Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Permasalahan Distriks Tiga


__ADS_3

Mereka kemudian meneruskan pertemuan itu. Membahas rencana Louisa selanjutnya.


"Tentang rencana pertanian yang saya ajukan. Apakah ada masukan dari tuan dan nyonya sekalian?"


"Tuan putri, saya Mike kepala kota Yuritz. Wilayah saya, merupakan salah satu daerah pertanian di kerajaan Lembah Angin. Tapi terus terang putri, hasil yang kami peroleh hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan wilayah Yuritz sendiri. Belum bisa membantu memenuhi kebutuhan wilayah lainnya."


"Apa yang menjadi kendalanya tuan Mike?"


"Kami tergantung pada hujan putri. Jadi jika musim kemarau tiba, kami tidak bisa bertani."


"Apa tidak ada sumber air tuan?


"Ada putri. Tapi jauh didasar lembah."


"Baik nanti kita pikirkan solusinya. Ada yang lain?"


"Saya Horis dari Riack putri. Daerah kami merupakan daerah yang sangat kurus. Sehingga hanya cocok sebagai tempat pengembalaan ternak sapi. Apa bisa sejalan dengan rencana putri?"


"Saya pikir sangat sejalan tuan Horis. Tapi untuk pastinya saya akan berkunjung kesana"


"Saya Tork dari kota Hilton putri.. Wilayah kami merupakan daerah berbatu. Saya agak ragu dengan rencana pertanian disana putri"


"Kita akan mencobanya dalam sekala kecil jika meragukan tuan Tork. Kita tidak bisa langsung memaksakan sebuah wilayah harus memiliki jumlah daerah pertanian seperti daerah lainnya."


"Saya hanya meminta kepada kepala kota agar menyiapkan lahan lahan yang akan kita buat sebagai lahan pelatihan dan percontohan"


"Kira kira berapa luas yang dibutuhkan untuk setiap kota putri"tanya kepala Mark.


"Sekitar lima sampai sepuluh hektar saja kepala Mark. Saya kira untuk rencana pertanian pembahasan kita cukup untuk sementara. Kita lanjut rencana yang lain, yang sebagian telah dilakukan kerajaan"


"Tentang pengadaan prajurit kerajaan dan pengawal kota. Untuk saat ini, yang mengikuti pelatihan masih dibawah angka seribu orang. Kerajaan membutuhkan setidaknya dua ribu orang. Belum termasuk untuk pengawal kota"


"Putri, berapa jumlah ideal untuk pengawal kota yang diperlukan agar kami bisa membuat perbandingan"

__ADS_1


"Sebuah kota besar atau ibu kota distrik memerlukan sekitar seratus sampai dua ratus pengawal. Sedangkan untuk kota kota kecil atau kadipaten sekitar lima puluh sampai seratus orang pengawal"


"Bagaimana dengan pengawal kami yang ada selama ini? Apakah masih juga harus ikut pelatihan?"


"Untuk sementara pelatihan untuk pengawal kota yang sedang bertugas kita tunda sampai pengawal pengganti siap bertugas. Karenanya saya berharap, setiap kota mengirimkan calon prajurit kerajaan untuk pelatihan. Saat pelatihan nanti, kita akan mengadakan seleksi dan menanyakan kesediaan setiap calon prajurit. "


"Maksudnya bagaimana putri?"


"Untuk menjadi prajurit kerajaan, pasti mempunyai keriteria yang berbeda dengan pengawal kota, terutama tentang kemampuan. Tapi mungkin ada yang memenuhi syarat menjadi prajurit kerajaan, tapi hanya ingin menjadi pengawal kota. Kita tidak bisa memaksa, kecuali jika kerajaan dalam kondisi perang"


"Bagaimana dengan sistem pembayaran upah mereka putri?"


"Selama mengikuti pelatihan, upah dibayar sepenuhnya oleh kerajaan. Sedangkan jika mereka sudah bertugas, pengawal kota tentu dibayar oleh kota yang dikawalnya. Besaran upah untuk pengawal kota, kita seragamkan untuk seluruh wilayah kerajaan agar tidak ada kecemburuan antara satu pengawal dengan pengawal lainnya."


Terdengar bisik bisik disana sini.


