Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Cerita Jun dan Yesa (2)


__ADS_3

"Kakak pernah mendengar dari majikan kakak sebelumnya, jika yang menyebabkan selir kedua keguguran adalah karena diracun permaisuri Lila" kata Jun setengah berbisik.


"Apa! Bagaimana mungkin?"


"Semua yang mengetahui hal itu, tiba tiba menghilang. Diduga mereka semua dibunuh oleh permaisuri Lila. Majikan kakak selamat, karena mendapat informasi itu lebih awal dan melarikan diri ke sebuah kota kecil yang cukup jauh dari ibukota. Kemudian mengganti nama nya agar tidak diketahui permaisuri"


"Hubungan majikan kakak dengan peristiwa itu apa? Apa informasi nya bisa dipercaya?"


"Majikan kakaklah salah satu perantara permaisuri untuk mendapatkan racun itu. Dan semua yang mengetahui hal itu tiba-tiba menghilang termasuk si pembuat racun"


"Aku tahu jika permaisuri juga tidak senang dengan pertunangan Puteri Revaline dengan pangeran dari Lembah Angin itu. Sangat terlihat dari sikap nya. Permaisuri sering marah marah tidak jelas asal ada pembicaraan tentang persiapan acara pertunangan itu. Tapi aku merasa tidak percaya jika permaisuri bisa selicik itu. Bukankah itu sama dengan pembunuhan?"


"Mau bagaimana lagi. Yang Mulia Raja Tejza saja tidak pernah mengetahui hal itu. Mungkin jika Yang Mulia tahu, permaisuri akan mendapat hukuman mati. Oh ya, Puteri Revaline sendiri bagaimana orangnya?"


"Dari empat orang Puteri istana, hanya Puteri Revaline yang paling ramah dan tidak memandang rendah kami para pelayan. Jika dia keluar dari istana pun, biasanya hanya membawa seorang pelayan bersamanya"


"Itu apa tidak berbahaya jika hanya pergi berdua dengan pelayan?"


"Sejauh ini masih aman aman saja. Tapi memang semenjak dirinya resmi dilamar, Yang Mulia Raja Tejza melarang Puteri keluar istana jika hanya berdua. Sekarang kalau aku tidak salah Puteri Revaline membawa dua pelayan dan empat orang prajurit. Itu pengawal minimal yang disetujui raja"


"Dua pelayan dan empat prajurit kerajaan. Hmm.. tidak buruk. Bagaimana dengan Puteri yang lain?"


"Puteri kedua sama dengan permaisuri Lila. Dia terlihat sangat tidak senang dengan pertunangan ini. Mungkin hanya cemburu, merasa tersaingi"


" Tersaingi kenapa? Bukannya putrri kedua juga akan segera bertunangan dengan pangeran dari kerajaan Yard? Setidaknya itu yang pernah aku dengar"


"Memang benar, tapi pangeran Nathan hanya lah pangeran kedua di kerajaan Yard. Dan kelak sulit untuk mempunyai kekuasaan. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan seorang putera mahkota, walaupun hanya putera mahkota kerajaan kecil"


Mereka masih bercerita saat keempat pelayan istana yang lain datang menjemput pelayan Yesa.


"Sudah selesai belanjanya nona nona?"


"Sudah tuan. Kami hendak kembali ke istana"


"Tidak minum dahulu. Biar aku yang bayar"


"Tidak tuan. Kami tidak bisa terlambat kembali. Mungkin lain kali."


"Jika begitu, terimakasih telah meminjamkan teman kalian padaku"


" Sama sama tuan. Bertemu dengan seorang kerabat atau teman yang berasal dari desa yang sama memberi kebahagiaan tersendiri. Tentu kami juga senang untuk teman kami Yesa"

__ADS_1


"Kak Jun, kami pergi dahulu. Lain kali kita bertemu lagi."


"Pasti" jawab Jun dengan tersenyum.


Setelah kelima pelayan istana itu pergi, Jun memanggil pelayan kedai itu dan membayar pesanan mereka tadi.


"Tugasku sudah selesai, tinggal melaporkan hasilnya kepada ketua dan mendapatkan uang" gumamnya.


"Eh, tapi untuk apa ketua Jhon Muel mencari informasi tentang istana dan Puteri Revaline? Semoga bukan sesuatu yang buruk. Mungkin aku berpikir terlalu banyak" batinnya lagi sambil berjalan ke arah gedung serikat pekerja Sorka.


