Nona Louisa Dari Lembah Angin

Nona Louisa Dari Lembah Angin
Janji Sidney


__ADS_3

"Sekarang ananda sendiri tahu, jika itu tidak memungkinkan. Apa lagi dari segi militer. Jika kita menyerang Lembah Angin, ayahanda yakin Gordon tidak akan tinggal diam. Jadi sudah lupakan saja niat ananda itu."


"Tidak semudah itu ayahanda.. Satu pintu tertutup, pintu lain pasti terbuka. Tapi ananda memerlukan restu ayahanda"


"Apa itu puteraku?"


"Mengganti calon pengantinnya. Kita kirim adinda Resta ke Hinom. Yang membuat aku kawatir jika ibunda Ratu tidak mengijinkan Puteri kesayangannya pergi"


"Soal Ratu, biar ayah yang bicara. Yang penting kau matangkan segala sesuatunya. Dan nanti ayah juga akan mengirim surat ke Hinom berkaitan dengan kedatangan adikmu"


"Terimakasih ayahanda"


"Bagaimana dengan mata matamu di Hinom?"


"Belum ada kabar lagi ayahanda"


"Jika tidak berguna lagi di sana, tarik kembali kemari"


"Baik ayahanda"


******


Dikediaman Sidney .


Kereta kuda berhenti di depan balai pengobatan.


Di dalam balai pengobatan, tampak beberapa orang sedang menunggu racikan obat yang dibuat Nest dan dua orang karyawannya.


Melihat kedatangan Sidney mereka tersenyum.


"Tabib..."


"Sudah diperiksa?"


"Sudah tabib, tinggal menunggu obat herbalnya"


"Silahkan.." kata Sidney kemudian masuk kebagian dalam balai pengobatan.


"Bagaimana suamiku?" tanya isterinya saat Sidney baru masuk ruang keluarga.


"Persiapkan barang dan pakaian kita yang mau kita bawa. Besok kita berangkat ke Long Beach"


"Kenapa tidak langsung ke Hinom ayah?" tanya Nest yang muncul diruang keluarga setelah menyerahkan obat herbal kepada karyawan mereka.


"Selain mau melaporkan pada kakekmu hasil pertemuan keluarga, juga jika kita langsung menuju ke Hinom akan langsung ketahuan oleh pangeran Hurex. Ayah takut itu akan berbahaya"


"Terus barang barang kita bagaimana ayah? Barangku sangat banyak, sayang kalau ditinggal" kata anak bungsu Sidney.


"Bawa yang penting penting saja. Yang kurang penting tapi menurut kalian masih diperlukan, masukkan kedalam kotak kayu. Nanti dikirim belakangan ke Hinom. Sisanya berikan saja ke Zul dan Lan."


"Apa kita mengatakan kepada Zul dan Lan kalau kita kembali ke Lembah Angin ayah?"


"Iya, tapi tidak sekarang. Tugas kalian hanya mempersiapkan keperluan kalian saja. Sisanya serahkan pada ayah"


"Baik ayah. Kami berkemas dulu"


"Nest..."

__ADS_1


"Iya ayah."


" Sesuai dugaan kita, pertunanganmu dibatalkan. Maafkan ayah"


"Tidak apa apa ayah. Aku baik baik saja" kata Nest tersenyum tidak ingin membebani pikiran ayahnya.


"Isteriku, aku keluar dahulu mencari oleh oleh untuk ayah. Semua yang dirumah kuserahkan kepadamu"


"Iya suamiku, hati hati"


Menjelang sore seorang gadis cantik datang ke balai pengobatan. Kedatangannya langsung disambut senyuman dari kedua karyawan Zul dan Lan.


"Selamat datang tuan Puteri"


"Salam jumpa. Apa tuan muda kalian ada?"


"Ada tuan Puteri, nyonya juga ada di dalam. Masuk saja"


"Terima kasih" kata gadis itu.


Saat memasuki ruang keluarga, ia melihat Nest tengah membantu ibunya memasukkan beberapa barang kedalam kotak kayu.


"Salam ibu, kak Nest" sapanya.


"Selamat datang gadis kecil. Duduklah dahulu. Sebentar lagi ini sudah selesai"


"Pasang penutupnya diatas Nest, ibu akan membuatkan minuman untuk gadis kecil ibu" katanya dan berlalu dari tempay itu.


Setelah selesai menutup kotak itu, Nest duduk didepan gadis cantik itu.


"Apa kabarmu?"


"Besok mau mengunjungi kakek di Long beach"


"Berapa lama kalian disana?"


"Kata ayah, mungkin sekitar seminggu"


"Kak, bolehkan aku ikut?"


"Willow...ini..." Nest bingung mau berkata apa.


Tiba tiba ibunya datang membawa minuman dan meletakkannya diatas meja.


