
"Ibu ....," panggil Ardy dengan lembut dan sopan .berdiri di samping Mutiara dan bu andini .
"Iya nak , sebentar makanan sudah siap tunggu di meja makan saja ."ucap bu andini yang menoleh ke arah Ardy di ikuti oleh mutiara .
"Ibu ." Ardy mendekati bu andini dan meraih tangan nya segera ia mencium tangan itu . Membuat bu andini dan mutiara merasa ada yang ganjal dengan Ardy .
"Ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan Nak ." tanya Andini yang melihat ada kecemasan di wajah Ardy .
"Saya minta maaf Ibu , tidak bisa melanjutkan makan di sini . Barusan saya menerima pesan penting yang harus segera saya selesaikan , ibu ."ucap Ardy sambil menatap bu andini sendu .
"Boleh kah saya minta di buatkan bekal saja , Biar saya makan di rumah sambil kerjakan tugas saya ." ucap Ardy kemudian .
"Oh bisa bisa biar ibu buatkan sekarang ."ucap bu andini dan pergi mengambil rantang .
"Maaf sekali ya bu , sudah ngrepoti ."ucap Ardy lagi .
"Tidak apa apa Nak . Pak Ardy mau datang saja ibu sudah senang sekaki , dulu itu , ibu juga punya anak laki laki abangnya Tiara . Tapi dia sudah meninggal . Ibu bahagia melihat pak Ardy begitu dekat dengan Tiara . Ibu seperti melihat abang Tiara lagi ." ucap bu andini .
"Berarti ibu juga sudah anggap Dimas seperti anak ibu sendiri ." pertanyaan Ardy yang menyinggung nama Dimas membuat mutiara menoleh menatap Ardy .
"Iya , sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri . Tapi Dimas tidak cocok jadi abangnya Tiara , dia cocok jadi teman nya karena umur mereka beda tipis ." jawab bu andini . Ardy mengangguk angguk mengerti .
"Berarti saya boleh sering sering datang kemari ya bu ."tanya Ardy .
"untuk apa ." sewot mutiara .
"kenapa suka suka saya . Saya datang mau mengunjungi ibu , bukan mengunjungi kamu . karena ibu bilang , saya sudah seperti anak nya sendiri ." ledek Ardy kepada mutiara sambil mencibirnya . Mutiara ingin rasanya meremas bibir Ardy yang moyong itu .
__ADS_1
Bu Andini hanya tersenyum melihat Ardy dan mutiara yang terus berdebat tidak jelas .Bu andini masih menata masakan yang baru selesai ia masak ke dalam rantang .
Mutiara bertanya tanya kenapa pak Ardy tiba tiba tidak jadi makan di rumahnya , tapi ia enggan bertanya . Takut ada perasaan yang hadir di hatinya , kalau benar karena ada pekerjaan kantor . Pasti nanti ia juga akan mendapatkan pekerjaan dari Ardy , yang akan di kirim lewat email .
"Ini nak sudah siap ."ucap bu andini.
"Terimakasih banyak bu . Saya mohon pamit , ingin pulang dulu ."ucap Ardy setelah menerima rantang dari bu andini .
"sama sama nak , hati hati di jalan ."pesan bu andini . Ardy melangkah pergi setelah mencium tangan bu andini . Ardy menolirik ke belakang bu andini yang mengantarnya sampai di teras , ia tak melihat mutiara ikut mengantarnya . Ardy tersenyum dan melangkah pergi ke mobilnya .
Mutiara pergi membersihkan diri karena badan nya terasa lengket dan lelah . Sehingga tak ikut mengantar Ardy .
Tak lama kemudian Ardy telah sampai di rumahnya .mama khanza telah menunggunya di teras rumah .tidak lupa ia mencium tangan mamanya sebelum masuk ke rumah .
" sepertinya kamu habis masak di dapur . Kamu dari mana saja ."tanya mama khanza kepada Ardy . Karena ia hafal sekali dengan aroma tubuh anaknya .
