
Setelah pembicaraannya yang panjang dengan raja Clould, dua hari kemudian leluhur Kendrick, Hwak dan Lion akhirnya pulang kembali istana Gordon. Setelah sehari sebelumnya menabur bunga dimakan sahabatnya Raja Mehtu.
Sekali lagi, perjalanan yang panjang dimulai. Tapi dibandingkan dengan saat datang ke kota Tapis yang terburu buru, sekali ini mereka melakukannya lebih santai dan singgah dibeberapa tempat.
Raja Clould sendiri menjanjikan akan memberangkatkan pasukan penjemput Diba Renzo satu minggu kemudian, karena harus menyiapkan beberapa hal. Termasuk kereta kuda khusus tahanan untuk membawa Diba Renzo.
.
.
Sementara di istana Gordon
Prank...
Prank... terdengar pecahan barang barang dikediaman selir Diana.
Puteri Autum meringkuk di sudut kamarnya saat mendengar ibunya mengamuk. Jika ia berani memunculkan diri, ia pasti kena tampar sebagai pelampiasan kemarahan ibunya.
"Selir ketiga... tolong jangan marah lagi..." kata salah satu pelayan mencoba membujuk
"Aku dikurung di istanaku sendiri. Tidak bisa keluar.. meminta Yang Mulia datang, dia tidak mau... Arrgg..." katanya dengan penuh marah.
"Yang Mulia bukannya tidak mau selir ketiga. Tapi Yang Mulia sedang sibuk belakangan ini."
"Katakan saja ia dilarang pria tua itu.. Hah...hah... ingin rasanya kubunuh pria tua itu.. Yang Mulia adalah suamiku. Apa haknya melarang larang suamiku menjumpai istrinya sendiri... Pria tua sialan...!" teriaknya
"Hentikan selir ketiga.. Jika ucapan anda terdengar prajurit, itu akan sangat berbahaya. Pria tua itu adalah leluhur tertinggi istana Gordon. Anda bisa dihukum lebih berat lagi..."
"Yang Mulia sangat mencintaiku, tidak mungkin dia tega menghukum ibu dari Puteri kesayangannya.. Apa kesibukan Yang Mulia akhir akhir ini?"
"Ada kabar yang aku dengar, jika bencana kemarau akan segera datang dalam beberapa tahun ini. Jadi Yang Mulia mempersiapkan kerajaan Gordon untuk menghadapinya. Bahkan aku dengar dari sepupuku yang bekerja di pertanian dutch Norwey, jika mereka tidak lagi menjual hasil panen. Tapi menyimpannya sendiri untuk persiapan kemarau panjang"
"Bagaimana mereka tahu jika akan ada bencana kemarau?"
"Mengenai hal itu aku kurang tahu selir ketiga. Tapi seharusnya itu benar melihat dari sibuknya seluruh istana"
"Bagaimana dengan selir utama?"
"Selir utama seperti yang diketahui selir ketiga, beliau mengambil alih seluruh urusan harem istana.?
"Selir kedua?"
"Selir kedua, ikut membantu selir utama. Aku dengar sebagian urusan pembukuan harem dipercayakan kepada beliau"
"Hmm... jadi hanya aku yang tidak dipercaya. Sialan..! Perempuan tua itu...?"
"Ibu suri katanya membantu Yang Mulia mempersiapkan kerajaan untuk bencana kemarau. Dan saat ini kudengar ibu suri keluar istana mengunjungi keluarga besarnya di distrik tiga.."
"Pergi keluar istana...?" katanya tersenyum miring. Sebuah rencana tercipta dipikirannya.
"Panggil Guerto kemari..!"
"Maaf selir ketiga, tidak ada yang diijinkan mendekati istana anda kecuali hamba dan pelayan Seli." kata pelayan itu takut takut.
"Arggg....!!" teriaknya marah.
Prank...
Sekali lagi sebuah teko teh hancur dibanting.
__ADS_1
Baru ia ingin membalas sikap ibu suri dengan mengirim bandit mengganggu perjalanan ibu suri, tapi ia sama sekali tidak bisa bergerak.
Ia mengambil kertas dan alat tulis. Ia menulis cepat dan menggulungnya.
" Berikan kepada Guerto" katanya sambil menyerahkan surat itu beserta sekantung uang.
"Baik selir ketiga.." kata pelayan itu.
Tapi bukannya langsung keluar istana, pelayan itu justru pergi keruang kerja Raja Peter karena ia memang diminta melaporkan setiap tindakan tidak wajar selir ketiga.
Tok..tok.
"Yang Mulia, ini pelayan Karin. Ingin bertemu anda.."
"Jika selir ketiga ingin bertemu katakan jika aku sedang sibuk..." terdengar jawaban dari dalam ruangan tapi pintu tidak dibuka.
"Ampun Yang Mulia, ini bukan permintaan selir ketiga. Tapi berhubungan dengan selir ketiga..." kata pelayan itu takut takut.
