Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Dendam empat kehidupan (1)


__ADS_3

Masih berselubung perisai anginnya, Louisa melangkah mendekati Jhon Muel.


"Jangan mendekat! Apa mau mu..." kata Jhon Muel cemas.


"Mengapa kau begitu ketakutan melihat ku? Begitu menakutkan kah diriku?"


"Kau pasti mau membunuhku...."


"Mungkin... tapi bukan sekarang. Aku ada beberapa pertanyaan untuk mu."


"Aku tidak mau menjawabnya..."


"Aku belum lagi bertanya, kau sudah menolak menjawabnya. Keterlaluan!"


Plak!


Sebuah tamparan mendarat diwajah Jhon Muel. Wajah Jhon Muel memerah bekas tamparan itu, ia jelas sangat terkejut.


..."Aku mengenalnya di dua kehidupanku yang sebelumnya. Tapi tidak pernah kulihat kepribadian nya yang seperti ini. Apakah karena aku membunuh nya secara langsung waktu itu? Wajahnya terlihat penuh amarah" batin Jhon Muel....


"Itu tanpa tenaga. Jika masih berani membantah, kau akan merasakan gigimu rontok semua. Jika itu masih tidak cukup, aku akan menyerahkan mu agar ditangani anak buah ku. Kau tahu, tidak ada yang bisa kau sembunyikan darinya. Dan kupastikan itu tidak akan mudah untuk mu" ancam Louisa.


Jhon Muel melihat kearah Louisa. Ia tahu Louisa tidak main-main dengan perkataan nya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Dikehidupanku yang pertama, setelah kematian ku, apa yang terjadi?"


"Maksudmu?"


"Apakah Peter dan Marry jadi menikah? Bagaimana dengan orang tuaku?"


"Mereka sempat merencanakan pernikahan. Tapi mereka tidak pernah sempat menikah. Kalau aku tidak salah ingat, ayahmu mengamuk dan menghajar Peter sampai babak belur"


"Jadi mereka tidak jadi menikah karena Peter takut pada ayahku?"


"Bukan. Tapi karena Marry mati dibunuh seseorang"


"Siapa yang membunuhnya?"


"Tidak begitulah jelas waktu itu. Tapi ada desas desus pelakunya adalah sahabat waktu kecilmu"


"Sahabat waktu kecilku? Siapa nama nya?"


"Iya. Tapi aku lupa siapa namanya. Memang nya kau tak ingat kehidupan mu yang dulu?"

__ADS_1


"Tidak semua"


"Kau apa kau ingat semua kehidupan yang sudah kau lalui?"


"Ingat"


"Jadi waktu kau membunuhku, apa kau sudah tahu tentang siapa aku?"


"Tidak. Aku baru ingat semua, setelah berenkarnasi dikehidupanku yang sekarang"


"Berapa kehidupan yang sudah kau jalani?"


"Ini yang keempat"


..."Yang keempat. Berarti sama denganku. Tiga kehidupan kami terhubung. Dimana dia hidup saat kehidupan nya yang kedua? Saat itu, bagaimana kami saling terhubung?" ber aneka pertanyaan timbul di benak Louisa....


..."Tapi dikehidupanku sebelumnya, aku juga tidak bertemu dengan Peter. Apakah mungkin kami menjalani kehidupan di periode yang jauh berbeda?" batinnya lagi....


"Waktu kehidupan keduamu, dimana kau hidup?" tanya Louisa akhirnya.


"Kehidupan kedua, aku tinggal di benua barat, tepatnya dikerajaan Brazza"


..."Brazza? Brazza adalah kerajaan asalku sewaktu aku hidup sebagai Louisa Balley. Ayahku seorang raja, raja Yearba Brazza" batin Louisa....


"Siapa raja yang berkuasa kala itu?"


..."Tidak mungkin. .. berarti ada satu alur kehidupan membuat kami pernah bersinggungan. Seperti saat ini, karena pertunangan sepupu Lark dan Puteri Revaline kami bertemu kembali. Waktu itu pun pasti ada hubungannya. Hanya dibagian apa?" batin Louisa lagi....


"Waktu itu, kau tinggal dikota apa?"


"Tentu saja di ibukota kerajaan. Kota Brazza. Aku bahkan punya semacam hubungan yang cukup baik dengan raja Yearba"


"Tidak mungkin. Jika kau punya hubungan yang baik dengan raja, aku pasti pernah melihat atau setidaknya mendengar namanya. Tapi walaupun ingatanku belum pulih semuanya, aku tidak pernah mendengar namanya"


"Apa pekerjaan mu waktu itu?"