"Ayo kita makan ma ." ajak Ardy . Mama khanza heran , sejak kapan Ardy mau terjun ke dapur . Selagi di rumah saja dia paling malas kalau di suruh ke dapur .
"teman kamu ,cewek ."tanya mama khanza menatap lekat wajah Ardy .
" Iya ma , sekretaris Ardy ." jawab Ardy sambil menuangkan nasi dan lauk ke piringbsendiri dan piring mamanya .
Mama khanza melihat rantang tempat makanan yang di bawa Ardy pulang . Itu corak dan model kuno puluhan tahun yang lalu ,dan chat nya juga sudah pudar , pasti bukan dari keluarga yang kaya raya .
"hemm enak juga masakan nya ." gumam mama khanza , saat memasukan sesuap makanan ke dalam mulutnya . Dan menguyah dengan pelan . Mencari cita rasa dari makanan itu .
"Kamu jangan main api di luar , kamu belum melupakan Nagita kan ."ucap mama khanza , mengingatkan Ardy bila dia dan Nagita belum putus .
__ADS_1
Ardy meletak kan nasi dalam sendok yang akan ia suapkan ke mulut . Selera makan nya yang semula mengebu , kini hilang tak berselera lagi .mendengar nama Nagita di ungkit kembali oleh mamanya .
" o ya ma , Ardy hampir lupa . Ada yang ingin Ardy sampaikan ." ucap Ardy untuk menutupi kekecewaan nya . Dan menelan nasi yang terakhir di dalam mulutnya . Sambil menatap mamanya .
"sampaikan apa ." tanya mama khanza .
"Besok kita akan kembali ke rumah lama kita ." ucap Ardy , yang membuat mama khanza terperanjat karena terkejut . Ia tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Ardy .
"Kamu serius Ardy , tidak lagi ngeprank mamakan ."tanya mama khanza sekali lagi , dengan bibir bergetar . Ardy geleng kepala .
"Benar ma , nanti mama bereskan bajunya sekalian . Biar besok pagi sekalian kita pindah . beri tau bibik ijah .
"makasih Ardy . Terimakasih kamu telah buat mama bahagia ."ucap mama khanza sambil memeluk erat tubuh Ardy .
"Kamu tau kalau itu adalah peninggalan papamu satu satu nya , yang banyak menyimpan kenangan dari papamu ." tambah mama khanza semakin mempererat pelukan nya .
Ardy hanya tersenyum sambil menepuk pelan bahu mamanya . Ia tau di mana hari akan meninggalkan rumah itu , Ardy melihat langkah mamanya begitu berat untuk melangkah meninggalkan rumah saat itu . Karena itu Ardy bersungguh sungguh untuk bangkit kembali dan menebus rumahnya .
Ke esokan harinya sesuai janji Ardy . Membawa mamanya untuk pulang ke rumah lamanya . Ardy dan mamanya turun dari mobil dan menarik koper masing masing . Mama khanza tidak bisa berkata apa apa , saat dirinya mampu menginjak kembali , pelataran rumahnya yang dulu . Pelan pelan mama khanza mendorong pintu rumah itu , Air matanya jatuh tak tertahan kan . Ia kembali memeluk Ardy .
"Masih tetap sama , seperti dulu , tak ada yang berubah . Kamu benar benar anak yang berbakti , mama bangga , kamu selalu berjuang untuk membahagiakan mama ."ucap lirih mama khanza .
" tentu saja ma , kebahagiaan mama , juga kebahagiaan Ardy . Ardy tidak akan biarkan mama bersedih .
Ardy dan mamanya mulai menata dan menambah perabot baru yang menurut mereka sangat di butuhkan . Dan memulai kembali dengan kehidupan yang baru , tapi tetap dengan nuansa lama .untuk tetap mengenang setiap pojok kenangan bersama papanya Ardy . Mama khanza tersenyum tapi air matanya menetes menatap foto almarhum suaminya .
"pa , kamu lihat , putra kita hebat ."gumam mama khanza .
__ADS_1