" Saat ini kami menetapkan upah delapan koin perunggu perhari, atau dua koin perak empat puluh koin perunggu setiap bulannya. Tapi kami berharap untuk kedepannya upah itu bisa kita naikkan lagi, setidaknya sepuluh koin perunggu perharinya."


"Cukup penjelasan dari saya. Yang mulia silahkan"


Gonng...gonnnggg...gonnnggg...


Sebuah gong kecil dipukul tanda selesainya pertemuan. Semua peserta secara teratur membubarkan diri, kecuali kepala kota yang berasal dari distrik tiga atau sebelumnya bernama distrik dua puluh.


"Tuan tuan, mari kita pindah keruang pertemuan kecil saja. Ada disebelah kanan ruangan ini. Agar kita bisa berdiskusi lebih tenang" kata Landen.


"Baik Yang mulia" jawab mereka serempak.


Ada sepuluh orang yang datang dari distrik tiga mewakili sepuluh kota yang ada disana. Mereka berjalan memasuki ruangan dan duduk dengan tenang.


Beberapa pelayan datang menyajikan makanan dan minuman ringan. Saat semua pelayan akan keluar ruangan, Louisa memanggil seorang pelayan dan membisikkan sesuatu kepadanya.


Pelayan itu mengangguk, dan pergi.

__ADS_1


"Silahkan dinikmati dulu tuan tuan. Santai saja, tidak usah begitu kaku" kata Landen melihat beberapa orang tampak ragu mengambil hidangan yang disajikan.


Tidak berapa lama...


Tok...tok...


"Salam hormat Yang Mulia, tuan putri"kata Shine memasuki ruangan.


"Salammu diterima Shine. Mari silahkan duduk"jawab Landen.


Shine menarik sebuah kursi dan duduk disamping Kepala Mark.


"Putri, silahkan pimpin kembali pertemuan kita"kata Landen.


"Baik Yang mulia. Tuan tuan, wilayah distrik tiga merupakan wilayah yang memiliki keaneka ragaman suku yang terbanyak dibandingkan dengan wilayah lain. Dan dominasi kepala suku masih sangat kuat disana. Sedikit perselisihan akan berakhir dengan perang. Yang menjadi tanda tanya bagi kami, sebenarnya apa hal mendasar yang selalu memicu perang disana? Mungkin ada diantara tuan tuan yang bisa menjelaskan kepada kami?"


"Yang Mulia, tuan putri dan tuan tuan sekalian. Saya Monka dari Yang city. Saya kepala distrik dan juga kepala kota Tang. Adapun permasalahan mendasar sebenarnya tentang makanan."


"Maksudnya bagaimana tuan?"


"Di distrik tiga, rata rata penduduknya hidup dari berburu dan penangkap ikan. Jika saat musim ikan banyak, tidak pernah terjadi masalah. Persoalan muncul, saat ikan sedikit. Terjadi perebutan wilayah yang menjadi kantong kantong ikan. Dan itulah yang memicu perang"


"Selama ini, apa solusi yang kalian ambil?"


"Pergiliran. Biasanya satu kantong ikan akan bisa menghidupi dua atau tiga desa. Tapi terkadang, ada juga beberapa orang berbuat curang. Mereka mencuri artinya seharusnya belum giliran desa mereka. Tapi mereka mengambilnya diam diam. Hal ini yang kembali memicu perang"


"Sikap kepala desa sendiri bagaimana menyikapi hal hal seperti itu?"


"Kebanyakan kepala desa merupakan kepala suku. Walaupun mereka tahu warganya yang salah, tapi mereka cenderung melindungi warganya. Itukah yang memperkeruh suasana, dan membuat persoalan tidak pernah berhenti"


"Ayah, apa ayah ada pendapat?"tanya Louisa pada Lucky yang sedari tadi hanya diam.


"Menurut pendapat saya, solusinya sederhana. Jangan buat lagi sistem pergiliran. Tapi saat ikan sedang sulit, kantong kantong ikan dibawah kendali otoritas kota. Pihak otoritas kota yang menjatah kebutuhan masyarakat perdesa. Sehingga perselisihan bisa diminimalkan"

__ADS_1


"Hamba Med dari kota Leaf. Tapi kami tidak tahu berapa jumlah warga perdesa tuan"


"Nah, untuk itulah pendataan penduduk yang kita rencanakan harus dilakukan. Kalian bisa mengangkat masalah ikan ini untuk mempercepat pendataan penduduk"


__ADS_2