Setelah berjalan lima belas menit, akhirnya ia tiba di gedung. Ia bertemu dengan kepala gedung.


"Senior, apa tuan Jhon Muel masih di ruangannya?"


"Ada. Mau melaporkan tugas?"


"Iya senior. Ini tugas pertama saya minggu ini. Pekerjaan sekarang lebih sedikit, membuat saya hampir kehilangan penghasilan" keluhnya.


"Keadaan kita memang sekarang tidak menguntungkan. Kau mau menjadi pengawal?"


"Maksudnya prajurit?"


"Bukan. Ada sebuah keluarga bangsawan di kota Baton mencari sejumlah pengawal untuk keluarga mereka. Upah yang diberikan lumayan. "


"Calon kekasihmu atau wanita incaran mu ya?"


"Bisa dibilang seperti itu"


"Jika begitu lebih bagus lagi. Menjadi pengawal di organisasi memang mendapatkan upah yang lebih besar, tapi tidak stabil. Menjadi pengawal sebuah keluarga, upahnya memang standar tapi sudah pasti kamu terima setiap hari. Bagi perempuan itu lebih berarti"


"Senior pasti lebih banyak pengalaman. Tentu akan saya pertimbangkan"


"Iya... Sudah sana jumpai ketua. Keputusan mu kutunggu dua hari lagi"


"Siap senior"


Jun masuk dan naik ke lantai dua gedung itu. Ia langsung menuju ruangan kerja Jhon Muel.


Tok..tok..


Jun tetap mengetuk pintu dahulu walaupun sebenarnya pintu terbuka dan terlihat Jhon Muel sedang sibuk bekerja di belakang meja nya.

__ADS_1


Jhon Muel mengangkat kepalanya begitu mendengar ketukan pintu.


"Jun? Masuk dan duduk lah"


Jun masuk dan menarik sebuah kursi yang ada diseberang meja Jhon Muel.


"Kau lebih cepat datang daripada perkiraan ku. Bagus.. Apa laporan mu?


"Memang benar Puteri Revaline akan segera bertunangan. Pesta pertunangan nya akan digelar kurang dari dua puluh hari lagi. Mungkin beberapa hari kedepan pihak istana akan membuat pengumuman"


"Tunangan nya berasal dari keluarga mana?"


"Putera Mahkota kerajaan Lembah Angin, ketua"


"Putera Mahkota kerajaan Lembah Angin? Sepertinya lebih sulit dari perkiraan ku" gumamnya. "Teruskan"


"Tapi menurut sumberku, di istana sendiri ada intrik tentang pertunangan itu. Ada beberapa pihak tidak senang. Dan berusaha mengacaukan nya"


"Siapa itu?"


"Permaisuri Lila dan Puteri Serly. Tapi aku curiga, sebenarnya Selir ketiga juga tidak setenang itu. Hanya saja tidak seperti permaisuri Lila yang terang terangan, selir ketiga mungkin masih ada sedikit rasa segan kepada selir kedua"


"Ada lagi?"


"Ini soal Puteri Revaline."


"Bagaimana dengan Puteri Revaline?"


Jun menceritakan semua yang dia dengar dari pelayan Yesa. Jhon Muel mendengar kan dengan serius.


"Aku puas dengan pekerjaan mu kali ini. Ini sisa upahmu. "


"Terimakasih ketua. Tapi sebenarnya siapakah yang membutuhkan informasi itu ketua?" tanyanya penasaran.


"Aku tidak perlu menjelaskan nya padamu. Sudah sana pergi, aku masih ada perkerjaan"


"He...he... Baik ketua. Aku permisi" kata Jun keluar dari ruangan itu.


Rencana pembunuhan terhadap Puteri Revaline memang sangat rahasia. Untuk pekerja serikat, satu satunya yang tahu hanya anak buah yang pernah dibawa Jhon Muel ke markas di hutan Kabut.


Bagaimana mungkin Jhon Muel mengatakan kebenaran nya kepada Jun. Jun sama seperti warga Fatma lainnya. Sangat mencintai tanah kelahirannya, dan jika ia tahu informasi itu untuk memperlancar pembunuhan Puteri Revaline tentu ia dengan segenap kemampuannya akan berusaha menghentikannya.

__ADS_1


"Berarti tinggal menunggu informasi dari Vaio dan mencocokkannya. Jika semua siap, tinggal menjalankan rencananya" katanya tersenyum puas.


__ADS_2