
Delapan ekor kuda melaju dengan kecepatan tinggi memasuki kota Hinom. Tapi menjelang memasuki daerah perkotaan laju kuda terpaksa dipelankan karena jalanan cukup ramai.
Tidak berapa lama, rombongan itu tiba di kawasan istana Lembah Angin dan berhenti di depan rumah leluhur.
Kepulangan mereka disambut gembira oleh Margaret di depan pintu utama rumah leluhur.
"Selamat datang kembali" kata Margaret dengan senyum sumringah.
"Salam jumpa kakak ipar" kata Climb yang muncul dibelakang Shine.
"Climb...?? Selamat datang di kota Hinom. Kakakmu sedang ada tempat pelatihan prajurit. Mari masuk, minum secangkir teh" kata Margaret.
Walaupun Climb memanggil Louisa dengan panggilan adik kecil, tapi ia memanggil Jendral Lucky panggilan kakak karena usianya tidak terpaut jauh dengan Jendral Lucky.
Mereka memasuki rumah leluhur.
"Ibu, dimana Lucio?" tanya Louisa yang tidak melihat puteranya.
"Baru tidur.. Mandilah lebih dahulu, baru kamu pergi melihatnya. Kemarin dia menangis sampai meraung-raung memanggilmu. Bahkan nenek Elizpun kewalahan menenangkannya" cerita Margaret.
Louisa dan yang lain tertegun mendengarnya.
"Baik ibu. Kakak, mengobrollah dahulu dengan ibu. Nanti aku perkenalkan kakak dengan seseorang" kata Louisa dengan tersenyum.
"Baik. Silahkan adik kecil"
Sebelum memasuki kamarnya, Louisa memerintahkan seorang penjaga untuk memanggil Jendral Lucky ke tempat pelatihan.
Louisa mandi dengan cepat. Tidak sabar rasanya untuk bertemu dengan puteranya. Dia sudah meninggalkannya lebih dari satu minggu, sangat wajar jika ia sudah begitu merindukan puteranya.
Selesai mandi, ia masuk ke kamar puteranya yang ada di samping kamarnya.
Ada rasa haru dan perasaan bersalah dihatinya, mengingat begitu sering ia pergi jauh dari anaknya sendiri.
Saat Lucio berumur satu tahun, Louisa sering membawanya dalam perjalanannya. Tapi ada satu hari dimana Lucio sakit ketika hendak pulang ke Hinom.
Louisa yang sama sekali tidak mengerti tentang pengobatan dibuat sangat panik dan menangis. Hanya bisa memeluk puteranya. Light berusaha sangat keras untuk bisa menstabilkan kondisi Lucio.
Begitu sampai di rumah leluhur, Lucio langsung ditangani kakek Franklin dan nenek Eliz.
Louisa dimarahi habis habisan oleh kakek Franklin, karena ternyata Lucio terlalu lelah dan masuk angin karena menempuh perjalanan jauh. Membuatnya demam dan muntah muntah. Louisa merasa sangat bersalah. Sejak itu Lucio selalu ditinggalkan di Hinom, setiap kali Louisa pergi keluar kota.
"Tuan muda... bangun. Mama pulang.." bisik Louisa di telinga Lucio.
Lucio menggeliat, dan perlahan membuka matanya. Masih setengah mengantuk ia duduk dan memandang Louisa.
"Mama...?"
"Iya tuan muda..Ini mama"
__ADS_1
"Mama...Cio rindu."
"Mama juga." kata Louisa dan memeluk Lucio erat.
"Lepas ma...sudah napas Cio"
"Ha...ha... Maaf mama lupa. Ayo Mama mau kenalkan Lucio dengan seseorang. Mau?"
"Mau.."
Louisa menggendong Lucio keruang tamu. Climb yang melihat Louisa datang dengan seorang anak kecil memandang keduanya dengan lekat.
"Tuan muda, kenalkan ini paman Climb" kata Louisa sambil menurunkan Lucio dari gendongannya.
"Salam paman.. Ini Cio" kata Lucio sambil membungkukkan badannya.
"Cio, salam kenal juga" kata Climb sambil tersenyum.
"Apa pendapat kakak?" tanya Louisa.
"Putera Mahkota kah?" tanya Climb.
"Benar"jawab Louis singkat.
"Ha...ha... Aku yakin jika Peter tahu, ia akan menangis darah. Ha...ha..." kata Climb tak bisa berhenti tertawa.
"Tapi aku minta kakak jangan membocorkan hal ini ke pihak istana..Akan ada waktunya mereka mengetahuinya" pinta Louisa.