"Diminum dulu gadis kecil" katanya duduk disamping Puteri Willow.


"Ibu, bolehkah aku ikut?"


"Sayangku, dengarkan bibi ini.. Pangeran Hurex tidak akan mengijinkanmu ikut dengan kami"


"Kenapa bibi? Kak Nest kan calon tunangan ku..Sudah sewajarnya aku ikut mengenal calon kakek mertua"


"Sayang, apa pangeran belum memberitaumu tentang pembatalan pertunangan kalian?"


"Apa!" katanya terkejut tapi kemudian tubuhnya lemas. Air mata menetes di pipinya.


Isteri Sidney memeluk Puteri Willow dengan erat. Sesekali tangannya mengelus kepala gadis itu.

__ADS_1


"Sayang, dengarkan aku. Aku tidak punya anak perempuan, semenjak engkau dijodohkan dengan puteraku, aku telah menganggap engkau seperti putriku sendiri. Dan selamanya akan seperti itu"


Tapi perkataan perempuan paruh baya itu justru membuat gadis itu semakin menangis. Setelah bisa menguasai emosinya, akhirnya tangisnya pun reda.


"Ibu, perjodohanku dengan kak Nest adalah hal paling baik didalam hidupku. Saat aku masih berusia empat tahun, ibu kandungku meninggal. Semenjak itu , aku diangkat anak oleh ibu Ratu karena isteri isteri ayahku tidak ada yang peduli padaku"


"Memangnya Willow bukan anak Yang Mulia Raja?"


"Bukan ibu, tapi anak dari pangeran kedua. Adik ayahanda. Tapi di istanapun aku juga kurang mendapat kasih sayang. Ibu Ratu mengasuhku hanya untuk mendapat perhatian dari kakek buyut, raja sebelumnya. Sementara kasih sayangnya hanya untuk pangeran Hurex dan Puteri Resta"


"Betapa malang nasipmu, seandainya saja kami bisa membawamu. "


"Tapi adik Willow, mengapa ayahmu sendiri tidak peduli pada keadaanmu? "


"Ibuku hanya seorang selir kak. Kakak tahu, menjadi selir seorang pangeran yang tidak berkuasa nasibnya hanya setingkat diatas pelayan. Tidak punya arti apa apa."


Ketiganya terdiam dalam waktu yang lama.


"Seandainya ada yang bisa kulakukan untuk membantumu dik Willow.."


"Aku tidak ingin menyusahkan kak Nest sekeluarga. Jika pangeran Hurex tidak merubah keputusannya, mungkin setelah ini, aku akan pergi ke kota Urb."


"Kota Urb, Fire city?"


"Iya ibu. Ibuku berasal dari sana. Menurut cerita dari pengasuhku, kakekku merupakan kepala suku di kota Urb. Ibuku diungsikan ke kota Count karena di kota Urb sering terjadi perang saudara. Dan disanalah beliau bertemu ayahku" cerita Puteri Willow panjang lebar.


"Berapa lama rencanamu tinggal disana sayang?"


"Aku belum tahu ibu, nanti tergantung pada kakek. Jika nanti sambutan kakekku baik, mungkin aku tidak akan kembali kemari. Lagi pula tidak ada yang bisa kupertahankan disini jika pertunanganku dengan kak Nest dibatalkan" katanya dengan muka sedih.


"Bahkan jika dik Willow kembali kemari, aku juga tidak akan disini." kata Nest.


"Mengapa kak?"


"Setelah dari Long Beach, aku akan langsung berangkat ke Hinom untuk mengikuti pelatihan pengobatan tingkat tinggi. Tadinya jika pengeran Hurex tidak membatalkan rencana pertunangan kita, tentu aku akan mengajak dik Willow kesana" kata Nest yang juga tidak bisa menutupi kesedihannya.


*****


Keesokan paginya.


Didepan balai pengobatan telah menunggu sebuah kereta kuda.


Sidney tengah memberikan beberapa perintah kepada Zul dan Lan.


Sementara di kereta kuda, putera kedua Sidney memasang wajah cemberut.


"Ada apa lagi?" tanya Sidney memandang wajah putera keduanya.


"Mengapa harus pindah lagi ayah? Padahal aku sudah punya banyak teman disini. Dan lihatlah, hanya sedikit barang yang bisa kubawa. Padahal itu semua barang kesayanganku, hadiah dari teman temanku"


"Termasuk nona cantik dari keluarga bangsawan itu?" tanya Nest menggoda.


"Ibu, lihat kakak. Ia malah mengejekku..."


"Sabar ya bungsu.. Setelah ini ayah berjanji kita tidak akan pindah lagi." kata Sidney memandang keluarganya.


.

__ADS_1


..


... stt...jangan lupa like dan comment ya.


__ADS_2