"Apa kau hidup juga pada masa itu?"


"Iya. Tapi aku tidak pernah mendengar namamu waktu itu. Karena itu, aku bertanya apa pekerjaanmu waktu itu?" tanya Louisa sekali lagi.


"Jika kau hidup dimasa itu, kau pasti tahu jika raja Yearba selain lima permaisuri, juga memiliki selir yang tidak terhitung jumlahnya. Dan akulah orang yang menyediakan selir selir itu"


"Penyedia selir?" tanya Louisa dalam hati.


"Ibuku juga salah satu selir raja yang diambil dari budak permaisuri. Apa mungkin Jhon Muel yang membawa ibu keistana dan menjadikan nya budak? Sebagai anak seorang selir budak, aku bahkan tidak punya hak menyandang gelar Brazza. Tapi ikut nama keluarga ibuku Balley."

__ADS_1


"Apa waktu itu, kau pernah mendengar nama keluarga Balley?"


"Balley.... sebentar. Coba aku ingat..Jika tidak salah, mereka keluarga bangsawan kelas menengah yang mengalami kebangkrutan setelah puteri satu satunya keluarga itu dinyatakan hilang. Tapi... tidak mungkin" kata Jhon Muel tiba tiba sadar akan sesuatu.


"Gawat, bukankah ia memakai nama Balley di kehidupan kami sebelumnya? Apa mungkin ia puteri keluarga Balley yang hilang itu dan akulah yang menjualnya ke istana?"batinnya gelisah.


Louisa memejamkan mata nya saat beberapa ingatan masuk kedalam kepalanya.


..."*Ibu, kenapa margaku Balley bukannya Brazza. Aku juga anak ayahanda bukan?"...


..."Sayang, ibumu cuma seorang selir budak dan kau anak perempuan. Hanya seorang anak laki-laki yang berhak mendapat gelar tuannya jika ia lahir dari seorang selir budak. Maafkan ibu"...


..."Tapi kakak Marry mendapat gelar Brazza dibelakang namanya. Dia juga anak perempuan"...


..."Tapi ibunya seorang permaisuri Louisa. Bukan selir budak seperti ibumu."...


..."Kenapa ibu mau menjadi selir budak, bukannya menjadi permaisuri.?"...


..."Jika bisa memilih,ibu juga tidak mau sayangku. Tapi apalah daya ibu. Sewaktu kecil, ibu dibawa paksa keistana oleh seorang pria. Pengasuh ibu tidak berdaya melawan. Sesampainya diistana, ibu dipasang mantera budak, sehingga tidak bisa melawan. Tapi kau puteriku harus yang kuat. Jika kau besar nanti dan punya kekuatan, carilah pamanmu di keluarga Balley. Kata kan padanya, jika ibu baik baik saja*"...


Louisa kembali membuka matanya. Louisa terlihat sangat marah saat tiba tiba kilasan ingatan muncul dibenaknya.


"Katakan padaku... apa kau yang membawa ibuku keistana dan menjual nya menjadi budak?" tanya Louisa dengan penuh amarah.


"Ibumu kah?" tanya Jhon Muel kaget.


"Brengsek kau Jhon Muel! " teriak Louisa penuh amarah. Tiba-tiba suhu udara disekitar mereka menjadi dingin. Kabut tipis terbentuk mengelilinginya mereka.


Walaupun Jhon Muel memakai jubah tebal untuk mengusir udara dingin di hutan kabut, tapi untuk saat ini jubah itu seakan tidak berfungsi. Membuat Jhon Muel menggigil kedinginan.


"Louisa....Loui..ssa itu sudah...lama berlalu..." kata Jhon Muel dengan gigi bergemerutuk menahan dinginnya udara.


"Kau tahu, ibuku sangat menderita. Ia yang seorang puteri bangsawan, terpaksa menjadi budak karenamu.. Dan saat ia melahirkan seorang anak perempuan, suaminya yang seorang raja bahkan tidak pernah bersedia melihat anaknya atau sekedar memberi nya nama.!"


Plak...


"Ini karena kau menculik ibuku..." kata Louisa menampar Jhon Muel dengan sekuat tenaga.


"Aaakkkk... !"teriak Jhon Muel ketika dua giginya sebelah kanan rontok.


Plak...


"Ini untuk penghinaan yang diterima ibuku selama menjadi budak diistana..!"


"Aaaaaakkkk" teriak Jhon Muel lagi saat dua gigi grahamnya sebelah kiri kembali rontok.

__ADS_1


"Dan ini...." kata Louisa merapal mantera.


__ADS_2