Lucio menggelengkan kepalanya dan lari kepangkuan Margaret.
*****
Malam harinya.
"Jadi kapan proyek itu bisa mulai berjalan?" tanya Raja Landen.
"Semua tergantung kesiapan Lembah Angin Yang Mulia. Kalian harus melakukan perekrutan pekerja terlebih dahulu. Membangun tembok pembatas proyek. Rumah pekerja, pengamanan proyek. "
"Apa pekerja tidak bisa kau bawa dari Gordon, Climb? Agar proyek ini bisa berjalan secepat mungkin" tanya Raja Landen lagi.
Climb memandang Louisa, seakan meminta bantuan.
"Paman, sebuah proyek pertambangan memiliki syarat yang cukup banyak. Walaupun ini menjadi tambang kerajaan, tapi kita juga harus mengajarkan peraturan kepada masyarakat agar kedepannya kita tidak akan kesulitan sendiri"
"Yang Mulia, bisa saja pekerja saya bawa dari Gordon semua. Tapi itu akan menimbulkan gejolak kecemburuan pada masyarakat Lembah Angin. Gordon sudah berpengalaman akan hal itu" kata Climb sambil tersenyum.
"Jika kemampuan masyarakat kami tidak memenuhi syarat untuk itu?"
"Adik, apakah kau tau bagaimana Lorine dan Climb bisa menjadi kakak dan adik angkat?" tanya Jendral Lucky yang jengah melihat ketidak mengertian Raja Landen.
__ADS_1
"Tidak" kata Raja Landen.
"Kau tentu masih ingat tentang penyanderaan yang terjadi di kota Topaz beberapa tahun lalu, dimana Lorine yang memediasi kasus itu"
"Aku ingat"
"Climb adalah penyandera itu"
"Apa!"
"Kejadian itu terjadi karena kecemburuan penduduk lokal yang tidak mendapat tempat pada proyek di kota mereka sendiri. Sedangkan mereka yakin mereka punya kemampuan untuk itu"
"Itulah yang tidak diinginkan terjadi Yang Mulia. Tenaga ahli tetap akan saya bawa dari kota Topaz. Itu mungkin sekitar sepuluh atau paling banyak dua puluh persen dari jumlah pekerja. Selebihnya semua dari penduduk Lembah Angin"
"Paman, setelah proyek ini berjalan yakinlah pasti ada saja pihak pihak tertentu yang tidak senang. Hal seperti itu terjadi dimana mana. Kita harus mengantisipasi sebelum terjadi. Dan jika hal ini terjadi, kira harus berusaha membuatnya seminimal mungkin"
"Baiklah. Pihak mana saja yang akan terlibat dalam hal ini?"
"Hampir semua pihak paman. Kecuali kementerian pertanian dan peternakan. Keprajuritan untuk pengamanan, Penataan wilayah, kependudukan, perekonomian, keuangan dan pendapatan pajak."
"Berarti harus diadakan rapat secepatnya"
"Benar. Dan untuk pengamanan, sudah diberangkatkan lima puluh prajurit dan seorang komandan agar lokasi proyek tidak dimasuki orang sembarangan."
"Bagaimana dengan biaya proyek? Tentu itu akan membutuhkan dana yang sangat besar"
"Karena itulah kita harus mengadakan rapat kementerian. Agar bisa kita bahas tentang pendanaan. Termasuk pembagian hasil tambang"
"Teola, tolong buat surat undangan rapat kepada semua menteri yang terkait. Besok pagi surat sudah harus mereka terima"
"Kapan rapat dilakukan Yang Mulia?"
"Besok malam"
"Baik Yang Mulia. Segera hamba kerjakan" kata Teola dan segera berlalu dari ruangan itu.
"Selain proyek pertambangan, apa ada lagi yang harus kit bahas besok Lorine?"
"Ada paman. Soal lelang pembangunan jalan"
"Menteri Zake sudah melaporkan hal ini sebelumnya. "
"Saya merasa dengan melakukan lelang, pembangunan dan perbaikan jalan akan lebih cepat selesai dan meminilkan kecemburuan banyak pihak yang ingin terlibat"
"Tapi masalah mungkin tetap saja akan terjadi Lorine. Bisa saja orang yang tidak menang dalam lelang akan mencoba meyabotase perbaikan jalan yang dilakukan."
"Aku tidak akan diam saja. Saat itu terjadi, prajurit kerajaan akan bertindak tegas paman. Siapapun yang mengganggu pembangunan kerajaan adalah penghianat dan harus dihukum "
.
__ADS_1
.
.. Jangan lupa like dan comment ya.