Suasana sepi sejenak.
"Masuk... " akhirnya terdengar suara
Pelayan itu membuka pintu, dan memberikan hormat.
"Salam hormat kepada Yang Mulia Raja Peter. Semoga diberkahi kesehatan selalu"
"Ada apa?" tanya raja Peter
"Ini Yang Mulia. " Katanya sambil memberikan gulungan kertas
"Apa ini?"
Raja Peter merengut sebentar.
"Siapa pria ini?"
"Hamba hanya tahu jika pria ini salah satu anak buah selir ketiga. Sebab beberapa kali sebelumnya, dia pernah mengantarkan pesanan selir ketiga"
"Pesanan?"
"Hamba juga tidak tahu apa isinya Yang Mulia.."
Peter perlahan membuka gulungan. Tapi sedikit terkejut karena ternyata gulungan diberi mantera.
Peter mencoba membukanya sambil merapal sebuah mantera tapi tidak bis dibuka. Ia berpikir sejenak, dan mencoba mantera yang lain yang lebih sederhana dan gulungan itu akhirnya terbuka.
Senyum tipis terlihat di bibirnya namun seketika hilang saat membaca isi surat itu.
"Kurang ajar...! Leluhur Tertinggi benar... Ia tidak sesederhana itu.." katanya marah.
Pelayan Karin ketakutan..
"Ada apa Yang Mulia...?" tanya asisten Huber
"Pelayan Karin, panggil selir utama Natasha untuk menghadap"
"Baik Yang Mulia.." kata pelayan Karin dan pergi terburu buru.
"Huber, utus komandan Zhang membawa pasukannya untuk menangkap seorang pria bernama Guerto. Dia ada di penginapan Trew. Kemungkinan dia adalah warga kerajaan asing"
__ADS_1
"Atas tuduhan apa Yang Mulia?"
"Percobaan penyerangan Ibu Suri"
"Apa... bagaimana keadaan ibu suri Yang Mulia?"
"Ini adalah surat yang dititipkan selir ketiga untuk Guerto. Isinya permintaan untuk menyerang Ibu suri"
"Tapi surat itu belum sampai kepada orangnya yang Mulia. Bagaimana tuduhan itu kita buat, bukankah kita jadi terkesan semena mena? "
"Dasar bodoh.. bagaimana bisa kau menjadi asisten kepercayaan jika otakmu tidak kau gunakan. Panggil komandan Zhang kemari..!" teriaknya pelan
"I..iya Yang Mulia.." kata asisten Huber segera berlari
.
.
"Selir utama Natasha datang menghadap.." teriak seorang prajurit pengawalnya
"Masuk.."
"Salam hormat Yang Mulia Raja Peter"
"Salammu aku terima selir utama Natasha. Mari duduk disampingku. Kita sedang menunggu komandan Zhang."
"Iya.." kata selir utama Natasha dan duduk disamping Raja Peter dengan perasaan bingung.
"Pelayan Karin, tunggu di luar. Masuk jika nanti dipanggil.."
"Hamba Yang Mulia..." kata pelayan Karin dan keluar dari ruang kerja Raja Peter
Tidak lama kemudian.
"Komandan Zhang datang menghadap.."
"Masuk komandan Zhang."
"Salam hormat kepada Yang Mulia Raja Peter dan selir utama Natasha" kata komandan Zhang
"Salammu kami terima. Duduklah. Ada beberapa hal yang akan kita bahas."
"Terima kasih Yang Mulia "
"Kau juga Huber. Dengarkan, dan pelajari. Jangan berkomentar jika tidak diminta."
"Baik" kata asisten Huber. Tapi dalam hati ia berkomentar "Aku tahu yang Mulia, tanpa anda minta"
Raja Peter kemudian kembali menjelaskan kedatangan pelayan Zhang beserta surat serta uang yang dititipkan selir ketiga untuk pria bernama Guerto.
Baik komandan Zhang atau selir utama Natasha sangat terkejut mendengarnya.
"Sekarang, berikan tanggapan kalian" kata Raja Peter
"Pria ini harus ditangkap. Tapi sebaiknya kita melakukan penjebakan Yang Mulia. Surat itu tetap kita minta diantar pelayan Karin. Kita akan mengirimkan orang untuk memata matai pergerakan orang bernama Guerto ini. Setelah dia mengumpulkan anak buahnya, baru kita melakukan penangkapan"
"Baik aku setuju. Bagaimana denganmu selir utama?"
"Saya akan mengecek ulang semua pelayan yang pernah melayani selir ketiga. Karena saya yakin, seperti yang dikatakan pelayan Karin, bukan sekali saja selir ketiga melakukan tindakan seperti ini. Tapi selama ini kita gagal mengetahuinya. Dan juga saya akan menarik kedua pelayan yang bertugas melayani selir ketiga dan menggantinya dengan pelayan kepercayaan saya"
__ADS_1
.