
"Saat melamar Lorine dahulu, Peter disumpah oleh leluhur Kendrik Henry bahwa ia tidak akan memperoleh keturunan selain dari Lorine. Ia hanya akan mempunyai seorang pewaris tahta dari Lorine Valley. Jadi jika ia mengambil selir sekalipun ia hanya akan memperoleh anak perempuan"
"Kenapa aku tidak mengetahuinya tuan?"
"Karena sumpah itu diambil hanya disaksikan kakek, nenek Eliz, Lucky, Margaret, Landen, Yang Mulia Raja, serta Permaisuri Anita"
"Kenapa sumpah itu diambil waktu itu?"
"Karena nenek sangat menentang perjodohan itu. Selain karena sakit yang pernah dideritanya, yang membuatnya sulit memperoleh keturunan juga karena sebuah firasat. Entah kenapa, nenek mempunyai firasat jika suatu saat Peter akan menyakitimu. Firasat ini juga dialami nenekmu Eugenie. Sehingga untuk itu, leluhur Kendrik meminta Peter mengangkat sumpah itu"
"Kenapa leluhur Kendrik sampai sebegitu inginnya menjadikan aku sebagai cucu menantunya?"
"Katanya, kalian sudah terikat takdir. Kemanapun kalian pergi, atau terlahir kembali takdir akan membuat kalian bersama kembali"
Louisa terkejut, Reneisme juga. Keduanya saling berpandangan, mulai menghubungkannya dengan renkarnasi Louisa.
"Apa kakek tahu apa maksudnya?"
"Kakek tidak tahu, tapi sepertinya kakek Bruswick tahu. Sebab ketika kakek mengatakan hal itu, beliau langsung mengatakan ia memahaminya dan menyetujuinya"
"Berarti aku harus bertemu kakek Bruswick"gumam Louisa.
"Tapi kakekmu sedang pulang ke benua barat. Mungkin masih cukup lama beliau baru pulang kemari. Lagi pula masalah itu telah terjadi Lorine. Jangan salahkan kakekmu. Anggap itu menjadi bagian dari takdirmu" kata kakek Lucky.
"Aku tidak menyalahkan kakek Bruswick. Hanya saja ada yang ingin aku tanyakan kepada beliau, terkait dengan ikatan takdir yang disampaikan leluhur Kendrick"
Tok!!Tok!!
"Tuan, Nyonya kami membawa teh dan cemilan" kata Jen dengan seorang pelayan yang menemani nya.
"Silahkan letakkan dimeja."
"Pelayan Mery kamu boleh kembali kedapur. Jen duduk disini, ada yang kukira kamu juga harus tahu"
"Apa itu Nyonya?"
"Ayo minum dulu. Ini cucuku, makan buah yang banyak. Agar kesehatan tubuhmu tetap terjaga dengan baik. Mulai sekarang nenek sendiri yang akan mengawasi makanan dan minumanmu"
Mereka makan dan minum dengan santai.
"Jen, seharusnya ini menjadi tanggung jawab Reneisme. Tapi karena Ren sedang ada pekerjaan menjadi guru bagi Landen dan Lark, maka tugas ini diberikan kepadamu. Sedang untuk pengawal pribadi, nanti mungkin Light yang akan menjaga. "
"Memangnya ada apa nyonya?"
"Lorine sedang hamil muda. Anak dari raja Peter. Jadi kamu harus membantunya dalam kegiatan nya sehari hari. Apa kamu mengerti?"
"Oh... Tentu nyonya"jawab Jen dengan wajah sumringah.
"Kenapa kau begitu senang?" tanya Reneisme.
"Tentu nyonya Ren. Kata ibuku, kalau kita dekat dekat dengan orang yang lagi hamil kita juga bisa ketularan?"
__ADS_1
"Haa ..bisa bahaya Jen kalau begitu."
"Kenapa nyonya Ren??"
"Tentu bahaya Jen. Kamukan belum punya suami, jadi bisa hamil dari mana?"
"Memang harus ya, nyonya Eliz?"
"Ha...ha..."semua tertawa mendengar jawaban Jen.
"Kalau kamu memang ingin cepat hamil, nanti aku minta siapa nama penjaga tampan itu?"
"Jorge maksud nona?"
"Iya Jorge. Nanti aku minta Jorge secepatnya menikahimu"
"Aduh Nona ini, ia saja tidak pernah bilang cinta padaku. Bagaimana mungkin ia mau menikahiku?"
"Jorge ya... Nanti biar aku yang bicara padanya" kata kakek Franklin.
"Aduh...tuan. Jaaangann...aku bisa malu dianggap jadi perempuan pengemis cinta" kata Jen panik..
