginku menangis
Tapi air mataku sudah tiada lagi
Walau lelah hatiku takkan aku mengeluh
Biarlah hanya Tuhan yang tau
Sebelum sisa umurku habis
Takkan pernah aku menyerah
Ku tetap bermimpi dan bermimpi
Sampai indah pada waktunya
Bu andini yang ingin pergi ke dapur mengurungkan niatnya , mendengar dendangan lagu mutiara yang merupakan isi hatinya . Hati bu andini terasa perih .tak hanya bu andini yang mendengarkan dendangan lagu mutiara di luar rumah juga ada sepasang telinga yang mendengarkan kan nya .
Ardy ya , Ardy pagi itu ia datang lagi bukan untuk menjeput mutiara , ia tau mutiara tak mau ia ganggu , Ardy cuma ingin memastikan keselamatan gadis yang ia cintai .Ardy kembali masuk ke dalam mobilnya dan menunggu mutiara sampai berangkat kerja .
Mutiara telah selesai menyiapkan semua keperluan ibunya sebelum ia berangkat kekantor .
"Kamu sudah sehat ." bu andini pergi mendekati mutiara ke dapur .
"Alkhamdulillah bu , sudah , nanti Tiara juga akan pergi ke kantor , ibu tidak apa apa kan aku tinggalkan sendirian "tanya mutiara .
__ADS_1
"Tidak apa apa , ibu juga sudah sehat kok . Melihat semangat putri ibu , sakit ibupun engan lama lama ." ucap bu andini menghibur putrinya .
Mutiara tersenyum mendengar jawaban wanita yang telah melahirkan dan membesarkanya . Hanya dialah keluarga satu satu di dunia ini . Apapun yang terjadi mutuara tetap harus berjuang tegar dan bersemangat .