"Kalau tidak mau nanti aku jodohkan Jorge dengan Mai saja" kata nenek Eliz.
"Nyonya membuatku patah hati"kata Jen yang membuat mereka semakin tertawa terbahak bahak.
*****
Suasana kota Hinom sudah sangat ramai seminggu terakhir. Hampir semua penginapan telah penuh. Kota Hinom benar benar terlihat berbeda.
Siang ini rombongan Jendral Lucky terlihat memasuki halaman balai kota. Kedatangan mereka disambut Landen dan Louisa dengan gembira.
"Kakak, kakak ipar, menteri Tyson selamat datang"kata Landen.
"Selamat datang ayah, ibu, juga paman Tyson"kata Louisa .
"Salam jumpa Landen, putriku"kata Lucky
"Salam jumpa Dutch Landen, dan Arduchess Lorine"kata Menteri Tyson.
"Mari...kita masuk dulu."kata Landen ramah.
Mereka bersama memasuki balai kota. Sambil menikmati secangkir teh, mereka membahas persiapan acara yang akan dilaksanakan tiga hari lagi. Setelah memastikan semua acara telah dipersiapkan dengan baik, mereka pergi ke kediaman Landen untuk makan siang bersama.
Selesai makan siang menteri Tyson diantar seorang pelayan kesebuah kamar yang memang sudah dipersiapkan untuknya.
Sedangkan Lucky dan Margaret mengikuti Louisa ke rumah leluhur.
"Bagaimana kabarmu sayang? Ibu lihat kamu sedikit lebih gemuk. Ibu senang melihatnya, berbeda saat kamu masih di Gordon kamu sangat kurus."kata Margaret.
"Iya, ayah juga melihatnya. Ternyata tinggal di Hinom sangat baik untukmu" timpal Lucky.
__ADS_1
Louisa hanya tersenyum sambil memeluk lengan Margaret.
"Salam jumpa ibu"
"Selamat datang menantuku" kata nenek Eliz kemudian memeluk Margaret.
"Apa kabar ibu?"
"Baik Lucky. Aku bahkan hampir tidak mengenalimu, karena sudah sangat lama tidak pernah melihat lagi."
"Maaf ibu, aku terlalu terikat dengan pekerjaanku sehingga setiap ada acara keluarga hanya menantumu yang bisa datang."
"Aku tahu, itu juga yang dikatakan Margaret. Louisa , biarkan ayah dan ibumu beristirahat dahulu.. Mereka pasti masih lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh"
"Baik nek. Ayah dan ibu istirahatlah dahulu. Nanti kita bicara lagi"
"Baik Lorine. Kami istirahat dahulu."
Lucky dan Margaret beranjak pergi ke kamarnya. Sementara Louisa mengobrol dengan nenek Eliz.
Saat acara minum teh di sore hari , Lucky dan Margaret datang bergabung dengan Louisa dan nenek Eliz. Bahkan kakek Franklin juga ikut serta.
"Bagaimana kabar ayah?"
"Sehat Lucky. Lancar perjalanan kalian?"
"Lancar ayah, tidak ada gangguan"
"Berapa lama lagi masa tugasmu di Gordon?"
"Setahun lagi ayah. Tapi enam bulan lagi kami mungkin sudah pindah kemari"
"Tapi bukannya masa tugas ayah masih dua tahun lagi?"tanya Louisa.
"Ayahmu sudah mengundurkan diri sayang. Katanya ingin menemani putrinya" Margaret yang menjawab.
""Benarkah? Tapi daripada aku, mungkin lembah angin lebih membutuhkan ayah" kata Louisa tersenyum.
"Bukankah semua sudah kamu atur dengan pamanmu sayang?"
"Ibu, saat ini Paman Landen, bibi Sofia, dan juga sepupu Lark dilatih oleh Reneisme dan Shine. Tapi aku takut jika dilepas, mereka akan kewalahan."
"Jika yang melatih mereka Ren dan Shine, bagaimana dengan rencanamu Lorine? Tidak bisa begitu, mereka harus mempunyai pendamping sendiri"
"Menurutku juga begitu Lorine. Tanggung jawab Reneisme dan Shine adalah kamu. Jika kakek Bruswick tahu, mereka berdua akan kena marah"kata Margaret
"Mereka hanya pendamping sementara ayah, ibu. Justru aku yang menyuruh mereka."kata Louisa yang tidak ingin Lucky dan Margaret salah paham.
"Tapi seharusnya mereka memang memiliki seorang asisten yang selalu mendampingi mereka. Asistennya itu juga harus mengerti aturan istana"
"Tapi siapa yang cocok untuk posisi itu ayah?"
__ADS_1